Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Arya dan sikembar


__ADS_3

Setelah Ibu Monic dibawa kerumah sakit, saat ini Edsel dan juga Eiden ditemani oleh Arya. Beberapa anak buah Arya yang akan menemuinyapun saat ini kesulitan karena tidak menemukan dirinya dimarkas besar mafia.


Arya saat ini sudah dinobatkan menjadi pimpinan mafia Kafe Hitam. Karena berkat masuknya Arya menjadi salah satu anggota mafia banyak kafe-kafe berhasil dibangun dan mendapat izin dari pejabat setempat karena kepandaian Arya dalam bernegosiasi.


"Kemana bos kita pergi?" Tanya salah satu anak buahnya.


"Aku sudah mencarinya ke segala penjuru kota tapi tidak berhasil menemuinya. Bagaimana ini? Apa yang harus kita katakan kepada Tuan Burhan?" Kata salah seorang temanya.


"Apakah kau sudah mencoba menelponnya sekali lagi?"


"Bukan hanya sekali tapi sudah ratusan kali." Sahut temanya.


"Kita akan kena gampar jika tidak bisa menyampaikan pesan penting ini."


"Ayo kita cari sekali lagi. Jika memang tidak berhasil maka kita akan kembali kemarkas dan melapor pada Tuan Burhan." Kata temanya.


Merekapun berkeliling mencari Arya hingga ke segala penjuru dan ketempat-tempqt yang sering dikunjungi oleh bos nya tersebut. Namun mereka tetap tidak bisa menemukanya. Mereka sudah bertanya kepada beberapa teman dan juga siapapun yang pernah mengenal Arya. Dan jawaban mereka tetap sama. Mereka tidak melihatnya.


"Apakah kau melihat Bos Arya?" Tanya salah seorang anak buahnya kepada satpam sebuah perumahan.


"Ohh iya. Saya tadi melihatnya masuk kedalam. Tapi setelah itu saya tidak melihatnya keluar." Kata satpam perumahan itu yang memang sudah sering ngobrol dengan Arya.


"Ya sudah. Kasih tahu kami jika kau melihatnya. Ini no hp kami." Kata salah seorang anak buahnya.


"Ya. Nanti saya akan kasih tahu jika melihatnya lagi." Kata satpam itu sambil menyimpan nomor hp anak buah Arya.


"Ayo kita masuk kedalam." Kata salah satu anak buahnya kepada temannya.


"Oke."


Merekapun naik motor masuk kedalam dan melihat setiap yang mereka lewati dengan seksama.


Dan mereka tiba-tiba berhenti saat melihat motor Arya terparkir didepan rumah mewah bak sultan.


"Ini motor bos kita." Kata salah seorang temannya.


"Ayo kita masuk kedalam."


"Ngga bisa masuk. Pintu ini dikunci dari dalam."


"Baiklah kalau begitu kita pencet bel nya."


Tterrrtttt!


Teeerrrttttttt!


"Kita tunggu disini saja." Kata seorang temanya sambil bersandar pada tembok pagar rumah.


"Lama amat! Kenapa tidak ada yang membukanya?"


"Ayo kita pencet sekali lagi!"

__ADS_1


Teeerrrttttttt!


Teeerrrttttttt!


Greeeekkkk! Pintu terbuka.


"Siapa sih mencet bel berulang-ulang?!" Teriak Arya saat berjalan kedepan gerbang untuk membuka pintu.


Dan kedua anak buah Arya terpana saat melihat Bos mereka yang biasanya gagah dan sangar hari ini tampil dengan celemek atau bib apron.


Merekapun berpandangan dan terheran-heran.


"Apa yang terjadi dengan Bos kita? Apakah kita tidak salah lihat? Kenapa dia berpakaian seperti koki?" Gumam salah seorang temanya.


"Entahlah. Mungkin dia sedang ada misi tertentu yang membuatnya harus tampil seperti itu." jawab temanya.


"Hei kalian! Ngapain kalian disini?!" Kata Arya dengan suara keras.


"Kami mencari bos seharian karena ada yang harus kami sampaikan." Kata anak buahnya.


"Tidak bisa sekarang. Aku sedang sibuk!" Jawab Arya.


"Tapi bos....ini sangat penting. Ini tentang berlian yang akan dikirimkan dari luar kota ke ibu kota."


"Tidak bisa sekarang! Lain kali saja. Bilang sama Tuan Burhan. Aku sedang ada tugas penting. Jadi kali ini aku tidak ikut andil." Kata Arya dan akan menutup gerbangnya.


"Kenapa Bos berpakaian seperti ini?" Tanya anak buahnya.


Ggrrreeeekkkk!!!


"Gimana ini? Bos Arya tidak mau kembali kemarkas katanya dalam misi penting. Tapi berpakaian seperti orang yang sedang masak didapur. Misi apa menurutmu?" Tanya seorang temanya.


