Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Sang Juara


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Rossa sedang duduk dipinggir lapangan hijau. Dia melamun dan memikirkan apa yang sudah dilakukanya. Dia adalah salah satu pengurus kompetisi itu dan memastikan agar semua orang siap disana sebelum dimulai.


Namun saat semua orang sudah hadir, hanya ada satu orang yang belum datang, dia adalah Sasha.


Sasha masih ada dikamarnya dan menunggu Elena untuk membantunya mengikat kakinya dengan perban agar tidak sakit saat berlari.


Tok tok tok!


"Masuk!" Kata Sasha dan wajahnya langsung bersinar saat melihat Elena sudah berdiri dipintu.


Tadinya Sasha berpikir akan meminta tolong Rossa. Namun sepertinya tidak mungkin karena Rossa merupakan salah satu pengurus kompetisi sehingga dia akan ada di lapangan dan pasti sibuk.


"Kau yakin akan tetap mengikuti ini?" Tanya Elena.


"Iya. Aku tetap akan mengikuti kompetisi ini." Kata Sasha mantap.


"Baiklah. Aku akan mengikat lutut dan lukanya dengan kain yang kuat, agar tidak nyeri saat berlari." Kata Elena.


Sasha lalu mengangguk dan membiarkan Elena melakukan pekerjaannya.


Dengan gesit dan cepat Elena membalut kaki Sasha dengan kain putih. Lalu dalam waktu sebentar pekerjaan Elena sudah selesai.


"Sekarang coba kau berjalanlah." Kata Elena.


Sasha lalu bangun dan berjalan. Sasha merasa bahwa dia tidak merasakan sakit disekitar kakinya. Dia merasa nyaman untuk berjalan bahkan untuk melompat.


Sasha lalu tersenyum senang dan menatap Elena.


"Terimakasih Elena. Sekarang aku akan pergi kelapangan." Kata Sasha.


"Ya sudah. Aku juga akan kembali ke kampus." Kata Elena.


Setelah Elena keluar dari kamarnya, Sasha juga tidak lama kemudian menyusul dan berlari kelapangan.


Disana semua sudah ada digaris start. Sasha lalu berlari dan langsung berdiri disamping teman-temannya.


Pelatih lalu memberi isyarat dan aba-aba agar semua bersiap.


Pelatih itu melihat kaki Sasha dan menegurnya.


"Kenapa kakimu?" Tanya pelatih itu saat melihat kaki Sasha yang dibalut dengan kain.


"Kemarin jatuh. Tapi sekarang tidak sakit lagi berkat perban ini."


"Kau yakin bisa berlari dengan kaki seperti itu?" Tanya pelatih tersebut.


"Iya. Saya yakin." Kata Sasha.


"Baiklah! Semua bersiap!"

__ADS_1


3


2


Priiiiiiiittttttttt!


Pelatih meniup peluitnya. Lalu pelatih berjalan mundur kepinggir lapangan. Dan berdiri disamping Rossa. Rossa awalnya berpikir jika Sasha akan mundur dari kompetisi ini karena kakinya sakit.


Rossa sama sekali tidak menduga Sasha tetap mengikuti kompetisi ini meskipun kakinya sakit. Rossa melihat raut wajah kecewa dari muka Catrine.


Namun Catrine yakin jika Sasha tidak akan mampu mengalahkannya dengan kaki seperti itu. Sedangkan ketiga teman-temannya sudah menerima uang dari papinya, jadi mereka sudah pasti kalah.


Sekarang yang ada dipikiran Catrine hanya berlari secepatnya dan mengalahkan Sasha. Namun Catrine tidak menyangka Sasha masih bisa berlari secepat itu dengan kaki yang terluka.


Ini benar-benar diluar dugaan. Bahkan Sasha hanya berjarak berapa meter dibelakangnya.


Semua langsung berlari kejalurnya masing-masing.


Sasha terus berlari tanpa mempedulikan apapun lagi. Saat ini yang ada dipikirannya hanya menang dan menang. Dia harus menahan semua rasa demi mendapatkan juara satu. Hanya hari ini kesempatan untuk mewujudkan impiannya.


Ketiga teman Catrine jauh tertinggal dibelakang. Catrine masih berlari paling depan. Sasha ada beberapa meter dibelakangnya.


Tiba-tiba Sasha melihat sosok Regan ada diantara teman-temannya yang bersorak menyebutkan namanya.


Sasha melihat jika Regan mengangkat tangannya dan menyemangatinya. Ini sungguh diluar dugaan. Regan yang awalnya tidak mendukungnya dan mengatakan untuk tidak melihat pertandinganya namun hari ini berdiri diantara para pendukungnya.


Bagi Sasha kehadiran dan dukungan Regan sangat berarti. Disamping Regan dilihatnya Vano juga terus meneriakkan namanya dan mendukungnya.


