
Tidak lama kemudian lamunan Nadiya tersentak oleh kedatangan Regan yang mengagetkanya dari belakang.
"Mami!" Kata Regan membuyarkan lamunan Nadiya.
"Ohhhh....mami sampai kaget kalian tiba-tiba datang."
"Ini untuk mami...." Kata Regan sambil memberikan ice cream kepada Nadiya.
"Terimakasih." Kemudian mereka duduk bersantai sambil menikmati ice cream dan terik matahari yang terasa hangat.
Mereka makan sambil menikmati pemandangan Menara Eiffel dari Champs de Mars di Paris. Bersama wisatawan lainya yang juga duduk-duduk diatas rumput yang lembut.
Megahnya Menara Eiffel membuat Regan kagum dan tidak berhenti menatapnya.
"Jika kalian lapar, kalian bisa membeli sandwich atau crepe di street food yang dijual diarea taman." Kata Nadiya pada Prasetyo dan Regan.
"Tadi juga Regan beli ice creamnya disana mami." Kata Regan sambil jari telunjuknya mengarah pada street food.
"Kalian bersenang-senanglah, mami akan pergi ke Museum Mode Galliera." Kata Nadiya karena dia yakin Regan takkan suka disana. "Nanti kita bertemu dihotel. Kalian kembalilah lebih dahulu. Nanti biar mami pulang sendiri."
Prasetyo dan Regan mengangkat bahu secara bersamaan. "Oke mami!" Jawab mereka bersamaan.
"Baiklah mami pergi dulu ya. Kalian bermain-mainlah sepuasnya." Kata Nadiya sambil beranjak dari tempat mereka duduk.
Nadiya pergi dengan menggunakan taksi untuk sampai kesana. Tapi rupanya seseorang membuntutinya tanpa sepengetahuan Nadiya. Kemudian taksi yang mengikuti Nadiya juga berhenti ditempat Nadiya singgah.
Aku merasa seperti ada yang mengikutiku. Tapi saat aku menoleh tidak ada siapapun. Gumam Nadiya.
Ternyata yang mengikuti Nadiya adalah seorang wanita. Wanita itu berambut panjang namun wajahnya tidak begitu terlihat jelas. Saat Nadiya menoleh, wanita itu langsung menutup wajahnya dengan syal.
Nadiya ingin mengejarnya namun kerumunan orang membuat Nadiya kehilangan jejaknya. Siapa dia? Kenapa dia mengikutiku? Apakah dia adalah kenalanku? Tapi jika dia adalah salah satu kenalanku kenapa tidak mau menampakan wajahnya dan malah mengikutiku secara sembunyi? Apakah dia punya niat jahat padaku?
__ADS_1
Dan saat Nadiya mau membalikan badannya malah bertabrakan dengan seseorang. Sehingga Nadiya hampir terpental, namun dengan cepat tangan laki-laki itu meraihnya sehingga Nadiya berada begitu dekat di dadanya. Nadiya kemudian mendongakkan kepalanya dan detik itu juga Nadiya langsung melepaskan pegangan laki-laki itu.
"Ardy? Ngapain kamu disini?" Tanya Nadiya bingung bisa bertemu Ardy di Museum Mode Galliera. Kemudian Nadiya berpikir tentang orang yang mengikutinya itu, apakah Ardy orang yang tadi membuntutinya? Tapi aku melihat jika dia adalah perempuan. Tidak! Itu bukan Ardy. Gumam Nadiya didalam hati.
"Aku sengaja kesini karena kamu pergi sendirian. Aku lihat bodyguard itu tidak bersamamu. Jadi aku berfikir untuk menemanimu dan menjagamu dari orang jahat."
"Terimakasih, tapi disini tidak ada orang jahat. Jadi sepertinya aku bisa sendiri. Lebih baik kamu pulang dan tidak usah mengkhawatirkan aku."
"Aku hanya khawatir jika kamu sendirian di Nagara orang. Jadi, kali ini saja biarkan aku menemanimu."
"Terserah jika itu memang keinginanmu. Tapi jangan menggangguku, berjalanlah dibelakangku, tanpa banyak bertanya dan tanpa keluhan apapun itu." Jawab Nadiya tegas dan melangkah mengelilingi museum itu.
Hampir semua wisatawan singgah di museum ini. Karena Museum Mode ini menampilkan Pameran yang didedikasikan untuk ikon gaya dari karya desainer terkenal. Nadiya senang dan sangat takjub karena tempat ini digunakan untuk pertunjukan memamerkan busana ikon Paris oleh para model.
