Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Ular berbulu domba


__ADS_3

Sandra lalu mengelap tubuh Nadiya yang basah lalu dia mengeringkanya.


Nadiya terpental kedalam air sehingga dia tidak terluka parah. Tapi ada sedikit benturan dikepalanya.


Sandra lalu menelpon temannya yang menjadi dokter. Tidak lama kemudian temannya datang dan mulai mengobati Nadiya.


Beberapa jam kemudian Nadiya sudah mulai sadarkan diri. Sandra dan dokter masih ada disana hingga dia siuman.


Nadiya masih dalam keadaan diinfus. Sandra tidak membawanya kerumah sakit karena salah seorang temanya menjadi dokter dan membuka praktek di kampungnya. Sehingga dia bisa meminta tolong padanya.


Tapi....anehnya Nadiya tidak mengenali Sandra.


Benturan di kepalanya agak keras sehingga dia lupa siapa dirinya dan darimana asalnya.


Tidak lama kemudian ibu Sandra yang baru saja dari belanja di pasar pulang dan kaget saat ada dokter dirumahnya.


Sandra lalu menceritakan apa yang terjadi.


"Kasihan dia, keluarganya pasti sangat menghawatirkan keadaanya."


Deg.


Sarah jadi teringat pada dua bayi kembar yang dikandungnya.


Pasti mereka sudah besar sekarang, batin Sandra. Tapi, Nadiya melarangnya menemui kedua bayi kembarnya itu.


Akhirnya sebuah keinginan muncul dibenak Sandra.


"Bu, tolong rawat ibu ini. Dia lupa siapa dirinya dan siapa namanya. Anggaplah dia seperti keluarga kita. Tapi Bu, jangan biarkan dia pergi kemana-mana sampai Sandra kembali." Pesan Sandra kepada ibunya.


"Iya nak. Kamu mau kemana?"


"Sandra mau kembali ke apartemen Bu, Ada langganan Sandra yang tidak mau digantikan oleh karyawan Sandra."


Sandra lalu memasukkan barang-barangnya kedalam koper dan berpamitan pada bapak dan ibunya.


"Hati-hati nak."


Sandra menitipkan Nadiya pada perawatan ibu dan bapaknya. Sandra tahu jika Nadiya lupa ingatan dan tidak mengenalinya.


Kesempatan ini digunakan oleh Sandra untuk menemui kedua anak yang pernah dikandungnya.


Sampai diapartemen, Sandra lalu mencari alamat Prasetyo. Prasetyo, CEO dari PT ASIA.


Namun alamat rumahnya tidak bisa dicarinya. Yang ada adalah alamat kantornya.


Sandra mencari akal dan berfikir sebentar.


Akhirnya dia mengganti bajunya dengan baju sederhana dan akan meminta pekerjaan padanya.


Biasanya karena iba, seseorang akan mudah untuk menolongnya. Apalagi Prasetyo orangnya baik dan humble. Dia pasti akan membuat jalan agar aku sampai pada kedua bayi itu.


Aku sangat merindukannya. Bagaimana wajahnya sekarang?


Lagian ibunya saat ini sedang ada dirumahnya, tentu saja mereka membutuhkan seorang yang bisa menemaninya. Ibu pengganti....


Niat yang lain mulai bersemayam dibenaknya.


Ketulusanya telah hilang, setitik niat untuk ada diposisi Nadiya mulai muncul dibenaknya. Apalagi kemewahan dan kesempurnaan hidup, jika dia berhasil menjadi istri Prasetyo, CEO PT ASIA.

__ADS_1


Ini adalah sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan padanya, gumam Sandra.


Kepolosan dan kebaikan yang dulu dimilikinya telah tertutup oleh setitik nafsu yang semakin lama, semakin menguasai hatinya.


Keinginan untuk menggantikan posisi Nadiya tiba-tiba muncul dibenaknya, apalagi saat ini usahanya sedang sepi dan sudah berapa bulan dia juga tidak membayar cicilan apartemennya.


Bahkan dia juga dikejar-kejar oleh salah seorang temanya agar cepat melunasi hutangnya. Dia berhutang beberapa barang kebutuhan untuk peralatan salon dan kecantikan.


Namun dia tidak bisa membayar sebagian hutangnya, karena usahanya sepi pelanggan.


Dan sekarang dia punya jalan keluar dari banyak masalahnya.


Prasetyo, akan membantunya. Itulah harapannya.


***


Sandra lalu datang kekantor Prasetyo, dan akan meminta pekerjaan padanya. Namun ternyata Prasetyo tidak masuk kantor kata seorang Satpam dikantornya.


"Baiklah, saya akan datang lagi besok." Kata Sandra.


Akhirnya Sandra pulang dengan kesal karena tidak berhasil menemui Prasetyo.


