Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Pembuktian Sasha


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Sasha membereskan laptopnya yang berada diatas tempat tidurnya didalam dirumah sakit. Dia lalu memasukkannya kedalam ranselnya dengan rapi. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka dari luar.


Dia pikir Regan sudah datang menjemputnya pulang. Dokter sudah mengizinkan Sasha pulang satu hari lebih cepat dari yang seharusnya.


Sasha meletakkan ranselnya yang sedang dia pegang, dia lalu menoleh kearah pintu dan disana ada temannya. Terlihat Vano dan Diana tersenyum kearah Sasha secara bersamaan.


Vano dan Diana lalu berjalan mendekat kearah Sasha. Namun mereka terkejut saat kamar Sasha sudah rapi. Dan artinya apakah dia sudah boleh kembali keasrama?


"Sasha, apa kabar?" Tanya Diana sambil duduk disamping Sasha.


"Aku sudah lebih baik. Oh ya, apakah kalian bersama Rossa? Apakah dia baik-baik saja. Aku tidak melihatnya selama satu Minggu, apakah dia sakit?" Tanya Sasha yang merindukan sahabatnya.


Diana sendiri heran dengan sikap Rossa yang sedikit aneh. Dan yang lebih aneh lagi, bagaimana mungkin sekalipun dia tidak menjenguk Sasha. Bisa dibilangereka sahabat dekat, dan kemana-mana selalu tampak bersama.


Diana bahkan sudah datang dua kali untuk menengoknya.


"Rossa sangat sibuk, tapi dia menitipkan salam untukmu, agar kau cepat sembuh." Kata Diana berbohong, karena dia tidak ingin melihat Sasha kecewa.


Sasha melihat mereka berdua datang bersama dan menurutnya itu hal yang paling menyebalkan. Mereka sekarang terlihat lebih akrab apalagi sejak Sasha dirumah sakit dan Vano bekerja di salah satu stasiun televisi yang sama dengan Diana.


Mereka akan punya banyak waktu untuk bertemu dan bersama-sama.


Wajah Sasha sedikit memerah entah karena apa, dan dia melanjutkan lagi beberesnya karena saat ini dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.


Kakinya sudah membaik meskipun masih dilarang melakukan olahraga yang berat dan berjalan terlalu lama. Namun dia setidaknya tidak duduk di kursi roda dan mengandalkan orang lain untuk membantunya.


"Apakah kau akan pulang hari ini?" Tanya Vano.


"Ya. Dokter sudah mengizinkannya." Sasha melipat sweaternya dan memasukkannya kedalam koper.


"Baiklah aku akan mengantarmu pulang. Kebetulan aku tadi kesini naik mobil." Kata Vano.


"Tidak usah, aku akan pulang bersama Regan. Dia akan datang beberapa saat lagi." Kata Sasha sambil mencari handphonenya dan bermaksud untuk menelpon Regan.


Setelah menemukan handphonenya Sasha lalu memencet nomor Regan.


Namun tidak terjawab.


Nomor yang anda tunggu berada diluar jangkauan.


Sasha mencoba menghubunginya lagi.

__ADS_1


Dan jawabannya tetap sama.


Sasha menghela nafas panjang. Lalu tertunduk dan menaruh handphone ditasnya.


"Apakah Regan tidak akan datang?" Tanya Vano melihat perubahan raut muka Sasha yang menjadi masam.


"Sepertinya begitu. Handphonenya tidak bisa dihubungi." Kata Sasha.


"Jika begitu, kau pulang bersama kami saja. Jangan menunggunya." Kata Vano dan berharap Sasha mau pulang bersamanya.


Diana lalu duduk disamping Vano. Dan nampak menatap lembut kearahnya.


Sasha melihat dengan ujung matanya. Diana sepertinya menaruh hati pada Vano itu terlihat dari cara Diana memandang Vano dan saat dia tersenyum kepada Vano.


Sasha yang melihat hal itu lalu tertunduk kembali, akankah dia mengalami cinta segitiga antara dia dan Diana? Lalu kepada siapakah Vano akan menambatkan hatinya karena saat ini lebih sering dekat dengan Diana.


Bahkan mereka bekerja di salah satu stasiun TV yang sama. Hal itu membuat sedih hati Sasha. Sebelum ada Diana dan mereka menjadi teman, semua perhatian Vano dan waktu Vano selalu untuk Sasha, bahkan dia mengejar dan terus berada di dekat Sasha meskipun Regan tidak menyukainya.


Namun saat ini hubungan mereka menjadi sedikit renggang, ataukah Vano mulai menjauhi Sasha dan mendengarkan apa kata Regan?


