Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Berusaha tegar


__ADS_3

Vano duduk sambil melihat layar handphonenya, sepertinya dia masih ragu tentang keputusannya.


Siapakah yang akan dia hubungi dan memberitahukan keadaanya? Siapa diantara mereka yang bisa menemaninya disini?


Akhirnya Vano terpikir untuk memberitahukan keadaanya pada seseorang. Mereka sudah lama bersahabat. Pasti dia bisa dipercaya dan tidak akan menyebarkan berita ini.


Jack!


Aku harus menelponnya.


"Halo Jack! Bisa kemari. Jangan kasih tahu siapapun jika aku menelponmu." kata Vano lalu mengirim pesan kepada Jack untuk memberitahukan alamatnya.


Jack yang baru akan berbicara jadi bengong dan sesaat tidak mengerti maksud Vano.


Setelah membaca pesan dari Vano, Jack langsung pergi kesana. Dia mencari alamat yang ditulis oleh Vano.


Jack berdiri didepan kamar Vano. Dia menatap Vano dengan tatapan bingung.


"Kau disini? Bukankah kau cuti? Lalu kenapa kau ada disini?" Tanya Jack lalu duduk disamping Vano.


"Aku sengaja cuti agar tidak ada yang curiga jika aku disini." Kata Vano tanpa melihat Jack.


"Apakah Sasha juga tahu kau disini?" Tanya Jack


"Tidak! Kau berjanjilah padaku, jangan kasih tahu siapapun jika aku ada disini. Aku bosan seharian sendirian. Tidak ada yang bisa kuajak bicara." kata Vano.


Jack lalu menatap Vano lama.


"Jangan menatapku seperti itu. Ini hanya penyakit kecil. Aku sebentar lagi akan keluar dari sini."


"Sakit seperti ini kau bilang sakit kecil? Kau pikir aku tidak membaca petunjuk arah. Ini ruangan pasien cancer bukan?"


"Kau tahu?"


"Apakah aku begitu bodoh, hingga tidak bisa membaca plang diatas pintu?"


"Sial!"


"Kenapa kau menyembunyikannya dari kami? Katakan? Aku sangat kesal kau seperti ini!" Kata Jack dengan menatap Vano penuh penyesalan karena tidak tahu jika sahabatnya dirawat disini.


"Aku tidak ingin ada yang tahu jika aku sakit."


"Okey. Jika orang lain tahu atau tidak itu tidak penting bagiku. Tapi setidaknya kau beritahu kami. Apakah kita bukan temanmu?"


"Jangan kasih tahu siapapun. Aku tetap tidak ingin mereka tahu. Aku ingin dianggap lelaki normal."


"Terserah kau saja."


Jack lalu rebahan ditempat tidur yang lainnya. Karena diruangan Vano ada dua tempat tidur. Dan yang satu kosong, sehingga dia tiduran disana.


"Bagaimana kabar Sasha? Apakah dia baik-baik saja?"


Jack lalu berbalik dan melihat wajah Vano, lalu berpaling lagi pada jendela didekatnya.

__ADS_1


Jack jadi teringat bagaimana hubungannya sekarang lebih manis dan menyenangkan setelah Vano tidak ada diantara mereka.


"Dia tidak menanyakanmu. Aku sering menemaninya." Kata Jack berbohong.


Vano menggigit bibirnya saat mendengar kata Jack jika Sasha tidak mencarinya. Entah kenapa hatinya terasa sakit bagai teriris sembilu saat tahu jika Sasha sudah melupakannya.


"Baguslah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya." Kata Vano berusaha terlihat tegar.


"Dia sudah melupakanmu." Kata Jack kemudian.


"Dan, biarkan saja tetap seperti ini. Dia sudah nyaman bersamaku."


"Aku turut bahagia." Kata Vano sambil tertunduk.


"Sekarang aku mau tidur. Semalaman aku belum tidur." Kata Jack kemudian.


Tidak menunggu waktu lama, Jackpun tertidur.


Sementara Vano menjadi gelisah setelah mendengar pengakuan Jack jika Sasha sudah nyaman bersamanya.


Ada rasa tidak rela, namun walau bagaimanapun, Vano sadar jika dia tidak layak untuk Sasha.


Dia cacat. Dia bukan lelaki sempurna. Dan bahkan dokter mengatakan jika dia hanya mempunyai kemungkinan 20% untuk bisa mendapatkan keturunan.


