
Prasetyo membawa ibunya ke apartemen yang dia tempati selama ini. Tinggal sendirian membuatnya harus mengurus semua keperluanya sendiri sehingga dia pikir apartemen adalah tempat yang paling cocok.
Ceklek! Prasetyo membuka pintu dan membawa barang-barang maminya kedalam.
"Mami mau istirahat dulu. Mami sangat lelah." Kata Maminya.
"Iya mami. Ini semua Prasetyo taruh dikamar mami ya?"
"Iya taruh saja disana. Nanti biar mami rapikan kalau lelahnya sudah hilang. Badan mami pegal-pegal semua."
"Istirahatlah mami. Pras tutup pintunya."
Kemudian Prasetyo duduk diruang tamu dan menyalakan televisi. Dan semua berita sedang membicarakan tentang kabar pernikahannya dan Nadiya. Akhirnya Prasetyo mematikannya kembali dan mengambil handphone dari saku celananya dan menelpon seseorang.
"Halo sayang...kamu sekarang ada dimana? Baiklah aku akan kerumahmu." Kemudian Prasetyo menutup teleponnya dan meninggalkan maminya yang sedang istirahat.
Tidak berapa lama kemudian Prasetyo sudah sampai dirumah Nadiya. Nadiya sedang berada ditaman dihalaman rumahnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Prasetyo sambil melihat Nadiya yang sedang jongkok mencongkel-congkel tanah.
"Seperti yang kamu lihat."
"Cari cacing? Untuk apa?" Prasetyo heran dengan hobinya yang satu ini.
"Untuk apa aku cari cacing, aku sedang menanam beberapa bunga mawar ini.....Tadi pulang dari sana kebetulan lewat di toko tanaman hias. Karena aku sedang cuti dari kantor maka lebih baik aku membelinya dan menanamnya."
"Ohhh gitu? Aku pikir kamu sedang cari cacing untuk makanan burung. Hhhhhh...." Kata Prasetyo sambil tersenyum dan ikutan jongkok disampingnya.
"Burung siapa yang mau makan cacing? Ada juga ikan yang makan cacing....." Kata Nadiya sambil melempar beberapa pasir kearah Prasetyo, karena menggodanya.
"Sini aku bantuin...." Kata Prasetyo sambil menggali beberapa lobang yang saling berdekatan dan membentuk tanda hati.
"Kok lubangnya jadi begini modelnya."
"Iya sudah, anggap saja ini prasasti cinta kita. Baguslah tanaman bunga ini akan terlihat seperti hati yang sedang berbunga."
"Akh kamu bisa saja. Baiklah...karena kamu sudah membantuku jadi kali ini biarlah sesuai dengan keinginanmu. Taman bunga mawar berlambang hati." Kata Nadiya sambil memasukan pohon mawar yang ukuranya kecil-kecil kedalam lubang yang digali Prasetyo dan membentuk gambar hati.
"Bagus kan...Jadi kalau kamu lagi menyiram bunga....maka setiap kali kamu menyiram taman hati ini, kamu akan teringat padaku...bahwa aku ada didalam hatimu. Hanya aku dan mawar ini." Kata Prasetyo sambil memetik salah satu bunga mawar dan disematkan ketelinga Nadiya.
__ADS_1
"Hahahaha, ternyata kamu sangat romantis. Pasti kamu sudah berpengalaman dan banyak wanita mudah terperdaya kepiawaianmu yang melambungkan perasaanya."
"Kalau soal itu, tidak usah diragukan lagi. Aku tidak perlu merayu atau mengejar mereka, justru mereka yang merayuku dan mengejarku." Kata Prasetyo sengaja ingin melihat reaksi Nadiya. Dan benar saja mimik muka Nadiya menjadi aneh dan kemerahan.
"Termasuk aku, yang merayumu?"
"Kamu adalah pengecualian. Aku harus bersaing dengan trauble maker untuk bisa membuatmu menyukaiku." Maksud Prasetyo adalah dia harus memenangkan hati Nadiya dari Ardy yang merupakan mantan suaminya.
"Apakah aku pernah bilang jika aku menyukaimu?" Kata Nadiya balas menggoda Prasetyo.
"Apakah kamu tidak menyukaiku?" Tatap Prasetyo tajam dan mimik mukanya menjadi aneh.
"Hhhmmmm gimana ya.....apakah harus aku jawab?" Nadiya semakin gemas menggoda Prasetyo.
"Sudah lupakan saja!" Prasetyo terbawa perasaan dan mengalihkan pembicaraan.
Kemudian Nadiya mengambil tangan Prasetyo dan dia letakan di dadanya.
"Apakah kamu bisa merasakannya?" Tanya Nadiya sambil memegang tangan Prasetyo dan membiarkanya merasakan detak jantungnya
"Maksudmu....aku tidak mengerti." Kata Prasetyo bingung mengartikan apa yang sedang dilakukan Nadiya.
