
Nadiya sampai dirumah sakit yang biasanya dia datangi bersama Ardy. Semua orang mengenalnya, bagaimana mungkin tidak mengenalnya? Wajahnya sering ada dibeberapa koran juga majalah.
Wajahnya langsung dikenal masyarakat luas sejak dia berhasil mengembalikan kejayaan perusahaan Alexander yang nyaris kolap. Akibat ulah Joan dan juga Ibu tirinya.
Beberapa suster melihat mereka berdua sambil tersenyum dan berbisik-bisik.
Apalagi yang mereka pikirkan jika bukan karena Prasetyo yang tampan dan berkharisma meskipun usianya lebih muda. Namun dia terlihat dewasa dan juga ramah itu terlihat jelas dari auranya.
Suster-suster rumah sakit yang masih muda terlihat menatapnya tanpa jeda.
Bahkan dokter yang akan ditemui oleh Nadiyapun terlihat kaget saat melihat Nadiya datang bersama orang yang berbeda.
Ya....maksud mereka biasanya Nadiya datang bersama Ardy beberapa tahun lalu, mereka sering bolak-balik kerumah sakit untuk program kehamilan. Dan sekarang datang dengan pria yang berbeda, dan juga untuk program kehamilan. Sama seperti dulu.
Nadiya melihat dokter itu tampak terkejut saat melihatnya yang datang setelah sekian tahun. Dan Nadiya memaklumi itu.
Harus lebih terbiasa dengan tatapan aneh dari beberapa orang yang mereka temui.
"Silahkan masuk ibu Nadiya." Kata dokter itu.
Kemudian Nadiya dan Prasetyo duduk berhadapan dengan dokter tersebut.
Dokter itu tersenyum ramah.
Ini adalah pasiennya sepuluh tahun yang lalu. Kemudian dokter menanyakan tentang keluhan pasiennya.
"Dokter, saya akan mengikuti program kehamilan lagi." Kata Nadiya terbata.
Dokter itu kemudian memicingkan matanya dan mengingat sesuatu.
"Baiklah saya akan periksa keadaan ibu Nadiya dulu. Dan kesiapan kandungan ibu Nadiya sebelum terjadi pembuahan." Kata dokter yang tahu benar jika kondisi kandungan Nadiya lemah dan bisa berbahaya jika pembuahan dilakukan tanpa pemeriksaan dulu.
Pernah ada kanker dalam kandunganya. Dokter harus memastikan akar kanker itu benar-benar sudah mati dan tidak tumbuh kembali setelah sepuluh tahun.
Atau nyawa Nadiya bisa dalam bahaya.
"Baiklah, silahkan ibu Nadiya berbaring, dan saya akan memeriksa juga mengambil sampel darah." Kata dokter.
"Saya akan menunggu diluar." Kata Prasetyo.
Kemudian diruangan itu hanya ada dokter dan Nadiya sehingga Nadiya juga menjadi lebih leluasa untuk menanyakan beberapa hal yang menyangkut program kehamilanya.
"Baiklah ibu Nadiya, dua jam lagi hasilnya akan keluar, nanti saya akan kirimkan ke alamat rumah ibu, hasilnya." Kata dokter itu.
"Atau ibu akan menunggu disini?" Kata dokter itu.
"Baiklah dokter nanti kirimkan saja ke alamat rumah saya. Ini alamatnya." Kata Nadiya memberikan alamat rumahnya yang baru.
"Masih di alamat yang lama?" Kata dokter itu setelah membaca alamat rumah Nadiya.
__ADS_1
glek
Nadiya baru sadar jika rumah barunya adalah rumah lamanya.
Dan Nadiya kemudian tersenyum tipis dan menggangguk pada dokter itu.
Setelah itu Nadiya berpamitan dan menemui Prasetyo yang menunggunya diluar ruang pemeriksaan.
"Bagaimana? Apa kata dokter?" Tanya Prasetyo sangat penasaran.
Nadiya menatap Prasetyo dan melihat ekspresi nya sepertinya Prasetyo sangat ingin agar Nadiya memberikan kabar baik padanya.
Nadiya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis padanya.
"Hasilnya belum keluar."
"Kapan keluarnya?"
"Dua jam lagi." Kata Nadiya.
"Lalu apakah kita akan menunggu?"
"Tidak. Nanti hasilnya akan diantar kerumah."
"Baiklah. Kalau begitu kita tunggu dirumah saja." Kata Prasetyo lalu menggandeng Nadiya keluar dari rumah sakit itu tanpa mempedulikan mata orang yang terus menatap mereka berdua.
