
Vano menelpon papanya dan menanyakan tentang ibu tirinya.
"Pa, papa hari ini dikantor apa dirumah?" Tanya Andro.
"Papa ada dikantor. Ada apa?"
"Ohh, tidak, hanya tadi aku sepertinya melihat mama dijalan. Apakah mama sudah pulang?"
"Belum. Dia menginap dipuncak. Ada apa? Jika ada hal penting kau bisa menelponnya."
"Ya, nanti Vano akan menelponya."
Vano lalu menutup teleponnya dan ternyata apa yang dia pikirkan selama ini benar. Ibu tirinya main hati dengan pria lain.
Dari awal pernikahanya, sebenarnya Vano sudah tidak suka karena dia khawatir, ibu tirinya hanya memanfaatkanya saja. Dan ternyata dugaannya tidak salah lagi.
"Aku akan menyelidiki ini. Sebelum uang papa dikuras habis olehnya." Kata Vano dalam hati.
"Papa bilang dia ada dipuncak. Tapi, tadi dia melihat dia keluar dari hotel dengan seorang pria. Ini tidak bisa dibiarkan. Papa harus tahu semuanya. Dan dia harus menjelaskan kenapa dia berbohong."
Vano lalu membuka laptopnya dan melihat beberapa foto pernikahanya dengan Sasha. Dan saat itu tiba-tiba dia melihat sebuah foto saat ibu tirinya berbicara dengan pria yang sama yang bersamanya tadi pagi.
"Ya, tidak salah lagi, ini adalah orang yang sama."
Vano lalu menutup laptopnya dan pergi kepuncak dimana kantor ibu tirinya ada disana.
"Ternyata mereka satu pekerjaan dan bekerja sama. Mereka pasti hanya memanfaatkan papa dan kekayaan yang papa miliki." Dengan cepat Vano mengambil kunci dan pergi kepuncak.
Sampai dipuncak, ternyata ibu tirinya dan Andro ada disana. Mereka terlihat akrab dan saat ini ibu tirinya sedang mengambil beberapa baju untuk dikirim ke pelanggannya.
Disana hanya ada mereka berdua. Tidak ada pegawai lain. Vano lalu bersembunyi dan terus mengamati apa yang mereka lakukan.
"Kau sangat menakjubkan tadi malam." Kata Andro sambil mencium Jeslin. Vano dengan cepat menutup mulutnya dan merekam kejadian itu.
"Sudahlah! Aku tidak ingin membahasnya."
"Ayo kita lakukan sekali lagi. Setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi." Kata Andro yang masih terpengaruh dengan obat yang dia minum.
"Tidak, aku sangat sibuk."
Namun dengan cepat Andro membuka dan menaikkan rok Jeslin dan lalu membuatnya tidak berdaya dengan setiap sentuhannya.
__ADS_1
Andro memang berbeda dari suaminya, dia lebih pandai dalam urusan menyenangkan wanita, sementara suaminya tidak.
Vano terus merekam apa yang mereka lakukan. Hingga adegan itu berakhir dan mereka berdua terkapar dilantai.
"Wanita sialan! Pria brengs*k!"
"Tamatlah riwayat kalian!" Kata Vano dan tanpa sadar tanganya menjatuhkan vas bunga.
Saat dia mencoba lari karena ketahuan sedang merekam adegan mereka berdua, Andro segera tahu jika ada yang melihat apa yang baru saja mereka lakukan.
Andro dengan cepat mengejarnya dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menangkap Vano, karena dia tahu betul seluk beluk tempat ini.
Vano diikat disebuah kamar. Dan Andro memukul wajahnya dan tidak peduli jika itu adalah anak dari Jeslin.
Jeslin yang dengan cepat mengenakan bajunya lalu mencari keberadaan Andro. Bangunan villa itu begitu luas dan lebar, banyak kamar kosong didalamnya yang biasa digunakan para model untuk menginap kalau ada pertunjukan, sehingga Jeslin kesulitan mencarinya.
