
Nadia menatap buah hatinya dengan penuh kesedihan dan mata yang berkaca-kaca. Ini adalah untuk pertama kalinya Nadiya harus meninggalkan sikembar dalam waktu lama dan tidak bisa berdekatan atau memeluk mereka.
"Kalian jangan rewel ya?"
"Mami....mami mau kemana?" Tanya Eiden.
"Mami akan ke rumah sakit untuk diperiksa sayang."
"Apakah lama mami?"
Nadiya mengangguk.
"Eiden ikut....Edsel juga mau diperiksa...." Kata Edsel dan juga Eiden sambil menangis.
"Tidak sayang. Kalian tidak sakit. Kasihan nanti Oma sendirian dirumah. Jadi....mami pergi dulu ya...." Kata Nadiya dan masuk kedalam mobil ambulan yang membawa Prasetyo tanpa menoleh lagi, atau dia tidak akan tega meninggalkan Edsel dan juga Eiden jika menoleh kepada mereka.
"Mami......!" Teriak Edsel dan juga Eiden bersamaan.
"Sudah...sudah...jangan menangis. Ayo ikut Oma." Kemudian Ibu Monic membawa mereka keruangan bermain untuk mengalihkan perhatian keduanya agar tidak rewel.
Dirumah sakit.
Prasetyo menjalani pemeriksaan dengan sangat lengkap dan semua dilakukan oleh dokter spesialis semua.
Karena kondisinya terus melemah maka semua dokter dikerahkan dan mereka memasang berbagai selang dimana-mana. Rupanya kesadaran Prasetyo semakin menurun akibat demam yang sangat tinggi.
Nadiya ada diruangan itu dengan jarak yang agak jauh. Ruangan itu lumayan besar sehingga bisa digunakan berdua. Nadiya berbaring sambil menatap Prasetyo yang sedang dikerumuni dokter.
"Entah apa yang terjadi padanya? Kenapa tiba-tiba kesadaranya menurun? Belum pernah sebelumnya terjadi hal seperti ini." Kata Nadiya bergumam lirih.
"Ya Tuhan....apapun yang sedang dihadapi oleh suamiku, angkatlah penyakitnya dan sembuhkanlah dia...." Bisik Nadiya sambil mengusap beberapa airmatanya yang jatuh membasahi pipinya.
Setelah semua alat terpasang ditubuh Prasetyo sekarang hanya ada satu dokter yang masih memantau keadaanya.
"Ibu Nadiya, saya akan meriksa pasien yang lain, jika Pak Prasetyo sadar nanti langsung hubungi kami." Kata Dokter itu kemudian pergi meninggalkan Nadiya.
"Baik dokter."
"O ya ibu Nadiya....apakah ibu Nadiya sudah diperiksa sama dokter yang lain tadi?"
"Sudah dok. Saya hanya harus dikarantina karena dikhawatirkan ada virus yang menempel."
"Baiklah. Kalau begitu, saya pergi dulu."
"Baik Dok."
__ADS_1
Sekarang diruangan yang besar itu hanya ada Nadiya dan Prasetyo yang penuh dengan selang dibadannya.
"Apa yang terjadi padamu Pras? Bangunlah? Aku ingin kamu sehat lagi seperti sediakala. Sunyi sekali rasanya melihatmu seperti ini. Tidak terdengar suaramu, dan juga keisenganmu. Bangunlah Pras dan cepat sembuh."
Kata Nadiya sambil terus memandangi wajah Prasetyo yang diam tak bergeming.
Sementara pasien yang lain terus berdatangan kedalam rumah sakit itu hingga membuat dokter kewalahan. Dalam sekejap rumah sakit itu penuh dengan pasien yang membutuhkan penanganan segera akibat virus cvd.
"Tidak ada ruangan yang kosong lagi." Kata seorang dokter.
"Lalu bagaimana dengan para pasien yang belum mendapatkan kamar dokter?" Tanya seorang perawat.
"Coba cari dan hubungi rumah sakit lain yang paling dekat?"
"Sudah dokter. Rumah sakit yang lain juga penuh."
"Baiklah. Jika kondisinya seperti itu maka buatlah tenda-tenda diluar rumah sakit. Kita akan merawat para pasien didalam tenda. Kita tidak punya pilihan lain. Mereka semua harus dirawat dan diselamatkan." Kata Dokter itu.
"Baik Dok..."
Nadiya berdiri dan melihat keluar jendela. Dilihatnya para perawat dan juga dokter sangat sibuk mondar-mandir dan sedang mendirikan tenda.
