
Sandra duduk termenung dan memikirkan tawaran ibu Monic. Tiba-tiba seseorang mengagetkannya dari belakang.
"Apa yang kau pikirkan hah?" Tanya orang asing yang menemuinya waktu itu, karena Sandra tidak tahu jika dia adalah Joan.
Dia tidak mengenal Joan sebelumnya. Dan bagaimana dia tahu salon tempat dia bekerja?
"Bagaimana kau bisa kesini?" Tanya Sandra kaget dan takut karena saat ini semua orang sudah pulang. Satu pegawai yang bekerja denganya juga sudah pulang.
"Aku bisa kemana saja sesuka hatiku!" Kata Joan lalu duduk didekat Sandra.
"Kau cantik dan masih muda, tapi kau mau bekerja sama untuk menyewakan rahimmu pada orang lain."
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Kata Sandra melihat kematian Joan.
"Bekerja samalah denganku. Maka kau akan menjadi kaya mendadak!" Kata Joan yang sudah bekerja sama dengan rival bisnis Prasetyo.
"Bekerja sama? Bekerja sama bagaimana? Katakan dengan jelas?"
"Kau buat seakan-akan kau dipaksa dan diancam dalam melakukan konspirasi ibu pengganti. Jika kau mau melakukanya kau akan kaya hanya dalam kedipan mata. Kau tidak perlu bekerja dan bersusah payah seperti ini. Uang akan mengalir kerekeningmu seperti air sungai."
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Kita adalah orang asing. Dan tiba-tiba kau mengajak bekerja sama."
"Tidak usah banyak bertanya, jika kau mau, kau turuti saja perintahku! Dan jika kau tidak mau maka aku akan memaksamu. Dan aku bisa melakukan apa saja terhadapmu! Kau mengerti!? Aku akan kemari besok, dan kita akan mengadakan jumpa pers. Setelah itu kau akan langsung menjadi orang kaya tanpa bersusah payah."
"Akan aku pikirkan. Sekarang pergilah. Aku mau istirahat." Kata Sandra yang tidak ingin berdebat lama dengan Joan.
Nyawanya juga bisa ada dalam bahaya jika dia terus berdebat dengannya.
"Besok aku akan kemari. Kau bersiaplah!" Kata Joan lalu dia pergi dari tempat Sandra.
Sandra langsung menutup pintunya begitu Joan pergi dan menghilang di kegelapan malam.
__ADS_1
"Oma mengancamku! Orang asing itu juga mengancamku! Semua orang mengancamku! Dan ibu Nadiya dan Pak Prasetyo tidak peduli pada ku saat ini. Jika terjadi sesuatu padaku, lalu siapa yang akan menolongku. Kenapa masalahnya jadi rumit seperti ini?"
Sandra memegang kepalanya dan mengacak-acak rambutnya didepan cermin.
"Hahahaha......."
Dia tertawa seperti orang gila karena cemas sendirian dan juga bingung dengan siapa dia akan bekerja sama.
Mereka semua orang berpengaruh dan bisa melakukan apa saja padanya. Bahkan dia bisa diculik dan dilenyapkan tanpa ada yang mengetahuinya.
"Ini benar-benar gila! Mereka membuatku gila hari ini!"
Dia terus berteriak sendirian.
"Mereka diuntungkan, dan aku? Aku yang harus menjadi korbannya?"
"Ibu.......aku harus bagaimana?"
Prang!!!!??
Semua kosmetik yang ada diatas meja semua berserakan dan jatuh kelantai. Tangan Sandra menyapu semuanya dengan kasar.
Tiba-tiba sebuah kartu nama terlihat olehnya.
Sandra memegang dan membaca nama yang tertera disana.
Sandra diam sejenak dan berfikir dengan sangat keras.
Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi pemilik kartu nama itu.
"Ya, keluarlah dari rumahmu. Anak buahku akan menjemputmu."
__ADS_1
Lalu Sandra dengan cepat memasukkan semua bajunya kedalam koper. Dia gemetar dan takut orang lain keburu datang dan menangkapnya.
Tidak lama kemudian sebuah mobil datang dan Sandra masuk kedalamnya.
Setengah jam setelah Sandra pergi Joan kembali atas perintah atasannya.
Dia mengetuk pintu dan tidak ada yang membukanya.
"Sial! Aku terlambat! Dia sudah pergi!"
"Ayo kita cari dia!"
Joan dan beberapa orang yang dia bayar masuk lagi kedalam mobil dan mencari keberadaan Sandra.
Mereka mencari kebeberapa tempat dan beberapa lampu merah. Mereka juga pergi keperbatasan kota, tapi Sandra tetap tidak ditemukan hingga Joan kembali menemui atasanya.
"Kau bod*h! Bagaimana dia bisa pergi secepat ini! Bukankah kau tadi menemuinya? Kenapa kau tidak mengikatnya saja! Sekarang kau akan mencarinya kemana?"
"Aku akan kebandara! Kenapa aku melupakan bandara? Pasti dia ada disana!" Kata Joan lalu masuk lagi kedalam mobil.
Dia dengan kecepatan tinggi langsung menuju kebandara. Sampainya di bandara, Joan lalu mencari kesana-kemari, namun tidak menemukan keberadaan Sandra.
Sandra sendiri sudah naik pesawat yang dipesan oleh orang lain. Dan dengan tiket yang diberikan oleh orang itu, Sandra lalu cepat masuk dan aman didalamnya.
Pesawat itu sudah membawanya terbang kenegara yang dia inginkan. Dia akan disana selama dua tahun.
Sementara Joan kembali dengan muka yang ditekuk dan terlihat kusut. Dia gagal membuat Nadiya dipermalukan dan membuat Prasetyo terpojok dengan pernyataan Sandra yang akan membuat nama baik mereka hancur.
"Aku tidak mau tahu! Kau harus mencari cara agar Prasetyo tidak bisa fokus pada pemilihan CEO. Lakukan sesuatu yang akan membuatnya goyah!" Kata orang itu setengah menghardik Joan.
Dan Joan tahu, apa yang akan membuat Prasetyo tidak bisa menghadiri acara pemilihan CEO tersebut.
__ADS_1
Joan lalu pergi dari tempat itu dan esok harinya kekantor polisi untuk wajib lapor selama dia dalam masa penangguhan penahanan dengan sebuah jaminan.