Sampai diapartemen, Sandra melihat berita yang mengabarkan jika mobil yang ditumpangi Nadiya mengalami kecelakaan.


Sandra lalu melihat lokasi dimana kecelakaan itu terjadi.


Sandra lalu berfikir jika Prasetyo pasti ada disana. Sandra lalu pergi lagi dan akan segera datang ke lokasi, dimana kecelakaan itu terjadi.


Sandra memarkir mobilnya tidak jauh dari lokasi kecelakaan itu. Dari jauh dilihatnya Prasetyo berjalan kearahnya.


Sandra langsung berjalan mendekatinya. Namun Prasetyo tidak melihatnya, karena dia sedang fokus dan hanya memikirkan tentang Nadiya saja.


Prasetyo duduk diposko dan mengambil botol air mineral lalu menenggaknya.


Sandra mendekatinya dan menyapanya pelan.


"Pak, Pras!"


Prasetyo menoleh dan kaget saat melihat Sandra disana.


"Kamu disini? Apa yang kamu lakukan ditempat seperti ini? Ini sangat berbahaya." Kata Prasetyo.


"Saya ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada Bu Nadiya. Apakah Bu Nadiya sudah ditemukan?" Tanya Sandra pura-pura tidak tahu.


"Belum..."


"Saya melihat berita di televisi, dan kebetulan saya lewat sini."


Prasetyo diam saja dan matanya menatap kosong dikejauhan.


Tiba-tiba Regan datang.


"Om, om istirahat dulu. Biar saya yang disini mencari mami. Nanti Om malah sakit. Om kan juga harus kerumah sakit untuk melihat Oma."


"Ya sudah!" Kata Prasetyo karena dia juga harus membagi sebagian waktunya untuk melihat maminya dan juga kedua anaknya.


"Om akan pulang." Kata Prasetyo lalu bangun dan berjalan kemobilnya.


Sementara Regan turun kebawah bersama tim sar untuk mencari maminya.

__ADS_1


Sandra berdiri seperti patung dan bengong.


Lalu dia berjalan cepat dibelakang Prasetyo.


"Pak, bolehkah saya ikut bapak, mungkin saya bisa membantu. Maksud saya, saya bisa menjaga ibu bapak dirumah sakit." Kata Sandra


"Bapak jadi bisa fokus untuk mencari Bu Nadiya."


Prasetyo berfikir sejenak. Akhirnya Prasetyo mengangguk, dia sudah mengenal Sandra, dan dia orangnya baik. Jadi dia percaya begitu saja padanya.


"Baiklah."


Mereka lalu masuk mobil masing-masing dan menuju kerumah terlebih dahulu.


Prasetyo masuk kerumahnya dan menyuruh Sandra untuk menunggu diruang tamu.


Prasetyo akan mandi dan berganti baju.


Duk, duk, duk!


Eiden berlari dari lantai atas dan turun kebawah. Diikuti oleh Edsel yang berlari dibelakangnya.


"Bibi.....tadi kami dengar suara papi. Mana papi?" Tanya mereka berdua.


"Papi kalian lagi mandi. Apakah kalian mau makan?" Tanya Bibi Parti.


Mereka berdua mengangguk.


Sandra melihat dari tempat duduknya. Dan Sandra yakin jika sikembar itu adalah bayi yang dikandungnya.


Tiba-tiba Sandra berjalan mendekati mereka berdua.


"Hallo....bisa kita kenalan?"


Edsel dan Eiden saling berpandangan.


"Hallo Tante...."


"Nama Tante, Sandra. Tante adalah teman baik mami dan papi kalian. Jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa meminta tolong pada Tante, Tante pasti akan dengan senang hati membantu kalian." Kata Sandra sangat manis.


Edsel dan Eiden saling berpandangan.


"Benarkah Tante?"


"Kami punya banyak PR sekolah, biasanya mami yang ajarin kami. Bibi Parti tidak bisa. Apakah Tante bisa bantu? Kalau tidak besok kami akan dihukum dan disuruh berdiri didepan kelas." Kata Edsel sedih.


Regan sangat sibuk sehingga tidak sabar untuk mengajari kedua adiknya. Papinya juga sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk mereka.


Sedangkan besok mereka harus sekolah dengan PR yang seharusnya sudah dikerjakan.


Prasetyo mendengar apa yang dibicarakan Sandra dan kedua anaknya.


Mendengar itu Prasetyo lalu meminta Sandra untuk tetap dirumah dan menitipkan kedua buah hatinya padanya.


"Aku akan kerumah sakit. Bisakah kau tetap disini untuk membantu mereka?" Kata Prasetyo karena saat ini pikiranya sedang kacau.


Dan karena dia mengenal Sandra, sehingga dia percaya padanya.


Banyak sekali yang sedang dipikirkannya. Nadiya yang belum ketemu, juga maminya yang ada dirumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2