Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Pembunuh bayaran


__ADS_3

Pria misterius itu keluar dari area rumah sakit dan berjalan ketempat yang sepi. Kemudian disana dia menemui seseorang. Orang itu memakai penutup kepala dan muka berwarna hitam jadi tidak terlihat apakah dia laki-laki atau perempuan.


Tapi si pengemban tugas alias pembunuh bayaran itu sekilas melihat dia memakai sebuah cincin perempuan. Jadi yang menyuruhnya adalah seorang perempuan. Hanya saja dia tidak bisa mengenali wajah wanita yang menyuruhnya itu.


Tapi pembunuh bayaran itu tidak peduli dengan siapa saat ini dia berbicara. Status dan mukanya tidak penting baginya. Yang penting adalah dia dibayar untuk kerja kerasnya jika sampai berhasil mencelakai sasaranya.


"Apakah kau sudah mebunuh wanita itu?" Tanya sipenyuruh. Suaranya seperti difilter pakai kain sehingga terdengar tidak jelas.


"Belum bos. Saat saya masuk kekamar itu wanita itu tidak berada disana."


"Kembalilah kekamar itu dan cepat lakukan tugasmu!"


"Baik bos!"


Kemudian wanita itu menunggu didalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Pembunuh bayaran itu masuk dengan tenang dan pelan layaknya pengunjung lainya. Bajunya rapi dan mukanya juga tidak menunjukan bahwa dia adalah penjahat. Dia bahkan sempat tersenyum pada suster yang hampir saja menabraknya.


Kemudian dengan langkah yang lebih cepat dia masuk keruangan dimana dia bisa menemukan baju dokter untuk bisa lebih leluasa masuk kekamar itu.


Saat akan masuk dia heran karena tidak ada satupun pengawal yang berjaga disana. Dengan cepat dia membuka pintu dan ternyata ruangan itu sudah kosong. Tidak ada satupun pasien yang menempatinya.


"Sial!" Kata dokter gadungan itu. "Kemana mereka pindah? Aku harus mencari dibeberapa ruangan. Jika aku gagal maka aku tidak akan dibayar. Kurang ajar! Aku terlambat sehingga mereka sudah pindah entah kemana!"


Kemudian penjahat itu mencari kesetiap ruangan rumah sakit namun sasaranya tidak ditemukan dimana-mana. Akhirnya setelah melepas baju dokter, diapun turun menemui bosnya.


"Bagaimana? Kamu sudah berhasil melukainya?" Tanya penyuruh itu.


"Belum bos. Mereka tidak ada dirumah sakit ini." Jawab pembunuh bayaran itu.


"Apa!?" Kata orang itu kaget dan marah.


"Kemana mereka pergi, apakah kamu sudah mencari diseluruh rumah sakit ini?" Tanya penyuruh itu.

__ADS_1


"Sudah bos! Tapi mereka sepertinya sudah meninggalkan rumah sakit belum lama."


"Kurang ajar! Pernikahan mereka tinggal dua hari lagi. Dan jika aku tidak bisa menggagalkanya maka misiku akan berantakan." Ujar penyuruh itu kesal.


"Baiklah kamu boleh pergi! Kerja begitu saja tidak pecus!" Omel penyuruh itu.


"Bayarannya bos!"


"Kerja tidak pecus kok minta bayaran! Nih!" Kata orang itu sambil memberikan beberapa lembar uang padanya.


"Kok cuma segini bos?!"


"Jika kamu berhasil aku akan membayarmu. Cepat sana pergi, cari mereka!"


Setelah penjahat itu pergi wanita itu membuka penutup mukanya dan bernafas dengan lega. Dia menyandarkan kepalanya dan berfikir tentang misinya yang gagal.


Jika aku berhasil mencelakai Nadiya, maka Karina akan menggantikan posisinya. Dan dia akan menjadi wanita paling beruntung di dunia. Namun sayang usahanya gagal dan entah kemana Nadiya bersembunyi.


"Apakah aku ngga salah lihat?" Kata Ibu Sofia sambil mengedipkan matanya berulang kali.


Joan berdiri didepan mobil ibu Sofia dan masuk kedalam rumah sakit.


Untuk apa dia kerumah sakit? Dan siapa yang sudah mengeluarkan sibodoh itu dari penjara. Jika sibodoh itu ada diluar penjara maka usahaku untuk menyingkirkan Nadiya tidak akan menghasilkan apa-apa. Joan akan menjadi penghalang misinya. Kurang ajar. Satu belum kelar, satu lagi datang! Gerutu ibu Sofia.


Aku akan melihat dari dalam mobil apa yang dilakukan sibodoh itu. Tidak lama kemudian Ibu Sofia melihat Joan keluar dari rumah sakit. Wajah Joan kelihatan kesal dan matanya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari seseorang.


