
Prasetyo kemudian duduk disamping Freya. Sementara Nadiya memperhatikan dari dapur. Terlihat Prasetyo memandang Freya dengan cinta yang begitu besar dimatanya. Nadiya kemudian menyiapkan makanan untuk makan satu keluarga. Untunglah Arya sudah membeli semua keperluan untuk makan sehari-hari.
Saat Edsel dan juga Eiden asyik bermain dan kedua anak buah Nadiya sudah datang Arya masuk kedalam rumah dan bertemu Nadiya didapur.
"Pak Arya. Ada yang ingin saya bicarakan." Kata Nadiya saat melihat Arya masuk untuk mengambil minuman.
"Ada apa bu?" Tanya Arya dan mendekat pada Nadiya. Sementara matanya sekilas melihat kedekatan antara Prasetyo dan juga wanita yang baru saja datang dan mengaku sebagai kekasih Prasetyo. Drama apalagi ini?
"Kamu pasti bingung melihat keadaan ini. Pak Prasetyo saat ini sedang hilang ingatan. Dan hanya mengingat sebagian kisah hidupnya. Sehingga wanita itu yang bernama Freya aku undang kemari dan berpura-pura menjadi kekasih dari suamiku. Karena saat ini yang dia ingat hanya Freya, kekasihnya. Dan dia bahkan tidak ingat jika dia sudah menikah dan mempunyai anak." Jelas Nadiya.
"Ohh...pantas saja." Kata Arya.
"Untuk sementara kamu bisakan membantu saya menjaga Edsel dan juga Eiden?" Tanya Nadiya.
"Bisa Bu."
"Terimakasih pak Arya."
"Sama-sama Bu."
Nadiya kemudian menyiapkan makanan dan juga piring untuk makan siang.
Dilihatnya Prasetyo masih asyik bercerita dengan Freya, sementara Edsel dan Eiden masih berlarian dihalaman rumah.
"Aku akan menelpon dokter dan menanyakan kabar mami." Kata Nadiya setelah selesai memasak.
"Halo Dokter. Bagaimana kabar mami?" Tanya Nadiya kepada dokter keluarga yang saat ini sedang merawat ibu Monic.
"Siang ini saya akan mengantar ibu Monic pulang. Kesehatannya sudah lebih baik daripada kemarin. Dan ingin rawat jalan saja dirumah." Kata Dokter di telepon.
"Baiklah dokter, terimakasih."
Nadiya kemudian berjalan mendekati Prasetyo dan memberitahu jika ibunya nanti siang akan datang.
"Pras! Mami akan pulang siang ini. Keadaanya sudah lebih baik sekarang." Kata Nadiya sambil beralih pandangan dan melihat Freya.
"Iya. Nadiya." Kata Prasetyo.
"Aku akan memanggil sikembar untuk makan bersama. Ayo kita makan." Kata Nadiya sambil berjalan keluar memanggil Edsel dan juga Eiden.
"Edsel! Eiden! Sudahan dulu mainnya! Ayo makan dulu.....!" Teriak maminya.
"Iya mami...." Kata mereka bersamaan.
Merekapun berlari mendekati maminya dan mencuci tangan mereka yang kotor.
__ADS_1
"Cuci tangan yang bersih. Ini kalian pakai sabun biar kumannya mati. Setelah itu bilas yang bersih." Kata Nadiya sambil memperhatikan tangan mungil mereka yang kotor.
"Kalian main bola apa main pasir?"
"Main bola dan pasir mami." Jawab mereka bersamaan.
"Pantas saja tangan kalian sangat kotor." Kata Nadiya sambil membantu Edsel dan juga Eiden membersihkan sela-sela jarinya.
"Mami....!" Kata Edsel.
"Ya...." Jawab Nadiya.
"Papi kok aneh sih mami. Edsel merasa Papi berubah. Biasanya kalau lama tidak bertemu kami maka Papi akan memeluk dan main terus sama kami." Kata Edsel.
"Iya Mi. Papi sepertinya lupa pada kami dan membiarkan kami main sendirian." Kata Eiden.
"Papi kalian masih sakit. Jadi kalian untuk sementara jangan terlalu dekat dulu sama papi ya?" Kata Nadiya.
"Papi masih sakit kok sudah boleh pulang? Artinya papi sudah sembuh mami."
"Tapi papi kalian masih belum pulih benar. Dan masih harus banyak istirahat. Kalian mengerti?"
"Tapi mi....kenapa kedua om itu menyimpan semua foto mami? Kemarin semua foto diturunin oleh om itu dan disimpan di gudang." Kata Edsel.
"Karena kita akan ganti dengan foto yang baru." Kata Nadiya asal saja.
"Ayo sekarang kalian masuk dan duduk dimeja makan, mami akan menyuapi kalian makan."
