Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Tawaran Arya


__ADS_3

Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu semua.


Arya lalu membawa Sasha pulang kerumahnya.


Arya membawa Sasha masuk kedalam rumah dan memberikan kamar tamu untuknya.


Karena dirumahnya hanya ada dua kamar, satu untuknya dan satu lagi untuk kamar tamu.


"Beristirahatlah disini," kata Arya lalu memberikan sebuah kartu padanya.


"Pakailah kartu ini untuk membeli kebutuhanmu."


"Tapi....om...."


"Tidak papa, pakailah."


Arya memberikan kartu kredit kepada Sasha.


Mungkin ada beberapa kebutuhanya yang tidak tersedia dirumahnya. Dia datang juga tanpa koper dan barang lainnya.


"Setelah saya bekerja, saya akan membayarnya," kata Sasha pada Arya.


"Baiklah."


Arya lalu mengangguk dan meninggalkan kamar putrinya.


Dan Sasha terlihat sudah lebih baik. Dia memesan beberapa baju dan juga barang lainnya via online. Dan tidak sampai setengah jam barang itu Saudah sampai dirumah Arya.


Dua jam kemudian Arya mengetuk kamar Sasha.


"Sasha, ayo kita makan."


Arya berencana untuk membicarakan banyak hal kepada Sasha. Tanpa membuatnya curiga jika dia adalah ayah biologisnya.


Arya tidak ingin, jika Sasha mengetahui hal itu. Dia takut Sasha justru menolak bantuannya.


Biarlah, jika menjadi orang asing, lebih nyaman baginya, yang penting dia bisa selalu memantau putrinya.


Sasha lalu keluar makan dengan baju yang sudah rapi, meskipun matanya masih sembab karena menangis.


Arya bisa melihat penyesalan yang mendalam dari matanya.


"Ayo makan!" Kata Arya dan mempersilahkan Sasha untuk makan.


"Aku akan mengantarmu kerumah Nadiya setelah kita makan. Mereka pasti sangat mengkhawatirkan mu." Pancing Arya ingin tahu apa yang sudah terjadi sebenarnya.


Apakah hubungan mereka masih baik-baik saja atau sudah terjadi masalah sehingga Sasha tidak bisa tinggal disana.


"Em, saya tidak tinggal disana lagi."


Kata Sasha lirih dan hampir tidak terdengar.


Arya tidak terkejut dan sudah menduganya.


"Lalu... selama ini kau tinggal dimana?"


Sasha lalu menceritakan bagaimana awalnya di bertemu dengan Jeslin dan bekerja disana.


Hingga peristiwa kemarin itu terjadi karena dia tidak mawas diri.


"Ohh, jadi kau tinggal bersama mereka?"


Sasha mengangguk.


"Maukah kau kembali lagi ke Amerika. Selesaikan kuliahmu disana."


Sasha lalu mendongak. Dan tertegun menatap Arya.


Kuliah?


Bagaiamana dengan biayanya?


"Saya tidak mungkin kesana lagi. Saya tidak punya uang untuk biaya kuliah. Mungkin saya akan bekerja dan kalau memungkinkan, saya akan bekerja sambil kuliah," kata Sasha berterus terang.


"Masalah biaya, tidak usah kamu pikirkan. Om akan membiayai dan menanggung semuanya hingga kau menjadi sarjana. Kamu tidak perlu khawatirkan masalah biayanya."


"Tapi om, bagaimana saya akan mengembalikanya?"

__ADS_1


"Tidak usah kau pikirkan. Setelah bekerja, kau boleh mengembalikanya."


Sasha lalu berfikir sejenak.


"Pikirkanlah dulu, jika kau siap, kapanpun kau ingin kesana, om akan mengantarkanmu." Kata Arya dengan bijak.


"Sebelum itu, tinggalah disini. Semua barang-barang yang ada disana. Nanti anak buah om, yang akan mengambilnya. Tenangkan dirimu disini."


"Iya om."


"Ayo sekarang makanlah."


Mereka makan dan Sasha masuk kekamar lagi setelah makan.


"Bi, nanti tolong layani Non Sasha. Dia sudah seperti putri saya sendiri. Saya akan kekantor." Kata Arya kepada asistenya.


"Baik Tuan."


Didalam kamar, Sasha merenung memikirkan tawaran Arya.


Kenapa om Arya begitu baik padanya?


Sejak awal mereka bertemu, om Arya sangat perhatian dan menganggapnya layaknya putrinya sendiri.


Lalu setelah Arya pergi, Sasha keluar dari kamarnya.


"Non, apa membutuhkan sesuatu?" tanya asistennya.


"Tidak bi. Saya hanya ingin ngobrol dengan bibi," kata Sasha lalu duduk didapur sementara asisten itu mencuci piring.


"Bi, apakah bibi sudah lama bekerja disini?"


"Sudah Non."


"Apakah om Arya tinggal sendirian? Rumah ini sangat sepi." Kata Sasha.


