
Nadiya menoleh dan gemetar saat Prasetyo ternyata ada disana dan mendengar percakapannya dengan Regan.
Wajahnya menjadi kaku dan badanya mematung saking kagetnya.
Sementara Regan kaget dan syok sambil memegang sebelah pipinya. Dia tidak menyangka maminya akan menamparnya.
Regan masih berdiri dan memegang pipinya sambil menatap Prasetyo yang baru saja datang sambil menenteng tas kantornya.
"Nadiya?"
"Regan?"
"Kalian bertengkar?"
"Sasha adalah anak perselingkuhan Ardy?"
"Apakah ini benar Nadiya?"
"Apakah yang Regan katakan itu benar? Lalu dimana Sasha sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia juga tahu tentang semua ini?"
"Sasha sudah pergi om. Dia sudah pergi sejak satu Minggu yang lalu."
"Pergi? Pergi kemana?"
"Regan juga tidak tahu. Dia bilangnya magang. Tapi Regan tidak percaya karena dia pergi pagi-pagi sekali."
"Nadiya, apakah kau tahu kenapa Sasha pergi? Apakah dia pergi karena ada hubunganya dengan apa yang kalian bicarakan?"
"Aku tidak tahu. Dan aku tidak mau membahas itu. Regan masuk kekamarmu!" Titah Nadiya.
"Tapi mi... Regan ingin tahu apa yang mami sembunyikan."
"Regan! Mami bilang masuk kekamar! Sudah cukup! Pergi kekamarmu!" Teriak Nadiya dan membuat Regan kaget lalu naik kelantai tiga dan masuk kekamarnya.
"Kau sudah pulang Pi...kenapa tidak memberitahu mami, jika pulang lebih cepat." Kata Nadiya berusaha tenang dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dia lalu mengambil tas dari tangan Prasetyo dan akan menyimpanya.
Tapi Prasetyo mencegahnya dan menatap Nadiya dengan tajam.
"Apakah yang dikatakan Regan itu benar? Apakah Sasha adalah anak dari Ardy?" Tanya Prasetyo dengan berusaha sabar.
"Apa maksudmu. Regan hanya anak kecil. Dia berbicara ngawur dan tidak jelas. Kita tidak usah membahas ini lagi."
"Kenapa kau menamparnya? Jika ini tidak benar, kenapa kau sampai menamparnya? Apakah kau tidak menyesal setelah menamparnya?" Tanya Prasetyo sambil memegang tangan Nadiya dengan sedikit kasar.
Dia benci salah satu sifat Nadiya yang gemar menyembunyikan rahasia, dan selalu menyelesaikan nya sendiri tanpa bercerita padanya.
Meskipun dia sangat mencintai Nadiya karena dia mandiri dan kuat, tapi dia juga ingin agar Nadiya bersikap terbuka padanya.
"Aku terbawa emosi. Tapi aku benar-benar tidak mau membahas masa lalu itu."
"Aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada masa lalumu."
__ADS_1
Prasetyo bernafas sejenak. Dia menarik nafas panjang.
"Tapi.....Sasha....aku ingat saat pertama kali dia datang kerumah. Wajahnya begitu polos dan manis. Dia datang bersama ibunya, Oma yang membawanya.
Kami menerimanya karena kami kasihan dan tidak tahu kehidupan sebelumnya. Bahkan dia juga tidak pernah menceritakan apapun tentang bagaimana mereka sampai diluar negeri.
Tiba-tiba sekarang Sasha pergi dari rumah ini setelah sekian tahun dia hidup bersama kita layaknya keluarga. Dan kita tidak tahu, dia ada dimana?
Tidakkah kau mengkhawatirkan nya? Belum lama ini kau bahkan ingin memasukkanya kedalam keluarga kita secara resmi.
Dan menganggapnya sebagai putrimu. Apakah kau lupa?"
Nadiya diam dan berdiri tanpa berkata apapun.
"Baiklah. Aku akan mencarinya. Apakah Oma tahu jika salah satu cucunya pergi?"
Nadiya diam dan menggelengkan kepalanya.
"Apakah kau tidak istirahat dulu? Kau baru saja sampai dari luar kota?"
"Bagaimana aku tenang jika salah satu keluargaku pergi dan tidak ada kabarnya. Dan yang membuat aku lebih heran lagi. Kau tidak mengabariku dan menjelaskan semuanya. Apakah tidurmu begitu nyenyak? Hingga kau tidak merasa ada yang kurang dari rumah ini? Sepuluh tahun kau menganggapnya sama seperti Regan, dan hari ini aku tidak bisa memahami semuanya."
"Pras!"
Namun Prasetyo langsung berjalan masuk dan menaruh tas kerjanya sendiri.
Lalu dia berbalik dan keluar dari rumah dengan mobilnya.
Semua orang menyalahkanya karena kepergian Sasha. Dulu suaminya juga menyalahkanya saat Sarah pergi.
Kenapa mereka mengambil kesimpulan dan sudut pandang yang berbeda.
Aku merasa apa yang aku lakukan sudah benar.
Tapi semua orang menganggap aku bersalah.
Menyakitkan sekali.
Anakku sendiri bahkan melawanku karena Putri dari perempuan itu. Dia bahkan menyalahkan aku.
Haruskah aku memaafkanya?
Haruskah Kumaafkan kesalahan mereka berdua?
Haruskah aku terima Sasha dan melupakan kesalahan ibunya?
Bagaimana caranya, aku menerimanya?
Jika setiap kali melihat wajahnya aku teringat pada penghianatan ibunya?
Bagaiamana caranya aku melupakannya?
__ADS_1
Semakin aku perhatikan, wajahnya mirip sekali dengan Ardy.
Dan itu seperti ribuan pisau menghunusku.
Kebahagiaanku kali ini juga harus terusik dengan titik noda masa lalu.
Prasetyo bahkan tidak berpihak kepadaku....
Regan juga menghakimiku....
Nadiya lalu naik kelantai tiga karena dia dengan Eiden menangis.
"Mami......!"
Mendengar teriakan putranya, Nadiya lalu naik keatas.
Eiden terlihat ketakutan.
"Mami....jangan tinggalin Eiden. Mami....Eiden sayang sama mami."
"Mami disini. Mami tidak kemana-mana. Apakah kau mimpi buruk?"
"Eiden mimpi mami pergi dan Eiden tidak melihat mami dimana-mana."
Airmata Nadiya jatuh dan entah kenapa tiba-tiba dia menjadi sangat sedih.
"Tidak sayang. Mami tidak kemana-mana. Mami ada disini bersama kalian."
"Tadi Eiden mendengar suara papi."
"Ohh, itu....tadi papi pulang lalu papi pergi lagi karena ada urusan penting."
"Kok papi ngga tengokin Eiden dulu sih mi? Eiden kan kangen sama papi."
"Iya. Nanti kalau papi pulang. Mami akan mengajak papi kemari ya?"
Sementara Regan masih mengurung dirinya didalam kamar.
Dia sangat terluka karena maminya tega menamparnya.
Sebelumnya hal seperti ini belum pernah terjadi.
Entah kenapa maminya sangat emosional tadi, hingga langsung menamparnya.
Regan duduk didepan kaca dan mengoleskan krim pada sebelah wajahnya.
Besok dia ada pemotretan.
Dan dia harus tampil maksimal untuk sebuah tawaran iklan. Dia harus menjadi modelnya.
Sebenarnya dia tidak mau tapi pemilik produk itu terus memaksanya.
__ADS_1
Dia sangat tertarik dengan wajah Regan yang komersial. Dan bisa menjadi daya tarik sendiri bagi kaum hawa