Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Penghianatan Rossa


__ADS_3

Rossa sedang berjalan diluar asrama. Dia sana dia berbicara dengan seseorang. Orang itu adalah Catrine. Catrine sudah menunggu lama disana. Karena Rossa tidak mau menemuinya didalam asrama.


"Ini untukmu." Kata Catrine.


"Kenapa kau lakukan ini? Sudah kubilang jangan menyakitinya! Tapi kalian malah menabraknya. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan nya? Kelewatan!" Kata Rossa kesal karena awalnya Rossa tidak tahu jika mereka akan melukai Catrine saat bertanya padanya kapan Sasha melakukan latihan.


"Ini untukmu." Kata Catrine sambil memberikan sejumlah amplop berisi uang pada Rossa.


Rossa yang memang membutuhkan uang itu, awalnya ragu-ragu, namun karena dia tidak akan mendapatkan kesempatan seperti ini, akhirnya menerimanya.


Tadinya dia diam saja dan ragu untuk mengulurkan tanganya.


"Sudah terima aja. Kapan lagi kau akan mendapatkan kesempatan seperti ini. Setidaknya beberapa bulan kau tidak perlu kerja part time." Kata Catrine.


Akhirnya tangan Sasha maju kedepan dan mengambil uang itu.


Sampai tiba-tiba Vano datang dan mengagetkan mereka berdua.


"Ngapain kalian disini?" Tanya Vano.


"Kebetulan aku tidak sengaja bertemu dengannya." Kata Rossa langsung bergegas pergi dengan cepat.


Vano kemudian berdiri didepan Catrine.


"Kau juga ikut kompetisi ini bukan?" Tanya Vano.


"Iya. Kau juga."


"Mari kita bertanding secara sportif."


"Tentu." Jawab Catrine sambil berlalu karena tidak mau bermasalah dengan Vano. Dia tahu jika pemuda ini berulang kali berjalan dengan Sasha. Dia tidak mau terlalu banyak bicara dengannya.


"Sampai ketemu dipertandingan besok." Kata Catrine.


Setelah kepergian Catrine, Vano menoleh ke kanan dan kekiri mencari Sasha. Dia pikir Sasha bersama dengan Rossa. Karena mereka sahabat dan sering terlihat bersama.


Namun karena tidak menemukan sosok yang dicarinya Vano akhirnya mencari Rossa kekamarnya.


Diapun masuk karena pintunya memang terbuka. Disana ada Elena yang sedang mengoleskan sesuatu lelaki Rossa yang pada membiru. Regan yang memanggilnya tadi.


Vano yang melihat hal itu langsung kaget dan mendekati Sasha.


"Apa yang terjadi? Kenapa kakinya pada biru seperti ini?" Tanya Vano.


"Dia ditabrak oleh pengendara motor pas latihan." Jawab Elena.


"Apa? Lalu mana si penabrak itu!?" Tanya Vano kesal.


"Dia kabur dan meninggalkan Sasha ditempat kejadian." jawab Elena.


"Kurang ajar!" ucap Vano penuh kemarahan.


"Sasha, bagaimana keadaanmu?" Tanya Vano.


"Sudah lebih baik. Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil."


"Bagaiamana mungkin kau bilang ini luka kecil. Ini masalah besar. Kau bahkan besok akan lari dan bagaimana kau akan lari dalam keadaan seperti ini?" Kata Vano.


"Tenanglah. Aku pasti besok akan lari. Dan aku tidak akan mundur dari pertandingan ini." Kata Sasha.

__ADS_1


"Apakah kau sudah lapor polisi?" Tanya Vano.


"Tidak perlu. Biarkan saja. Aku tidak mau bolak-balik kesana lagi. Sudahlah tidak apa-apa."


"Dokter magang. Kau yakin salep yang kau oleskan itu sudah benar? Jangan-jangan kau mengoleskan crem muka pada lukanya."


"Kau jangan menghina ya. Lihat ni dengan benar? Salep apa cream?" Kata Elena kesal.


"Ya siapa tahu. Bisa saja kan kau membuat kesalahan jika tidak teliti."


"Sebelum mengoleskan pasti aku lihat lebih dahulu. Kau sendiri juga presenter magang! Kau bahkan sudah sombong, seakan kau adalah artis terkenal." Kata Elena sambil menutup salep ditanganya.


"Apa? Kau sudah magang sekarang?" Tanya Sasha.


"Ya. Dan mulai sekarang aku akan sibuk. Aku bekerja part time di salah satu stasiun televisi di Amerika." Kata Vano.


"Tapi ayahmu? Bukankah kau harusnya masuk kedunia politik seperti keluargamu?" Tanya Vano.


"Aku tidak tertarik untuk mengikuti jejak mereka." Kata Vano.


"Ayahmu seorang gubernur yang terbilang familiar, dan kau justru bekerja menjadi presenter." Kata Sasha.


