
Pagi harinya Prasetyo sudah menunggu didepan rumah Nadiya dan membunyikan klakson dengan keras.
Tiiinnnnn! Tiiinnnnn!
Suara klakson mobil mengagetkan Nadiya. Nadiya melongok dari jendela kamarnya. Itu bukan mobil salah satu pengawalnya. Lagian pengawalnya mana mungkin berani membunyikan klakson sekeras itu. Itu.... Prasetyo.....
Ngapain Prasetyo sepagi ini sudah bertandang kerumahku? Nadiya bertanya pada dirinya sendiri.
Kemudian Prasetyo turun dari mobil dan langsung duduk diteras rumah Nadiya. Dia pikir Nadiya sudah siap sehingga dia tidak perlu turun dari mobil. Tapi kebetulan hari ini Nadiya bangun kesiangan. Sehingga saat Prasetyo datang Nadiya baru saja selesai mandi.
Nadiya tetap santai merias dirinya tanpa terganggu sedikitpun. Bahkan dia tetap melukis alisnya dengan pelan dan hati-hati. Dia juga tidak peduli jika Prasetyo bosan menunggu dirinya berdandan. Karena tidak ada juga yang menyuruhnya datang sepagi ini. Pikir Nadiya.
Prasetyo melihat-lihat sekeliling halaman rumah Nadiya yang penuh dengan berbagai macam bunga mawar berwarna-warni. Dari tanaman yang menghiasi halamanya Prasetyo sudah bisa mengambil kesimpulan jika Nadiya sangat menyukai bunga mawar. Tidak salah jika diawal pertemuan dia memberikan bunga favoritnya sebagai hadiah untuknya.
Prasetyo menoleh, saat mendengar langkah kaki yang begitu teratur dan terdengar berirama. Prasetyo terpana melihat wajah Nadiya yang dihias sempurna dan baju serta sepatu yang elegan. Menurutnya Nadiya sangat pandai dan luwes dalam memilih pakaian dan riasan yang sesuai dengan karakternya. Jika saja Nadiya adalah kekasihnya, ingin rasanya Prasetyo berlari dan memeluknya saat ini juga.
Matanya melebar dan maniknya berkilauan tak berkedip untuk beberapa saat. Dia seperti melihat bidadari yang baru saja tersesat dari khayangan. Nadiya berjalan dengan wajah yang datar tanpa ekspresi. Prasetyo merasa ada yang kurang dalam riasannya yang tak lain adalah senyum yang sangat mahal dari pemiliknya.
Nadiya berjalan kedepan diikuti oleh Prasetyo tanpa bertanya dan tanpa basa-basi. Saat Nadiya akan memanggil pengawalnya, Prasetyo mencegahnya.
"Tidak usah!" Mulai sekarang aku yang akan menemanimu dimanapun, kemanapun tempat yang kamu inginkan."
"Apa!?" Tanya Nadiya kaget dengan pernyataan dari Prasetyo.
"Ya. Seperti yang tadi kamu dengar aku sekarang adalah bodyguardmu."
"Kenapa!?"
"Karena aku ingin mengenal lebih dekat calon istriku."
__ADS_1
"Apa!?" Calon istri!?" Kali ini Nadiya bertanya dengan nada yang lebih tinggi setelah pernyataan Prasetyo yang menyebutnya calon istrinya.
"Ya. Bukankan kamu alasan aku datang kemari? Dan kamu sudah tidak membutuhkan pengawal lagi. Aku adalah bodyguardmu mulai sekarang." Kata Prasetyo jelas dan tidak kalah tegas dengan Nadiya.
"Bukankah ini terlalu cepat?" Nadiya menatapnya tanpa ekspresi.
"Bukankah waktu sangat berharga? Aku tidak ingin terlambat apalagi jika ada orang yang mendahuluinya?"
"Ini bukan lomba atau balapan kuda."
"Tapi waktu bisa mengubah segalanya bukan? Kita tidak tahu apa yang bisa dilakukan waktu terhadap masa depan?"
"Ok. Kamu akan menjadi pengawalku mulai sekarang. Sekarang antarkan saya kekantor!" Nadiya memerintah Prasetyo yang sekarang menjadi pengawalnya tanpa rasa sungkan.
"Baik Bu Nadiya....Silahkan naik kedalam mobil." Ucap Prasetyo sambil mengulurkan tangannya mempersilakan Nadiya masuk kedalam mobil.
"Kita akan kemana?" Kata Prasetyo yang merangkap tugas pengawal dan sopir pribadinya.
"Kekantor."
Satu jam kemudian Nadiya sudah tiba dikantor dan langsung masuk kedalam ruanganya. Diikuti oleh Prasetyo yang berjalan dibelakang nya. Nadiya berjalan dengan wajah tegak dan pandangan lurus tanpa menoleh kesana kemari. Hal berbeda justru dilakukan Prasetyo yang tersenyum pada beberapa pegawai yang kebetulan berpapasan dengannya. Bahkan senyumnya sangat manis dan menawan menurut mereka. Tidak seperti yang berjalan didepanya, cantik tapi seperti patung lilin berjalan, datar tanpa ekspresi. Begitulah mereka berpikir tentang dua orang yang berbeda bagai ujung magnet, positif dan negatif.
Beberapa pegawai mulai lirik sana-sini melihat lelaki yang bersama Nadiya sangat gagah dan gantengnya seperti aktor Hollywood.