"Ternyata kamu bisa merayu seperti mereka juga ya.... wanita-wanita yang sering merayuku juga mengatakan hal yang sama." Prasetyo makin menggoda Nadiya dan membuatnya ngambek. Nadiya melempar beberapa pasir kebaju Prasetyo karena kesal menyamakan dirinya dengan wanita yang suka menggodanya.
"Aku hanya bercanda. Haaaiii....kenapa ratuku marah?" Kata Prasetyo sambil menyentuh hidung Nadiya.
Dan membuatnya menahan tawa saat dia lihat hidung Nadiya menjadi cokelat karena tanah yang menempel di hidungnya tanpa sepengetahuannya.
"Siapa yang marah. Aku tidak marah. Dan kenapa kamu tertawa seperti itu?" Kata Nadiya sambil tersungut.
"Hahahaha....hidungmu...."
"Ada apa dengan hidungku?" Kata Nadiya sambil menyentuh hidungnya....dan ternyata ada noda tanah akibat jari Prasetyo. Kemudian Nadiya mengejar Prasetyo sambil menyiramkan air padanya karena saat itu Nadiya sedang memegang selang air untuk bunga mawar yang baru saja dia tanam.
"Sudah! sudah! Nih lihat....bajuku basah...tadinya aku mau mengajakmu makan malam,,, tapi karena bajuku kotor....maka sebaiknya makan dirumah saja. Kamu harus memasak untuku. Bukankah kamu pandai memasak dan masakanmu sangat enak?"
"Ya sudah yuk masuk. aku akan memasak untukmu..... bilang saja pengen dimasakin?" Kata Nadiya berjalan didepan Prasetyo.
Dan didalam Prasetyo bertemu dengan Tuan Alek yang baru saja turun dari lantai dua.
__ADS_1
"Ohhh ada tamu rupanya. Bagaimana kabar orang tua kamu? Apakah mereka sudah tiba disini?" Tanya Tuan Alek sambil menyalami Prasetyo yang bajunya basah dan kotor.
"Mami baru saja sampai om. Dan sekarang lagi istirahat. Kalau Papi nanti akan datang satu hari sebelum resepsi." Kata Prasetyo yang sungkan dan malu karena bertemu mertuanya dengan baju yang kotor.
"Hai kenapa dengan baju kalian? Kalian dari mana kok baju sama muka pada penuh tanah?" Nadiya dan Prasetyo saling berpandangan.
"Iya papi, tadi Nadiya nanam Bunga ditaman kemudian Prasetyo bantuin jadi bajunya kotor."
"Ya sudah sana kalian mandi. Dan Om punya beberapa baju baru ukuranya pas buat kamu. Nanti kamu pakai saja. Nadiya...tolong kamu ambil baju yang papi simpan dilemari paling atas. Biar Prasetyo memakainya. Nanti sakit lo kalau basah-basahan ngga ganti baju."
"Iya Om... terimakasih." Kemudian Nadiya mengajak Prasetyo kekamarnya untuk mandi dan berganti baju. Nadiya masuk terlebih dahulu baru kemudian Prasetyo menyusul dibelakangnya.
"Baiklah siapa dulu yang mau mandi?" Tanya Nadiya.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama." Tanya Prasetyo menggoda Nadiya.
"Apa?"
"Ehmmm..kita mandi bersaaa...."
Nadiya mendekatkan wajahnya dikening Prasetyo dan matanya melotot. "Apa? Ayo katakan sekali lagi?"
"Hhhhhhmmmmm...." Prasetyo hanya nyengir ngga jelas. "Baiklah aku akan mandi sekarang."
Kata Prasetyo berjingkat dan terbirit-birit kekamar mandi."
"Jangan lupa kunci pintunya!" Kata Nadiya.
"Jika kamu berubah pikiran masuk saja pintunya tidak dikunci....." Teriak Prasetyo dari dalam menggoda Nadiya.
"Apa?" Nadiya kesal karena Prasetyo mengatakan hal-hal yang menyebalkan menurutnya.
Kemudian Nadiya berjalan kekamar papinya dan mencari baju untuk Prasetyo. Setelah menemukan baju yang dimaksud papinya kemudian Nadiya membawanya kekamarnya. Dan saat masuk ternyata Prasetyo sudah selesai mandi.
"Kok mandinya cepat sekali?" Tanya Nadiya yang melihat Prasetyo hanya mengenakan handuk saja. Dan tiba-tiba Nadiya terpeleset karena Prasetyo tidak keset setelah dari kamar mandi dan airnya berceceran dimana-mana.
Aaakkkh!!! Dengan cepat Prasetyo menangkap Nadiya dan handuknya terlepas dari tubuhnya.
__ADS_1