Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Kehidupan sebelumnya


__ADS_3

Tidak lama kemudian mereka sampai diapartemen.


"Apartemennya lumayan besar." Kata Vano sambil melihat sekeliling ruangan itu.


"Iya, ini punya om Arya." Kata Sasha setelah mereka masuk kedalam.


"Kau akan tinggal sendirian disini?" Tanya Vano karena sampai saat ini dia juga tidak berani bertanya soal kehamilan Sasha.


"Ya. Aku akan tinggal sendirian. Dan setelah bayiku ini lahir, aku akan tinggal bersamanya."


"Em, suamimu tidak kemari? Apakah kau tidak mengabarinya?" Tanya Vano mencoba memancing reaksi Sasha.


"Tidak. Dia sangat sibuk." Kata Sasha menyembunyikan kebenaranya.


Dia tidak mungkin bilang pada semua orang, jika dia lalai dan melakukan hubungan terlarang, hingga dia hamil.


Apalagi didepan teman-temannya. Itu terdengar sangat memalukan.


"Duduklah. Aku akan membuatkan minuman untukmu." Kata Sasha lalu masuk kedapur dan menyeduh minuman.


"Kau mau kopi? Ini sangat lezat. Aku sudah mencobanya." Kata Sasha.


"Boleh juga. Apakah kau minum kopi?"


"Ya. Emang kenapa?"


"Sebaiknya kau tidak meminumnya lagi. Kau sedang hamil. Minum minuman yang lebih sehat untukmu dan bayi didalamnya."


"Ya....aku kadang tidak tahan untuk tidak meminumnya."


"Mulai sekarang kau harus perhatikan apa yang kau makan dan kau minum. Jangan makan sembarangan. Kau bisa lihat dibeberapa artikel, tentang anjuran makanan yang sehat untuk ibu hamil."


"Kau sangat perhatian."


"Aku hanya tidak ingin kau dan bayimu terjadi apa-apa. Tidak ada keluargamu disini. Kau harus bisa menjaga diri."


"Terimakasih sarannya. Aku akan berhati-hati mulai sekarang." Kata Sasha lalu meletakan kopi itu diatas meja.


"Kadang, aku pikir ini hanya mimpi." Kata Vano saat dia mengingat waktu begitu cepat mengubah segalanya.


"Maksudmu?"


"Yaaahhhh, kau tiba-tiba akan menjadi seorang ibu. Aku tidak pernah menyangka dan menduga sebelumnya."


"Apakah kau sedang menyesal karena kita tidak ditakdirkan bersama?" Kata Sasha dengan nada bercanda menggoda Vano yang lagi melankolis.


"Itu salah satunya."


"Hahaha, entahlah! Aku juga tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan."


"Ya, kita semua hanya wayang didunia ini."


"Kau benar. Ada yang sudah mengatur segalanya." Kata Sasha sambil mengambil bantal disofa.


Vano lalu melihat keperut Sasha.


"Dia semakin tumbuh besar."

__ADS_1


"Tentu saja! Aku banyak makan. Kita makan dua porsi setiap hari. Satu porsi untuku dan satu porsi untuknya." Kata Sasha sambil mengelus perutnya.


"Ssssttttttt....dia bergerak." Kata Sasha.


"Benarkah? Apakah rasanya menyakitkan saat dia bergerak?"


Sasha menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Hanya geli saja. Tiba-tiba seperti ada yang menendang. Apalagi jika aku sudah sangat kelaparan. Dia akan terus menendangnya."


"Bolehkah aku memegangnya?" Tanya Vano karena dia juga ingin merasakan bagaimana bayi itu bisa menendang.


"Tentu saja. Cobalah, rasakan..... Benarkan? Dia bergerak?"


"Ya....aku bisa merasakannya." Kata Vano sambil terus mengelus perut Sasha.


***


Nadiya saat ini sedang membantu Ibu Sandra mengepak toples-toples ke kardus.


Ada pesanan 300 toples dari seorang kenalannya dikota. Dia akan menjualnya kembali secara online. Dan dia memesan bawang gorengnya kepada ibu Sandra.


"Kau benar-benar membawa rizki bagi kami. Sejak kedatanganmu kerumah ini. Dagangan ibu makin laris dan rame."


"Itu memang sudah jadi rejeki ibu. Bukan karena saya. Oh ya Bu, siapa yang memesan semua toples ini?" Tanya Sekar alias Nadiya.


"Teman lama ibu. Dia jualan secara online. Jadi banyak yang pesan dari jauh-jauh."


"Hebat ya, teman ibu itu? Pasti langganannya sudah banyak, sampai pesan sebanyak ini."


"Iya, dia biasanya jualan sembako, katanya anaknya yang bantu ngejualin Secara online. Kebetulan ketemu ibu dipasar, dan kita ngobrol sebentar."


