
"Mami....Regan akan mengikuti lomba melukis disekolah! Tapi orang tua harus datang untuk melihat anak-anak mengikuti lomba sampai selesai. Semua orang tua diundang mami. Jadi mami harus datang sama papi ya?" Nadiya memeluk Regan yang berlari kearahnya sambil berbicara panjang lebar.
"Ehmm...baiklah. Kapan mami harus datang?" Tanya Nadiya sambil membelai rambut putranya.
"Besok mami. Di Auditorium Sekolah. Semua wali murid harus datang, jadi mami jangan terlambat ya?" Kata Regan karena tahu jika maminya sangat sibuk.
Nadiya mengangguk dan mencubit hidungnya yang mungil dan mancung.
Keesokan harinya Nadiya sudah rapi sementara Regan sudah berangkat lebih dulu satu jam yang lalu. Regan sudah sampai disana bersama Prasetyo. Namun setelah itu Prasetyo pulang lagi untuk menjemput Nadiya. Karena Nadiya kalau dandan sangat lama dan memakan waktu jadi lebih baik Regan diantar lebih dahulu.
Regan sudah satu Minggu berangkat ke sekolah dari rumah maminya, karena Ardy sedang sibuk dikantor hingga lembur. Karena kesibukanya maka Regan diizinkan untuk menginap dirumah Nadiya.
Tin! Tin!
"Ya. Tunggu sebentar!" Jawab Nadiya dari ruang tamu. Nadiya melihat sekeliling dan tidak ada yang tertinggal. Beberapa berkas sudah dia siapkan dan tinggal membawanya kedalam mobil.
"Kita akan kekantor dulu."
"Baiklah."
Setengah jam kemudian Nadiya sudah sampai dikantor dan menyerahkan berkas yang sudah dia periksa kepada sekretarisnya.
Beberapa pegawainya bekerja sambil melirik kearah bodyguard yang berdiri disamping Nadiya. Mereka sedang bergosip tentang kepergian Nadiya ke Eropa bersama bodyguard keren itu, apalagi ada berita hangat disurat kabar yang menyebutkan bahwa Nadiya menggugat cerai CEO Ardy.
Bagi orang terpandang seperti Nadiya tentu sulit sekali merahasiakan privasinya. Ada saja berita yang bocor kepada media. Dan semua itu sangat mengganggu ketenanganya. Apalagi jika dia berjalan ditempat umum, maka orang mulai berbisik-bisik membicarakan skandal suaminya yang juga entah bagaimana bisa sampai kemedia.
Rupanya setelah ditelisik oleh anak buah Nadiya, berita itu menyebar dari Joan yang ada didalam penjara. Joan tidak ingin Nadiya hidup tenang, apalagi sudah membuatnya menderita, maka dia menyimpan dendam pada Nadiya. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menghancurkan reputasinya. Namun bukan Nadiya jika tidak bisa menghentikan berita yang beredar.
"Kamu datangi beberapa media. Hentikan gosip itu, dan berikan kompensasi kepada mereka!" Perintah Nadiya kepada salah satu anak buahnya.
__ADS_1
Nadiya menutup telepon dengan keras dimeja kerjanya. Mukanya memerah karena marah.
Sreeekkk buuukkkk! Terdengar sesuatu jatuh dari salah satu meja kerja pegawainya yang tomboi.
Nadiya menoleh dan pandanganya menatap kearah pegawainya itu.
"Apa itu!?"
"Ehm....ini..." Kata pegawai itu ketakutan dan tanganya gemetar.
"Bawa kemari!" Kemudian pegawai itu berjalan kearah Nadiya sambil membawa sebuah media cetak.
"Ohhhhh! Jadi kalian mulai suka bergosip!?" Tanya Nadiya dengan mata yang hampir terlepas saking marahnya.
Pegawai itu berdiri seperti patung. Diam seribu bahasa dan tidak berani menatap Nadiya. Dia hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu masih ingin bekerja disini? Atau kamu ingin ...." Nadiya tidak meneruskan perkataannya karena pegawai itu memotong pembicaraannya.
"Jangan ibu. Saya mohon....saya berjanji tidak akan ada kejadian seperti ini lagi. Tapi jangan pecat saya. Saya mohon....."
