
Malam ini Nadiya dan Prasetyo akan menghadiri pesta ulang tahun salah satu klien Nadiya. Kebetulan Regan sedang menginap dirumah salah satu temanya, sehingga Nadiya bisa hadir memenuhi undangan dari teman kerjanya.
Nadiya sedang mencoba beberapa dress yang dia beli di Paris saat liburan kemarin. Dan setelah menemukan dress yang cocok diapun turun dari lantai dua. Dibawah, Prasetyo sudah menunggu satu jam sambil menonton Televisi.
Prasetyo menoleh kearah Nadiya sambil menguntai senyuman terindah dan termanis didunia.
"Kamu sangat cantik Nadiya......" Terlontar kata tanpa disadari oleh Prasetyo yang mengalir dari bibirnya begitu saja.
Nadiya tersenyum dan menyambut tangan Prasetyo dengan jari lentiknya.
Satu jam kemudian Nadiya dan Prasetyo sudah sampai dirumah salah satu klienya yang mengadakan pesta ulang tahun istrinya.
"Pestanya kelihatan sangat meriah." Kata Nadiya sambil menggandeng tangan Prasetyo dan masuk melalui pintu utama yang penuh dengan hiasan bunga warna putih.
"Iya, ayo kita masuk kedalam." Kata Prasetyo sambil memeluk pinggang Nadiya yang ramping.
Nadiya datang sedikit terlambat dan pesta itu sudah dimulai. Banyak tamu undangan yang hadir disana. Entah kenapa saat Nadiya baru melangkah lampu tiba-tiba padam. Dan satu menit kemudian lampu sudah menyala kembali diiringi musik dansa.
Namun tiba-tiba seseorang menghalangi langkah Nadiya dan Prasetyo sambil sempoyongan dan berdiri tepat didepanya. Sehingga Nadiya terpaksa menghentikan langkahnya dan matanya menatap tajam pada laki-laki yang ada didepannya.
Laki-laki itu bertepuk tangan dan tersenyum menyeringai sambil berjalan berputar mengitari Nadiya. Rupanya dia adalah Ardy yang mendekati Nadiya dalam kondisi mabuk akibat banyak minum. Nampak seorang gadis berjalan dibelakang Ardy.
"Selamat! Selamat! Istriku sudah menang dan dia pantas merayakannya. Dia sudah mendapatkan kemenangan atas diriku." Ardy berkata sambil mengelilingi Nadiya dan Prasetyo dengan mata yang merah dan senyum yang menyeringai.
Wajah Nadiya menjadi memerah karena malu dan tidak menyangka akan bertemu Ardy di pesta itu. Apalagi kelakuan Ardy yang mengundang perhatian dan mempermalukan dirinya.
"Istriku sudah mendapatkan penggantiku. Pantas saja dia ingin bercerai dariku." Kata Ardy menatap sinis pada Prasetyo yang pergi ke pesta bersama Nadiya. Ardy tidak memberi ruang pada Nadiya untuk membela diri karena dia terus saja berbicara ngawur akibat pengaruh alkohol.
"Jaga bicara anda! Ini dipesta, bukan dirumah! Sebaiknya kendalikan diri anda dan menyingkirkan dari hadapan kami!" Hardik Prasetyo kesal dengan ulah Ardy yang melewati batas dan sudah keterlaluan.
__ADS_1
"Hahahaha....Rupanya bodyguard ini sedang marah padaku.....Kau hanya seorang bodyguard tapi bermimpi menjadi Tuan Besar....hahahaha!"
Ardy tertawa dan tetap berdiri didepan Nadiya sambil menyentuh baju Prasetyo dengan jari telunjuknya.
"Aku tidak mabok! Aku hanya sedang berpesta dan merayakan kemenangan istriku. Istriku tercinta sudah meninggalkanku dan memilih pria bodoh ini untuk menggantikan aku...hiks hiks....! Pantas saja di Paris mereka selalu bersama siang dan malam. Ternyata mereka punya hubungan spesial. Good friend, tak kusangka istriku bersama pria lain bahkan saat pengadilan belum memutuskan perceraian kami. Aku menghianatinya sekali, tapi dia? Dia membalasku berulang kali....hiks hiks...!"
Nadiya maju satu langkah dan hampir menampar Ardy tapi Prasetyo menahanya karena tidak ingin mengundang keributan dipesta orang lain.
