Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Pertemuan Nadiya dan Ardy


__ADS_3

Di tempat Nadiya berbulan madu sedang ada badai salju selama berhari-hari. Nadiya dan Prasetyo masih bertahan disana dan menunggu sampai badai itu reda.


Setelah beberapa hari badai sudah reda dan jalanan mulai dibersihkan oleh beberapa petugas kebersihan.


Nadiya melihat keluar jendela dan berdiri disana sambil melamun. Prasetyo yang baru saja bangun tidur melihatnya sambil tersenyum. Kemudian dia bangun dan berjalan mendekati Nadiya lalu memeluknya dari belakang dan menatap keluar jendela.


"Pras...." Kata Nadiya saat tiba-tiba Prasetyo sudah mendekapnya.


"Ya..." Kata Prasetyo sambil memandangi lekat wajah Nadiya.


"Kita pulang hari ini?" Kata Nadiya sambil mengemas kopernya.


"Baiklah." Kata Prasetyo sambil semakin erat memeluk Nadiya.


"Kalau begitu mari kita berkemas sekarang." Kata Nadiya.


"Sebentar lagi. Aku masih ingin memelukmu." Kata Prasetyo.


Kemudian Nadiya membiarkan Prasetyo memeluknya dan mereka menatap pegunungan yang memutih karena Salju.


Beberapa jam kemudian Nadiya dan Prasetyo sudah mengemas barang-barangnya dan mereka sudah ada didalam jet pribadi untuk pulang.


"Kita akan langsung ke Apartemen ya?" Kata Prasetyo kepada Nadiya.


"Baiklah."


Sesampainya diapartemen Nadiya dan Prasetyo langsung istirahat dan mereka menyalakan telivisi.


Ditelevisi sedang ada berita mengenai masa hukuman Ardy CEO perusahaan Adam Karya yang masih ramai diperbincangkan.


Kemudian Prasetyo semakin mendekat dan mengeraskan suaranya hingga Nadiya pun mendengar dan melihat berita itu dengan tatapan kaget.


"Ardy?" Kata Nadiya yang sedang mengeluarkan barang-barang dari dalam koper.


"Kenapa denganya? Itu bukankah Ardy?" Kata Nadiya. Prasetyo masih mendengarkan berita itu dengan seksama.


"Iya itu Ardy." Kata Prasetyo sambil menoleh kearah Nadiya.


"Apakah dia terlibat masalah? Dan kenapa dipenjara sampai enam tahun?" Kata Nadiya sambil mendekat kearah Prasetyo.


"Dia dengan sengaja mengejar seseorang dan menyebabkan kecelakaan dan ada dua korban jiwa yang meninggal akibat kelalaiannya." Kata Prasetyo sambil mengamati perubahan pada wajah Nadiya.


Bagaimanapun Nadiya juga ikut prihatin mendengar musibah yang menimpa mantan suaminya.

__ADS_1


"Bisakah nanti kita mengunjungi Ardy?" Kata Nadiya kepada Prasetyo. Prasetyo kemudian menatap Nadiya dengan tatapan aneh.


"Tidak bisakah besok saja. Kita baru saja pulang dan tidakah kamu juga lelah." Kata Prasetyo sambil mendekati Nadiya.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu. Kamu masih mengkhawatirkan Ardy bukan?" Tanya Prasetyo sambil menatap tajam ke mata Nadiya.


Wajah Nadiya menjadi merona merah karena malu dan tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya terhadap mantan suaminya didepan Prasetyo.


Harusnya aku tidak mengatakanya.


Gumam Nadiya didalam hati yang merasa tidak nyaman karena Prasetyo saat ini adalah suaminya.


"Baiklah kita akan menengoknya besok saja." Kata Nadiya sambil merapikan beberapa barang.


Kemudian Prasetyo memeluknya dan mencium keningnya.


"Jika kamu sangat khawatir kita bisa menengoknya hari ini." Kata Prasetyo yang disambut tatapan kaget oleh Nadiya.


"Hari ini?" Tanya Nadiya tidak percaya jika Prasetyo berbesar hati dan menepikan rasa cemburu juga hubungan mereka dimasa lalu.


"Ya. Kita akan kesana setelah kita makan." Kata Prasetyo sambil mencium bibir Nadiya dan untuk beberapa saat mereka berpagut dalam kehangatan dan kemesraan.


🌹🌹🌹


Dikantor polisi


"Pak Ardy ada yang ingin bertemu dengan anda." Kata salah seorang polisi kepada Ardy.


Kemudian Ardy masuk kedalam ruangan dan disana sudah ada Nadiya dan Prasetyo. Hati Ardy menjadi jengkel dan bukanya senang ditengok oleh mereka. Sorot mata Ardy sangat tajam terutama kepada Prasetyo. Jika saja hanya Nadiya yang datang mungkin Ardy sangat senang. Tapi dia datang bersama suaminya yang baru dan seakan mentertawakan nasib buruknya, itulah yang membuat Ardy menjadi salah paham dan dendam kepada Prasetyo.