Prasetyo kemudian mengemudikan mobilnya dan berhenti direstoran makanan cepat saji.
"Dan nanti yang satu porsi di bungkus saja ya. Akan saya bawa pulang." Kata Prasetyo yang akan memberikanya untuk maminya. Pasti maminya juga belum makan.
"Baik bapak." Kata pelayan itu.
Kemudian Prasetyo tertegun melihat sosok seseorang yang sedang antri dikasur dengan jaket go-food.
glek
Prasetyo terkejut melihat sosok itu dari belakang yang mirip sekali dengan Ardy. Karena sangat penasaran kemudian Prasetyo bangun dari tempat duduknya dan berjalan mendekati sosok pria itu.
Prasetyo berjalan semakin dekat dan saat tepat ada dibelakang pria itu, Prasetyo diam sejenak.
Prasetyo kemudian melihat dari pantulan kaca dan matanya menyipit karena ingin memastikan penglihatannya.
"Mungkinkah itu Ardy? Sekilas sangat mirip sekali denganya.Tapi Ardy sudah tiada, apakah orang mati bisa hidup kembali?" Prasetyo berbicara kepada dirinya sendiri.
Orang itu kemudian maju dan membayar di kasir, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Karena Prasetyo penasaran dengan wajahnya kemudian Prasetyo mengikuti laki-laki itu dan ingin melihat wajahnya secara langsung.
Dari kaca tadi hanya terlihat bagian telinga dan rambut belakang nya saja.
__ADS_1
Wajahnya tertutup oleh orang yang berada didepanya. Dan kemudian tertutup oleh badan kasir yang melayaninya. Sehingga tidak bisa melihat wajahnya secara utuh.
Benar dia sangat mirip sekali dengan Ardy
Merasa ada uang mengikutinya Pria itu langsung memakai helm dan menyalakan mesin motornya.
Pria itu kemudian tersenyum menyeringai. Karena dia mengenali siapa pria yang mengikutinya barusan.
Arya melihat dari pantulan kaca jika dibelakangnya ada Prasetyo yang terus mengamatinya. Kemudian Arya membetulkan letak topinya hingga menutupi sebagian wajahnya.
Dari belakang dia sangat mirip sekali dengan Ardy
Huh! Aku pasti sudah gila
Bayangan Ardy kenapa terus mengusiku akhir-akhir ini. Padahal untuk apa aku mencemaskannya. Bukankah dia sudah tiada?
Sejak menemukan foto Nadiya tantang rumah yang dibelinya, dan rahasia yang Nadiya simpan, juga surat dokter itu, entah kenapa pikiranya sering terusik dengan hal-hal sepele dan tidak masuk akal.
Apalagi melihat orang yang mirip dengan mantan suaminya. Lama-lama aku menjadi tidak waras. Dan tidak mungkin kukatakan kepada Nadiya, atau dia akan mentertawakan ku sepanjang hari.
Dijalan modern ini mana mungkin sosok keren dan milenial seperti aku masih mempercayai adanya takhayul.
Sudahlah. Lebih baik aku kembali. Pasti makananya juga sudah diantarkan dimeja. Nadiya pasti khawatir karena aku tiba-tiba menghilang.
Akhirnya Prasetyo kembali dan duduk dimeja makanya.
"Darimana kamu Pras? Tiba-tiba menghilang?" Tanya Nadiya.
"Ohh aku...dari toilet! Iya...dari toilet." Kata Prasetyo beralasan sekenanya.
"Lama amat. Apa antri toiletnya?"
"Ya. Antri panjang, jadi aku harus ikuti budaya mengantri." Kata Prasetyo.
Nadiya tersenyum tipis dan mengangkat bahunya.
"Makananya sudah datang dari tadi." Kata Nadiya.
"Ya sudah. Ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar." Kata Prasetyo sambil mengambil sendok serta garpu untuk memakanya.
Nadiya melihatnya dengan tatapan aneh. Tidak biasanya dia bersikap gugup seperti itu. Batin Nadiya dalam hati.
Tidak menunggu waktu lama makanan itu sudah habis oleh mereka berdua. Dan Prasetyo kemudian bersandar pada kursi ditempat duduknya. Menunggu sepuluh menit pesanannya untuk ibunya yang baru saja diantar kemejanya.
Setelah membayar maka Prasetyo kemudian meninggalkan restoran itu dan masuk kedalam mobilnya bersama Nadiya.
"Nanti malam ada pesta ulang tahun teman lamaku. Maukah kamu datang menemaniku?"
Kata Prasetyo kepada Nadiya diperjalanan pulang.
__ADS_1
Nadiya mengangguk.