Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Perjanjian


__ADS_3

Prasetyo sedang lelap tertidur. Sementara Nadiya sudah menunggu dari tadi agar mempunyai kesempatan untuk bisa menghubungi Freya secara pribadi.


Nadiya kemudian menelpon Freya. Beruntung saat ini Freya sedang tidak ada kegiatan diluar rumah. Sehingga begitu ada telepon masuk dia langsung mengangkatnya.


"Halo..." Kata Freya.


"Halo...ini Nadiya. Apakah kau punya waktu sebentar. Aku ingin berbicara padamu dan ini tentang Prasetyo."


"Prasetyo? Ada apa dengan Prasetyo?" Tanya Freya.


"Sebenarnya saat ini Prasetyo sedang hilang ingatan akibat koma. Dan dia lupa pada beberapa moment kehidupanya. Dan saat ini yang dia ingat hanya namamu, Freya."


"Prasetyo hilang ingatan?"


"Ya benar. Dan saat ini kami sedang dalam masa karantina."


"Ohh. Apa yang bisa aku lakukan untuk memulihkan ingatannya?" Tanya Freya.


"Dia menganggapmu sebagai kekasihnya."


"Benarkah?" Tanya Freya kaget dan senyum mengembang dari bibirnya.


"Ya. Apakah kau adalah kekasihnya?" Tanya Nadiya.


"Benar. Hubungan kami terputus saat aku kehilangan kontaknya. Dan kemarin tiba-tiba dia menghubungiku." Kata Freya.


"Tapi masalahnya. Saat ini Prasetyo sudah menikah dan punya dua anak kembar. Namun dia lupa jika dia sudah menikah."


"Apa!? Prasetyo sudah menikah?"


"Benar. Aku adalah istrinya. Namun bahkan dia tidak mengenaliku sehingga atas saran dokter aku terpaksa mengarang sebuah cerita palsu."


Wajah Freya terlihat sedih dan kecewa. Dia pikir Prasetyo masih lajang dan belum menikah. Sehingga mereka bisa bersama kembali. Namun ternyata saat ini Prasetyo hilang ingatan dan lupa jika dia sudah menikah. Apakah ini pertanda dari Tuhan? Kenapa dia hanya mengingatku? Apakah aku adalah jodoh yang tertunda?


"Freya....?" Kata Nadiya mengagetkan lamunan Freya.


"Yaaaa..." Jawab Freya.


"Apakah kau bisa membantuku dengan berpura-pura menjadi kekasihnya hingga ingatannya kembali?"


"Kekasih? Berpura-pura? Maksudmu, aku tidak mengerti." Kata Freya.


"Dia hanya mengingat namamu. Dan aku membutuhkan bantuanmu untuk memulihkan kembali ingatan Prasetyo." Kata Nadiya dan berharap Freya setuju dengan rencananya.


"Tapi...."


"Aku tahu ini tidak mudah Freya. Apakah kau bisa melakukanya? Demi Prasetyo...." Kata Nadiya.


"Baiklah. Kapan kita bisa bertemu?" Akhirnya Freya menyetujuinya.


"Satu Minggu lagi. Kita akan bertemu dialamat yang aku kirimkan padamu." Kata Nadiya sambil mengirimkan alamat rumahnya kepada Freya.


"Sudah dulu ya. Prasetyo sedang tidur. Besok aku akan menghubungimu lagi."


"Baiklah."


Nadiya kemudian menutup teleponnya dan menatap wajah Prasetyo.

__ADS_1


Semoga kau bisa mengingat semua yang sudah kita lewati bersama Pras. Aku sangat merindukan masa-masa saat kita bersama.


Prasetyo membuka matanya dan mata mereka bertemu.


"Kau belum tidur?" Tanya Prasetyo.


Nadiya tersenyum dan mengalihkan pandanganya kearah yang berbeda.


"Belum. Aku merasa bosan dan ingin segera kembali kerumah. Mungkin itu sebabnya aku tidak bisa tidur." Kata Nadiya.


"Kau benar. Aku juga sudah bosan berada diruangan ini. Aku juga ingin segera kembali kerumah. Namun kita masih harus menunggu hingga satu Minggu lagi."


Nadiya kemudian duduk dan menatap kearah jendela.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Prasetyo.


"Bulan. Aku sedang menatap bulan. Malam ini bulan terlihat sangat indah."


"Jam berapa sekarang?" Tanya Prasetyo.


"Jam 23.00." Jawab Nadiya.


"Malam terasa sangat panjang." Kata Prasetyo.


"Ya...saat kita bosan maka, kita akan merasa waktu berputar sangat lambat." Jawab Nadiya.


Nadiya akhirnya naik lagi ketempat tidur dan membaringkan badannya sambil menatap langit-langit kamar.


Prasetyo memperhatikan apa yang Nadiya lihat dari tempat tidurnya.