Tak ada yang berani bersuara didalam ruangan itu. Semua pegawai diam seribu bahasa dan menyimpan banyak rasa ingin tahunya terutama yang hobi bergosip. Rasanya mereka tidak sabar untuk menunggu waktu makan siang segera tiba. Mereka akan membahas berita hangat tentang surat kabar lama, terlebih pengawal CEO yang gantengnya ngga ketulungan.
"Duduk disana dan jangan banyak bertanya selama saya bekerja. Atau kau boleh pergi ketempat lain." Kata Nadiya memberi isyarat kepada pengawal barunya yang tak lain adalah Prasetyo CEO PT Asia yang rela menjadi pengawal demi bisa lebih dalam mengenal dirinya.
"Baiklah bu Nadia. Titah ibu adalah perintah bagi saya." Kata Prasetyo sengaja menggoda Nadiya yang menurutnya sangat kaku dan dingin seperti tokoh Elsa dalam film Frozen.
Nadiya menatapnya sebentar dan tanpa ekspresi kemudian matanya teralihkan pada berkas yang sudah menumpuk akibat kepergiannya selama satu Minggu.
__ADS_1
Prasetyo mengambil beberapa surat kabar dan mulai membaca halaman demi halaman. Sementara Nadiya sedikitpun tidak terusik dengan kehadirannya, malah tak sekalipun menoleh kearahnya saat bekerja. Dia benar-benar tenggelam dalam kesibukanya dan tidak sadar jika seseorang terus memperhatikan setiap gerak-geriknya.
"Mau kopi?" Prasetyo menawarkan kopi untuk Nadiya.
"Boleh." Jawab Nadiya tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada berkas didepanya.
"Berhentilah sejenak jangan terlalu memaksakan diri. Itu tidak baik untuk kesehatan." Prasetyo mengingatkan kalau Nadiya terlalu berlebihan dalam bekerja.
Nadiya hanya menoleh tanpa mengatakan apapun.
"Besok masih ada waktu." Prasetyo gemas dengan cara Nadiya bekerja. Menurutnya itu bukan pekerjaan tapi seperti pelarian.
"Kopinya keburu dingin. Minumlah dulu. Pekerjaan juga tidak akan lari jika ditinggalkan sejenak, sekedar minum kopi." Prasetyo berbicara sambil nyeruput kopinya. Dan terdengar sssiuuppppp!!!! sampai ketelinga Nadiya.
Nadiya tetap tak bergeming. Pekerjaan benar-benar menjadi yang paling tepat untuk mengalihkan beberapa beban pikirannya. Dia sangat tahu jika pekerjaan adalah obat bagi kesedihannya.
"Kopinya disemutin. Sepertinya semut akan menghabiskan kopinya." Prasetyo terus berbicara pada dirinya sendiri. Karena merasa kata-katanya tidak digubris oleh Nadiya. Tapi tiba-tiba gubrakkkk!
Nadiya memukul meja. Dan langsung menghabiskan kopinya tanpa jeda. Seperti orang yang tersesat dan tidak minum seharian. bahkan berbunyi cleguk! cleguk! cleguk!
Prasetyo melotot seperti manik matanya akan melompat pada gelas yang dipegang Nadiya saking shocknya melihat cara Nadiya menghabiskan kopi.
"Dimana nikmatnya jika minum kopi seperti minum air hujan hhhhhh!" Lagi-lagi Prasetyo berbicara pada dirinya sendiri karena Nadiya langsung meneruskan pekerjaannya tanpa basa-basi sedikitpun.
"She's a killer Queen." Celetuknya.
Mendengar ocehan Prasetyo yang seperti petasan bagi Nadiya maka membuat Nadiya kesal dan kehilangan fokus pada pekerjaanya.
Kemudian Nadiya mengambil tasnya dan berdiri sambil memberi isyarat pada Prasetyo untuk mengikutinya. Prasetyo langsung bangkit dari tempat duduknya setelah berhasil mengecoh Nadiya agar berhenti sejenak dan meninggalkan pekerjaannya.
"Tidak berdosakan jika ditunda sesaat?" Kata Prasetyo pada berkas dimeja Nadiya. Karena Nadiya tidak menganggapnya ada maka terpaksa dia berbicara pada berkas dimeja Nadiya. Itu lebih baik menurutnya, setidaknya berkas itu akan bersuara jika ditabok. Buuukkkk!!!
__ADS_1
Nadiya menoleh mendengar suara yang ditimbulkan dari pukulan Prasetyo. Dan dengan cepat Prasetyo menarik tanganya dan menyembunyikannya disaku celananya. Karena melihat berkasnya aman dan tidak terjadi apa-apa maka Nadiya berjalan melewati beberapa pegawainya yang bekerja seperti robot tanpa suara. Hening dan nyaman menurut Nadiya.
Nadiya berjalan didepan dan Prasetyo dibelakangnya. Beberapa pegawai melirik kearah Prasetyo dan menahan tawa geli melihat cara berjalanya yang sengaja mengikuti gerakan Nadiya kepalanya tegak dan tidak tertunduk sedikitpun. Prasetyo adalah Pria yang easy going dan tidak kaku bahkan dia tidak kelihatan seperti seorang CEO perusahaan besar karena murah senyum dan tidak merendahkan pegawai bahkan Office boy yang dia temui dikantor Nadiya. Tak segan bahkan kadang dia menyapa mereka lebih dahulu.