
Suasana didalam mobil menjadi hening, saat Ardy menjawab bahwa dia tidak bahagia. Jawaban yang tidak ingin Nadiya dengar, karena jawaban itu bisa saja mempengaruhi suasana hatinya.
"Aku kehilangan segalanya jadi mana mungkin aku bahagia? Orang lain mungkin bahagia karena mendapatkan segalanya. Jadi untuk apa dia kembali dan mempedulikan orang lain yang dia tinggalkan jika kebahagiaan ada dalam genggamanya." Ardy berkata sambil mencoba mengingatkan Nadiya pada jati dirinya yang sebenarnya.
Nadiya diam seribu bahasa dan melihat keluar jendela. Dan saat Nadiya membuka kaca jendela mobilnya tiba-tiba hujan mengguyur begitu deras. Akhirnya terpaksa Nadiya menutupnya kembali. Dan mereka terjebak didalam mobil akibat hujan yang mencurah deras sekali.
Ardy melepas jaketnya dan dia berikan kepada Nadiya.
"Pake ini, diluar hujan, jadi udara sangat dingin."
Nadiya menolaknya, dan mengembalikan jaket itu kepangkuan Ardy.
"Tidak usah! Terimakasih !"
"Hhhhh, Orang kaya tidak butuh jaket dari orang biasa." Ardy menyindirnya karena sekarang dia tahu status Nadiya. Dia adalah anak dari Tuan Alex dan sekarang dia adalah CEO dari perusahaan besar. Bahkan perusahaan itu adalah miliknya.
Nadiya diam saja. Meskipun Ardy terus menyindir dengan kata-kata yang pedas. Saat ini Nadiya sedang malas bertengkar atau membalas kata demi kata yang menyinggung perasaanya.
Tiba-tiba kaca mobil diketuk oleh seseorang yang membawa payung dan berdiri disamping mobil Ardy. Dia tak lain adalah Prasetyo, mudah baginya menemukan dimana Nadiya berada. Mungkin dia punya insting yang kuat atau memang sudah dari tadi mencarinya kesana-kemari dan ternyata ketemunya disini. Didalam mobil, dibawah pohon, berduaan dengan mantan, dan terjebak hujan yang deras.
Nadiya membuka pintu dan berjalan meninggalkan Ardy yang terbengong karena kesal bodyguard itu menemukan mereka disana. Nadiya bahkan tidak menawarinya untuk bersamanya dengan payung yang dia bawa.
Mereka memang orang-orang berhati dingin dan tidak peduli jika orang lain bahkan tidak punya payung. Huh!
Ardy melihat Nadiya berjalan beriringan satu payung dengan bodyguard yang menurut Ardy terlalu keren penampilanya. Bos dan anak buah sama saja. Huh! Ardy mengumpat sendirian dan kesal karena ditinggalkan sendirian didalam mobil sedangkan hujan belum reda.
Akhirnya saat hujan mulai reda Ardy berlari-lari kecil kerumah sakit. Kebetulan dia menemukan sebuah koran yang tidak terpakai. Ardy menggunakan koran bekas itu untuk menutup bagian kepalanya dari tetesan hujan yang tinggal gerimis kecil.
__ADS_1
Ceklek!
Ardy masuk kedalam kamar dan dilihatnya Nadiya sedang duduk disamping bodyguard itu. Ardy kesal melihat kedekatan mereka berdua
Dan kemudian Ardy memilih untuk duduk disamping putranya Regan yang masih tertidur pulas.
Sesekali matanya melirik ke arah Nadiya dan bodyguard nya yang sok keren itu.
Nadiya dan bodyguard nya terlihat berbicara dengan pelan. Ardy memasang kupingnya dan ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Semakin lama Ardy perhatikan kedekatan mereka seperti bukan kedekatan antara Bos dan anak buah.
Jika ditelisik dari cara mereka berbicara malah mereka seperti teman dekat.
Ardy mulai cemburu melihat Nadiya yang asyik ngobrol dengan Bodyguardnya tersebut. Tadi kalau tidak salah Nadiya menyebut namanya Prasetyo. Ya benar namanya adalah Prasetyo karena diam-diam Ardy mendengarkan pembicaraan mereka meskipun terdengar lamat-lamat.
Ardy sengaja keluar dari kamar Regan entah untuk keperluan apa. Tapi tidak lama kemudian dia masuk kembali tanpa membawa apapun. Entah apa maksudnya dia mondar-mandir tidak jelas. Mungkin karena tidak ada yang mengajaknya ngobrol sehingga Ardy menjadi salah tingkah.
