Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Dibalik sikap Catrine


__ADS_3

Rossa lalu berjalan kekamar Catrine karena penasaran. Dia mengendap-endap seperti pencuri.


Diapun melihat kamar Catrine tidak ditutup sempurna.


Sampai didepan pintu dia lalu mengintip dan dia lihat Catrine sedang memunguti barang-barang yang berserakan dilantai.


"Ngapain dia? Kenapa kamarnya mirip kapal pecah gitu?"


"Rambutnya acak-acakan dan berantakan."


Tiba-tiba Rossa dipegang bahunya oleh seseorang. Dan saat Rossa menoleh ternyata itu adalah pelatihnya.


"Ngapain kamu disini?"


Hampir saja jantungnya copot!


"Bapak?"


"Masuk aja. Kok malah ngintip? Siapa didalam?" tanya pelatih itu.


"Catrine."


"Catrine?"


"Iya pak."


"Ya udah pak. Saya mau antar makanan ini untuk Sasha." Kata Rossa sambil berlari.


Tapi Rissa tidak benar-benar pergi dari tempat itu. Dia bersembunyi dibelakang pohon tidak jauh dari kamar Catrine.


Rossa berpikir, pelatih akan masuk dan menghiburnya. Karena bukankah pelatih juga mencari Catrine dari tadi?


Tapi aneh.


Pelatih itu hanya melihat kedalam sebentar lalu berbalik dan pergi meninggalkan Catrine.


Ini sangat aneh!


Kenapa pelatih itu sepertinya tidak peduli pada Catrine? Ada apa sebenarnya?


Rossa masih memperhatikan dari kejauhan.


Aku pikir pelatih akan masuk dan menanyakan keadaanya?


Tapi ternyata ini semua diluar dugaanku. Ada yang janggal disini. gumam Rossa dalam hati.


Rossa lalu keluar dari persembunyiannya dan berjalan pelan kekamar Sasha.

__ADS_1


Dijalan dia masih memikirkan apa yang tadi dilihatnya.


Pelatih itu terlihat berbeda dari biasanya. Dia jangan-jangan sudah mengatur semuanya agar Sashalah yang ikut dalam kompetisi.


Tapi bagaimana caranya? Apa yang sudah dilakukanya untuk menghentikan Catrine?


Rossa lalu sampai dikamar Sasha dan Madina.


"Nih untuk kalian." kata Rosaa dan menyerahkan makanan itu kepada Madina.


"Sasha sedang tidur." kata Madina.


"Ya udah, aku mau langsung kekamarku aja. Mau mandi." kata Rossa.


"Ya, makasih banyak ya." kata Madina.


"Vano yang traktir." kata Rossa sambil berlalu.


Madina lalu tersenyum dan mencium aroma makanan membuatnya ingin cepat makan.


Sasha dibangunin ngga ya?


Tapi kasihan, dia kan baru saja tidur?


Ngga udahlah. Mendingan aku makan dulu. Setelah itu baru bangunin Sasha. Aku juga laper banget.


"Catrine!?" kata Madina hampir tersedak makanan yang ada didalam mulutnya.


"Mana Sasha?" tanya Catrine.


"Ada disana. Lagi tidur." Kata Madina sambil menunjuk kearah Sasha.


Catrine melihat kedalam ruangan. Dilihatnya Sasha sedang tidur, lalu dua mendekat. Matanya terhenti pada piala yang ada disamping Catrine.


Medali as itu harusnya ada dikamarku. Tapi entah perbuatan siapa hingga dia tidak bisa ikut kompetisi. Siapapun pelakunya, dia tidak akan memaafkanya.


Madina masih melanjutkan makannya dan menyuapkanya kemulutnya sendiri. Tapi matanya awas mengikuti langkah Catrine yang masuk kedalam dan mendekati Sasha yang sedang tidur.


Madina masih sangat lapar saat Catrine masuk. Dia baru makan beberapa suap.


"Makan Cath...." kata Madina.


"Gue ngga lapar. Makan aja. Entah siapa uang melakukan ini. Harusnya gue ada disana. Tapi seseorang sudah mengatur agar gue tidak datang."


uhuk! uhuk!


Madina jadi tersedak.

__ADS_1


Sementara Catrine duduk disamping ranjang Sasha yang tertidur pulas.


Tangan Catrine meraih medali emas disampingnya. Lalu dia mengamati medali emas ditanganya.


Dari atas hingga bawah dia mengelus dan mengusap medali emas itu.


Sasha mendapatkan Medali Emas, Piala, dan piagam.


Medali emas dia taruh diatas piala yang tergeletak diatas meja.


Catrine memegang medali yang menggantung di piala itu.


"Ini adalah impianku sejak kecil."


Kata Catrine sambil mencium piala dan medali emas milik Sasha.


"Siapapun orangnya yang telah menjebaknya, dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal dari dirinya." Kata Catrine.


Madina hanya mendengarkan saja dan tidak berkomentar apapun.


"Jika aku tidak meminumnya, maka semua ini akan ada dikamarku." masih dengan kesedihan Catrine berbicara pada dirinya sendiri.


"Piala, medali, piagam semua ini harusnya ada dikamarku....."


"Aku tidak akan memaafkan siapapun dia...."


"Aku pasti akan menemukan orangnya."


Lalu Catrine menaruh piala itu lagi ketempat semula dengan pelan.


Madina berdebar-debar, dia pikir Catrine akan membanting piala itu. Namun untunglah dia hanya memegang dan tidak membantingnya karena kecewa dan marah.


Hampir saja jantungku copot!


Gumam Madina sambil membuang kardus nasi ketempat sampah.


Lalu Catrine bangun dan tanpa mengatakan apapun dia meninggalkan kamar Sasha.


Madina hanya menarik nafas panjang. Setelah itu Madina pergi ke wastafel untuk mencuci tanganya.


Dan mendengar suara gemericik air, Sashapun terbangun.


Seandainya dia bangun dari tadi maka dia akan melihat wajah Catrine yang begitu menyedihkan.


Namun lebih bagus dia tidak melihatnya, gumam Madina.


Dibalik kesedihan Catrine ada dendam dan kemarahan yang sangat besar. Madina bisa merasakannya.

__ADS_1


__ADS_2