
Prasetyo duduk disamping Nadiya yang saat ini sudah resmi menjadi istrinya dengan sangat bahagia. Prasetyo menyentuh dagu dan pipi Nadiya yang dirias natural dan sangat cantik. Mereka kemudian bertatapan dalam keheningan tanpa bicara.
Biasanya mereka akan berbicara tentang apa saja, tapi kali ini mereka justru terdiam seakan kehabisan kata-kata dan ide untuk memulai pembicaraan.
"Terimakasih...." Kata Prasetyo akhirnya memecah keheningan suasana didalam Jet Pribadinya.
"Untuk apa?" Tanya Nadiya sambil menatap ragu-ragu kemata Prasetyo yang tak berkedip seakan ingin menelannya bulat-bulat.
"Karena telah menjadi bagian penting dari hidupku." Kata Prasetyo sambil mencium kening Nadiya. Nadiya awalnya akan memalingkan mukanya namun, tangan Prasetyo langsung merengkuh kepalanya sehingga dia tidak bisa berpaling.
"Aku tidak tahu, bagaimana perasaanmu....namun aku berjanji untuk selalu membahagiakanmu." Kata Prasetyo sambil mencium pipi Nadiya. Nadiya berusaha untuk menghindarinya namun rengkuhan tangan Prasetyo terlalu kuat untuk membuatnya berpaling.
Nadiya masih tidak menyadari sepenuhnya apa yang telah ditetapkan Tuhan padanya. Mampukah dia menjadi istri yang baik, untuk Prasetyo. Dan entah kenapa bayangan masa lalunya justru hadir disaat yang membahagiakan ini. Entah kenapa moment saat dia menjadi istri yang setia untuk Ardy harus terbayang dalam benaknya saat ini.
Dan penghianatan yang dilakukan suaminya membuatnya mundur dari rengkuhan Prasetyo.
Prasetyo bahkan kaget saat tiba-tiba mendapat penolakan dari Nadiya ketika akan memberikan tanda kepemilikanya.
Namun Prasetyo menyadari, jika butuh waktu bagi Nadiya untuk menyesuaikan kehidupan yang baru akan dijalaninya bersama Prasetyo diatas kenangan pahit masa lalunya.
Prasetyo menelan ludahnya sendiri dan mengatur pernafasannya kembali setelah Nadiya menjauh dari tempat duduknya.
"Maafkan aku...." Kata Nadiya dan tidak terasa dua butir mutiara membasahi pipinya. Dan dengan lembut Prasetyo menghapus airmatanya.
"Tenanglah....aku tidak akan memaksamu untuk melakukan tugasmu. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap." Kata Prasetyo yang semakin membuat Nadiya menangis terisak-isak.
__ADS_1
Nadiya sangat sedih karena tidak bisa memberikan apa yang seharusnya menjadi hak Prasetyo. Hatinya benar-benar kacau dan tidak terkendali. Namun ketulusan Prasetyo benar-benar membuatnya merasa bersalah karena tadi telah menolaknya. Namun saat ini dia benar-benar belum siap dan masih membutuhkan waktu untuk menata hatinya kembali.
"Aku masih membutuhkan waktu......" Kata Nadiya yang tidak berani menatap mata suaminya.
"Tidak papa. Sudah jangan menangis lagi. Kita akan bersenang-senang, tapi kamu malah menangis dan bersedih. Sudah jangan terlalu dipaksakan. Bukankah kita memulai hubungan ini dari teman, lalu menjadi sahabat dan selamanya kita akan bersahabat. Dan aku tidak mau sahabatku menangis dihari spesial ini"
Setelah penerbangan berjam-jam akhirnya mereka tiba ditempat yang dituju untuk berbulan madu.
Nadiya langsung turun dari Jet Pribadi dan masuk kedalam kamar pengantinnya. Prasetyo menggandeng tangan Nadiya yang dingin seperti es. Entah apa yang membuatnya cemas sehingga tanganya menjadi dingin sekali.
Prasetyo kemudian berhenti didepan pintu utama dan membuat Nadiya bingung kenapa dia harus menghentikan langkahnya.
Nadiya hanya berdebar-debar dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan apa yang akan Prasetyo lakukan karena saat ini mereka sudah resmi menjadi suami istri. Tentu berdekatan dan bersentuhan bukanlah suatu dosa. Malah akan menambah keintiman dalam hubungan mereka yang baru akan dimulai.