"Edsel! Eiden! Apa yang kalian lakukan malam-malam begini? Ayo cepat tidur!" Kata Arya terkejut saat masuk kedalam kamar, dan mereka berdua masih bermain game.


"Kami akan tidur." Kata Edsel lalu mematikan lampu kamarnya.


"Awas jika kalian tidak tidur dan menyalakan lampu kembali. Jika kalian sakit, siapa yang repot hah? Siapa yang akan mengurus kalian? Kalian sehat saja sudah sangat merepotkan! Apalagi kalau sakit!" Kata Arya sambil melihat kedua bocah itu yang sedang menatap langit-langit kamar.


"Kami akan tidur om."


"Jangan menipu om lagi. Kali ini jika kalian tidak menurut maka besok kalian hanya akan makan pakai telur sepanjang hari."


"Ngga om. Kami tidak mau menipu lagi. Kami janji. Tapi kami tidak mau makan pakai telur. Kami bosan Om." Kata Eiden.


"Baiklah. Sekarang pejamkan mata kalian dan jangan bersuara. Selamat malam."


"Selamat malam om...."


Edsel dan Eiden diam diatas tempat tidur masing-masing. Mereka menatap pintu yang tertutup rapat.


"Eiden...ayo kita main lagi." Ajak Edsel.


"Ngga kak. Aku tidak mau makan pakai telur. Aku bosan." Kata Eiden.


"Om tidak akan tahu jika kita main game lagi. Kita kecilin suaranya dan kita tidak perlu menyalakan lampu." Kata Edsel.


"Ngga kak. Eiden mulai mengantuk."


"Ahk! Kau tidak asyik Eiden. Ayolah kita main lagi. Satu jam saja." Kata Edsel membujuk Eiden.

__ADS_1


Namun rupanya Eiden sudah tertidur dan tidak mendengar perkataan Edsel. Tidak lama kemudian Edselpun tertidur karena melihat Eiden sudah tidur.


Satu Minggu kemudian.


Freya mencari alamat Prasetyo dan tidak membutuhkan waktu lama, berhasil menemukanya.


"Rumah yang mewah dan indah!" Kata Freya yang langsung masuk karena kebetulan gerbangnya terbuka.


"Siapa kau?" Tanya Arya yang baru saja keluar dan kembali lagi karena lupa menutup pintu gerbang.


"Aku Freya. Kekasih Prasetyo."


"Kekasih?" Tanya Arya.


"Iya. Aku adalah kekasih Prasetyo pemilik rumah ini. Dan kau siapa?"


"Aku sedang bekerja disini atas perintah ibu Nadiya. Kau tunggulah disini aku akan menelpon ibu Nadiya." Kata Arya yang waspada jika dia adalah perampok wanita.


Saat Arya akan menelpon Nadiya, tiba-tiba sebuah mobil masuk kedalam halaman rumah. Nadiya dan Prasetyo kemudian turun dari mobil.


"Freya!" Teriak Prasetyo saat dia melihat Freya berdiri disamping kopernya.


"Pras!" Merekapun berpelukan layaknya sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Sementara Nadiya diam saja dan melihat adegan didepan matanya. Berbeda dengan Arya yang kaget bukan kepalang.


"Apa yang terjadi? Apakah mereka sedang bermain drama?" Gumam Arya kebingungan.


Nadiya kemudian masuk kedalam lebih dahulu dan meninggalkan mereka berdua dihalaman. Sementara sikembar yang melihat dari lantai tiga langsung berlari turun kebawah.


"Mami......!" Teriak mereka bersamaan.


"Sayang....." Kata Nadiya lalu memeluk keduanya.


"Papi.....!" Merekapun langsung berlari kearah Prasetyo saat dilihatnya Prasetyo berjalan masuk kedalam dan diikuti Freya dan juga Arya.


"Hai kalian? Apakah kalian anak dari Vino?" Kata Prasetyo sambil memeluk keduanya.


"Papi bilang apa?"


"Papi? Maksud kalian...." Kata Prasetyo bingung.


"Edsel! Eiden! Kalian masuklah kedalam. Pak Arya, bisa tolong bermain dulu dengan Edsel dan juga Eiden. Ada banyak yang harus saya jelaskan tentang keadaan ini."


"Baik Bu." Kata Arya lalu menghampiri Edsel dan juga Eiden.


Merekapun berjalan keluar halaman.


"Om. Papi aneh ya? Tadi kata papi apa Om?" Tanya Edsel.


"Papi? Om tadi tidak dengar papi kalian ngomong apa."


"Ahk Om ini. Masih muda tapi sudah pikun."


"Apa kau bilang?" Kata Arya kesal.


"Ngga om. Kami cuma bercanda. Hehehe...Ayo Eiden kita main bola aja!" Ajak Edsel.


Merekapun asyik bermain bola di temani oleh Arya dalam sinaran matahari pagi yang sejuk dan hangat dibadan.

__ADS_1


__ADS_2