
Prasetyo duduk dikantornya sambil menatap sebuah foto yang ada diatas meja kerjanya.
Fotonya bersama Nadiya dengan senyum yang mengembang dari keduanya. Foto itu diambil saat mereka berbulan madu.
Matanya menatap wajah Nadiya dan kemudian jemari tangannya mengusap wajah dalam foto itu.
Tiba-tiba dia teringat kata-kata ibu Monic jika Nadiya pernah mengalami kanker kandungan. Dan saat ini Prasetyo sedang berfikir keras tentang keinginanya untuk punya anak. Haruskah nanti aku tanyakan pada Nadiya? Dan mengajaknya pergi kedokter?
Bagaimana jika Nadiya menolaknya?
Prasetyo kemudian berdiri dan mondar-mandir di ruanganya sambil memikirkan sesuatu. Akhirnya dia memutuskan untuk mengajak Nadiya besok menemui dokter spesialis kandungan dan memeriksa kembali keadaan Nadiya sebelum memutuskan untuk hamil lagi.
Prasetyo khawatir jika kehamilanya akan membahayakan jiwa Nadiya jika dilakukan tanpa pemeriksaan lebih dahulu. Meskipun saat ini dia sedang kesal dengan Nadiya, karena merahasiakan banyak hal darinya, namun cintanya kepada Nadiya lebih besar.
Kemarahan Prasetyo sudah mereda dan rasa kesalnya sudah mulai hilang.
"Mungkin dia tidak mengatakanya karena dia tidak ingin membuatku kecewa." Prasetyo berfikir positif dan mencoba memaafkan soal rumah yang dulu pernah ditempati Nadiya bersama Ardy.
Aku tidak ingin hal sekecil ini mulai membuatku mencurigainya dan...
Kemudian dengan cepat Prasetyo mengambil ponselnya dan menelpon Nadiya.
"Iya Pras...." Saat ini Nadiya sedang beristirahat dikamarnya sendirian sambil memikirkan kejadian tadi pagi saat semua orang terasa mengacuhkannya.
"Maafkan aku Nadiya....." Kata Prasetyo karena merasa bersalah tadi pagi mengacuhkanya.
"Maaf...?" Nadiya semakin bingung karena tiba-tiba Prasetyo minta maaf padanya. Apa kesalahannya? Hingga dia harus minta maaf.
"Ehhhmmm Nadiya, jika kamu tidak keberatan, datanglah kekantorku sekarang." Kata Prasetyo.
"Baiklah. Aku akan bersiap dulu."
Nadiya kemudian mengganti bajunya dan merias dirinya. Dan dia tertunduk melihat jempol kakinya yang tidak bisa memakai sepatu karena pasti sakit jika tertekan.
Baiklah, aku akan memakai sandal saja
Akhirnya Nadiya mengeluarkan sebuah kardus yang berisi sandal jepit yang dia beli saat berbulan madu dan belum sempat dipakai.
Ini boleh juga
Nadiya mencoba sandal itu, dan ternyata jempolnya tidak sakit dan lumayan nyaman. Akhirnya Nadiya turun kebawah sambil mencari ibu Monic yang saat itu sedang berada di dapur.
"Mi...Nadiya mau kekantor Prasetyo, barusan Prasetyo menelpon." Kata Nadiya sambil berpamitan kepada ibu mertuanya.
"Iya Nadiya, tapi, bukankah kakimu masih sakit?" Kata Ibu Monic sambil melihat jempol kaki Nadiya.
"Sudah agak mendingan Mi, buat jalan sudah ngga terasa sakit." Kata Nadiya.
"Ya sudah. Hati-hati ya." Kata Ibu Monic sambil tersenyum kepada Nadiya.
__ADS_1
Tin tin!
Nadiya mendengar klakson dari suara mobil didepan rumahnya. Nadiya kemudian bergegas keluar dan masuk kedalam mobil jemputanya.
Tidak lama kemudian Nadiya sudah sampai dikantor Prasetyo yang baru.
Beberapa pegawai mengangguk hormat padanya. Nadiya langsung menuju kantor Prasetyo. Nadiya mengetuk pintu dan membukanya.
Deg
Dilihatnya seorang pegawai berbaju seksi sedang berdiri didekat kursi Prasetyo. Pegawai itupun kaget saat melihat nya. Sementara Prasetyo terlihat santai saja.
"Baiklah, kau boleh pergi." Kata Prasetyo pada pegawainya.
Pegawai itu kemudian mengangguk kepada Nadiya, Nadiya hanya membalasnya dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Duduklah disini Nadiya." Kata Prasetyo kemudian mendekati Nadiya dan melingkarkan kedua tangannya pada leher Nadiya.
"Aku sangat merindukanmu." Kata Prasetyo sementara Nadiya masih diam tak bergeming. Dia sepertinya kesal pada pegawai tadi yang sepertinya agak genit dan pakai pakaian yang seksi.
Nadiya sendiri juga saat ini lebih terbiasa dengan baju yang seksi. Ya karena suaminya masih muda, sehingga dia harus bisa mengimbangi dalam hal penampilan.
Namun jika didalam kantor suaminya ada yang berpakaian seksi dan matanya menatap genit kepada bosnya, maka Nadiya tidak menyukainya.
