
Setelah mengunjungi Nadiya Dara pulang kerumahnya. Joan sedang asyik menonton acara di televisi.
"Sudah dari tadi Mas?"
"Iya Ra. Kamu sudah makan belum?"
"Belum Mas. Ya sudah ngga usah ganti baju. Kita makan diluar saja. Yuk sudah lama kita ngga makan diluar."
"Iya Mas. Sebentar Dara ambil tas dulu"
Dara langsung kekamarnya dan mengganti tasnya. kemudian menambahkan sedikit riasan untuk wajahnya. Sudah lama suaminya tak mengajaknya jalan-jalan keluar. Dan entah kapan terakhir kali mereka menghabiskan waktu bersama-sama.
Joan sendiri sudah mulai bisa menerima Dara apa adanya. Dengan ketidak sempurnanya. Dan akan melupakan peristiwa pahit malam pertama yang terjadi waktu itu.
Dan mulai berusaha menjadi suami yang baik untuk Dara. Sekarang Joan akan memberikan kejutan untuk Dara. Joan pun sudah memesan meja untuk mereka makan malam.
"Sekarang Mas." Dara berjalan dan nampak cantik dengan sedikit riasan. Mata Joan berbinar melihat kecantikan istrinya.
Kemudian Joan memeluknya dan mencium keningnya. Dara sampai terpana dan tak percaya apa yang terjadi pada suaminya. Biasanya tak pernah Joan bersikap semanis itu padanya sejak mereka menikah.
Kemudian Joan menghidupkan mobil yang baru dibelinya beberapa Minggu lalu. Kehidupan mereka sekarang lebih baik karena Joan telah mendapatkan pekerjaan yang baru. Sebenarnya Dara sendiri merasa ragu dengan pekerjaan Joan yang baru. Baru bekerja dan langsung bisa membeli mobil baru? Dengan gaji yang fantastis? Tapi dia juga tak ingin merusak kebahagiaan suaminya dengan menanyakan hal dan keraguannya.
"Aku sedang bahagia saat ini."
"Apa yang membuatmu bahagia Mas?'
"Yah. Karena sebentar lagi aku akan menjadi pemimpin perusahaan?"
"Apa Mas? Pemimpin? Kok bisa secepat itu Mas?"
"Iya. Kamu berdoa saja ya. Biar suamimu ini bisa sukses."
"Iya Mas. Sebagai istri, jika kamu bahagia maka aku juga bahagia."
Mereka sampai pada Hotel dan restoran mewah yang sudah dipesan suaminya.
"Disini Mas?" Dara masih tak mempercayainya.
"Iya disini."
"Nanti uang kita ngga cukup Lo Mas. Kita ketempat lain saja."
__ADS_1
"Tenang saja. Aku punya banyak uang sekarang."
Dara masih bingung. Tapi suaminya kemudian menggandeng tangannya dan mengajaknya masuk kesana. Mereka diberi penyambutan yang istimewa. Dara tak percaya apa yang dialaminya. Seperti mimpi. Dara kemudian mencubit lenganya, tapi terasa sakit.
Suaminya yang tadinya pengangguran, kerja serabutan, untuk makan juga pas-pasan kenapa tiba-tiba menjadi begitu dihormati? Bahkan tak pernah sedikitpun terpikir oleh Dara akan makan ditempat semewah ini bersama suaminya.
Beberapa pelayan mempersilakan mereka untuk duduk. Dan dimeja telah tersedia beberapa makanan yang mewah dan sudah pasti lezat. Ada alunan musik dan setangkai bunga mawar. Banyak lilin menghiasi ruangan itu. Sangat romantis.
"Kamu mas yang memesan semua ini?"
Suaminya mengangguk. "Kamu senang?"
"Iya tentu saja mas. Hanya saja aku masih bingung. Dan aku pikir ini hanya mimpi."
"Kamu akan mulai terbiasa makan ditempat mewah seperti ini sayang."
"Apa?"
"Ya. Kamu harus mulai terbiasa menjadi orang kaya."
"Karena sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya besar."
"Iya. Kita akan pindah rumah ketempat yang lebih besar. Kamu dan anak kamu akan tinggal disana. Kamu tidak perlu bekerja keras lagi. Kamu duduk manis dirumah saja dan pelayan akan melayaninya."
"Hahahaha. Sudahlah Mas. Jangan bikin aku tertawa karena khayalan kamu itu. Nyonya besar. Rumah mewah. Pelayan. Darimana uangnya mas?" Dara menahan tawa. dan akhirnya kelepasan juga mendengar gaya bicara Joan dan tingkah lakunya yang seperti orang kaya.
"Kamu meragukan aku?" Joan kesal karena Dara tak mempercayainya dan mentertawakan ya.
"Bukan meragukan mas. Tapi apa yang kamu berikan hari ini sudah lebih dari cukup. Dan aku sangat bahagia mas."
"Ini belum seberapa. Setelah makan malam, kita akan menginap di hotel itu?" Jarinya menunjuk kearah Hotel berbintang yang sangat elite. Dan hanya orang penting dan bos-bos besar yang sering menginap ditempat itu.
"Apa?" Dara hampir pingsan karena ocehan suaminya yang tidak masuk akal dan kejutan-kejutan yang tak pernah diduganya.
Acara makan malam pun sudah selesai. Joan menggandeng Dara dan masuk kedalam mobil mereka. Kemudian karena jarak restoran itu dekat dengan letak hotelnya, maka tak sampai lima belas menit mereka sudah sampai di hotel tersebut.
