
Nadiya pulang kerumah, sedangkan Ardy langsung balik lagi kekantor. Sesampainya dirumah Nadiya melihat Dara menunggu didepan rumahnya. Sendirian.
"Hai Nad?"
"Dara?"
"Iya Nad. Jangan gue Nad. Sudah lama kita ngga ngobrol."
"Sudah lama disini?"
"Ya lumayan."
"Ya udah yuk ngobrol didalam saja."
Nadiya mengajak Dara untuk masuk kedalam rumahnya. Kemudian mereka masuk ke ruang tamu. Tapi saat akan masuk Dara melihat Sarah turun dari mobil. Karena rumah Nadiya dan Sarah dekat, Dara berteriak memanggilnya.
"Sar!" Dara memanggil. Sarah menoleh.
"Sini!" Karena ngga enak hati sama mereka terpaksa Sarah menghampiri mereka. Sebenarnya Sarah lagi malas bertemu siapapun. Karena saat ini dia hanya ingin menyendiri dan menenangkan diri.
"Sudah lama ya kita ngga ngumpul kaya gini?" kata Dara.
"Iya. Gue sempat kaget Lo Ra, waktu gue tahu kalau Lo pindah ke rumah yang sangat besar itu. Gue seneng jadi rumah kita deketan." Kata Nadiya.
"Iya. Gue sibuk banget beberapa waktu lalu. Jadi kita jarang ketemuan deh." Ujar Dara.
"Kalian mau minum apa ni? Gue bikinin dulu ya?"
"Apa aja Nad. Yang penting dingin." Kata Dara.
"Lo mau apa Sar?"
"Gue apa aja deh. Yang penting hangat."
"Tumben Lo minum hangat. Biasanya Lo kalau ngga dingin ngga mau." Kata Dara.
"Iya ngga tau kenapa gue lagi mual. Pengennya muntah melulu."
"Lo kaya lagi hamil aja." Timpal Dara sambil bercanda. Tapi tiba-tiba muka Sarah jadi serius banget. Dan seperti terhenyak.
"Hush!? Sarah kan udah cerai sama Leo." Kata Nadiya sambil berjalan kebelakang. "Paling cuma masuk angin aja Sar. Mau gue kasih obat. Gue ada nih obat mual."
" Ngga usah Nad. Ntar juga baikan."
Nadiya sudah kembali dari dapur dan membawakan minuman untuk mereka.
"Iya gue ada camilan ni." Nadiya menyodorkan makanan kepada mereka. Dara mengambilnya dan menawarkan kepada Sarah sambil mendekatkan makananya.
Seketika itu juga Sarah langsung mual-mual, dan ada rasa ingin muntah, karena bau menyengat dari makananya.
"Ada apa Sar?" Kata Mereka panik. Sarah langsung lari ke wastafel dan mau muntah tapi ngga bisa. Wajahnya memerah dan badanya terasa lemas. Kemudian Sarah balik lagi menemui mereka dan pamit pulang duluan.
__ADS_1
"Gue pulang dulu ya. Sorry gue ngga bisa menemani kalian ngobrol. Perut gua mual banget." Sarah kemudian langsung pulang kerumahnya.
Sesaat setelah Sarah pulang, Nadiya teringat apa yang dilihatnya di catatan dokter. Apa iya Sarah beneran hamil? Apa aku ngga salah lihat catatannya? Tapi ngga mungkin. Sarah sudah bercerai dengan Leo. Dan sekarang sendirian. Akh mungkin Sarah hanya masuk angin saja, jadi mual. Nadiya melamun.
"Nad." Nadiya tersadar dari lamunannya saat mendengar Dara memanggil.
"Tuh si Sarah kaya orang hamil muda saja." Celetuk Dara.
"Mungkin cuma masuk angin saja kali."
"O ya Nad. Gimana kabar program kehamilan lo? Apa sudah ada perkembangan?"
"Iya. Gue lagi bahagia Ra. Ternyata gue mendapat kabar bahagia juga. Gue hamil."
"Syukurlah. Akhirnya apa yang Lo impikan sama Ardy jadi kenyataan."
Sampai dirumahnya, Sarah masih muntah-muntah dan badanya terasa lemah. Kemudian dia berbaring sendirian dan menyandarkan kepalanya.
🌹🌹🌹
Karina dan Joan bergandengan tangan masuk kedalam Rumah mereka berdua. Tidak ada siapapun, hanya mereka berdua. Kebetulan bibi yang biasanya menemani Karina sedang cuti.
Mereka kemudian langsung masuk kedalam kamar.
Karina juga sudah sangat merindukannya. Empat hari lamanya Joan bersama Dara sehingga Karina harus bersabar menunggu gilirannya. Kemudian Karina pergi ke kamar mandi yang ada didalam kamarnya untuk membersihkan diri.
Saat dilihatnya Karina masuk, Joanpun kemudian mengikutinya dari belakang. Dan kemudian mereka membersihkan diri berdua.
Pagi-pagi sekali tiba-tiba terdengar suara pintu rumah Karina diketuk oleh seseorang.
"Siapa sih pagi-pagi sudah mengganggu." Gumam Karina. Matanya masih mengantuk dan dengan cepat mengenakan baju kemudian turun untuk membukakan pintu.
