Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Kebahagiaan yang sempurna


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu pun berganti bulan. Kehamilan Sandra sudah tujuh bulan. Dan sudah diketahui jenis kelaminnya namun masih dirahasiakan oleh Nadiya.


Mereka akan memberitahukanya nanti saat Sandra sudah melahirkan dan memberikan kejutan pada semua orang. Dikamar Sandra, Nadiya sedang mengeluarkan barang belanjaanya hingga kamar Sandra terasa sempit.


"Banyak sekali barang yang kamu beli Nadiya?" Kata Prasetyo yang seharian menemani Sandra sedangkan Nadiya pergi shopping ke mall. Prasetyo dan Sandra saling berpandangan.


"Iya. Ibu Nadiya beli apa saja sampai sebanyak ini?" Kata Sandra sambil mengelus perut besarnya.


"Saya membeli semua baju bayi couple. Karena calon anak kita akan memakainya bersamaan." Kata Nadiya sambil mengeluarkan semua baju bayi couple dari semua paper bag itu.


"Lihatlah ini?" Kata Nadiya sambil memperlihatkan sepasang baju bayi yang sangat imut.


"Bajunya sangat lucu." Kata Sandra sambil membantu Nadiya merapikan baju-baju yang baru dibelinya.


"Nadiya kamu terlihat bersemangat sekali." Kata Prasetyo sambil merangkul istrinya. Sandra memperhatikan dan melirik kearah suami istri itu.


"Rumah tangga kalian begitu sempurna. Suaminya tampan, istrinya cantik, kalian juga sukses dan kaya raya. Kalian juga baik hati." Kata Sandra yang mengagumi kedua pasangan suami istri yang saat ini ada dihadapannya.


Kemudian Nadiya dan Prasetyo saling berpandangan. "Dan semua kebahagiaan yang saat ini kami rasakan berkat pengorbananku juga Sandra. Kamu mau membantu kami dan berkorban untuk kami." Kata Nadiya sambil menggenggam tangan Sandra.


"Jika kita tidak bertemu maka kami tidak akan sebahagia ini." Kata Nadiya sambil memandang Prasetyo dengan mesra.


"Benar yang dikatakan Nadiya, kedatangan kamulah yang membuat kebahagiaan ini terasa sempurna." Prasetyo menimpali dengan senyum yang menawan.


"Terimakasih, berkat ibu Nadiya juga kami tidak kehilangan rumah kami." Kata Sandra keceplosan.


"Apa yang terjadi dan untuk apa uang itu hingga kamu harus berkorban sebesar ini?" Kata Nadiya dan berharap Sandra mau terbuka dan berbagi perasaanya kepada Nadiya.


Akhirnya Sandra mau terbuka dan bercerita hingga dia memutuskan untuk bekerjasama dengan Nadiya. "Awalnya ayah saya meminjam uang ke bank sebanyak dua milyar dan rumah kami sebagai jaminannya. Uang itu digunakan untuk usaha jual tas branded. Tapi beberapa bulan yang lalu ayah ditipu oleh rekan bisnisnya. Sehingga kami mengalami kebangkrutan. Dan kami tidak bisa membayar hutang sedangkan barang-barang yang kami jual juga telah habis. Ayah mengalami depresi dan saat ini dalam perawatan dokter. Sedangkan ibu saya pergi dan tinggal bersama saudara karena ketakutan pada orang yang menagih hutang. Ada beberapa diantara penagih hutang itu yang kasar dan tidak sopan. Bahkan ada yang dalam satu hari datang berulang kali. Untunglah saat ini ibu saya sudah berani pulang kerumah dan keadaan ayahku mulai membaik. Semua ini berkat pak Prasetyo dan ibu Nadiya." Sandra bercerita sambil sesekali mengusap airmatanya.


Syukurlah jika sekarang rumahmu sudah aman dan kedua orang tuamu bisa kembali kerumah tanpa merasa cemas." Kata Nadiya sambil memeluk Sandra.


"Aduh!" Sandra kaget dan tanpa sengaja berteriak.


"Kenapa?" Nadiya panik.


"Mereka sedang bercanda dan menendang keras sekali. Atau mungkin kita berbicara dan mengganggu istirahat mereka." Kata Sandra tertunduk dan mengelus perutnya. Tangan Sandra mengelus perutnya searah jarum jam agar mereka berhenti menendang.


"Ooouuuh ternyata mereka." Kata Nadiya sambil mengelus bayi dalam kandungan Sandra.

__ADS_1


"Sekarang istirahatlah Sandra, kami tidak akan mengganggumu lagi. Mereka mungkin juga ingin istirahat." Kata Nadiya sambil menggandeng Prasetyo keluar dari kamar Sandra.