"Apakah anda ingin dipesankan juga? Kami sedang memesan makanan untuk makan siang."
"Tidak usah! Pesan saja untuk kalian sendiri!" Jawab Ardy agak ketus.
"Hhhhh, Sudah kubilang tidak perlu bertanya padanya dia sudah makan apa belum?" Kata Nadiya pada Prasetyo yang duduk disampingnya.
"Baiklah kami hanya pesan untuk dua orang saja. Tapi tiga porsi." Prasetyo memesan tiga porsi makanan untuk makan siang yang sudah terlambat akibat mencari Nadiya tadi.
Setengah jam kemudian makanan sudah tiba sesuai pesanan yaitu tiga porsi.
"Ini tips untuk kamu." Kata Prasetyo memberikan sedikit tips untuk petugas yang mengantarkan makananya.
"Terimakasih Pak." Jawab orang itu.
__ADS_1
Prasetyo memberikan satu porsi untuk Nadiya. Kemudian satu porsi untuk dirinya sendiri. Dan tersisa satu porsi dia letakan didekatnya.
"Mari makan...." Mereka menawari Ardy dan dia hanya menoleh dengan muka ditekuk melihat mereka asyik makan berdua. Sepertinya Ardy mulai jeoluse melihat kedekatan Nadiya dengan Prasetyo. Mereka terlihat akrab dan tidak seperti pengawal yang terdahulu yang biasa mendampinginya.
"Bagaimana menurutmu? Rasanya enak bukan?" Tanya Prasetyo pada Nadiya.
"Semua makanan terasa enak saat kita sedang lapar." Jawab Nadiya dan sengaja melirik pada Ardy yang tidak mau makan bersama mereka. Padahal Nadiya tahu Ardy pasti juga lapar hanya dia terlalu gengsi untuk makan bersama mereka.
"Kamu coba yang ini. Daging ini sangat lembut." Prasetyo memberikan sepotong daging pada Nadiya agar dia mencobanya. Karena Jenis makanan yang mereka pesan berbeda. Jadi Prasetyo ingin Nadiya mencicipi makanan yang dia pesan.
Nadiya yang sengaja ingin membuat cemburu Ardy mulai memakan daging yang diberikan Prasetyo dan mengunyahnya sambil memuji makanan itu.
"Hemmmm, Ini sangat lezat. Kamu sangat pandai dalam memesan makanan. Daging ini memiliki cita rasa sangat tinggi. Pasti kamu juga pandai memasak." Jawab Nadiya memuji Prasetyo.
Mendengar pujian Nadiya membuat Prasetyo melambung tinggi. Padahal dia tidak tahu tujuan dari pujiannya itu yang hanya ingin membakar hati Ardy bukan untuk melambungkan Prasetyo.
"Lain kali aku akan memasak untukmu. Kau tahu aku sangat pandai memasak daging. Terbiasa mandiri membuatku hobi memasak. Aku bahkan sampai belajar dari chef ternama demi hobi yang satu ini." Kata Prasetyo yang mulai suka dengan gaya bicara Nadiya karena mulai mau terbuka.
"Baiklah lain kali kamu harus masak untukku. Aku pasti akan senang memakannya." Jawab Nadiya sekenanya. Matanya dengan awas terus memperhatikan Ardy yang sangat kesal pada dirinya juga Prasetyo.
Namun tiba-tiba Ardy berdiri dan berjalan kemeja mereka. Nadiya pikir Ardy akan marah dan membuat keributan. Tapi ternyata dia berdiri dan mengambil satu porsi makanan yang masih segel dan utuh. Ardy juga mendengar jika tadi bodyguard mesum itu memesan tiga porsi makanan. Dia juga sangat lapar apalagi mendengar ocehan mereka berdua, membuatnya semakin lapar saja.
Ardy mengambil makanan tanpa permisi atau bicara sepatah katapun. Dia mengambil dan langsung menyantapnya dengan lahap. Sementara Nadiya hanya memperhatikan sikap angkuhnya dari jauh. Sedangkan Prasetyo hanya senyum-senyum sendiri melihat sikap Ardy, mantan suami Nadiya.
"Seperti anak kecil!" gumamnya. Dan ternyata terdengar oleh Ardy. Dia langsung menoleh dan matanya melotot pada Prasetyo.
"Kamu bilang apa? Ulangi! Tadi kamu bilang apa?"
Prasetyo diam saja dan tidak mau meladeninya.
__ADS_1