Namun entah kenapa pernikahan yang kedua ini berbeda dengan pernikahan yang pertama. Jika dulu dia dan Ardy sama-sama menginginkan keintiman yang sudah menjadi hak bersama. Namun bersama Prasetyo muncul beraneka rasa yang sangat membingungkan. Antara perasaan takut, cemas dan ragu-ragu untuk memulai kembali bahtera rumah tangganya yang kedua atau semacam perasaan takut terulang kesalahan yang sama.
Dan sangat disayangkan kenapa perasaan cemas itu baru muncul sekarang disaat mereka sedang berbulan madu. Bukankah tidak adil untuk Prasetyo yang mengharapkan manisnya hubungan yang sedang dijalani namun ternyata didalam hati istrinya masih tersimpan kepahitan duka dimasa lalu.
Akhirnya mereka sampai disebuah kamar yang penuh dengan taburan bunga mawar yang harum melingkupi ruangan itu. Dengan pelan Prasetyo menurunkan Nadiya dari gendongan ya dan membiarkanya terbaring di atas kasur yang disekelilingnya terdapat taburan bunga.
Jantung Nadiya semakin berdebar tak menentu menunggu apa yang akan dilakukan suaminya padanya. Akankah saat ini juga dia menuntut hak itu? Atau kapankah waktu yang tepat untuk penyatuan diri mereka. Namun Prasetyo tiba-tiba keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Nadiya terbaring diatas kasur masih dengan baju pengantinya yang menjuntai hingga kelantai. Tidak lama kemudian Prasetyo masuk dengan membawa makanan dan minuman dingin.
Nadiya kemudian duduk dan entah kenapa dia malah kehabisan kata-kata. Ada rasa malu, sungkan, dan berbagai rasa yang tidak bisa dijelaskan. Karena sebelum pernikahan ini mereka hanya teman dan sahabat saja. Tidak pernah ada keintiman apapun diantara keduanya. Dan saat terjebak didalam kamar bersamanya membuatnya seperti salah tingkah.
Ini yang kedua, tapi justru membuat dirinya lebih cemas dari pada saat berbulan madu bersama Ardy. Ohhhhh, damn! Nama itu terus muncul dalam ingatanku saat ini.
"Haaaiii......" Kata Prasetyo sambil tangannya dikibaskan kewajah Nadiya. "Kok malah bengong, makanlah. Sebelum kita......" Prasetyo tidak meneruskan perkataannya.
Ekspresi wajah Nadiya lebih pucat dari sebelumnya mendengar ungkapan dan keinginan Prasetyo. Wajar sih, kan sudah suami istri, jadi tentu saja sebagai lelaki normal Prasetyo sudah tidak sabar ingin mengecap manisnya hubungan suami-istri.
"Maksudmu....sekarang?" Tanya Nadiya dan menjadi tidak selera makan.
"Ya. Makanlah sekarang, apakah kau tidak ingin jalan-jalan diluar?" Kata Prasetyo dengan tertawa kecil melihat perubahan demi perubahan ekspresi Nadiya yang tentu saja sangat dinikmatinya.
"Baiklah. Aku akan makan dan kita langsung jalan-jalan." Ekspresi Nadiya langsung berubah menjadi bersemangat. Setidaknya dia bisa menunda sesuatu yang belum ingin dilepaskannya.
Prasetyo memotong kecil makanan diatas piringnya dan menyuapi Nadiya. Nadiya membuka mulutnya dan mereka saling bertatapan dengan sangat mesra dan dalam sekali arti tatapan mereka.
"Enak bukan?" Kata Prasetyo sambil terus menyuapi Nadiya dengan potongan-potongan kecil. Nadiya mengangguk dan bergantian menyuapi Prasetyo dengan ujung jarinya.
Prasetyo menahan dan menggigit jari tangan Nadiya hingga membuatnya menjerit.
"Aaaaaaaahhhhhhhhhhjjjjgghgg"
"Oh maaf. Apakah jarimu terluka?" Kemudian Prasetyo pura-pura meniupnya dan memijatnya. Padahal sebenarnya dia sengaja menggoda Nadiya karena dia tidak ingin suasana antara mereka berdua menjadi kaku.
__ADS_1