"Mama?" Mata Karina terbelalak. "Ngapain sih mama pagi-pagi sudah kerumah Karina?"
"Kenapa? Ngga boleh. Kok kamu ngga suka mama Dateng?"
"Bukan begitu ma. Karina masih mengantuk. Mama nggedor pintu keras sekali sampai jantung Karina mau copot." Kata Karina sambil menutup pintu kembali.
"Mama berdiri didepan sampai kaki mama pegal-pegal. Ngetuk dari tadi ngga ada yang bukain? Itu Suami kesayangan kamu kemana?"
"Masih tidur ma. Lagian biarin saja sih, kan mas Joan capek bekerja di kantor. Jadi tidurnya pulas." Karina cemberut karena mamanya suka ceplas-ceplos apalagi jika berbicara tentang Joan. Sofia memang tak terlalu menyukainya. Karena Karina ngeyel maka dia terpaksa menyetujuinya.
"Ya sudah. Mama mau istirahat. Dimana kamar mama?"
"Mama mau menginap disini?"
"Iya. Mama mau disini sebulan. Mama mau tahu bagaimana hubungan kamu sama Joan itu. Lagian mama mau cepat punya cucu."
"Jangan menginap dong ma."
"Kenapa? Nginap di rumah anak sendiri kok ngga boleh? Lagian papa kamu lagi keluar negeri satu bulan. Mama kesepian dirumah. Jadi mama mau tinggal disini."
__ADS_1
"Apa!? Satu bulan?"
"Kenapa? Kok kamu ngga seneng mama tinggal bersama kamu?" Ibu Sofia berkata sambil matanya menatap Karina dengan kesal.
"Bukan begitu ma. Kan ini masih bulan madu Karina. Karina kan baru menikah. Jadi kan....." Berpikir sebentar sambil cari alasan yang tepat, agar mamanya tidak menginap bersamanya. " Mama katanya pengen cepet punya cucu?"
"Sudah jangan ribut. Cepat bawain koper mama kekamar. Mama mau istirahat, dan ngga mau berdebat. Pokoknya mama mau tinggal disini satu bulan."
Dengan cemberut Karina membawakan koper mamanya. Dia membawa dengan susah payah karena kopernya berat sekali, entah apa yang ditaruh didalamnya. "Apa sih yang dibawa mama? Tangan Karina sampai pegal!" Keluhnya.
Sesaat kemudian Karina memesan makanan untuk sarapan mereka bertiga. Sebelum ibunya marah-marah maka Karina sudah mempersiapkannya. Setelah istirahat yang cukup Ibu Sofia keluar dari kamar dan menuju meja makan.
Dia duduk bersama Karina, kemudian dilihatnya Joan turun dari lantai dua dan sudah rapi akan pergi kekantor. Kemudian mereka sarapan bersama.
"Mulai besok ngga usah pesan makanan dari luar. Mama yang akan memasaknya."
"Pesan aja kenapa sih ma, lebih praktis."
"Mama akan memasak makanan yang membuat tubuh kalian berdua tambah subur, sehingga kalian bisa cepat memberikan keturunan untuk mama."
uhuk! uhuk! Joan yang sedang makan langsung tersedak. Karena Joan tidak ingin punya anak dari Karina. Bukankah dia sudah punya Kiara? Anak dari Dara. Dan Karina juga sudah sepakat untuk mengikuti kemauan Joan yang tidak ingin punya anak lagi.
"Kamu kenapa?" Kata Ini Sofia pada Joan.
"Tidak papa ma. Kepedesan, jadi Joan tersedak." Katanya beralasan. "Ya sudah ma. Joan pamit mau kekantor dulu."
"Ya. Sudah sana. Jangan pulang terlambat. Ngga usah lembur. Kalia harus sering berduaan."
"Iya ma." Joan kemudian berpamitan pada Kirana dan berangkat kekantor.
Saat dalam perjalanan Joan menerima telepon dari putrinya. Kemudian Joan mengangkatnya dan berbicara sambil menyetir.
"Ada apa sayang?"
"Papa dimana?"
"Papa diluar kota sayang."
"Kapan papa pulang?
"Dua atau tiga hari lagi papa pulang."
"Kiara kangen papa."
"Iya. Papa juga kangen Kiara. Sudah dulu ya. Papa lagi diperjalanan."
"Iya pa." Kemudian Joan menutup teleponnya.
Ditengah perjalanan dia melihat Leo dan Ardy yang sedang berbicara sambil menunjuk sebuah bangunan hotel.
"Huh. Lihat saja bagaimana nanti aku akan membalas kalian." Kata Joan. Rupanya Joan punya dendam pribadi pada mereka berdua. Tapi semua itu dia pendam dan tak pernah ditampakkan. Sehingga dari luar nampak hubungan mereka biasa saja.
__ADS_1
Leo sendiri terlibat kerjasama dengan Ardy karena Ardy merupakan Manager dari perusaan perhotelan. Dan pekerjaan Leo adalah seorang Arsitek yang handal. Sehingga Ardy membutuhkan jasa Leo untuk setiap proyeknya.