Mereka lalu berlarian masuk kedalam dan duduk dimeja makan. Disana sudah duduk Prasetyo dan juga Freya berdekatan.
"Tante, itu tempat duduk mami. Biasanya mami duduk disana." Kata Edsel kepada Freya. Freya pun tersenyum dan akan berpindah, namun Nadiya mencegahnya.
"Ngga! Ngga papa...duduk saja disitu. Aku masih akan menyuapi anak-anak." Kata Nadiya sambil tersenyum kepada Prasetyo dan juga Freya.
"Nadiya masakanmu sangat enak. Aku menyukainya. Lama dirumah sakit membuatku tidak nafsu makan." Kata Prasetyo.
"Iya dong papi. Masakan mami memang paling enak!" Jawab Edsel.
"Papi....?" Kata Prasetyo bingung.
"Iya. Karena mereka terbiasa dengan panggilan itu. Kau yang menyuruhnya bukan?"
"Ohhh begitu ya...aku lupa." Kata Prasetyo.
"Papi lupa ya? Kalau kita biasanya masak didapur bersama-sama..."
__ADS_1
"Edsel! Eiden...ayo makan dulu...ceritanya nanti..." Kata Nadiya agar Prasetyo tidak terbebani dengan hal-hal yang memberatkan kerja otaknya.
"Masak? Benarkah....apalagi yang biasa kita lakukan?" Tanya Prasetyo kepada Edsel dan juga Eiden.
"Banyak Pi....tapi Edsel ngga mau kasih tahu. Papi kaya udah tua aja. Masa papi sudah lupa..." Gerutu Edsel.
"Kalian jangan berbicara terus, nanti keselek. Edsel telan dulu makananya." Kata Nadiya.
Tiba-tiba Ibu Monic sudah berdiri dipintu. Nadiya langsung menaruh mangkok dan menyambut kedatangan Ibu mertuanya.
"Mami....." Tangis Nadiya pecah saat ingat bagaimana keadaan Prasetyo saat ini.
"Nadiya....kapan kalian kembali?" Tanya Ibu Monic.
"Tadi pagi mi....tapi.... Prasetyo."
"Kenapa dengan Prasetyo?"
"Setelah koma Prasetyo mengidap amnesia. Dia lupa jika sudah menikah dan hanya ingat tentang Freya kekasihnya. Dan jika otaknya bekerja terlalu keras untuk mengingat banyak hal maka bisa berakibat fatal. Sehingga terpaksa Nadiya memanggil Freya untuk membantu memulihkan ingatannya." Jelas Nadiya berbisik kepada Ibu Monic.
"Mami sedih mendengarnya Nadiya. Kamu yang sabar ya...."
"Iya mi....sekarang mereka lagi dimeja makan."
"Saat mami pingsan dan masuk rumah sakit siapa yang menjaga Edsel dan juga Eiden?"
"Mereka bersama Pak Arya. Akunting kantor Nadiya namun sudah mengundurkan diri saat awal wabah terjadi."
"Bagaimana kamu bisa percaya begitu saja Nadiya, kepada orang asing untuk menjaga Edsel dan juga Eiden?"
Nadiya kemudian menceritakan bagaimana kejadianya saat Ibu mertuanya pingsan dan ditolong oleh Arya. Dan Nadiya masih dalam masa karantina.
"Namun ada dua anak buah Nadiya yang juga membantu pekerjaan Pak Arya dalam menjaga mereka mami." Kata Nadiya.
"Ya sudah. Kalau memang begitu kejadianya. Syukurlah kedua cucuku baik-baik saja." Kata Ibu Monic lalu masuk kedalam dan menemui Edsel dan juga Eiden.
"Pras.... Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Ibu Monic mengkhawatirkan Prasetyo.
"Prasetyo baik-baik saja mi. Bagaimana dengan mami? Apakah mami sudah sehat? Maaf ya mi, Prasetyo tidak menjenguk mami. Prasetyo baru saja pulang." Kata Prasetyo.
"Tante....apa kabar!" Sapa Freya yang memang sudah mengenal ibu Monic saat mereka tinggal diluar negeri.
"Tante baik. Bagaimana kabar kamu, sudah lama tidak kelihatan." Kata Ibu Monic.
"Saya tugas didaerah pedalaman Tante." Kata Freya sambil menuangkan air mineral untuk Prasetyo.
__ADS_1
Nadiya kemudian menyiapkan piring untuk ibu mertuanya. Dan mengajak Edsel dan juga Eiden untuk pindah ketempat lain. Dan membiarkan mereka bertiga berbincang-bincang.
Sesekali Nadiya melihat keakraban mereka dan sesekali melihat wajah Prasetyo dan memandangnya begitu lama.