Dara masih ngga mau turun. Ragu dengan apa yang dikatakan suaminya. Lagian uang dari mana untuk menginap semalam di hotel ini? Gaji sebulan Joan menjadi buruh serabutan bahkan tidak cukup untuk menginap satu malam dan menikmati fasilitasnya.
"Yuk turun." Ajak Joan
"Ngga Mas. Kamu pikirkan lagi deh Mas."
__ADS_1
"Kamu yakin ngga mau turun?" Sambil menatap mata Dara. Dan dengan cepat suaminya turun dan berjalan untuk membukakan pintu untuk Dara.
Darapun akhirnya turun dan membiarkan aksi nekat suaminya. Joan menggandeng Dara, lalu mereka berjalan mendekati resepsionis dan memesan sebuah kamar.
Dara diam saja, dia bahkan tak mau melihat saat Joan membayar, atau mereka akan diusir dari sana karena berada ditempat yang salah.
Tapi alangkah terkejutnya Dara saat seorang pelayan menghampiri dan menyambut mereka dengan sangat ramah. Joan sangat dihormati dan mereka diantarkan ke kamar yang mereka pesan.
Dara melongo dan berjalan dibelakang pelayan itu. Lenganya dicubit lagi. Ternyata ini bukan mimpi. Kemudian pasti suaminya yang sedang bermimpi. Kemudian Darapun mencubit lengan suaminya. Suaminya melotot kearahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Suaminya berbisik.
"Hehehehe. Kamu sadarkan mas?"
Joan memegang kening Dara. Kelakuanya bikin Joan kesal. Mereka telah sampai ke kamar, kemudian pelayan memberikan kunci kamar kepada Joan. Joanpun membuka pintu dan sesaat Dara hampir pingsan karena melihat indahnya kamar tersebut.
Joan masuk lebih dulu dan merebahkan diri di kasur. Kemudian diikuti Dara yang mengamati setiap detail perabot dan hiasan kamar yang begitu mewah. Memegang dan melihat sekeliling sampai akhirnya mencoba kasur yang empuk.
Joan langsung rebahan dan tidur diatas kasur yang empuk. Sementara Dara masih takjub dengan keindahan kamar itu. Perlahan-lahan Dara melepas bajunya dan mengganti dengan baju tidur hadiah dari Joan. Baju itu sangat pas dipakai oleh Dara. Dan terlihat dari kaca begitu mempesona, menambah kemolekan tubuhnya.
Kemudian Dara menoleh kearah suaminya. Dara sangat kesal karena suaminya sudah tertidur.
"Mas?" Joan masih diam saja."Kamu tidur mas?"
Ehmm. Joan membuka matanya. Matanya terbelalak melihat Dara yang cantik dengan baju tidur hadiah darinya. Merekapun bertatapan mesra. Dara menyandarkan kepalanya pada bahu Joan.
Mereka kemudian saling bertukar pandangan dan berpelukan mesra. Dara sangat merindukan moment ini, sudah lama mereka tidak berhubungan suami istri. Dan jika berhubungan pasti kondisi Joan sedang mabuk berat. Tentu hal itu tidak disukai oleh Dara. Dia ingin hubungan yang dilakukan normal selayaknya suami istri.
Dan hari ini kerinduannya terwujud. Tidak ada bau alkohol dari mulutnya. Hubungan yang dilakukan dengan penuh cinta, kasih sayang dan kesadaran. Saling memandang dengan tatapan yang menggemaskan bukan tatapan hampa dengan mata yang merah, dan mulut berbau alkohol.
Joan menyentuh kulitnya dengan jari-jemarinya, dan kehangatan dirasakan oleh Dara. Mulai dari kening hidung bibir lehernya kemudian hasrat lainya. Darah mulai terasa hangat, sehangat nafas mereka. Dara merasakan sensasi sebagai istri seutuhnya. Yang dibelai dan diberikan nafkah batin dengan selayaknya.
Anganya mulai terbang ke udara. Matanya kadang terbuka dan kadang terpejam karena kenikmatan yang dirasakanya. Akhirnya selimut menjadi saksi malam yang menggairahkan itu. Dara tersenyum bahagia, ada kegembiraan dan kepuasan yang dirasakanya. Yang sudah lama hanya tersimpan dan tertahan dalam nuraninya.
Air matanya menetes membasahi pipinya. Ada rasa sedih, senang, bahagia dan teringat malam-malam sebelumnya yang mereka habiskan tanpa kenikmatan.
"Semoga kamu sudah memaafkan aku mas." gumamnya dalam hati. Sambil membelai dada suaminya yang sedang tertidur pulas, setelah hasratnya terpenuhi.
Seseorang memang telah merenggut keperawananku. Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Tapi aku telah berjanji untuk memberikan semua yang tersisa dari diriku hanya untukmu mas. Kehidupan, pengabdian dan pengorbanan hanya untukmu, demi kebahagiaan kita dan keutuhan rumah tangga kita. Apalagi kita sudah punya Kiara, peri kecil kita. Semoga kamu bisa melupakan masa laluku dan hanya melihat masa depan kita.
Aku memang tak mungkin mengubah masa lalu. Tapi aku berharap bisa mengubah masa depan dan mendapatkan kebahagiaan. Aku juga tak ingin Kiara mengalami kepahitan yang aku alami dimasa lalu.
__ADS_1