
Rossa mondar-mandir dikamarnya dengan rasa yg takut, menyesal dan sebagainya. Ingin rasanya dia pergi kerumah sakit dan menengok Sasha. Namun dia tidak punya keberanian untuk menatap mata Sasha. Akibat ulahnya Sasha menjadi terluka dan entah bagaimana keadaanya sekarang.
Tiba-tiba Diana masuk dan menatap Rossa yang mondar-mandir seperti sedang kebingungan.
"Apakah kamu tahu keadaan Sasha?" Tanya Rossa pada Diana yang baru saja masuk. Wajahnya menunjukkan kekhawatirannya. Matanya terlihat begitu sedih.
"Tidak! Belum ada kabar. Vano juga belum kembali. Aku dengar Vano ikut kerumah sakit bersama pelatih." Diana berdiri sambil melihat Rossa yang terus saja meremas jarinya.
"Ya. Mungkin Vano ikut kesana." Rossa mengalihkan pandanganya pada dinding disamping kirinya. Dia merasa tidak mampu menatap mata setiap orang akibat perbuatanya. Apalagi pada semua teman dekat Sasha.
"Apa tidak sebaiknya kita juga ikut kesana? Aku juga khawatir dengan keadaanya." Diana juga sangat cemas dengan keadaan Sasha. Bagaimanapun sejak Sasha menolongnya mereka sudah seperti teman dekat dan lebih kepada sahabat. Dan melihat Sasha kemarin pingsan membuatnya sangat cemas.
"Tapi aku hari ini ada tugas penting dan tidak bisa ditinggalkan, mungkin aku ngga bisa ikut kesana." Rossa berusaha menghindar untuk menemui sahabatnya. Meskipun dalam hati dia sangat ingin menemuinya. Namun apa yang dilakukanya membuatnya merasa bersalah. Bertemu dengan Sasha dan melihat deritanya, akan membuatnya lebih terluka.
Semua ini terjadi karena dia sudah menghianati persahabatannya. Dia sudah memberikan informasi kapan Sasha berlari dan dengan siapa Sasha melakukan latihan dipagi hari itu.
Namun sesungguhnya Rossa tidak pernah tahu jika mereka akan mencederainya. Rossa berpikir mereka hanya akan menemuinya dan menyuapnya. Tak disangka mereka justru menabraknya.
Semua itu diluar pengetahuan Rossa. Mereka juga tidak mengatakanya sebelumnya. Jika tahu apa yang akan mereka lakukan pada sahabatnya, maka Rossa tidak akan memberitahu mereka info tentang Sasha.
"Oohh gitu. Ya sudah. Bagaimana kalau kita kesana besok saja. Jika aku kesana tanpa dirimu maka Sasha pasti akan kecewa." Diana ingin agar Rossa turut serta kerumah sakit menjenguk Sasha. Bagaimanapun Diana tahu jika Rossa merupakan sahabat dekat Sasha. Mereka selalu terlihat bersama dan saling berbagi banyak hal.
Diana juga ingin ada teman saat kesana menjenguknya. Jika tidak hari ini maka besok.
"Tapi aku besok juga tidak bisa. Hari ini dan besok jadwalku sangat padat." Rossa tetap membuat alasan karena tidak sanggup menemui sahabatnya. Dia juga canggung untuk bertatap muka denganya. Melihat keadaanya yang terbaring, membuat pilu hati Rossa.
"Ya sudah. Kalau begitu menyesal sekali karena aku akan kesana tanpa dirimu. Mungkin aku akan mengajak Vano saja besok." Diana berfikir siapa lagi yang bisa menemaninya kesana selain Rossa. Akhirnya Diana berfikir untuk mengajak Vano.
Vano merupakan sahabat Sasha. Dan dia juga teman yang asyik untuk diajak ngobrol.
"Ya. Kau pergilah, dan kabari aku bagaimana keadaanya." Rossa kemudian duduk dan memegang kepalanya dengan salah satu tanganya.
Kepalanya terasa berat akibat banyak berfikir dan tekanan dari dalam hatinya. Rasa tertekan yang begitu dalam membuat kepalanya berputar, dan banyak sekali yang sedang dia fikirkan saat ini.
Diana lalu mengambil laptopnya dan pergi lagi.
"Kau akan pergi lagi?" Rossa menatap Diana yang mengambil Laptop dan dia masukkan kedalam ranselnya. Wajah Diana terlihat sangat ceria saat memasukkan laptop. Entah apa yang membuatnya terlihat berseri-seri. Apakah pekerjaan barunya? Pikir Rossa dalam hati menebak-nebak.
__ADS_1
"Ya. Aku harus ke studio dan ini adalah pekerjaanku yang baru." Diana tersenyum penuh percaya diri dan aura kebahagiaan terpancar jelas dari kedua bola matanya.