"Setelah ini kau istirahat saja. Kau pasti lelah dari kemarin ngga beristirahat."


Setelah semua dimasukkan kedalam kardus, ada seorang tetangganya yang datang untuk mengantarkan semua pesanan itu kepemesan.


Dia sudah sering mengantarkan pesanan dari ibu Sandra ke kota atau kepada pemesan.


"Kau sudah datang, Ya sudah! Ini sudah selesai, kau bisa membawanya." Kata ibu Sandra.


Nadiya lalu membantu mengangkat barang-barang itu kedalam mobil bak terbuka milik tetangga ibu Sandra.


Tetangga itu melihat terus kearah Nadiya?


"Dia siapa Bu?" Tanyanya kepada ibunya Sandra.


"Ohh, dia saudara ibu dari jauh."


"Tapi...sepertinya saya kok pernah melihatnya ya? Dimana ya? Kayak pernah melihatnya ditivi?" Kata tetangga itu.


"Ah, ngaco kau ini! Mana mungkin dia ada di TV? Apa dia artis?"


"Hehe...mungkin saya yang salah lihat, atau mereka hanya mirip saja."


Nadiya lalu tersenyum pada tetangganya itu dan masuk kedalam rumah saat semuanya sudah beres.


Artis?

__ADS_1


Siapa aku?


Siapakah aku sebelum ingatanku hilang?


Siapakah yang bisa membantuku menjelaskan semua ini?


Nadiya menjadi sadar, bahwa tempatnya bukan disini. Hanya saja dia juga tidak tahu dimanakah seharusnya dia berada.


Dimana keluarganya? Siapa saja keluarganya? Kampung ini terasa asing baginya?


Dia juga berfikir dikamarnya tentang kehidupan yang dia miliki sebelumnya?


Namun dia juga tidak tahu seperti apa kehidupan sebelumnya? Dia tidak ingat apapun. Yang dia tahu saat ini keluarganya dan orang yang dia kenal adalah Ibu Sandra dan suaminya.


Namun saat Nadiya tanyakan mereka sepertinya enggan untuk menjelaskan. Atau mereka mengatakan jika dia juga tidak mengenal dirinya sebelumnya.


Mereka menolong Nadiya yang terbawa arus sungai. Dan sejak saat itu mereka menganggap Nadiya adalah bagian dari keluarganya.


Nadiya lalu keluar dari kamarnya. Dia lalu menemui ibu Sandra.


"Bu, apakah baju yang saya pakai pertama kali saya datang kesini masih ada?"


"Untuk apa? Sepertinya ibu menyimpannya."


Ibu Sandra lalu mengambil baju itu dan memberikannya pada Nadiya.


"Mungkin ada petunjuk dari baju itu." Kata Nadiya namun ibu Sandra tidak terlalu mendengarnya karena dia sedang membuat jus buah.


Nadiya lalu membawa kantong yang berisi baju itu kamarnya.


Dia mengeluarkan baju itu dan dia lihat dari setiap detail baju yang dia pegang.


Baju ini jauh berbeda dengan yang dia pakai saat ini. Baju yang dia pakai sebelumnya begitu lembut dan modern.


Desainnya sangat mewah dan bahanya terlihat sangat mahal.


Apakah aku seorang artis?


Tetangga itu bilang, jika dia pernah melihatku ditelevisi.


Mungkinkah aku adalah seorang artis?


Gumam Nadiya didalam hati.


Bagaimana aku tahu siapa diriku jika dirumah ini tidak ada televisi.


Yang ada hanya radio. Karena ibu Sandra hobi mendengarkan lagu dangdut.


Sebaiknya aku harus menunggu anaknya ibu Sandra pulang. Mungkin dia mengenal aku dimasa lalu. Atau dia pernah melihatku ditelevisi seandainya aku memang artis.


Namun sejak Nadiya ada dirumahnya, Sandra jarang datang ke kampung untuk menemui kedua ibu dan bapaknya.


Dia hanya akan menelpon itupun paling satu Minggu sekali jika dia ingat.


Dia sangat sibuk dengan kehidupan yang sekarang dia sedang jalani. Menjadi Nyonya samaran karena dia melakukan tugas yang biasa dilakukan Nadiya tapi dia bukanlah nyonya sesungguhnya.


Setiap hari Nadiya menunggu kedatangan Sandra, namun Sandra tidak datang juga hingga Nadiya berpikir untuk pergi jalan-jalan kepasar.

__ADS_1


Namun Ibu Sandra melarangnya. Akhirnya Nadiya hanya berdiam diri dirumah dan melakukan kegiatan seperti hari-hari sebelumnya. Mengupas dan mengiris bawang.


__ADS_2