Catrine yang melihat tiba-tiba Sasha hanya berjarak sedikit dari dirinya mulai panik. Larinya mulai tidak fokus karena takut terkalahkan darinya dan tersusul oleh Sasha.


Menteri yang melihat pertandingan itu sangat cemas saat melihat Sasha hanya berjarak sedikit lagi dibelakang Catrine.


Menteri juga melihat langkah Catrine yang mulai kehilangan fokus karena takut kalah dan takut tersusul oleh Sasha.


Menteri mulai cemas melihat kepanikan Catrine.


Diapun berteriak dan memberikan dukungan pada putrinya untuk terus maju dan jangan cemas.


Namun rupanya tidak begitu terdengar oleh Catrine. Catrine bukanya fokus pada larinya malah fokus pada Sasha yang berlari dibelakangnya.


Hingga sebentar lagi mereka hampir sampai digaris finish.


Regan terus berteriak pada Sasha agar menang dan menjadi juara. Melihat semangat dan dukungan teman-teman nya Sashapun berlari dan menyalip Catrine saat tinggal beberapa meter dari garis finish.


Catrine langsung panik dan berusaha mengajar Sasha namu Sasha keburu memegang benang digaris Finis saat Catrine berada satueyer dibelakangnya.


Catrine begitu lemas dan sedih karena diakhir pertandingan Sashalah yang berhasil mencapai garis finish dan memenangkan pertandingan ini.


Regan dan Vano lalu berlari kearah Sasha dan akan mengucapkan selamat serta memeluknya.

__ADS_1


Namun tiba-tiba sebelum mereka sampai ketempat Sasha, Sasha terkulai lemas dan matanya berkunang-kunang hingga akhirnya diapun pingsan dan ditangkap oleh pelatihnya.


Akhirnya terjadi hiruk pikuk dan mereka panik melihat Sasha yang pingsan dan darah keluar dari kain putih yang terikat dikakinya.


Regan dan Vano berlari semakin kencang berusaha menembus kerumunan orang dan cemas dengan apa yang terjadi pada Sasha.


Pelatih itupun tanpa menunggu lagi langsung membawa Sasha masuk kedalam ambulan yangemang sudah disediakan dan membawanya kerumah sakit terdekat.


Regan dan Vano yang tidak semoatelihat Sasha langsung mengikutinya dari belakang. Mereka mengendari motor dan berboncengan menuju rumah sakit.


Mereka langsung mengikuti Sasha yang sedang disorong oleh dokter dan dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Dan saat mereka akan masuk kedalam ruangan dokter mencegahnya.


"Kalian dilarang masuk. Silahkan tunggu diluar." Kata Dokter kepada Vano dan juga Regan.


Dan juga pelatih disana yang tadi membawa Sasha.


Mereka berdiri diluar dan hanya bisa menunggu hingga dokter keluar dan memberikan kabar baik.


Wajah mereka sangat cemas dan mereka bahkan tidak mampu berkata-kata. Mereka hanya diam dan hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Sasha.


***


Sementara dilapangan Catrine terlihat begitu sedih dan kecewa. Hanya selisih beberapa detik saja dari Sasha namun dia tidak bisa meraih impiannya untuk menjadi sang juara.


Padahal dia sudah melakukan segala cara namun dia sangat menyesal karena didetik terakhir Sasha mampu melampauinya dan mencapai garis finish. Meskipun setelah mencapai garis finish Sasha pingsan, namun tetap saja dia adalah juaranya.


Catrine berdiri dengan lesu dan akhirnya dia berlari keluar dari lapangan dan itu sangat membuat menteri yang sedang berjalan mendekatinya menjadi terkejut.


Melihat Catrine berlari keluar dari lapangan tanpa menunggunya maka dia langsung menyuruh anak buahnya untuk mengejarnya.


Anak buah Menteri melihat Catrine menyetop taksi dan langsung masuk kedalamnya.


"Taksi!"


Catrine langsung masuk tanpa mempedulikan ayahnya dan tanpa menoleh kebelakang.


"Tunggu!" Teriak kedua anak buah Menteri bersamaan.


"Ahk Sial! Taksi itu malah melaju kencang!" Kata salah satu anak buah Menteri.


"Sebaiknya kita beritahu Menteri. Jika terjadi apa-apa denganya, habislah kita." Kata seorang lagi.


Sementara kedua anak buah Menteri tidak mampu mencegahnya karena Catrine terlanjur masuk dan taksi itu melaju dengan kencang.


Anak buahnya langsung menelpon Menteri dan memberitahukan apa yang dilihatnya.


"Maaf pak. Nona Catrine sudah masuk kedalam taksi sebelum kami sampai."Kata salah seorang anak buahnya.

__ADS_1


"Bagaimana kalian ini! Mengejar perempuan saja ngga bisa!" Teriak Menteri dengan kesal.


__ADS_2