Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
10 eps terakhir (bab 276)


__ADS_3

Nadiya menelpon pangacara Jeslin setelah berita ini tersebar. Prasetyo duduk disampingnya tanpa berkata apapun. Hari ini Nadiya sebenarnya ada janji dengan pengacara untuk kasus sahabatnya, namun dia sendiri sedang berada dalam masalah, sehingga dia mengatakan tidak akan datang.


"Saya tidak bisa hadir hari ini. Dan sampaikan maaf saya untuk Jeslin. Sepertinya saya tidak bisa lagi membantunya." Kata Nadiya melalui telepon.


"Baiklah, Bu Nadiya. Terimakasih untuk apa yang ibu lakukan selama ini. Itu sangat membantu kami."


Nadiya lalu menutup teleponnya dan menatap Prasetyo.


Telepon rumahnya berdering tidak berhenti, dan itu sangat mengganggu suasana dirumah. Bu Monic bahkan belum sarapan dan memilih berdiam diri dikamarnya.


Nadiya juga tidak berselera untuk sarapan hari ini.


"Bi, tolong cabut kabel teleponnya." Kata Prasetyo karena sudah kesal dengan telepon yang terus berdering.


Handphonenya juga dihubungi oleh beberapa teman dan juga koleganya.


Prasetyo lalu menelpon anak buahnya untuk datang dengan helikopter dan mereka akan meninggalkan rumah itu untuk sementara waktu.


"Sebaiknya kita menginap ditempat lain untuk beberapa hari kedepan. Kita tidak akan bisa kemana-mana, wartawan terus berada didepan sepanjang hari."


"Apakah kau akan kekantor hari ini?" tanya Nadiya pada Prasetyo.


"Mungkin besok. Anak-anak juga tidak sekolah hari ini." Kata Nadiya yang sengaja tidak membangunkan anak-anaknya.


Tiba-tiba Karina menelpon dan akan datang menemui Nadiya bersama papanya dan juga mamanya.


"Jangan kesini," kata Nadiya. "Kau tidak akan bisa masuk. Didepan penuh dengan wartawan."


"Kami menghawatirkan kalian."


"Kami baik-baik saja, hanya saja sebenarnya Edsel dan Eiden tidak bisa berangkat sekolah karena masalah ini." Kata Nadiya.


"Bagaimana jika mereka berdua tinggal bersama kami?" Kata Karina.


"Baiklah, nanti kami akan bicarakan dulu dengan mami dan juga Prasetyo. Jika mereka boleh, maka Edsel dan Eiden akan bersama kalian sementara waktu." Kata Nadiya.


"Baiklah, hubungi kami jika kau membutuhkan sesuatu." Kata Karina yang sekarang sudah berubah menjadi lebih dewasa setelah menikah dengan suami yang baik dan bijaksana seperti Danar.


Aura positif dari Danar sudah membuat Karina berubah, Nadiya juga bisa melihat itu setelah beberapa kali mereka bertemu.


Nadiya lalu menutup teleponnya dan membangunkan Edsel dan juga Eiden untuk sarapan.

__ADS_1


"Kenapa kami bangun jam segini? Apakah kami libur hari ini?" Tanya Edsel dan juga Eiden saat Nadiya membangunkannya.


"Iya, hari ini kalian libur, kita akan menginap ditempat lain. Apakah kalian mau menginap dirumah Tante Karina? Kalian akan berangkat sekolah dari sana. Kalian tinggal disana selama satu Minggu." Kata Nadiya.


"Tapi kenapa mami?"


"Nanti akan mami jelaskan. Sekarang kalian sarapan dulu."


Nadiya lalu berdiri didepan pintu kamar maminya dan mengajak ibu mertuanya untuk sarapan.


"Mami, mari sarapan dulu. Nadiya tunggu dibawah."


Ibu Monic lalu keluar dan tidak berbicara pada Nadiya. Dia duduk disamping Prasetyo dan tidak mengatakan apapun.


"Oma, kami mau menginap dirumah Tante Karina. Apakah boleh?"


Ibu Monic tampak mengangguk. Karena dia juga memikirkan sekolah Edsel dan juga Eiden. Belum lagi ibu Monic akan datang kekantor untuk memberi dukungan pada Prasetyo.


Satu Minggu ini dia akan sangat sibuk, ditambah masalah berita tentang keluarganya yang sedang menjadi buah bibir masyarakat.


