Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
7 Eps terakhir ( bab 279)


__ADS_3

Nadiya menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Joan. Dia yakin jika Joan akan bertemu dengan beberapa orang penting yang memanfaatkan situasi ini.


Dan benar saja, beberapa orang menemuinya didalam penjara.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Joan pada orang itu.


"Siapa yang telah menyewakan rahimnya untuk anak itu?" Tanya orang tersebut.


Orang itu lalu menunjukan handphonenya dan menyuruh Joan membacanya agar tidak terdengar oleh orang lain.


"Hhhhhh, ck, baiklah mari kita bekerja sama." Kata Joan.


"Bagus, ternyata mudah bekerja sama denganmu." Kata orang itu.


"Kirim pengacara terbaik dan segera bebaskan aku dari tempat ini." Kata Joan.


"Baiklah. Aku akan melakukanya."


"Setelah aku keluar dari sini, maka akan diberitahu siapa wanita yang sudah menyewakan rahimnya itu."


"Tunggulah, aku akan menghubungi pengacara terbaik untukmu."


"Sampai bertemu lagi."


Mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu dan Joan tersenyum manis saat bertemu dengan Ardy.


"Kau terlihat sangat bahagia hari ini." Kata Ardy pada Joan.


"Tentu saja! Aku akan segera keluar dari tempat ini. Mantan istrimu itu begitu bodoh, dan dia tidak mengenal dengan baik, siapa Joan." Katanya sambil duduk dengan tenang.


"Jangan sakiti dia. Jika kau sampai menyentuhnya, maka aku akan melenyapkanmu!" Kata Ardy sangat marah.


"Kau masih sangat peduli padanya. Dia bukan istrimu lagi. Tapi kau seakan adalah suaminya!"


"Aku tidak peduli pada status dan apa katamu. Tapi ingatlah, jika kau sampai melukainya maka aku pastikan kau akan lenyap ditanganku." Kata Ardy penuh amarah.


"Sabar bro...dasar pecundang! Dia bersenang-senang dengan pria lain tapi kau masih peduli padanya!"


"Tutup mulutmu! Kau memang brengs*k!"


"Terserah apa katamu! Aku akan segera bebas dari sini. Dan kau mengancamku? Sementara kau dikurung ditempat ini!? Bod*h!"


Ardy lalu sadar jika dia tidak bisa melakukan apapun untuk menjaga Nadiya. Dan benar apa yang dia katakan, jika dia masih dikurung didalam, lalu bagaimana akan menyelamatkan Nadiya dan sepertinya kali ini Joan akan lebih nekat.


Keesokan harinya, Ardy ingin bertemu dengan Prasetyo empat mata. Ardy ingin mengatakan sesuatu padanya. Namun Prasetyo tidak mau datang dan tidak mempercayai ucapanya.


Dia masih kesal karena Ardy begitu terobsesi dengan mantan istrinya. Bahkan mengubah wajahnya dan berani berada didekatnya selama ini. Tentu saja Prasetyo sangat cemburu dan tidak mau menemuinya.


Ardy sangat kecewa karena Prasetyo tidak mau datang. Padahal dia ingin agar Prasetyo berhati-hati dengan Joan.


"Aku sudah tahu itu. Dan soal Nadiya, kau tidak usah mengkhawatirkan dia. Aku bisa menjaganya dengan baik. Lebih baik dari siapapun!" Kata Prasetyo lalu menutup teleponnya dengan kesal.

__ADS_1


"Siapa Pras?" Tanya Nadiya saat datang dengan jus ditanganya.


"Bukan siapa-siapa!" Jawab Prasetyo.


"Kau terlihat kesal dan marah?" Tanya Nadiya lalu duduk didekatnya.


"Nadiya, apakah jika aku tiada kau akan kembali pada Ardy?" Tanya Prasetyo tiba-tiba.


"Apa maksudmu menanyakan hal itu?"


"Jawablah Nadiya!"


"Apakah itu penting? Ini adalah pertanyaan konyol dan tidak perlu aku jawab!" Kata Nadiya merasa kesal karena Prasetyo bertanya seperti itu dan membahas mantan suaminya.


"Artinya, bisa saja kau kembali padanya bukan?"


"Sepertinya kau masih ragu padaku." Kata Nadiya menatap Prasetyo dengan lekat.


"Dia masih sangat peduli padamu, meskipun dia tahu kau adalah istriku. Dan aku tidak suka kelakuannya itu, itu sangat menyebalkan!"


"Apakah itu berarti tadi dia yang menelponmu?"


"Ya, begitu aku aktifkan handphonenya, dia menelponku, aku pikir orang lain, tapi ternyata dia."