"Ini sangat menakjubkan." Kata Nadiya pada dirinya sendiri.
"Ya ini memang menakjubkan." Ujar Ardy menimpali. Nadiya melirik kearahnya saat mendengar komentarnya. Ardy dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain dan tidak menghiraukan tatapan Nadiya.
"Aku mau pulang." Kata Nadiya.
"Apa tidak sebaiknya kita makan dulu?" ujar Ardy.
"Aku tidak lapar." Sahut Nadiya.
"Bisakah kita makan dulu sebentar. Aku sangat lapar." Kata Ardy. "Kali ini saja, makanlah bersamaku." Karena Nadiya pikir juga berbahaya jika dia pulang sendiri malam-malam begini maka akhirnya Nadiya menemani Ardy makan terlebih dahulu. Kebetulan didekat mereka berdiri ada Restoran cepat saji.
"Oke baiklah. Tapi makanlah dengan cepat. Aku tak mau Regan khawatir karena maminya belum pulang." Kata Nadiya sambil memesan minuman untuk dirinya.
"Siap Buk." Jawab Ardy. Tidak lama kemudian makanan yang Ardy pesan sudah tersedia dihadapannya.
"Makanlah bersamaku, kamu pasti juga lapar." Kata Ardy karena dia lihat Nadiya hanya memesan minuman saja.
__ADS_1
"Tidak. Kamu saja yang makan." Jawab Nadiya.
"Kapan terakhir kali kita makan satu meja ya Nad?" Kata Ardy mulai membuka kisah tentang mereka dimasa yang lalu.
"Aku tidak ingat." Jawab Nadiya singkat.
"Bukankah makan seperti ini, berdua sambil bercerita terasa menyenangkan?" Kata Ardy mulai membuka gembok hati Nadiya.
"Aku sudah terbiasa makan sendirian. Jadi bagiku tidak ada masalah makan seorang diri." Jawab Nadiya.
"Aku ingat dulu kamu selalu masak untuku. Dan aku bahkan masih ingat bagaimana rasanya." Kata Ardy sambil melihat kearah Nadiya.
"Aku tidak ingin mengingat apapun saat ini. Karena bagiku masa depan lebih berharga daripada masa lalu." Kata Nadiya yang tidak senang Ardy membuka kembali kisah lama mereka.
"Kadang aku mengingatmu saat malam hari. Dan berharap bisa mengembalikan waktu dan memutarnya kembali." Kata Ardy mulai berusaha meruntuhkan hati Nadiya.
Nadiya diam saja karena tidak mau membahas apa yang sudah dia lalui dimasa lalu.
"Tapi aku bahkan tidak percaya, apa yang aku lihat saat ini. Orang sebaik dirimu bisa berubah dan bahkan tidak mau memberiku kesempatan kedua. Dulu aku berfikir akan menghabiskan hari tua bersamamu. Tapi ternyata takdir tidak berpihak padaku. Aku tidak sadarkan diri dimalam itu, sehingga membuat noktah dalam perkawinan kita. Tapi...meskipun aku katakan bahwa aku khilaf kamu tetap tidak mau memperbaiki hubungan kita. Padahal aku berharap bisa mendapatkan pengampunanmu dan kesempatan kedua untuk menjadi suamimu." Kata Ardy dengan muka sedih dan pilu.
Nadiya sesaat trenyuh dengan sikap Ardy yang menusuk hatinya. Tapi jika memang dia khilaf, bukankan Nadiya sudah memaafkanya dengan tidak membuka aibnya, dan tetap bertahan dalam hubungan itu hingga Regan lahir ke dunia? Ternyata bukan kesalahannya yang membuat Nadiya sakit hati dan sedih, tapi yang paling menyakiti hatinya adalah sikap Ardy sendiri. Terutama menyalahkanya dan tidak mempercayainya hingga menyudutkannya bahwa dia adalah penyebab semuanya.
"Jangan ingatkan aku pada masa lalu kita Ardy. Aku sudah berusaha menguburnya. Bukankah sebaiknya kita move on....dan sama-sama membuka lembaran baru?"
"Maksudmu kita akan menikah?" Tanya Ardy dan menatap tajam pada bola mata Nadiya.
"Iya, tapi dengan orang yang berbeda atau pasangan baru."
"Apakah kamu sudah menemukan penggantiku? sehingga kamu berbicara seperti itu?"
Nadiya diam seribu bahasa dan tidak mengatakan apapun, setidaknya untuk saat ini.
__ADS_1