Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Gelisah


__ADS_3

Vano mulai mencari pekerjaan, dan semua perusahaan menolaknya karena mereka sudah diancam oleh papanya agar tidak menerimanya bekerja.


Papanya ingin agar dia kembali padanya dan meninggalkan istrinya.


"Sudah lebih dari 20 perusahaan menolakku. Pasti mereka sudah melakukan kesepakatan dengan papa. Tidak mungkin satu perusahaanpun tidak ada yang menerimaku bekerja. Sementara diluar tertulis dibutuhkan pegawai baru." Kata Vano dalam hati sambil berjalan gontai.


Papanya lewat dan melihat Vano sedang berjalan dipinggir jalan raya.


"Kau boleh keras kepala. Tapi tidak lama lagi kau akan datang dan meminta maaf pada papa." Kata Papanya pada sopirnya.


Jelas saja dia berjalan kaki karena mobilnya pemberian papanya juga sudah diambil oleh anak buahnya.


Sedangkan apartemen yang saat ini dia tinggal, mungkin bulan depan dia tidak akan sanggup membayar sewanya lagi.


Papanya menoleh sekali lagi kearah Vano. Lalu tiba-tiba sebuah mobil berhenti disampingnya.


"Masuklah! Aku bisa memberimu pekerjaan!" Kata suara itu, yang ternyata adalah Andro.


Vano tidak banyak berfikir dan langsung masuk kemobil orang yang menawarkan pekerjaan itu. Dia juga tidak tahu jika Andro bekerja dengan Jeslin.


Karena Vano jarang berbicara pada ibu tirinya dan juga pergi kekantor ibunya.


"Aku tahu kau butuh pekerjaan. Kau akan bekerja dikantor temanku. Apakah kau mau?" Tanya Andro.


"Aku tidak mengenalmu, tapi kenapa kau mau memberiku pekerjaan?"


"Kau tidak mengenalku tapi aku mengenalmu. Dan aku membaca koran pagi ini jika kau diusir dari rumahmu?"


"Aku tidak diusir. Aku pergi dari rumah."


"Sama saja! Yang jelas saat ini kau tidak akan diterima dikantor manapun. Tenanglah, aku akan memberimu pekerjaan." Kata Andro lalu membawa Vano kekantor temannya yang bergerak di bidang properti.


Vano sendiri tidak yakin jika Andro adalah orang yang benar-benar tulus menolongnya. Apalagi mereka tidak saling kenal sebelumnya. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, keluarganya membutuhkan uang untuk biaya hidup dan membeli susu untuk Aaron.


"Masuklah!"


Vano lalu duduk diruang tunggu sementara Andro masuk kedalam kantor temannya.


"Masuklah, kau akan bekerja denganya."

__ADS_1


Andro lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


***


Sementara Nadiya kaget saat melihat berita yang beredar dikoran.


"Bacalah ini." Kata Nadiya pada Prasetyo saat mereka duduk diruang tamu.


"Ini Sasha dan siapa yang melakukan semua ini? Mereka membuat gosip murahan seperti ini?" Kata Prasetyo kaget.


"Entahlah, tapi bagaimana Jeslin dan suaminya tidak tahu jika Sasha sudah punya anak? Dan ternyata selama ini mereka menyembunyikan kebenaran ini dari keluarga mertuanya. Aku pikir, ini akan berakhir dengan buruk." Kata Nadiya.


"Jangan berkata seperti itu, mungkin mereka punya alasan sendiri kenapa mereka merahasiakannya."


"Kau selalu tidak terima jika aku berkata buruk tentangnya." Gerutu Nadiya.


"Bukan begitu, maksudku, sudahlah kita tidak usah mencampuri urusan mereka. Biarlah mereka selesaikan urusan mereka sendiri."


"Aku juga tidak ingin mencampuri urusannya."


"Aku akan keluar sebentar, sepertinya aku lupa jika aku ada janji hari ini?" Kata Prasetyo.


"Aku ikut!" Kata Nadiya.


"Baiklah jika begitu." Nadiya sedikit kecewa.


Prasetyo lalu pergi dan melajukan mobilnya dengan perasaan gusar. Dia memikirkan tentang Sasha yang sedang ramai diperbincangkan.


"Ini pasti tidak mudah untuknya. Dia akan disalahkan karena semua ini."


Gumam Prasetyo sambil memarkir mobilnya disalah satu apartemen dimana Sasha tinggal bersama Vano.


"Om?" Kata Sasha saat omnya datang keapartemenya.


"Apakah kau baik-baik saja? Om sangat khawatir dengarmu. Apakah kau sudah melihat berita hari ini?"


Sasha mengangguk.


"Dimana Vano?"

__ADS_1


"Dia sedang keluar dan sampai sekarang belum pulang. Mungkin dia sedang bertemu keluarganya." Kata Sasha mencoba untuk tenang.


"Apa yang terjadi? Dan kenapa bisa jadi seperti ini?"


Sasha lalu menceritakan Vano yang keras kepala dan tetap tidak ingin berterus terang pada papanya sebelum pernikahan.


"Jadi selama ini keluarganya tidak tahu tentang Aaron?" Tanya Prasetyo terkejut. Karena Prasetyo pikir saat ini penderitaan Sasha sudah berakhir karena sudah ada yang menjaganya dan juga dia akhirnya menikah.


"Mereka tidak tahu jika Sasha sudah punya anak."


"Lalu apakah mereka menemuimu?"


Sasha menggelengkan kepalanya.


"Dan Vano, apakah dia mengatakan sesuatu?"


"Tidak, Vano tidak mengatakan apapun. Hanya saja setelah bertemu dengan papanya Vano terlihat sering melamun dan seperti tertekan."


"Wajar dia menjadi tertekan. Pasti papanya shock mendengar berita ini, dan entah apa reaksinya setelah mengetahui semua ini."


Prasetyo lalu duduk dan bermain dengan Aaron sambil akan menunggu Vano kembali. Namun ternyata hingga jam 9 malam, Vano belum kembali.


"Ya sudah, om pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik."


"Iya om, terimakasih Om, sudah datang kemari."


Prasetyo lalu pergi dan pulang kerumahnya dengan keadaan letih.


"Kau baru saja pulang?" Tanya Nadiya sambil menyiapkan makan malam untuk suaminya.


"Kau pasti belum makan, mari kita makan."


Nadiya terus memperhatikan wajah Prasetyo yang sepertinya tidak tenang.


"Apakah ada masalah?" Tanya Nadiya


"Tidak. Semua baik-baik saja."


Nadiya lalu tersenyum dan menemani suaminya makan malam yang agak terlambat.

__ADS_1


Diatas tempat tidur Prasetyo masih memikirkan apa yang terjadi pada Sasha, Nadiya tahu jika Prasetyo menyembunyikan sesuatu darinya.


Dia terlihat gelisah namun Nadiya tidak ingin mendesaknya. Dia sendiri juga gelisah karena Sandra masih berada disekitarnya.


__ADS_2