"Benar Non. Tuan, tinggal sendirian," kata asistennya.


"Ohh, pantas saja sejak bertemu Om Arya, dia tidak pernah melihatnya bersama keluarganya."


"Mau saya bantu bi?" tanya Sasha.


"Tidak usah Non, Non istirahat saja."


"Ya sudah bi, saya kekamar dulu."


Sasha lalu mendapat pesan dari Jeslin.


"Kamu dimana?" Tanya Jeslin.


"Saya tidak enak badan, Saya dirumah om saya," kata Sasha.


"Ya, sudah...istirahat saja."


Sasha lalu berfikir, dan setelah apa yang terjadi, dia tidak ingin menemui seniornya lagi.


Malu.


Dan banyak sekali tekanan saat nanti bertemu dengannya.


Penyesalan.


Marah.


Dan yang pasti setiap melihatnya akan mengingatkanya pada malam yang memalukan.


Sasha lalu mengirimkan alamatnya pada Arya. Karena Arya berjanji untuk mengambilkan koper yang ada di villa.


"Apakah kau baik-baik saja? Apakah kita harus melaporkan pada polisi?" Tanya Arya melalui SMS.


"Tidak! Jangan sampai ada yang tahu. Bahkan keluarga Bu Nadiya," kata Sasha melalui pesan singkat.


"Baiklah, jika kau ingin begitu."


Balas Arya lalu dia menelpon anak buahnya.


"Kau pergilah ke villa ini. Temui Ibu Jeslin, dan ambil semua barang milik Sasha, putriku. Jika mereka bersikeras tidak mau memberikanya, kau tahu apa yang harus kau lakukan?" Titah Arya pada beberapa anak buahnya.

__ADS_1


"Baik bos!"


Keempat anak buahnya lalu datang ke villa itu.


Dan ternyata Jeslin tidak ada disana. Mereka disambut oleh satpam. Ada Andro didalam sedang beres-beres.


Dia juga kaget saat empat orang dengan badan yang besar masuk keruanganya.


"Kami datang untuk mengambil baju Sasha. Kau bisa ambilkan atau kami akan ambil sendiri!" Kata orang yang badanya paling besar.


"Aku akan mengambilkanya." Kata Andri tanpa mempersulit dan menanyakan bagaimana keadaan Sasha.


Dia sudah takut begitu melihat empat orang berbadan besar diruanganya.


Tidak mungkin menang melawan mereka.


Badannya juga masih sakit semua akibat ulah bosnya.


Dia tidak mau mencari ribut dengan mereka dan mati dihajar oleh mereka.


"Ini." Kata Andro menyerahkan koper itu.


"Kau yakin tidak ada yang tertinggal didalam?" tanya anak buah Arya.


"Tidak. Semua sudah ada didalam koper itu." kata Andri sambil berjalan mundur.


Mereka lalu pergi meninggalkan ruangan Andro.


Satpam itu juga ketakutan dan menghubungi Jeslin.


Saat keempat orang itu keluar, mobil Jeslin masuk dan berpapasan dengan mobil hitam itu.


"Dimana mereka?" tanya Jeslin kepada Satpam yang jaga.


"Mereka baru saja pergi."


"Apakah ada keributan?" tanya Jeslin khawatir.


"Tidak Bu. Sepertinya mereka hanya sebentar lalu pergi."


"Baiklah. Apakah Andro ada didalam?"


"Iya, pak Andro ada didalam."


Jeslin lalu memarkir mobilnya dan masuk kedalam.


Dia lihat wajah Andro merah kebiruan.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Jeslin sambil meneliti wajah Andro.


"Tidak. Terjadi apa maksudmu?"


"Satpam bilang ada empat orang berbadan besar masuk kemari."


"Ohh, mereka hanya mengambil barang Sasha."


"Ada apa? Bukankah Sasha sakit?"


"Apa dia bilang begitu?" tanya balik Andro.


"Iya." jawab Jeslin.


"Dia tidak bekerja lagi."


"Apakah ada sesuatu yang terjadi. Kenapa tiba-tiba dia akan pergi?"


"Entahlah. Dia masih muda. Dan dia masih labil. Mereka kadang masih belum bisa membuat keputusan yang benar. Tidak usah dipikirkan. Aku akan mencari asisten yang lain untuk menggantikannya." Kata Andro sambil berlalu.


"Kau mau kemana?"


"Minum." Kata Andro lalu menenggak soda dengan cepat.


"Kenapa dengan wajahmu? Apakah kau berkelahi dengan mereka?"


"Tidak. Kemarin aku berkelahi dengan salah seorang temanku. Dia memerasku." Kata Andro.


"Kau tidak menyembunyikan apa-apa kan?" tanya Jeslin merasa jika gerak-gerik Andro seperti orang yang sedang merahasiakan sesuatu darinya.

__ADS_1


__ADS_2