Ada 50 kamar dan semua tertutup, jadi Jeslin tidak tahu dimana Andro saat ini.
"Apa yang kau lakukan disini hah!?"
Tapi mulut Vano dilakban sehingga dia tidak bisa berbicara.
"Berapa sandinya? Cepat katakan? Atau kau akan hilang ditempat ini?"
Dengan terpaksa, Vano membuka handphone yang saat ini dipegang oleh Andro.
Andro lalu melihat adegan yang baru saja direkam oleh Vano.
"Kau rupanya licik juga!? Dasar anak ingusan!"
Andro lalu menendang perut Vano.
"Baiklah, karena kau sudah bermain-main denganku. Mari kita lihat, permainan yang sesungguhnya."
Andro lalu menelpon Sasha dengan handphone Vano.
"Datanglah kemari sekarang sendirian. Cepat. Jika tidak kau akan menyesal!"
Telepon lalu ditutup, sementara Sasha yang kaget dan khawatir, tanpa berpikir panjang langsung pergi sendirian kepuncak.
Hari ini jalanan memang tidak begitu macet. Dan Sasha dalam waktu tidak lama langsung sampai di villa dimana dulu dia pernah bekerja.
__ADS_1
Kamar yang dipakai Andro ada ditempat yang langsung menghadap keluar halaman. Setelah mangsanya datang, Andro lalu keluar dan menariknya masuk kedalam kamarnya.
Sasha sangat terkejut saat melihat Vano terikat disana.
"Vano?" Sasha terkejut sekali dan tidak habis pikir jika Andro melakukan itu pada anak dari bosnya.
"Lepaskan dia! Apa yang kau lakukan?" Sasha lalu akan berjalan mendekati dan melepaskan ikatan Vano.
Namun tiba-tiba tangannya dipegang kuat oleh Andro dan Andro menyeretnya ketempat tidur.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
"Ini keinginan suamimu. Dia sangat suka sekali merekam dan melihat adegan seperti ini. Mari kita lakukan dengan benar." Kata Andro lalu mulai membuka atasan Sasha.
Sasha melawannya sekuat tenaga. Sementara Vano mukanya merah padam dan berusaha melepaskan diri namun ikatanya terlalu kuat.
Mulutnya juga dilakban sehingga dia tidak bisa berteriak.
Andro lalu menindih tubuh Sasha dan mencium lehernya meskipun Sasha berusaha menendangnya, namun badan Andro sangat besar dan kuat. Kakinya bahkan tidak bisa digerakkan sama sekali akibat dikunci oleh kaki Andro.
Andro lalu melepaskan celana panjang Sasha hingga saat ini Sasha hanya memakai dalaman saja.
Andri terus menciuminya dan menghisap sesuatu sensitif miliknya didepan Vano.
Apalagi Andro memang sangat mendambakan tubuh sintal milik Sasha yang masih kencang dan menggoda.
Kesempatan ini membuatnya lupa diri.
Jeslin yang saat itu berada diluar kamar dan sedang mencari Andro lalu mendengar teriakan Sasha.
Dengan cepat dia mencari duplikat kunci kamar tersebut.
Selah berhasil membukanya, dia sangat terkejut saat melihat Vano diikat dan Sasha diperlalukan seperti itu didepannya.
"Lelaki Brengs*k" Dengan cepat Jeslin mengambil vas bunga berukuran besar dan memukul kepala Andro hingga darah membuat sprei itu berubah menjadi merah.
Andro terkapar saat itu juga, sementara Sasha langsung memakai bajunya dan lari dari tempat itu meninggalkan Vano karena dia terlalu malu untuk menemuinya.
Meskipun bukan kesalahannya tapi dia merasa jijik diperlakukan seperti itu didepan suaminya.
Dia tidak peduli pada apapun selain rasa malu yang teramat sangat.
__ADS_1