Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Jangan sampai terulang kembali


__ADS_3

Nadiya sudah selesai mandi dan saat keluar dari kamar mandi, dilihatnya Prasetyo pun sudah tertidur di samping Edsel juga eiden. Nadiya pun tersenyum melihat Prasetyo yang tertidur di samping kedua buah hatinya.


Nadiya pun mengambil selimut dan menyelimuti ketiganya yang tidur lelap.


Nadiya kemudian mencuci beberapa botol susu dan mengeringkannya dengan sterilizer dan dryer baby safe.


Setelah itu Nadiya mengambil beberapa baju kotor dan memasukkannya ke dalam mesin cuci mumpung kedua buah hatinya sedang tidur.


Prasetyo pun terbangun namun pekerjaan Nadiya sudah selesai di kerjakannya.


Setelah semuanya selesai dan sudah beres. Nadiya kemudian bersantai dan mengambil buku tentang cara merawat bayi kembar. Saat ini Nadiya tengah asyik membacanya ditemani minuman favoritnya.


Prasetyo terbangun dan dilihatnya istrinya sedang bersantai di sofa, sambil membaca sebuah buku.


Kemudian matanya beralih pada sikembar yang masih tidur terlelap disampingnya.


Prasetyo kemudian teringat tentang Sandra dan menanyakannya kepada Nadiya tentang bagaimana kabar Sandra.


"Nad, bagaimana kabar Sandra?" Nadiya yang sedang membaca buku kemudian menutup dan menaruhnya diatas meja saat menyadari jika suaminya sudah bangun.


"Apa?" Nadiya tidak terlalu mendengar apa yang dikatakan Prasetyo barusan karena terlalu fokus pada apa yang sedang dibacanya.


"Bagaimana kabar Sandra?" Prasetyo mengulangi pertanyaannya.


"Ohhh Sandra mungkin sudah pulang kekampung halamannya."


"Kok mungkin? Apakah kamu tidak meneleponnya?"


"Tidak. Dia sudah mengatakan padaku jika akan pulang kekampung halamannya setelah dua Minggu."


"Apakah dia tidak memberimu nomor telepon yang bisa dihubungi? Aku merasa kasihan padanya." Kata Prasetyo.


"Tidak. Karena aku berfikir sebaiknya kita tidak usah menemuinya lagi setelah kerja sama kita berakhir." Prasetyo kemudian menatap Nadiya dengan bingung dan tatapan yang sedikit aneh.


"Kenapa bisa begitu?"


"Karena aku tidak ingin Sandra terlalu dekat dengan sikembar dan membuat ikatan batin dengan keduanya." Prasetyo semakin bingung dengan sikap dan keputusan Nadiya.


"Apakah itu tidak terlalu kejam Nadiya? Walau bagaimanapun Sandra sudah mengandung kedua bayi kita. Tidakkah kita bisa mengizinkannya untuk sesekali menengok sikembar?"


"Tidak Pras. Aku tidak ingin Sandra terbawa perasaan dan suatu saat membongkar tentang kelahiran Edsel juga Eiden."


"Kita bisa membuatnya berjanji untuk tidak mengatakanya." Ujar Prasetyo.


"Perasaan manusia tidak bisa dipastikan Pras. Aku tidak yakin bahwa seseorang bisa memegang janjinya saat perasaanya sudah berbicara."


"Ahk kamu terlalu berlebihan Nad."


"Hhhh aku sudah berpengalaman. Dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."

__ADS_1


"Apakah kamu sedang berbicara tentang dia?"


"Dia......? Dia siapa maksudmu?"


"Suara hatimu..."


"Ahk suara hati apa sih?"


"Yaaa.....dia yang pernah menyakitimu."


"Ohhh....maksudmu...Ardy?"


"Heeemmmm...."


"Mungkin..."


"Kok mungkin? Apakah kamu berfikir aku akan menjadi seperti Ardy?"


"Aku tidak mengatakanya. Aku hanya menjaga hubungan kita agar tidak terganggu oleh kehadiran orang ketiga."


"Hahahaha...mana mungkin Nadiya. Kau ini ada-ada saja. Aku jelas berbeda lah dengan dia? Aku bukan pecundang! Seperti dia!"


"Yaaa semoga yang kau katakan itu tulus dan kau akan selalu mengingatnya seumur hidupmu."


"Nadiya.....Nadiya....kenapa kau jadi berfikir sejauh itu sih? Apakah kau mulai meragukan kesetiaanku?"


"Tentu saja tidak. Bukan kah kau sudah mengatakanya jika kau berbeda dengan yang lainya? Aku sungguh mempercayaimu."