"Aku akan mandi." Kata Nadiya sambil membuka kancing bajunya.


"Tunggulah sebentar lagi." Prasetyo mencegahnya.


"Kenapa?" Tanya Nadiya tanganya terhenti saat dia sedang membuka baju.


"Ah! Kau seperti tidak tahu saja." Kata Prasetyo sambil memeluknya dari belakang.


"Apaan sih?"


"Kemarilah, biar kulihat kakimu.


"Ooouuuhhh kamu baik sekali suamiku." Kata Nadiya sambil mengernyitkan dahinya.


"Tengkuraplah badanmu." Titah Prasetyo.


Nadiya memandang Prasetyo dengan tatapan aneh dan bertanya-tanya.


"Kakimu pasti pegal-pegal setelah seharian berkeliling di Mall."


"Ahk! Kami so sweet banget...."


"Tapi kok makin lama makin naik?" Kata Nadiya merasa kegelian saat pahanya dipijat.


"Sudah Pras."


"Belum...diamlah dan nikmati saja pijatanku. sekarang balikan badanmu."


"Tidak!"


"Ayolah...." Kata Prasetyo sambil membalikan badan Nadiya.


"Buka bajumu. Nanti sekalian kamu mandi." Prasetyo dengan gesit membuka baju istrinya dan sekarang mata Prasetyo semakin terbuka lebar melihat sesuatu yang indah.


Merekapun akhirnya terbuai dalam kehangatan dan kenikmatan dan saling berpaut hingga kelelahan.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Tiba waktunya untuk mempersiapkan persalinan. Sandra hanya tiduran saja sepanjang hari karena perutnya yang semakin membesar dan terlihat sangat kencang.


Prasetyo dan Nadiya bergantian menjaga Sandra. "Apakah kamu mau minum?" Tanya Prasetyo sambil menatap Sandra yang mukanya menjadi tembem akibat kehamilanya.


"Tidak pak." Jawab Sandra sambil tersenyum.


"Atau kamu mau makan sesuatu?" Sandra mengangguk.


"Saya ingin memakan pizza dan hotdog. Entah kenapa akhir-akhir ini perutnya rasanya lapar terus." Kata Sandra sambil menaruh sebuah bantal untuk sandaran.


"Baiklah sekarang juga saya akan turun kebawah. Kami jangan kemana-mana sampai saya kembali." Pesan Prasetyo. Sandra mengangguk.


Prasetyo kemudian keluar dari kamar Sandra. Setelah beberapa saat kemudian Sandra merasa ingin buang akhir kecil. Akhir-akhir ini hasrat ingin pipisnya tidak mampu dia tahan dan durasinya terbilang sering.


Mungkin akibat tekanan dari perutnya yang kian bertambah besar. Sandra sudah tidak sabar lagi jika harus menunggu Prasetyo.


Kemudian perlahan-lahan Sandra berjalan kekamar mandi sambil memegangi perut besarnya.


Ada tetesan air dikamar mandi, mungkin kranya bocor, dan Sandra tidak mengetahuinya. Kaki kirinya menginjak tetesan air dikamar mandi, mungkin kranya bocor, dan Sandra tidak mengetahuinya.


Kaki kirinya menginjak tetesan air itu, tiba-tiba Sandra kehilangan keseimbangan dan


Braaaaakkkkk!


Buuukkkk!


Toolooongg!


Sandra terjatuh dilantai dan berteriak minta tolong. Dia tidak mampu berdiri. Darah menetes dari kedua kakinya.


Lantai itu kemudian berwarna merah oleh darah yang tercampur dengan air."Toolooongg...." Sandra terus berteriak karena ketakutan saat dilihatnya darahnya semakin banyak tercampur dengan air ketuban.


"Toolooongg....hiks hiks!" Sandra semakin pucat dan semakin ketakutan. Dia merasakan sakit yang luar biasa pada perut bagian bawah.


"Toolooongg." Sandra terus berteriak minta tolong namun karena pintu tertutup sehingga suaranya tidak terdengar dari luar.


Nadiya naik lift akan naik keapartemenya. Dia langsung masuk kamarnya dan mengganti baju juga menaruh beberapa barang.


Tiba-tiba Nadiya merasa perasaannya tidak enak dan gelisah. Akhirnya sebelum mandi Nadiya masuk kedalam kamar Sandra.

__ADS_1


"San....." Nadiya melihat seluruh sudut ruangan itu. Dan dia tidak melihat Sandra juga Prasetyo.


"Pras....." Tidak ada jawaban.


__ADS_2