"Entahlah. Dia memang sulit ditebak. Dan kata Tuan Burhan selalu semaunya sendiri. Dan jika sudah bilang tidak maka tidak ada satupun orang yang bisa mengubah keputusannya. Tapi dia menjadi kesayangan Tuan Burhan karena kelihaiannya dan kecerdasannya."


"Benar yang kau katakan! Dia pemula tapi sudah diangkat seperti dewa! Dipuji setinggi langit dan menjadi Bos kita."


"Benar yang kau katakan. Ayo kita kembali saja. Dan kita kasih tahu Tuan Burhan!"


Merekapun naik diatas motor dan keluar dari perumahan itu menuju kedalam markas besarnya.


Sementara Arya sedang menggoreng telur mata sapi untuk kedua anaknya Nadiya yang saat ini tidak ada siapapun selain dirinya.


"Nih makan!" Kata Arya dan memberikan telur mata sapi kepada sikembar.


"Hanya ini om?" Tanya sikembar saat diatas meja hanya ada nasi dan telur mata sapi dan juga kecap manis.


"Ya. Makanlah!" Kata Arya.


"Kok hanya pake telur? Biasanya ada sosis, daging dan juga sayur dan lauk yang lainya. Papi biasanya memasak masakan yang lezat untuk kami. Kami tidak mau makan!" Kata Edsel.


"Terserah! Jika kalian tidak mau makan."

__ADS_1


Kata Arya sambil duduk didepan mereka dan memandang lekat kepada buah cinta Nadiya dan Prasetyo.


Dasar! Anak dan bapak sama-sama merepotkan! Kalian satu paket yang menyebalkan!


"Om....tapi kami lapar...."


"Ya sudah makan kalau begitu. Jangan banyak memilih makanan. Kalian ini mentang-mentang hidup enak makan pakai telur aja ngga mau. Kalian tahu saat om sudah dan tinggal dikontrakkan, om cuma makan pakai kerupuk? Kalian ini harus bersyukur, ngerti?!" Kata Ardy kepada kedua bocah didepanya.


"Iya Om. Eiden Ayo dimakan saja. Aku sangat lapar. Kan ngga ada mami, papi dan juga Oma. Nanti kalau kita sakit bagaimana?" Kata Edsel.


"Kamu aja! Aku ngga mau! Masa makannya cuma kaya gini?" Kata Eiden sambil memalingkan mukanya.


"Om pesenin saja pakai go-food, biasanya mami pesan lewat go food." Kata Edsel.


"Mana uangnya? Kalian punya uang ngga?"


"Ngga om."


"Ya sudah. Kalau begitu cepat makan. Jangan banyak bicara. Makan seadanya. Kalian ini sudah dididik tidak benar oleh Nadiya dan Prasetyo. Makan aja milih-milih. Bagus ada om mau gorengan telur. Jika tidak ada om, apakah kalian bisa goreng telur sendiri?"


Merekapun menggelengkan kepalanya dan kemudian mengambil sendok dan mulai memakan nasi lauk telur mata sapi.


"Nah bagus. Makan sampai habis." Kata Arya saat melihat kedua bocil itu menghabiskan makanannya.


"Sekarang bawa piring ini kedapur dan cuci piringnya!" Kata Arya.


"Apa om?! Cuci piring? Kami tidak pernah melakukanya. Om aja yang cuci piringnya?"


"Apa kau bilang? Kau suruh om yang mencuci piring itu?" Kata Ardy dengan mata melotot.


"Kami tidak bisa melakukanya."


"Ya tentu saja tidak bisa melakukanya. Prasetyo dan Nadiya terbiasa memanjakan kalian. Mentang-mentang orang kaya, terbiasa menyuruh orang jadi kalian tidak bisa melakukan apa-apa. Bisanya hanya bermain saja. Cepat lakukan!" Kata Arya.


"Iya om. Eiden! Ayo bawa piringnya kedapur....kita harus mencucinya. Om itu tidak mau mencuci piring." Kata Edsel ketakutan.


"Ngga mau. Kamu saja! Aku mau main bola!" Kata Eiden.


"Eiden! Kalau kau tidak mau mendengarkan aku maka malam ini kau akan tidur sendiri." Kata Edsel.


"Ya sudah....tapi kau tidur dikamarku ya...." Kata Eiden yang lebih penakut dan takut tidur sendirian.


Kedua anak Nadiya itupun berjalan kedapur dengan membawa piring masing-masing dan mulai mencuci piring sebisanya.


Air terpercik kemana-mana dan membuat dapur itu menjadi licin. Arya masuk dan terpeleset karena ulah mereka.


Shiiitttttt!


Gedebuk!


"Siapa yang buat lantai dapur ini licin?" Teriak Arya sambil memegangi bokongnya yang sakit.

__ADS_1


__ADS_2