
Dikantor polisi
Nadiya duduk didepan Inspektur Polisi dan menandatangani sebuah pernyataan. Prasetyo dan Ibu Monic datang dengan perasaan cemas dan khawatir. Mereka kemudian masuk kesebuah ruangan dimana Nadiya sedang diinterogasi oleh anggota kepolisian.
Nampak seorang Inspektur Polisi sedang berbicara dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Nadiya.
"Ibu Nadiya, apakah anda sering mengancam anak-anak?"
"Tidak!"
"Apakah anda memukul mereka saat mereka nakal?"
"Tidak!"
"Apakah anda memaki dan melukai mereka secara psikis?"
"Tidak!"
"Apakah anda sering membentak mereka?"
"Kadang-kadang!"
"Seberapa jauh anda menghukum mereka saat mereka membuat kesalahan atau kenakalan?"
"Hukuman biasa yang dilakukan hampir semua orang tua saat anaknya nakal."
"Seperti apa contohnya? Bisa anda sebutkan?"
"Kami membuat mereka berdiri dan memarahinya?"
"Berapa lama mereka berdiri? Satu jam, dua jam, tiga jam atau lima jam?" Kata Inspektur itu.
Nadiya melihat Inspektur itu dengan wajah kesal karena banyak pertanyaan yang menyudutkannya.
__ADS_1
"Lima belas menit!" Jawab Nadiya. Inspektur itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jika anda membuat anak seusia mereka berdiri hingga berjam-jam dan membuat mereka terlalu capek maka itu seperti hukuman fisik yang terlalu berlebihan. Mereka hanya anak-anak Ibu Nadiya. Jadi wajar jika anak-anak itu membuat kesalahan dan membuat orang tua jengkel."
"Saya bahkan tidak mengerti bagaimana anda mempercayai anak-anak seusia mereka. Kadang mereka hanya menirukan beberapa adegan film yang mereka tonton." Kata Nadiya.
"Anak-anak lebih jujur daripada orang dewasa." Inspektur itu tidak mau kalah. Dan Nadiya kesal dengan beberapa pernyataan yang seakan laporan anak-anak itu adalah hal yang benar-benar dia lakukan.
Apa mungkin aku menyakiti keduanya? Sementara bersusah payah aku menunggu kehadiran mereka. Dan melakukan segala cara demi mendapatkan keturunan.
"Apakah istri saya bisa pulang Inspektur?" Tanya Prasetyo yang duduk tidak jauh dari Nadiya.
"Apakah kalian keluarga Ibu Nadiya?" Inspektur itu malah bertanya balik.
"Iya. Saya suaminya dan ini ibu saya. Kalian adalah saksi jika Ibu Nadiya tidak melakukan kekerasan terhadap kedua putranya."
"Iya. Kami pastikan Inspektur. Bahwa tidak ada kekerasan yang terjadi didalam keluarga kami."
"Baiklah. Silahkan tanda tangan disini." Kata Inspektur itu sambil menunjukan sebuah berkas yang harus ditandatangani saksi.
"Aku sudah tidak tahan untuk menghukum mereka berdua. Kenakalan mereka seperti bukan kenakalan anak seusianya."
"Jangan menghukum mereka Nadiya. Mereka masih anak-anak." Kata Ibu Monic.
Nah kan? Mami selalu membela mereka. Bahkan saat mereka melakukan kesalahan yang berlebihan, mami tetap membelanya. Inilah yang bikin Nadiya kesal. Kata-katanya tidak digubris oleh kedua buah hatinya dan dianggap sepele. Dan semua ini terjadi karena suami dan mertuanya yang terlalu memanjakan mereka.
Sampai didepan rumah. Nadiya langsung turun dan berteriak mencari kedua buah hatinya. Namun yang dicari tidak berani menunjukan batang hidungnya. Dia saat ini bersembunyi dilantai atas dan mengunci kamarnya.
tok! tok! tok!
Nadiya berdiri didepan pintu kamar sikembar dan mengetuk pintu.
"Edsel! Eiden! Keluar sekarang! Mami mau bicara!"
__ADS_1
Edsel dan Eiden sembunyi dikolong ranjang. Dan takut untuk menemui maminya.
"Nadiya, sudah biar mami yang bicara pada mereka. Jika kamu berteriak-teriak seperti itu maka mereka akan ketakutan. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan mereka didalam?" Kata Ibu Monic sangat khawatir.
"Tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka mami. Yang ada jika mami terus memanjakanya maka mereka bisa saja mencelakai orang lain dan mereka masih terlalu kecil untuk bisa memahami akibat dari setiap kenakalannya."
"Edsel... Eiden...Ini Oma...Ayo keluar sayang. Buka pintunya." Kata Ibu Monic.
"Kami takut Oma. Kami takut kalau mami akan marah dan memasukan kami kedalam penjara."
"Penjara? Siapa yang mengatakan itu pada kalian? Ayo keluarlah sayang....mami kalian tidak ada disini." Kata Ibu Monic.
"Benarkah Oma?" Tanya sikembar kompak.
"Benar sayang....ayo buka pintunya."
Ceklek! Kemudian pintu kamar terbuka. Dan Eiden dan juga Edsel langsung memeluk Omanya dengan mata yang merah seperti habis menangis.
"Ayo, kemarilah cucu-cucuku. Kalian sudah makan belum?"
Mereka berdua menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayo makan sekarang. Oma biar suapin kalian berdua."
Nadiya yang baru saja dari bawah berjalan kelantai atas dan berpapasan dengan Edsel dan juga Eiden yang sedang menuruni tangga mau turun kebawah. Mereka berjalan dibelakang Omanya dan menyembunyikan mukanya.
"Edsel! Eiden!" Kata Nadiya sambil menatap wajah keduanya dengan amarah yang membludak.
Dan dengan cepat Edsel dan Juga Eiden langsung melepaskan tangan mereka pada pegangan Omanya dan berlari menuruni tangga. Nadiya yang sudah gemas melihat ulah keduanya langsung berlari mengejarnya. Dan merekapun berkejar-kejaran mengelilingi ruang tamu.
Sampai tiba-tiba Edsel menabrak Sasha yang sedang membawa cemilan untuk dia makan dikamarnya.
Kedua anak Nadiya nampak sangat ketakutan saat melihat Sasha. Dan entah apa sebabnya mereka langsung mundur dan bersembunyi dibelakang badan Papinya.
__ADS_1
"Kenapa dengan mereka?" Tanya Prasetyo.