Wajar kan aku merasa tidak suka? Prasetyo itu masih muda dan dia juga tampan dan menarik. Jadi siapapun wanita pasti akan senang berdekatan denganya.
"Hai kok malah bengong? Kenapa, datang-datang kok mukanya aneh begitu." Kata Prasetyo.
"Ya. Dia adalah sekretaris ku yang baru. Aku lihat dia cantik, seksi, dan lumayan cekatan." Kata Prasetyo sambil menarik kedua sudut bibirnya kebawah.
"Apakah cantik dan seksi harus masuk dalam kriteria sekretaris mu?" Tanya Nadiya semakin kesal dengan jawaban Prasetyo.
"Ya. Harus masuk kriteria. Aku ini ganteng, mapan, dan menarik. Jadi sekretaris nya juga harus cantik dan menarik." Kata Prasetyo sambil manggut-manggut.
"Ya. Sudah aku mau pulang saja. Kepalaku tiba-tiba pusing." Kata Nadiya beralasan. Padahal sebenarnya hatinya dongkol dengan jawaban Prasetyo yang tidak memikirkan perasaanya.
"Benarkah? Sini biar aku pijat." Kata Prasetyo yang melihat muka Nadiya sudah kesal. Prasetyo kemudian tersenyum karena berhasil membuat Nadiya cemburu dan kesal.
"Tidak usah." Kata Nadiya menangkis tangan Prasetyo.
Prasetyo kemudian berputar dan saat ini ada dihadapan Nadiya. Kemudian dengan tatapan lurus dan tajam dia menatap wajah Nadiya. Kemudian wajahnya semakin dekat, bertambah dekat dan.... cuppp!
Dia mengecup bibir Nadiya.
Bisa-bisanya ya dia ini baru saja menyakiti perasaanku dan sekarang menciumku tanpa perasaan bersalah?
Kata Nadiya didalam hati.
"Yuk kita keluar." Kata Prasetyo sambil menggandeng Nadiya.
__ADS_1
Mereka kemudian berdiri dan saling berhadapan. Tidak sengaja kaki Prasetyo menyenggol jempol kaki Nadiya.
Aaaaaaaahhhhkkk
Nadiya menjerit karena kakinya tersenggol dan rasanya sakit sekali. Kemudian Nadiya meringis kesakitan dan jongkok untuk melihat luka di jempol kakinya.
Prasetyo yang tadinya mau mencium Nadiya pun menjadi urung dan kepalanya tertunduk kebawah.
Dilihatnya jempol kaki Nadiya terbalut kain kasa. Kemudian Prasetyo langsung berjongkok dan memeriksa kakinya.
"Maaf Nadiya. Apakah terasa sakit? Kenapa bisa terluka seperti ini?" Tanya Prasetyo sambil berdiri dan memapah Nadiya duduk disofa.
"Iya. Tadi tidak sengaja menjatuhkan piring dan terkena serpihan ya." Kata Nadiya.
"Sebaiknya kita kedokter." Kata Prasetyo yang merasa khawatir.
"Tidak usah."
"Nanti bagaimana jika infeksi?" Tanya Prasetyo.
"Semoga saja tidak. Mami sudah mengobatinya." Kata Nadiya.
"Kita kedokter sekalian kita periksa kesehatanmu ya?"
Nadiya mendongak dan menatap lurus kewajah Prasetyo.
"Kesehatan?" Tanya Nadiya bingung.
"Ya. Periksa kakimu juga kesehatanmu. Aku....ingin..." Prasetyo berkata pelan dan hati-hati.
Aku tau Pras maksud perkataan mu. Kau ingin aku memeriksa kandunganku bukan?
"Baiklah, mari kita kedokter." Kata Nadiya yang mencoba melawan keraguan hatinya. Bukankah ibu Monic juga sudah mendesaknya dan jika dia terus menundanya, maka masalah ini akan terus menghantui dalam kesehariannya.
Prasetyo langsung sumringah dan dia langsung memapah Nadiya.
"Ngga papa Pras. Aku bisa berjalan sendiri. Lagian pegawaimu akan mentertawakan aku. Datang berjalan sendiri dan sekarang aku harus berjalan dengan bantuanku. Mereka akan mengatakan aku ini Istri yang manja." Kata Nadiya sambil mencoba berjalan pelan.
"Tidak ada yang akan berkata seperti itu." Kata Prasetyo.
"Ngga papa. Aku akan berjalan sendiri."
"Baiklah. Jika kau yakin kakimu tidak akan sakit." Kata Prasetyo yang berjalan disamping Nadiya.
Prasetyo membukakan pintu untuk Nadiya. Dan Nadiya berjalan lebih dulu, kemudian Prasetyo menyusul disampingnya. Nadiya meringis menahan perih namun ditahannya, hingga mereka sampai dimobil yang terparkir didepan kantor Prasetyo.
Mereka kemudian mencari rumah sakit yang bagus untuk memeriksa Nadiya.
"Tapi menurutku lebih baik kita menemui dokter yang pernah memeriksa kandungan mu sebelumnya." Kata Prasetyo.
__ADS_1
"Iya baiklah, kamu lurus kedepan kemudian belok kanan. Disana ada rumah sakit. Aku sudah mengenal dokternya dan dia mempunyai catatan kesehatanku." Kata Nadiya kepada Prasetyo.