Ya. Itu memang Joan. Aku memang tidak salah lihat. Tapi bagaimana dia bisa bebas. Dan untuk apa dia kerumah sakit ini? Apakah dia juga mencari Nadiya untuk balas dendam? Aku harus memberi tahu pembunuh itu untuk mengurungkan niatnya. Karena percuma, jika dia melenyapkan Nadiya, misinya tetap saja gagal karena suami Karina sudah bebas.


Kemudian dengan cepat ibu Sofia mengambil handphonenya dan menelpon pembunuh itu.


"Batalkan kerjasama kita!" Kata ibu Sofia.


"Bagaimana bisa begitu. Aku sudah bekerja keras. Dan kau belum membayarku. Sekarang kau ingin aku membatalkanya? Lalu bagaimana dengan bayaranku!? Jangan bermain-main denganku! Atau aku bisa mencelakaimu!" Ancam pembunuh itu.

__ADS_1


"Aku akan membayarmu separo. Ambil kemari!" Kata Ibu Sofia yang merasa takut dengan kenekatan pembunuh itu jika dia tidak membayarnya. Kemudian Ibu Sofia menutup teleponnya dan menggerutu karena kesal.


"Sial! Usahanya tidak berhasil! Malah dia harus kehilangan uang untuk pembunuh itu! Tapi biarlah, aku tidak ingin berurusan dengan pembunuh itu. Nyawaku bisa terancam." Ibu Sofia berbicara pelan.


Kemudian pintu kacanya diketuk oleh seseorang dan ternyata itu adalah Joan. "Damn! Bagaimana dia bisa melihatku ada disini?" Gumam ibu Sofia.


"Hai mam?" Ibu Sofia membuka kaca jendelanya dan pura-pura tersenyum manis pada Joan.


"Ya. Bagaimana kamu bisa ada disini?" Tanya Ibu Sofia pura-pura peduli padanya.


"Joan tidak akan berada lama didalam penjara. Banyak yang membutuhkan keahlian ku diluar sana." Kata Joan dengan sombong. Sebenarnya Joan juga sudah tahu jika ibu mertuanya tidak menyukainya dan hatinya tidak semanis senyumannya.


"Huh! Keahlian apa? Paling juga menipu sana menipu sini. Pekerjaanya tidak ada yang benar!" Gumam ibu Sofia didalam hati.


"Masuklah!" Kata Ibu Sofia membukakan pintu untuk Joan supaya tidak terlihat siapapun. Dan mereka berbicara didalam mobil.


"Mami sendiri ngapain didepan rumah sakit? Apa mami menunggu seseorang?" Tanya Joan sambil celingak-celinguk mencari seseorang.


"Tidak mami tidak menunggu siapapun. Pergilah. Mami mau kespa. Mami ada urusan penting. Nanti kita bertemu dirumah." Kata ibu Sofia. Bisa gawat kalau dia melihat aku memberi uang pada penjahat itu. Lebih baik aku menyuruhnya untuk segera pergi dari sini. Sebelum dia mencurigai apapun dan membuat masalah untuku.


"Mami mengusir Joan? Emang mami tidak mengucapkan selamat sama Joan karena sudah bebas menghirup udara segar? Mami sungguh keterlaluan." Kata Joan sambil melirik kearah ibu mertuanya yang seperti sedang gelisah.


"Ya. Mami senang kamu ada diluar dan sudah bebas. Pulanglah, Karina pasti senang dengan kabar ini. Selamat bersenang-senang." Kata Ibu Sofia sambil membukakan pintu mobil untuk Joan. Karena tadi terpaksa dia berbicara didalam mobil saat dia mengetuk pintu.


Kemudian Joan keluar dari mobil itu karena diusir secara halus oleh ibu mertuanya.


"Ok. Sampai ketemu dirumah." Kata Joan dan tertawa penuh kebahagiaan.


"Dasar!" Gerutu ibu Sofia setelah dia lihat Joan menjauh dari mobilnya.


Tidak lama kemudian pintu kaca jendelanya diketuk oleh seseorang saat dia belum sempat menutup mukanya, sehingga wajahnya terlihat jelas oleh pembunuh bayaran itu. Dengan cepat Ibu Sofia memunggunginya dan memberikan bayarannya lewat jendela mobil. Setelah itu menutupnya kembali tanpa mengatakan apapun.


Ibu Karina langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menjauh dari lokasi rumah sakit. Penjahat itu bahkan tidak sempat mengatakan apapun namun sipembayar sudah keburu kabur. Namun wajah dari si pembayar masih jelas dipelupuk mata penjahat itu. Dia ingat wajah wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2