Nadiya kemudian melihat berita di hp nya jika hati kemarin dan hari ini terjadi ledakan warga yang terinfeksi virus cvd.
Tidak ada ruang kosong didalam rumah sakit, semua tempat yang bisa digunakan untuk merawat pasien telah terpasang tenda dan digunakan untuk menampung warga yang membutuhkan penanganan dengan segera.
Seorang dokter masuk. Nadiya melihat wajah dokter itu penuh keringat dan sedikit pucat.
Dokter pasti sangat kelelahan...
Gumam Nadiya sambil terus memperhatikan dokter tersebut.
Gubrakkkkk!
Tiba-tiba dokter itu jatuh tidak jauh dari tempat tidur Prasetyo.
"Dokter!" Nadiya langsung berteriak kaget. Dan dengan cepat menelpon dokter jaga untuk meminta pertolongan.
"Dokter, tolong kemari. Seorang dokter pingsan diruangan kami." Kata Nadiya dengan bibir dan badan gemetar karena kaget dan shock.
"Baik saya akan segera masuk." Kata suara itu.
Tidak lama kemudian Dokter dan beberapa perawat lengkap dengan baju APD masuk dan langsung mengangkat dokter yang pingsan dan masih menggunakan baju APD.
"Terimakasih Bu....ibu cepat memberitahu kami."
__ADS_1
"Sama-sama dokter." Kata Nadiya masih dengan jantung uang berdebar-debar.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Dua hari kemudian Prasetyo masih belum sadarkan diri. Dan hal itu membuat Nadiya bersedih. Prasetyo masih diam tak bergeming dan matanya terpejam tanpa ekspresi. Nadiya sangat sedih dengan pemandangan itu. Wajah itu tidak pernah lepas dari senyum yang melekat dan selalu menghiasi wajah gantengnya. Namun sekarang dia diam tanpa ekspresi apapun.
Seorang suster masuk dan memeriksa keadaan Nadiya.
"Ibu sepertinya sedikit demam. Ibu jangan terlalu banyak pikiran dan harus rilex. Jika ibu berpikir yang macam-macam maka daya tahan tubuh ibu untuk melawan virus itu akan menurun."
"Baik suster."
"Ibu harus tetap optimis dan bahagia. Hanya itu satu-satunya cara kita terhindar dari virus itu."
"O...ya Suster, bagaimana kabar dokter yang dua hari lalu pingsan disini? Apakah beliau baik-baik saja?"
"Tidak. Dokter itu sudah tiada kemarin. Dokter sangat kelelahan dan karena usianya yang sudah diatas 50 tahun maka daya tahan tubuhnya tidak mampu melawan virus itu."
"Dokter itu meninggal suster?"
"Ya. Benar ibu. Virus ini sangat berbahaya. Jadi seperti kata saya tadi. Tetap optimis dan jangan membiarkan rasa sedih membuat sistem imun tubuh kita melemah." Kata Suster itu sambil berjalan ketempat Prasetyo dan memeriksa suhu tubuhnya.
"Apakah suami saya bisa diselamatkan Suster?"
"Saat ini tubuhnya masih melawan virus semoga dua hari kedepan Pak Prasetyo bisa siuman."
"Tapi suster, kenapa dokter itu begitu cepat meninggal?" Kata Nadiya dengan cemas dan panik.
"Karena faktor usia dan kelelahan. Sehingga tubuhnya tidak mampu melawan virus itu yang sudah menyerang beberapa organ penting."
Tidak lama kemudian seorang Dokter yang lain masuk.
"Gimana suster, apakah sudah ada perubahan?"
"Belum dok. Pasien masih tidak sadarkan diri." Kata Suster itu.
"Baiklah. Dan bagaimana kesehatan ibu Nadiya?"
"Ibu Nadiya sedikit demam." Kata suster itu kepada dokter.
"Ibu Nadiya, jangan panik dan jangan stress. Karena jika stress sistem imun tubuh akan melemah dan virus itu akan mudah masuk dan juga menyerang tubuh kita." Kata Dokter sambil berjalan mendekati Nadiya.
"Iya dokter. Saya menghawatirkan suami saya dokter? Suami saya pasti akan sembuh kan dokter?" Tanya Nadiya.
"Pak Prasetyo saat ini masih berjuang untuk melawan virus itu. Jadi ibu berdoa saja semoga beliau berhasil melawan virus dan sehat kembali." Kata Dokter sambil menatap wajah Nadiya yang cemas memikirkan Prasetyo.
__ADS_1