Matanya tajam dan sinis menatap Prasetyo.


"Ngapain kalian datang kemari? Pergilah aku tidak butuh simpati kalian." Kata Ardy sambil menatap meja didepanya.


"Ardy... kami benar-benar datang karena kami prihatin dan ingin melihat keadaanmu." Kata Nadiya. Sementara Prasetyo hanya diam saja. Karena Prasetyo tahu jika Ardy tidak menyukainya.


"Sudahlah. Aku malas berbicara dengan kalian. Lebih baik kalian pulang." Kata Ardy karena saat ini yang dia rasakan adalah marah, kecewa, dan kebencian saja.


"Apa yang menyebabkan kamu sampai dipenjara. Dan....siapa orang yang kamu kejar itu?" Tanya Nadiya pada Ardy.


"Kamu tidak perlu tahu. Itu bukan urusanmu. Pergilah...aku tidak ingin melihat mukamu. Penghianat dan penipu..." Kata Ardy sambil memanggil seorang polisi.


"Pergilah. Jangan pernah menemuiku lagi. Aku muak melihat kalian berdua. Sama-sama penipu." Kata Ardy sambil bangun dari tempat duduknya dan meminta seorang polisi untuk mengantarnya kembali kedalam sel tahanan.

__ADS_1


Melihat mereka bersama lebih menyakitkan bagiku daripada enam tahun dalam penjara


Gumam Ardy sambil berjalan kedalam sel dan tidak menghiraukan tamunya. Karena bagi Ardy tamunya hanya ingin mentertawakanya saja melihatnya terpuruk dalam titik terendah saat ini.


"Ayo kita pulang Nadiya." Kata Prasetyo yang melihat sikap Ardy yang buruk dan masih marah, juga tidak bisa menerima pernikahan mantan istrinya yang sudah move on darinya.


Nadiya akhirnya mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. Kemudian mereka meninggalkan kantor polisi dan pergi kerumah Tuan Alex, ayah Nadiya.


Dirumah Tuan Alex


"Kalian kapan pulang?" Kata Tuan Alex yang saat ini kesehatannya sudah membaik.


"Tadi pagi Pi." Kata Nadiya.


"Bagaimana kabar Papi?" Tanya Prasetyo.


"Papi sehat dan kalian kok malah cepat pulangnya? Bukankah kalian akan satu bulan disana?" Kata Tuan Alex.


"Iya Pi, Nadiya berubah pikiran dan kita pulang lebih cepat." Kata Nadiya.


"Oya Pi, tadi Nadiya kekantor polisi." Kata Nadiya kepada papinya.


"Untuk apa? Apa ada masalah?" Tanya Tuan Alex.


"Tidak Pi. Nadiya mendengar kabar jika Ardy sedang ada masalah dan sekarang ada didalam penjara. Jadi Nadiya kesana dan ingin melihatnya." Kata Nadiya.


"Oouhhh ya. Papi memang melihat dari berita dimana-mana jika Ardy sedang menjalani masa tahanan enam tahun penjara akibat kecelakaan yang menyebabkan dua korban meninggal dunia."


"Papi tahu kenapa dia mengejar orang yang didalam taksi itu?" Tanya Nadiya penasaran.


"Tidak. Papi tidak tahu siapa yang dia kejar dan kenapa dia mengejarnya." Kata Tuan Alex.


"Apakah kamu masih penasaran Nadiya?" Tanya Prasetyo.


Nadiya tertunduk melihat tatapan aneh suaminya karena sepertinya Prasetyo tidak suka Nadiya terlalu ikut campur urusan mantan suaminya.


Apalagi setelah melihat sikap Ardy tadi saat didalam penjara. Hal itu sangat diluar dugaan. Mereka datang untuk bersimpati tapi malah diusir dan terlihat kebencian dimata Ardy terhadapnya.


Tiba-tiba Ibu Sofia turun dari lantai dua karena mendengar ada tamu yang sedang bercakap-cakap dan langsung duduk bersama mereka.


Saat mereka sedang bercakap-cakap, pintu diketuk dan seseorang masuk kedalam. Dia adalah Joan dan Karina.


"Nadiya? Prasetyo? Kapan kalian sampai?" Tanya Karina yang kaget tidak menyangka jika disana ada Nadiya dan juga Prasetyo.

__ADS_1


"Tadi pagi." Kata Nadiya. "Duduklah bersama kami." Kata Nadiya mempersilahkan Karina. Dan matanya menatap Joan dengan tatapan kesal karena harusnya saat ini dia masih ada dipenjara. Tapi sekarang malah sudah berkeliaran dimana-mana.


"Hai." Kata Joan yang melihat dan merasa jika Nadiya tidak menyukainya. Tapi dia tidak peduli dan dia malah duduk didekat Prasetyo dan mulai berbicara tidak jelas.


__ADS_2