"Menurutku dia akan mengikuti jejak ayahnya. Aku dengar dia mengambil part time presenter untuk masalah politik dan isu global tentang masalah pemerintahan."


"Benarkah?"


"Ya. Kau benar. Darimana kau tahu?" Tanya Vano.


"Aku mendengar pembicaraanmu dan Diana dikantin. Kebetulan aku lagi disana juga kemarin."


Deg


"Ahk! Dasar kau tukang nguping!" Kata Vano.


"Apakah kalian berpacaran?" Tanya Elena yang tidak tahu jika Sasha dan Vano mempunyai hubungan dekat meskipun tidak pacaran.


Deg


Vano langsung kaget dengan pertanyaan itu dan melihat kearah Sasha. Sementara Sasha membuang mukanya dan tidak menatap Vano.


"Tidak! Kami tidak ada hubungan apa-apa. Lagian ngapain sih kau bisa berpikir seperti itu? Apa kalau kita berbicara dengan cewek selalu harus punya ikatan gitu?" Kata Vano agak kesal saat ditanya masalah pribadi.


"Ya ngga usah sewot gitu kali. Aku kan hanya nanya." Kata Elena.


"Sudahlah! Pekerjaan ku sudah selesai. Bertemu denganmu membuat moodku menjadi jelek!" Kata Elena.


"Elena! Terimakasih..." Kata Sasha saat melihat Elena akan pergi.


"Ya sudah sana!" Kata Vano.


"Kau ini. Harusnya kau jangan menyinggung perasaannya. Dia terlihat kesal." Kata Sasha.


"Dia memang selalu seperti itu. Kami tidak pernah cocok." Kata Vano


Sasha masih terlihat kesal saat mendengar Vano berbicara pada Elena tentang dirinya yang bekerja part time dan menjadi presenter.


"Kau sekarang lebih sering menemui Diana daripada aku." Kata Sasha.


"Tidak. Itu hanya kebetulan saja. Jangan dimasukkan kehati apa yang dikatakan dokter magang itu." Kata Vano.

__ADS_1


"Tapi tetap saja kau sering terlihat bersamanya. Kau bahkan tidak memberitahuku jika sekarang akan bekerja menjadi presenter." Kata Sasha. "Tapi kau malah mengatakan kepada Diana."


"Bukan begitu. Aku melihatmu selalu sibuk. Dan kadang kau sedang bersama teman-temanmu, jadi aku tidak ingin mengganggumu." Kata Vano.


"Aku dengar Diana juga menjadi presenter disalah satu stasiun televisi. Apakah kalian bekerja di stasiun televisi yang sama?"


Sesaat Vano terdiam.


"Ya. Diana yang menawari job yang sedang kosong. Dan aku melamarnya. Dan aku diterima bekerja disana." Jelas Vano.


"Ohh." Jawab Sasha sedikit menutupi rasa kecewa didalam hatinya. Artinya mereka akan sering berkomunikasi karena bekerja pada stasiun televisi yang sama.


Tiba-tiba Regan masuk dan membawa cemilan serta minuman untuk Sasha.


Matanya langsung menatap tajam kearah Vano.


"Ngapain kalian berduaan disini?" Tanya Regan.


"Kami ngga hanya berdua. Barusan ada Elena." Jawab Sasha.


"Tuh! kita tadi bertiga. Sekarangpun kita bertiga, kan ada kamu. Usil amat." Kata Vano.


Regan hanya melirik Vano dengan sudut matanya.


"Nih, buat kamu." Kata Regan sambil menyerahkan kantong berisi makanan kepada Sasha.


"Makasih." Jawab Sasha.


Regan masih duduk saja dan sengaja tidak membiarkan Vano berduaan dengan Sasha.


Vano melirik Regan yang malah asyik dengan handphonenya.


Suasana hening untuk beberapa saat.


Ehem!


Vanopun sengaja bersuara agar Regan segera pergi. Namun Regan hanya meliriknya dan tidak mengacuhkanya.


Sasha lalu mengambil cemilan dari kantong dan membukanya. Lalu dia makan sambil terus melihat Regan dan Vano secara bergantian.


Sashapun mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya. Lalu dia makan cemilan tanpa mempedulikan mereka berdua.


"Mau?" Sasha menawari Vano.


Vano lalu makan cemilan bersama Sasha dan menunggu kapan Regan akan keluar dari ruangan Sasha.


Tiba-tiba Regan mengangkat telepon dari seseorang dan keluar dari ruangan Sasha.


Vanopun tersenyum dan menggeser tempat duduknya lebih dekat pada Sasha.


"Aku mau istirahat." Kata Sasha kemudian.


Ahk Sial!


Gumam Vano. Akhirnya diapun berpamitan kepada Sasha dan keluar dari ruangan Sasha.


Didepan Regan melihat Vano yang keluar dari kamar Sasha dengan sudut matanya sambil terus berbicara ditelepon dengan seseorang.


Sementara Vano menoleh sebentar kearah Regan dan berjalan menjauhi kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2