Tidak terasa mata Vano basah karena sedih dan kehilangan.


Aku tidak akan menikah.


Aku tidak bisa mempunyai keturunan.


Tidak akan yang mau bersama pria sepertiku. Pria mandul.


Tiba-tiba dokter masuk dan melihat ke ranjang disebelah Vano.


"Siapa dia?" Tanya dokter sambil meriksa Vano.


"Temanku."


"Akhirnya kau mendengarkan saranku."


"Kenapa kau menangis?" Tanya dokter yang melihat mata Vano berair.


"Tidak! Siapa yang menangis? Aku hanya kelilipan. Mataku sangat pedih." Kata Vano berusaha menunjukkan perasaannya.


"Apakah kau mau menikah dengan pria yang tidak bisa memberimu anak?"


"Tentu saja aku ingin punya anak. Aku mungkin harus memikirkan masak-masak jika dia tidak bisa memberiku anak, sebelum kami melangkah lebih jauh."


"Kau benar. Semua orang mengharapkan keturunan dari setiap hubungan."


"Apakah kau sedang berbicara tentang dirimu sendiri?"


Vano kaget dan menoleh kearah dokter yang berdiri disampingnya.

__ADS_1


"Tidak mungkin ada wanita yang akan hidup bersama pria yang tidak berguna."


"Kau salah."


"Maksudmu? Bukankah kau tadi bilang kau juga mengharapkan keturunan dari setiap hubungan?"


"Kau benar. Tapi setiap wanita punya sudut pandang yang berbeda. Kadang meskipun tahu jika pria yang akan menikah denganya tidak bisa memberikan keturunan, mereka tetap memilih untuk menghabiskan hidup bersamanya."


"Pasti dia wanita yang bodoh."


"Tidak. Dia melakukan segalanya demi orang yang dicintainya. Bahkan jika harus mengadopsi anak."


"Tidak mungkin. Kau pasti berbohong."


"Tunanganku bahkan meninggalkan aku karena dia mencintai mantannya. Dia cinta pertamanya. Dia adalah pasienku. Dia juga tahu jika wanita yang dinikahinya menderita cancer dan tidak bisa memberinya keturunan. Tapi mereka tetap menikah. Dia memutuskan hubungannya denganku."


"Maafkan aku." Kata Vano merasa tidak enak hati, karena telah mengingatkan dokter itu pada kenangan pahitnya.


"Didunia ini, meskipun kita punya segalanya, tapi kita tidak bisa memaksa orang untuk tetap mencintai kita dan menahanya, jika memang dia ingin pergi. Kau tahu, kita berpacaran selama 7 tahun. Dia sangat baik. Tapi kebaikannya justru telah membuat aku kehilangan dia."


"Aku tidak mengerti."


"Dia kasihan pada pasienku yang merupakan cinta pertamanya. Mereka berpisah karena pasienku menderita cancer dan tidak ingin menjadi beban bagi kekasihnya. Namun mereka bertemu lagi setelah sekian lama. Dan akhirnya tunanganku memilih untuk bersamanya dan meninggalkan aku."


"Apa alasannya?"


"Karena dia berpikir bahwa tidak akan ada pria yang mau hidup bersamanya. Akhirnya dia menjadi salah satu pria yang memutuskan untuk hidup bersamanya dan menerima segala kekurangannya."


"Apakah kau terluka saat dia meninggalkanmu?"


"Tidak, hanya saja berat badanku turun 10 kg. Aku terus memikirkannya sepanjang hari. Dan aku selalu merasa kenyang setiap kali melihat makanan."


"Kisahmu membuatku sedih."


"Tapi sekarang aku percaya, sesuatu yang ditakdirkan untukmu, akan tetap menjadi milikmu, dan jika dia tidak ditakdirkan untukmu, walau bagaimanapun kau mempertahankanya, dia akan tetap pergi."


"Sekarang kau ikhlas?"


"Awalnya sulit. Namun seiring waktu aku bisa melupakan segalanya perlahan-lahan."


"Aku senang mendengarnya. Akhirnya kau move on."


"Kehidupan terus berjalan. Kita harus bisa melupakannya."


"Kau dokter yang baik."


"Kau pasien yang merepotkan!" Kata dokter lalu pergi dengan beberapa alat yang sudah dia bereskan.


"Dokter!"


"Ya."


"Terimakasih."

__ADS_1


"Sama-sama."


__ADS_2