
Seperti tidak ada capeknya Prasetyo menggendong Nadiya hingga masuk kekamarnya. Dan Nadiya lebih jinak dengan meletakan kedua tangannya pada leher Prasetyo. Sebenarnya Nadiya juga sudah kehabisan tenaga untuk terus melawanya. Dia seperti pegulat yang sudah terlatih bela diri dan sekilas dia lihat perut dan dadanya sangat berotot, layaknya pria sejati.
Dan saat akan memasuki kamar kepala Nadiya terbentur pinggir pintu. Dan dia langsung berjingkat turun dari gendongan Prasetyo.
"Aduhhh!" Teriaknya sambil memegang kepalanya. Matanya menyipit dan meringis kesakitan.
"Maaf!" Kata Prasetyo sambil akan meniup kepala Nadiya. Namun dengan cepat Nadiya melesat dan berjalan kekamar mandi sebelum ada aksi aneh lainya.
"OMG...Baru aja mau romantis-romantisan malah kepalanya kebentur. Padahal sedikit lagi berhasil." Keluh Prasetyo yang sudah bersusah payah menciptakan suasana romantis malah buyar gara-gara pintu.
Tidak lama kemudian dia lihat Nadiya sudah selesai mandi. Dan dia menyesal melewatkan kesempatan untuk mandi bersama.
"Nad, kok kamu sudah selesai mandi sih? Bukanya ngajak-ngajak." Kata Prasetyo.
"Ngajak? Maksudmu?"
"Ya...seperti pengantin baru difilm-film kan biasanya mereka mandi bersama gitu. Kok kita ngga?"
"Sudah akh! Jangan mulai lagi. Cepetan sana mandi!" Kata Nadiya sambil duduk dimeja riasnya untuk mengeringkan rambut dan memakai pelembab muka.
"Ya sudahlah. Tapi....."
"Ehmmm....." Kemudian Prasetyo mengeluarkan sesuatu dari kopernya dan dia berikan pada Nadiya. "Pakailah ini, ini dari mami, kata mami saat malam pertama kamu harus memakai ini untuk suamimu." Kata Prasetyo berharap banget kalau Nadiya akan memakai baju transparan itu.
Nadiya menerimanya. Dan saat dia membuka lebar baju itu, dia menjadi kaget dan tertawa terbahak-bahak.
Visual Nadiya dalam bayangan Prasetyo jika dia memakai baju pemberian maminya.
__ADS_1
"Hahahaha Hahahaha..... Aku harus memakai pakaian ini? Hahaha, apakah kita sedang bermain film Bollywood?"
"Kenapa memang? Baju itu bagus. Dan sangat pas untukmu."
"Kau bilang, kau akan bersabar dan menunggu sampai aku siap. Dan jika aku memakai baju ini kau yakin akan mampu bertahan hingga fajar tiba?"
"Yaaaa aku tidak tahu. Dan aku tidak bisa menjawabnya." Kata Prasetyo.
"Oke. Sesuai janjimu maka kita harus mampu menahan diri, setidaknya biarlah kita saling mengenal dan memahami pribadi masing-masing. Sementara menunggu waktu yang tepat maka aku akan menyimpan baju ini hingga waktu itu tiba."
"Oke....demi istriku yang cantik maka aku akan menunggu sampai besok pagi?"
"Apa?" Kata Nadiya menoleh kearah Prasetyo namun dia sudah kabur kekamar mandi tanpa mengunci pintunya. Bahkan dia membiarkanya tetap terbuka sementara dia mandi dengan santainya.
"Tutup Pras." Kata Nadiya.
Lebih baik dia membiarkanya tetap terbuka. gumam Nadiya.
Prasetyo keluar dari kamar mandi dan hanya memakai handuk saja. Rambutnya yang basah dan terlihat acak-acakan membuatnya terlihat sangat tampan.
"Kenapa kau hanya memakai handuk saja? Cepatlah ganti baju?" Kata Nadiya sambil meraih sebuah buku dan mulai membacanya sebelum dia tidur. Setidaknya membaca buku kesukaanya akan membuat matanya lelah sehingga cepat tertidur. Itu sudah menjadi kebiasaanya sejak kecil. Jika dia gelisah atau cemas maka dengan membaca buku dan menyelami kisah hidup orang lain akan membuat hatinya lebih tenang. Dan bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik.
Prasetyo malah duduk disamping Nadiya hanya dengan menggunakan handuk saja. Sepertinya Prasetyo senang jika anggota tubuhnya terekspos dan terlihat oleh mata Nadiya. Apalagi jika Nadiya berlama-lama menatapnya, maka dia merasa bangga dan puas.
Prasetyo tidak menggubris perkataan Nadiya. Dia pura-pura tidak mendengarnya dan masih betah memakai handuk dan duduknya semakin mepet ketempat duduk Nadiya.