"Hentikan kata-katamu Ardy. Kamu sudah kelewatan. Aku tidak seperti itu. Kamu sengaja ingin mempermalukan diriku bukan? Karena aku memang telah menceraikanmu. Kamu sama sekali tidak layak bagiku. Kamu sudah keterlaluan. Kamu telah merendahkanku didepan teman-temanku....hiks! hiks!" Kata Nadiya sambil berlinang air mata dan memegang erat lengan Prasetyo.
"Kita pulang saja! Aku tidak ingin berpesta!" Kata Nadiya sambil berlari keluar dari ruangan pesta yang hingar-bingar itu. Prasetyo langsung mengejarnya dan ternyata Nadiya sudah berada didalam mobil. Kemudian Prasetyo juga masuk kedalam mobil dan mulai menyalakan mobilnya. Mereka kemudian pulang kerumah dan tidak jadi berpesta.
Keesokan harinya, Ardy terbangun dan memegang kepalanya yang terasa sangat berat.
"Aku ada dimana?" Tanya Ardy pada Elis sahabatnya.
"Apa yang terjadi dipesta semalam? Aku tidak mengingat apapun." Kata Ardy sambil memejamkan matanya yang terasa masih lengket.
"Bagaimana kau akan ingat? Kau terus saja minum hingga mabok. Padahal sudah kuperingatkan untuk berhenti minum. Tapi kamu tidak mendengarkanku dan....." Kata Elis sambil memberikan segelas air mineral pada Ardy.
"Dan apa? Kenapa tidak kau teruskan? Apakah terjadi sesuatu semalam? Apa yang terjadi saat aku mabok. Aku tidak bisa mengingat apapun. Apa aku membuat keributan?" Tanya Ardy sambil mengingat sesuatu, namun nihil, tak ada apapun yang mampu dia ingat.
"Tidak hanya keributan, kau bahkan membuat mantan istrimu malu dan menangis didepan umum?"
"Apa!? Memang apa yang sudah kulakukan padanya sehingga dia malu dan menangis?"
"Kamu sudah mempermalukannya habis-habisan!" Kata Elis.
"Apa!? Mana mungkin aku melakukan itu! Kemudian Elis menceritakan kembali apa yang sudah dikatakan Ardy saat Nadiya baru datang dan bergandengan tangan dengan teman lelakinya. Saat kamu melihatnya kamu cemburu dan tidak bisa mengendalikan diri. Sehingga kamu memakinya dan melecehkan harga dirinya dengan kata-kata yang menyakitkan.
__ADS_1
"Apakah benar aku melakukan itu padanya?" Tanya Ardy setengah tidak percaya, bahwa dia akan berbuat jahat pada Nadiya dan menyakiti hatinya.
Elis mengangguk.
"Oh Tuhan....Apa yang sudah kulakukan? Aku harus bertemu dengannya dan menjelaskan padanya. Lalu aku akan minta maaf atas perlakuan ku yang tidak pantas." Kata Ardy sambil beranjak dari tempat tidurnya.
Namun Elis menahanya dan menghentikan Ardy.
"Jangan sekarang!"
"Kenapa? Dia pasti sangat marah padaku."
"Saat ini dia sedang marah. Dan aku tidak yakin dia mau menemui mu."
"Ya. Apa yang kamu katakan memang benar. Dia tidak akan menemuiku. Aku ingat bagaimana jika dia marah. Dia akan menghindariku."
"Lebih baik sekarang kamu mandi. Dan ganti bajumu itu. Baunya sangat menyengat!" Kata Elis.
"Aku mandi dirumah saja. Aku akan pulang sekarang. Lagian aku tidak punya baju ganti disini."
"Sebaiknya kamu sarapan dulu." Kata Elis.
"Tidak usah. Aku tidak lapar. Aku akan pulang sekarang. Terimakasih kamu sudah mengatakan padaku apa yang terjadi semalam. jika tidak....bagaimana aku akan memperbaikinya dan meminta maaf pada Nadiya."
"Ya sudah jika kamu tidak mau sarapan. Lebih baik aku mengantarkanmu pulang." Kata Elis karena khawatir dengan kondisi Ardy yang masih linglung.
"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. Aku sudah merasa lebih baik. Kamu tidak usah khawatir."
"Kamu yakin? Jika membutuhkan apa-apa hubungi aku. Aku akan datang membantumu." Kata Elis sambil memberikan jas milik Ardy.
"Terimakasih." Kata Ardy yang dijawab anggukan kepala oleh Elis sambil tersenyum manis.
__ADS_1