"Sudahlah jangan dipikirkan apa yang dia katakan. Aku tidak mau gara-gara ucapanya, kita malah jadi bertengkar."


"Jawablah dulu pertanyaanku, apakah kau akan kembali padanya, jika aku tiada?"


"Karena aku ingin kau hanya mencintaiku selama aku hidup dan setelah aku tiada."


"Kau seperti sedang syuting saja. Sudahlah, jangan membahas hal seperti ini."


"Ayo jawab aku." Kata Prasetyo sambil memegang kepala Nadiya dan dia hadapkan kemukanya.


"Aku tidak akan menikah dengan siapapun."


Prasetyo lalu terlihat puas dan tersenyum sambil memeluknya.


"Sekarang, aku ingin kau buatkan kopi yang enak untukku." Kata Prasetyo.


"Baiklah." Nadiya lalu bangun dan melihat wajah Prasetyo yang sangat puas dengan jawabannya.


"Kau ingin aku taruh krimer diatasnya?" Tanya Nadiya.


"Boleh."


Prasetyo lalu duduk dan menyalakan televisi. Dia melihat rumahnya sedang menjadi sorotan begitu juga kantornya.


Besok Prasetyo akan datang ke kantornya, karena ada rapat dewan. Dia tidak bisa terus menghindar, karena berita ini semakin hari semakin melebar kemana-mana.


Bahkan masa lalu Nadiya saat ini menjadi yang paling dicari di internet. Masa lalu dan perselingkuhan Ardy mulai diperbincangkan lagi.

__ADS_1


Prasetyo harus melakukan sesuatu agar berita ini mereda. Dan dia sedang memikirkan caranya.


Dia tidak bisa membiarkan Nadiya mengetahui berita tentang masa lalunya yang terbit kembali. Dia pasti akan sedih jika tahu tentang hal ini.


"Pras!"


Prasetyo langsung mematikan televisi yang sedang dia tonton.


"Kenapa dimatikan?" Tanya Nadiya sambil menyerahkan kopi padanya.


"Sudahlah, kita tidak usah melihat koran dan berita sementara waktu." Kata Prasetyo.


"Kenapa? Kita juga harus tahu, sampai sejauh mana berita itu sudah berkembang."


"Tidak usah! Itu akan mengganggu ketenangan kita disini." Kata Prasetyo lalu mengantongi remot televisinya.


"Dimana remotnya? Tadi ada disini?" Tanya Nadiya.


"Tidak ada. Sudahlah, ayo kita lakukan hal lain saja. Aku malas menonton berita." Kata Prasetyo.


Prasetyo ingin mengalihkan perhatian Nadiya dari berita itu. Apalagi Prasetyo mendapat kabar dari Ardy jika Joan akan keluar dengan jaminan beberapa hari lagi.


Ada orang kuat yang menjadi penjaminnya. Prasetyo tidak ingin Nadiya kecewa setelah mendengar berita itu.


Apalagi Joan masih terobsesi untuk menghancurkan dirinya karena dendam lama.


Jika Nadiya tahu, maka dia akan mulai khawatir. Dan itu bisa membuatnya stress hingga mengganggu kesehatannya.


Tidak lama kemudian Oma masuk kedalam dan duduk dengan mereka. Nadiya diam saja dan dia memilih untuk kekamarnya.


Dia tahu jika maminya masih marah denganya. Jadi dia membiarkan anak dan ibu berbicara berdua saja dan menyelesaikan masalah ini.


"Mami darimana? Apakah mami dari kantor?"


"Mami bertemu Sandra lalu mami pergi kekantor." Kata maminya.


"Apa yang mami lakukan?"


"Apalagi jika tidak menyelesaikan masalah ini. Mami meminta dia untuk keluar negeri agar gosipnya cepat mereda."


"Apakah dia mau?"


Mami menggelengkan kepalanya.


"Mami sudah mengatakan akan membiayai hidupnya hingga dua tahun kedepan. Dan menyuruhnya bersenang-senang. Tapi aku yakin jika dia ingin hal yang lainnya. Mungkin dia merasa berharga dan akan dicari oleh orang penting dan memanfaatkan apa yang saat ini sedang terjadi."


"Maksud mami?"


"Orang akan mencarinya, dan dia akan dibayar untuk setiap informasi yang dia berikan. Dia juga manusia. Bisa saja dia memanfaatkan semua ini untuk kepentingannya sendiri."


"Sandra tidak seperti itu." Kata Prasetyo.

__ADS_1


"Kau tidak mengenalnya dengan baik. Semua orang bisa berubah tergantung situasi." Jelas maminya.


__ADS_2