"Itu masalah yang berbeda Pras. Ibarat kucing...jika dihadapannya ada ikan...masa iya tidak dimakan?"


"Wah-wah sekarang kau malah bilang kalau aku itu kucing." Kata Prasetyo sambil geleng-geleng kepala dan mentertawakan kelucuan sikembar juga keanehan Nadiya.


"Edsel, Eiden...kalian dengar? Papi dibilang kucing sama mami kalian....." Kata Prasetyo.


"Ahk kamu ngga ngerti. Ya sudah....kamu gendong Edsel aku biar gendong Eiden." Tiba-tiba Edsel dan juga Eiden terbangun dan menangis sekencang-kencangnya.


"Kucing dan ikan....bukan tom and Jerry..."


"Sudah ahk! Aku ngga mau ngomongin itu lagi. Yang penting kalau kamu jauh dari aku, jaga mata dan juga jaga hati. Karena......" Nadiya tidak melanjutkan kalimatnya. Dan malah menatap wajah Prasetyo dengan tajam.


Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Dan di khianati untuk yang kedua kalinya.


"Kok ngga diterusin? Nungguin nih....Karena apa?"


"Karena aku percaya bahwa kau berbeda."


"Gitu aja?" Tanya Prasetyo yang menunggu ungkapan yang berbeda dari Nadiya. Seperti ungkapan aku cinta kamu, atau aku sayang kamu, Nadiya sepertinya tidak pernah mengatakan dua kalimat itu.


"He em." Kata Nadiya sambil mengangguk imut.

__ADS_1


"Nad, bikinin mie instan dong!" Kata Prasetyo setelah dilihatnya Edsel tertidur kembali.


"Sekarang?"


"Ya iyalah! Masa besok.... Aku laper banget nih."


"Aku pesenin makanan dari luar aja ya."


"Ngga ah. Aku pengennya mie instan dan kamu yang bikinin."


"Sama aja kali Pras." Kata Nadiya yang sebenarnya lagi malas memasak, karena sepeninggal Ibu Monic rasanya semua pekerjaan rumah ngga kelar-kelar. Dan kalau dia menggunakan jasa Nanny atau pengasuh bayi, sepertinya dia masih belum tega untuk menyerahkan sikembar dalam asuhan orang lain.


"Beda lah." Kata Prasetyo yang tetap ingin makan mie instan masakan istrinya. Biasanya Prasetyo jarang merepotkan Nadiya, dalam urusan memasak. Dan dia akan masak sendiri karena diapun pandai dalam memasak. Namun kali ini dia juga lagi malas bangun dan masuk kedapur, sehingga menyuruh Nadiya.


"Ya sudah...mau pake apa?" Kata Nadiya sambil menaruh Edsel diranjang bayi. Tanya Nadiya sambil membuka kulkas dan melihat apa yang bisa dipakai buat toping mie instan


"Pakai telur, sayur, dan sosis..." Kata Prasetyo sambil sandaran kebantal.


"Ya sudah tunggu sebentar...aku bikinin dulu." Kata Nadiya sambil berjalan kedapur dan mempersiapkan panci untuk memasak air panas.


"Jangan pakai lama ya Nad...." Kata Prasetyo sambil menguap.


"Kalau ngga sabar bikin aja sendiri." Jawab Nadiya karena Prasetyo dianggapnya terlalu bawel.


"Iya...iya...jangan lama-lama ya?"


"Iya...."


Sepuluh menit kemudian Nadiya sudah datang dan membawa mangkok berisi mie yang sudah komplit dengan toping telur dan sosis diatasnya. Nadiya mengurangi takaran bubuk cabenya karena Prasetyo tidak suka pedas.


Nadiya melihat Prasetyo tertidur pulas.


"Pras...mienya sudah matang...kok malah tidur?"


Prasetyo kemudian membuka matanya.


"Ohh ya... sorry...sorry...aku sangat mengantuk. Mana mie nya?"


"Ini...makanlah..." Kata Nadiya sambil menaruh mangkok diatas meja.


"Kamu mau Nad?"


"Tidak Pras...kamu saja....aku mual..."


"Jangan-jangan kamu hamil Nadiya...."


"Ahk...mulai deh...."


"Serius.....biasanya kalau mual itu tandanya gejala awal kehamilan." Kata Prasetyo sambil menyendok mie kedalam mulutnya.

__ADS_1


"Ngga lah! Bisa juga karena beberapa hari terakhir ini waktu makanku ngga beraturan karena sikembar, Jadi mungkin maag ku kambuh..."


"Ya sudah buruan minum obat Nad. Nanti kalau kamu sakit terus siapa yang akan merawat sikembar?"


__ADS_2