Padahal tadinya dia begitu gigih untuk memperjuangkan cintanya.


Sasha teringat sesuatu sepertinya tertinggal saat dia tadi mandi.


"Ternyata disini." Gumam Sasha.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Sasha lalu memasukkan jam tangan itu ke sakunya. Setelah itu dia mengambil koper dan ranselnya.


"Baiklah aku akan pulang bersama kalian," kata Sasha sambil menenteng ranselnya.


Kemudian Diana mendekat, "biarkan aku yang membawa ranselmu dan copernya, biarkan Vano yang membawanya. Ayo kita turun!"


"Apakah kakimu sudah tidak sakit untuk berjalan?" kata Diana sambil memperhatikan kedua kaki Sasha yang sepertinya memang sudah lebih baik.


Kemudian Sasha melihat kedua kakinya dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Aku sudah sembuh, tapi sepertinya aku tidak bisa ikut dalam kompetisi selanjutnya, namaku tidak ada disana. Ada orang lain yang menggantikan aku. Mereka tidak mempercayai kemampuanku, padahal meskipun kakiku sakit aku akan berlatih dan terus berjuang untuk membuat nama baik bagi Universitas ini."


Kemudian Diana mendekat dan meraih tangan Sasha dan dia menggenggam erat tangannya.


"Jangan berputus asa, itu hanyalah nama yang tertera di sana. Nanti jika kau berusaha maka kau bisa mewakili untuk ikut kompetisi itu dan Catrine yang menjadi pelari cadangan."


"Kau hanya harus membuktikan jika kau bisa berlari melampauinya atau kalian akan bertanding sekali lagi untuk membuktikan siapa yang berhak untuk masuk ke ajang kompetisi selanjutnya."

__ADS_1


Vano melihat dan menatap Diana. Dan dalam hati berfikir apa yang dikatakan Diana ada benarnya juga. Mereka tidak akan percaya jika hanya dikatakan. Setelah dibuktikan maka mereka tidak akan bisa berkutik lagi.


Mereka seenaknya saja mendaftarkan nama orang lain tanpa meminta persetujuan dari pemenangnya. Bahkan keputusan diambil secara sepihak tanpa dimusyawarahkan dulu. Ini jelas sangat merugikan Sasha.


Mati-matian dia berjuang dan dengan mudah mereka mendaftarkan nama orang lain. Ini tidak bisa dibiarkan! Sangat keterlaluan!


"Yang Diana katakan benar. Jika mereka tidak mempercayai kemampuanmu maka satu-satunya cara adalah kalian berdua harus bertanding dan akan ditentukan siapa yang menjadi pemenangnya."


"Siapa yang menang maka, dia akan mewakili Universitas ini sehingga tidak ada keraguan didalamnya."


"Kau benar, jika aku hanya berkata maka mereka tidak akan mempercayainya, aku harus berlatih terus dan membuktikan lagi jika kakiku cukup mampu untuk berlari seperti sebelumnya," kata Sasha.


"Ayo sekarang kita pulang!"


Keluar dari kamar rawat inap, mereka berjalan ke parkiran sampai di dekat mobil Vano.


Diana lalu membukakan pintu tengah untuk Sasha dan Sasha duduk dengan sedikit bingung.


Sedangkan Diana, duduk di samping Vano didepan Sasha.


Awalnya Sasha ingin duduk di depan bersama Vano, namun Diana terlanjur membukakan pintu untuknya, sehingga dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Terpaksa dia pun masuk dan duduk di belakang, sementara Diana dan Vano duduk di depan.


Vano kemudian masuk dan duduk di belakang setir, dia juga mengingatkan Diana untuk memakai seatbelt.


"Pakai seatbeltnya! Kau selalu saja lupa dan membuat kita kena masalah," kata Vano.


"Ya maaf aku tidak sengaja," kata Diana sedikit manja.


Lalu Diana mencoba memasang seatbeltnya dan berulang kali dia mencoba memasukkannya namun terasa sulit, akhirnya Vano membantunya untuk memakai seatbelt.


Deg.


Sasha merasa aneh saat melihat Vano begitu dekat dengan Diana.


Dia menjadi kesal dan tidak menyukai kedekatan mereka, tapi dia juga sudah bisa mengatakan apa-apa karena sampai saat ini Sasha dan Vano tidak ada hubungan apa-apa selain sahabat dan teman dekat.


Sasha masih ingat,


Vano saat itu pernah mengungkapkan perasaannya, namun Sasha terlanjur menolaknya dan Sasha tidak mungkin memintanya lebih dulu, jika saat ini dia mulai menaruh hati pada Vano.


Berada diantara mereka aku serasa terbunuh dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2