"Kami akan menginap diapartemen sementara, nanti helikopter akan datang untuk menjemput kita." Kata Prasetyo saat maminya sudah selesai makan.


Sementara Nadiya tidak berbicara apapun. Dia masih memikirkan solusi yang terbaik untuk masalah ini. Sampai mereka melakukan jumpa pers, maka wartawan akan terus mengejarnya.


"Ya, sebaiknya kita meninggalkan rumah ini untuk sementara waktu. Kita tidak bisa kemana-mana dan belum lagi mereka akan terus mengikuti kemanapun kita pergi." Kata ibu Monic.


Tanpa melihat kearah Nadiya, ibu Monic lalu meninggalkan meja makan dan masuk kekamarnya untuk mengemas barang-barangnya.


"Apakah kita akan pergi sekarang?" Tanya Nadiya.


"Ya, sebaiknya kau berkemas sekarang. Helikopternya sebentar lagi sampai." Kata Prasetyo pada Nadiya.


Tidak lama kemudian mereka naik helikopter yang dipesan anak buah Prasetyo, Edsel dan Eiden sangat senang dengan transportasi yang satu ini.


Mereka akan menggunakan helikopter ini untuk sementara waktu hingga berita itu mulai mereda.


Setelah semua naik maka helikopter itu membawa mereka kesebuah apartemen yang ada dipinggir kota.


Setelah mendarat, mereka semua turun. Tempat ini sengaja digunakan untuk kondisi darurat seperti ini saat mereka membutuhkan suasana tenang.


Mereka sekarang bisa bernafas lega karena tidak ada wartawan yang akan mengetahui tempat ini.

__ADS_1


"Apartemen ini ternyata sangat luas ruanganya." kata Nadiya yang belum pernah datang kemari.


"Iya ini belum lama dibangun dan aku membeli untuk kondisi seperti ini." Kata Prasetyo.


"Aku tidak ingat jika kau akhirnya jadi membeli apartemen ini."


"Aku pernah mengatakanya, tapi setelah itu kita tidak pernah membahasnya lagi." Kata Prasetyo.


"Mami, mari saya bawakan kopernya." Kata Nadiya pada maminya yang masih marah dan kesal padanya.


"Tidak usah! Mami bisa membawanya sendiri." Prasetyo yang melihat maminya merajuk lalu mendekatinya dan mengambil koper dari tangannya.


"Biar Pras bawakan. Nadiya kau ajaklah anak-anak bermain." Kata Prasetyo yang mengajak maminya untuk duduk disebuah restoran didalam apartemen itu.


Nadiya lalu mengajak anak-anaknya untuk bermain dengannya sambil menunggu Karina datang.


Prasetyo duduk bersama ibu Monic sambil memesan minuman. Dia perlu berbicara pada maminya agar tidak menyalahkan Nadiya dalam masalah ini.


"Kenapa kau mengajak mami duduk disini?" Tanya maminya dingin.


"Ada yang harus Prasetyo bicarakan dengan Mami." Kata Prasetyo.


"Apa?" tanya ibu Monic.


"Mengenai isu saat ini, mami jangan terlalu menyalahkan Nadiya. Prasetyo juga bersalah karena menyembunyikan masalah ini dari mami. Ini kesalahan kami berdua. Dan tentang ibu pengganti itu, hanya itu yang bisa kami lakukan setelah berbicara dengan dokter. Kondisi Nadiya saat itu tidak melakukan untuk melakukan cara yang lainnya."


"Tapi apa kau berbicara dengan mami tentang masalah ini? Jika berita ini tidak tersebar, kau juga tidak mengatakan apapun."


"Kami berpikir untuk menyimpan rahasia itu selamanya."


"Tapi buktinya rahasia itu tersebar. Dan sekarang menjadi rahasia umum? Bagaimana semua ini bisa terjadi? Kau bilang hanya kalian berdua saja yang tahu tentang masalah ini?"


"Itulah yang sedang diselidiki oleh anak buah Prasetyo. Mereka sedang mencari tahu siapa yang menyebarkan ya pertama kali."


"Siapa wanita itu?"


"Maksud mami?"


"Wanita yang meminjamkan rahimnya untuk Edsel dan juga Eiden."


Prasetyo ragu untuk mengatakan kepada maminya, karena dia sebenarnya adalah Sandra.

__ADS_1


Dan....apakah Sandra yang menyebarkan berita ini? atau..... Joan.


__ADS_2