"Pras....kau tidak dengar barusan aku bilang.. pakai baju dulu, nanti kamu bisa sakit. Acnya sangat dingin." Kata Nadiya lembut.
__ADS_1
"Ntar....." Kata Prasetyo membuat Nadiya mengerutkan keningnya.
"Matikan lampunya, aku mau tidur, sepertinya aku sudah mengantuk." Kata Nadiya karena Prasetyo masih betah saja pakai handuk.
Saat Nadiya akan memencet tombol untuk mematikan lampu tiba-tiba Prasetyo sudah mengambil buku yang sedang dia genggam dan menyerangnya tiba-tiba. Dia langsung menindih tubuh Nadiya dan menatap Nadiya sangat lekat dan dalam. Mereka bertatapan dan wajah mereka hanya berjarak sepuluh sentimeter sehingga hembusan nafas Prasetyo yang menderu terdengar oleh Nadiya.
Hal itu membuat jantung Nadiya berdebar tidak karuan karena dia masih belum bisa melayaninya saat ini. Perasaan cemas masih menghantui dan menciptakan trauma juga ketakutan.
Nadiya mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Prasetyo namun lagi-lagi tenaganya hanya sebesar ikan yang melawan kucing yang siap meremukan tulangnya.
Prasetyo masih tetap menindih tubuh Nadiya sehingga sesuatu yang keras terasa sekali dalam perut Nadiya. Sesuatu itu pasti sudah bangun dari tadi dan Nadiya menjadi semakin pucat karena takut jika Prasetyo tidak bisa menahan keinginannya. Meskipun sebenarnya sah-sah saja jika Prasetyo menginginkan penyatuan ini. Namun Nadiya belum siap saat ini, dan tidak ingin pelayanannya mengecewakan Prasetyo.
Akhirnya Prasetyo dengan jarinya menyentuh dagu, hidung, pipi, bibir, dan juga dahu Nadiya dengan sentuhan lembut sehingga terpaksa Nadiya memejamkan matanya.
Kemudian Prasetyo mendekatkan wajahnya semakin dekat dan bibirnya menyentuh hidung Nadiya. Nadiya masih terpejam dan tidak tahu sikap apa yang sebaiknya dia lakukan. Tugasnya sebagai istri atau traumanya yang membuatnya ketakutan. Haruskah dia mendorong Prasetyo yang kini sudah resmi menjadi suaminya? Bukankah itu akan melukai perasaannya? Istri macam apa aku ini?
Kemudian Nadiya menarik nafas panjang dan menghembuskanya perlahan. Sekarang dia hanya pasrah dan akan membiarkan Prasetyo melakukan keinginannya. Disisi lain dia takut berdosa karena tidak bisa memenuhi kebutuhan suaminya, dan disisi lain ada duka yang masih menyelimuti dan memporak-porandakan kebatinannya.
Prasetyo menggeser tubuhnya hingga handuk itu terlepas dari tubuhnya, kemudian tangan Prasetyo memencet tombol lampu dan saat ini ruangan itu menjadi gelap. Prasetyo membuka sedikit resleting di dada Nadiya dan karena Nadiya diam saja maka Prasetyo semakin membukanya hingga diatas pusar Nadiya.
Sekarang terlihat jelas pemandangan yang sangat menakjubkan dan dengan cepat Prasetyo mendekatkan wajahnya diantara kedua pemandangan itu. Prasetyo menyentuhnya dengan bibirnya hingga keleher Nadiya. Dan akhirnya berhenti pada bibir Nadiya begitu lama. Akhirnya bibirnya menyentuh mata Nadiya dan terasa ada yang basah disana. Prasetyo langsung menyadari kesalahannya. Dan dengan cepat meraih tombol lampu dan ruangan itu kembali menyala.
Nadiya membuka matanya karena kaget Prasetyo tidak meneruskan perburuannya. Dan dengan sangat jelas Nadiya melihat Prasetyo yang tanpa menggunakan handuk dan kain penutup lainya, sehingga sesuatu yang begitu sempurna terlihat dalam penglihatan Nadiya.
Nadiya merasa sangat bersalah karena tidak bisa membuat keinginan Prasetyo terpenuhi. Prasetyo juga merasa bersalah karena lupa pada janjinya dan membuat istrinya menangis. Akhirnya Prasetyo dengan lembut menutup kembali resleting Nadiya dan memakai kembali handuknya.
Prasetyo merengkuh Nadiya kedalam pelukanya dan mengusap airmatanya. Tidak ada kemarahan didalam hatinya meskipun hasratnya tidak tersalurkan. Kasihnya yang tulus pada Nadiya melampaui semua hasrat dan hubungan fisik.
Visual Nadiya dan Prasetyo
__ADS_1