"Oke! Baiklah....ini peringatan buat kamu, juga buat yang lainya jika saya menemukan kalian membawa surat kabar didalam kantor maka detik itu juga kalian saya pecat! Kalian disini untuk bekerja, bukan bergosip! Mengerti!? Dan kamu....Kembali kemeja kerjamu. Jangan sampai saya menemukan hal bodoh seperti ini lagi."
Kemudian Nadiya membuang surat kabar itu ke tong sampah dan dia melangkah pergi meninggalkan kantornya untuk datang ke acara Regan disekolahnya.
"Ok. Berangkat sekarang." Kata Nadiya kepada Prasetyo setelah mereka masuk kedalam mobil. Prasetyo hanya geleng-geleng kepala melihat kemarahan Nadiya.
"Sudah! Jangan manyun terus nanti riasanmu rusak." Kata Prasetyo sambil menggoda Nadiya.
"Diamlah. Aku sedang tak ingin bicara."
__ADS_1
"Ayolah....jangan terlalu dipikirkan...berita seperti itu sudah biasa."
Nadiya menarik nafas panjang dan tidak berbicara apapun hingga Prasetyo memarkir mobilnya karena ternyata mereka sudah sampai di sekolah Regan.
Prasetyo memarkir mobilnya disamping mobil yang juga baru datang.
"Ayo Nadiya." Tangan Prasetyo merangkul bahu Nadiya dan mengajaknya untuk masuk kearea sekolah. Tapi tiba-tiba seseorang keluar dariobil hitam disebelahnya dan menghentikan langkah Nadiya. Dia berdiri tepat dihadapan Nadiya dan Prasetyo. Nadiya sangat terkejut karena Ardy juga ada disana dan sekarang berdiri dihadapannya.
"Kamu pulanglah! Karena yang diundang adalah kedua orang tua Regan. Artinya yang bisa masuk hanya aku dan Nadiya." Nadiya dan Prasetyo saling berpandangan dan menatap satu sama lain.
"Baiklah, karena papinya Regan datang maka aku akan menunggu disini. Kalian saja yang masuk kedalam." Nadiya menggenggam erat tangan Prasetyo tapi dia melepaskanya. Nadiya menatap Prasetyo dengan bingung. Tapi Prasetyo tersenyum dan mengangguk padanya.
Hal itu membuat hati Nadiya tenang. Prasetyo sengaja tidak ingin ribut dengan Ardy yang hanya akan membuat Nadiya bertambah sedih.
"Ayo Nadiya." Ajak Ardy sambil mengulurkan tanganya. Tapi Nadiya tidak mengindahkan uluran tangan Ardy. Nadiya langsung berjalan dengan cepat dan menuju ruangan Auditorium, dimana acara lomba melukis itu diadakan.
Nadiya mencari tempat duduk yang bertuliskan nama Regan. Dan kemudian duduk disana tanpa mempedulikan Ardy yang tidak dia sapa sama sekali. Kemudian Ardy juga duduk disamping Nadiya dan ada nama Regan disana. Semua kursi sudah diatur sesuai nama siswanya. Jadi tamu undangan yang hadir tinggal mencari nama anaknya sesuai kelas masing-masing. Jika mereka kesulitan mencari tempat duduk maka akan diarahkan oleh petugas yang ada disana.
Setelah duduk dengan nyaman Nadiya tetap diam tak bersuara sepatah katapun. Hatinya masih kesal karena ulah Ardy dipesta kemarin malam. Hingga berita itu masuk kemedia dan menjadi perbincangan publik. Nadiya tidak menyangka Ardy akan berbicara lancang dan mempermalukan dirinya didalam pesta. Nadiya yakin Ardy pasti sudah sengaja menyakitinya demi membalasnya.
"Nadiya....aku sengaja datang ke acara Regan demi menemuimu. Aku minta maaf atas perbuatanku kemarin malam. Aku tidak sadar karena minum terlalu banyak dan berbicara ngelantur yang menyakiti perasaanmu." Kata Ardy sambil memegang jari Nadiya. Tapi Nadiya menariknya dan menyembunyikan tanganya dibawah tasnya.
Visual Nadiya
Nadiya masih diam saja tak bergeming dan tak menoleh padanya. Seakan kata-kata Ardy hanya Pemanis saja yang sulit untuk dipercaya. Apalagi kelakuanya semakin aneh dan suka memaksakan kehendaknya
Bersambung
__ADS_1