Bibirnya tersenyum dan tertahan begitu lama.
"Kau cantik dan menarik, pasti akan banyak yang menonton acaranya." Rossa memuji Diana karena pada kenyataanya dia memang cantik.
Rambutnya panjang sebahu dengan mata agak kebiruan. Rambutnya ikal kecoklatan dan sedikit pirang. Wajahnya juga tirus sempurna tanpa terlihat kurus. Wajahnya cantik bawaan lahir tanpa tarik benang, tanam benang, dan tanpa mengubahnya dengan operasi.
Pantas saja dia memenangkan kontes kecantikan dan satu lagi dia juga pintar dan pandai dalam berbicara. Bahkan begitu melamar menjadi presenter dia langsung diterima begitu cepat.
Ya, dia adalah daya tarik dari berita itu sendiri. Orang akan betah menontonnya, tak peduli berita apa yang akan dibawakanya.
"Semoga. Aku berharap ratingnya bagus dan aku bisa mendapat apresiasi dari CEO." Diana menggendong Ranselnya dan mengambil sepatunya.
"Apakah kau akan memakai baju seperti mereka?" Tanya Rossa sambil memperhatikan sepatu hak tinggi yang akan dipakai Diana.
"Tentu saja." Diana memakai high heels.
"Semoga sukses!" Kata Rossa sambil tersenyum tulus mendoakan Diana.
"Thanks. Bye..." Diana kemudian keluar dan saat digerbang dia berpapasan dengan Vano yang baru saja pulang dari rumah sakit.
Aduh!
Diana keseleo karena sepatunya masuk kedalam lubang. Namun dengan cepat dia menariknya sebelum Vano menghilang.
Untung saja ngga copot!
Gumam Diana saat menarik ujung high heelsnya yang nyangkut disela-sela jalanan dengan keramik kasar kotak-kotak. Jadi banyak sela diantara kotak satu dengan kotak yang lainya. Dan itu merepotkan memang kalau berjalan diatasnya dengan sepatu high heels yang ujungnya kecil.
"Vano!" Teriak Diana dari kejauhan.
Vano menoleh dan mencari asal suara itu. Ternyata itu suara Diana yang berada jauh didepanya.
"Vano...." Diana lalu lari tergopoh-gopoh dengan ransel dipunggungnya.
"Kau sudah pulang? Bagaimana keadaan Sasha?" Tanya Diana.
__ADS_1
"Dia harus dirawat selama satu Minggu."
"Apakah lukanya parah?"
"Sepertinya begitu."
"Besok aku akan menengoknya. Sekarang aku harus ke studio, dan ini hampir terlambat." Kata Rossa.
"Okey, hati-hati."
***
Karena bosan didalam kamar dengan perasaan bersalah dan rasa yang tidak tenang maka Rossa akhirnya keluar dari kamarnya.
Saat akan berjalan ketaman, Rosaa melihat Catrine dan menteri masuk kedalam kantor dikampus.
Apalagi yang akan mereka lakukan?
Aku benar-benar sudah terjebak sekarang.
Gumam Rossa dalam hati. Rossa kemudian duduk dibawah pohon dan menatap kelangit yang begitu tinggi.
Aku ini benar-benar bodoh!
Kenapa aku terpengaruh oleh kata-kata mereka dan aku menerima uang dari mereka. Dan uang itu sudah aku gunakan untuk belanja online setengahnya. Bagaimana aku akan menggantinya jika aku membela Sasha. Bagaimana aku akan mengembalikan uang dalam amplop itu jika aku tidak mau membantu mereka.
Aku tidak berpikir panjang. Aku tidak tahu kalau dampaknya akan seperti ini. Terutama Sashalah yang paling menderita. Dia harus berlari dengan kaki yang terluka. Dan sekarang dia harus dirawat selama seminggu dirumah sakit. Jika kakinya cedera maka, bagaimana jika dia tidak bisa maju di kompetisi selanjutnya?
Ohh menyesal sekali aku telah melakukan kesalahan besar. Jika Sasha tahu, maka dia tidak akan memaafkan aku.
Ini adalah impian besarnya. Dia bahkan berusaha keras untuk mencapai semuanya. Tapi aku malah membuatnya terluka dan....
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Haruskah aku minta maaf?
Tapi, aku yakin Sasha tidak akan memaafkanku untuk kesalahanku ini.
__ADS_1
Haruskah aku kebalikan uang Catrine. Tapi jumlahnya sudah berkurang separo. Kenapa aku harus belanja secepat ini? Harusnya aku bisa menundanya jadi aku bisa mengembalikan uang Menteri dan Catrine.
Ini benar-benar kacau dan membuatku gila!