Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Mayat dilorong bawah tanah


__ADS_3

Hai semua! 😃😍


Terimakasih untuk kalian yang masih setia dengan kisah ini.


Sekarang kita beralih dulu ya, ke kisah Sasha dan Regan.


Kisah Nadiya kita jeda dulu 😍🥰


***


Vano langsung masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu. Dia masih terbayang dengar akar pohon yang melilitnya dan lengket serta berlendir.


Vano kemudian melihat kedua telapak tangannya dan melihat sisa lendir yang masih menempel disana.


"Iiiissshhhh!"


"Menjijikan!"


Vano kemudian langsung kekamar mandi dan mencuci kedua tangannya dengan sabun.


"Lendir apa ini? Aku penasaran dengan apa yang tadi aku alami. Apakah orang lain juga pernah mengalami ilusi itu?" Tanya Vano pada dirinya sendiri.


Tok! tok! tok!


"Masuk ngga dikunci!" Kata Vano sambil rebahan.


"Jack?" Vano menoleh dan ternyata itu Jack sepupunya.


"Ngapain kesini?" Tanya Vano.


"Dimana Sasha?"


"Dikamarnyalah! Masa Lo tanya gua?"


"Akhir-akhir ini Lo deket kan sama dia?" Tanya Jack


"Emang kenapa? Lo keberatan?" Jawab Vano tanpa menoleh.


"Iya! Gua keberatan!"Jawab Jack.


"Lo suka sama dia? Kalau Lo suka? Kenapa Lo ngga ngomong langsung ke dia? Lo malah marah-marah ke gua?"


"Gua tunggu saat yang tepat."


"Ciiiihhh! Hari gini Lo nunggu saat yang tepat mah keburu dicomot orang." Kata Vano.


"Jauhi Sasha! Dia punya gua!" Kata Jack.


"Lo pacarnya? Setahu gua saat ini Sasha tidak pacaran dengan siapapun. Jadi dia bebas mau kencan dengan siapa saja." Kata Vano dan bikin Jack keki.


"Lo nantangin gua?" Tanya Jack.


"Terserah deh Lo mikirnya gimana? Tapi selama Sasha ngga nolak jalan sama gua. Kenapa Lo yang repot. Keluar Lo dari kamar gua!" Usir Vano.


"Sial!" Umpat Jack sambil menendang meja.


"Sakit kan? Lo sih? Udah tahu meja ditendang. Bonyok! Bonyok dah tu kaki!" Kata Vano sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Awas jika sampai Lo bikin Sasha kecewa. Gua gak akan maafin lo! Ingat kata-kata gua!"


"Assshh! Shiiitttttt! Keluar Lo! Ngga Regan! Ngga Elo! Anjir semua!" Umpat Vano lalu menutup mukanya dengan bantal.


Jack pun keluar dari kamar Vano dan menutup pintu dengan keras.


Daaaaccckkkk!


Jack adalah salah satu sahabat Sasha. Dia diam-diam suka namun tidak berani mengungkapkannya. Dia takut jika cintanya bertepuk sebelah tangan maka, persahabatan mereka tidak bisa dilanjutkan lagi. Dan bahkan yang lebih parah jika sampai cintanya ditolak maka Sasha akan menghindar dari dirinya.


Sasha memang terbilang cantik dan senyumnya juga manis. Namun dia sangat keras kepala dan sedikit egois.


Sebenarnya dia tahu jika Jack diam-diam suka padanya. Namun Sasha tidak bisa mencintai Jack. Entah kenapa tidak ada perasaan lebih selain sekedar teman biasa.


Pagi harinya.


"Ada mayat!" Kata salah seorang mahasiswa.


"Dimana?" Teriak yang lainya.


"Disana? Dilorong bawah tanah!"


"Ayo kita kesana?" Teriak yang lainnya.


"Mayatnya perempuan! Sepertinya dia sedang hamil. Lihat! Perutnya itu...." Kata yang lainya.


"Pergelangan tangannya berdarah! Dia sengaja melukai dirinya sendiri. Coba kita lihat apakah dia masih bernyawa atau tidak? Siapa tahu masih bisa diselamatkan!" Kata yang lainya.


"Ya Tuhan! Dia sudah meninggal." Kata Madina yang memeriksa detak jantungnya.


"Ayo kita bawa dia dan kita lapor polisi."


"Minggir! Minggir! Polisi sudah datang!"


Para mahasiswa yang tadi berkerumunpun langsung memberi jalan pada beberapa polisi yang datang karena mendapat laporan tentang kejadian ini.


Beberapa polisi lalu memberikan garis kuning dan membawa gadis itu kedalam mobil ambulans.


"Ada saksi yang melihat kejadian ini?" Tanya Polisi.


"Siapa yang pertama kali melihat semua ini?" Tanya polisi lagi.


Para mahasiswapun menjadi gaduh dan saling menuduh siapa yang memberikan kabar tersebut untuk pertama kalinya.


"Jack! Dia yang pertama kali melihatnya." Kata salah seorang mahasiswa.


"Ya pak. Saya yang pertama kali melihat ada mayat disini." Kata Jack sambil maju kedepan setelah mengumpulkan keberanian.


"Sebaiknya anda ikut kami kekantor polisi untuk memberikan kesaksian."


"Saya tidak akan ditahan kan pak?" Kata Jack ketakutan.


"Tidak! Anda hanya akan memberikan kesaksian saja."


"Sasha! Temani yuk!" Ajak Jack pada Sasha yang berdiri disebelahnya.


"Nggak ah! Gue banyak kerjaan!" Kata Sasha.

__ADS_1


"Please Sasha...." Pinta Jack. Akhirnya Sashapun menemani Jack kekantor polisi setelah melihat Jack yang ketakutan.


"Gue gemetar! Gue masih ingat bagaimana pertama kali gue menemukan gadis itu. Mana dia lagi hamil lagi." Kata Jack.


"Lagian ngapain sih Lo, pagi-pagi pergi kesana?" Tanya Sasha.


"Gue cari buku. Diperpustakaan atas ngga ada. makanya gue cari kebawah."


"Kenapa perginya sendirian? Lain kali bawa teman kalau pergi ke perpustakaan dibawah tanah."


"Gua ngga kepikiran sampai kesana. Biasanya juga ngga ada apa-apa. Ini nih! Gara-gara pada nyebarin gosip tentang arwah gentayangan, ruangan bawah tanah jadi sepi. Dan pada kemana sih yang jaga? Heran gue." Kata Jack sambil mengusap keringat dingin dikeningnya.


"Lo nyampe keringetan gitu?" Kata Sasha sambil ketawa.


"Gue deg-degan Sasha. Pegang nih! Tangan gue sampai dingin seperti ini." Kata Jack sambil menggenggam tangan Sasha dan memperlihatkan tanganya yang sedingin es.


"Tapi kalau menurut loh! Tuh cewek, bunuh diri apa dibunuh ya? Gue lihat perutnya membesar Seperti sedang hamil gitu."


"Biasanya sih kalau lukanya dipergelangan tangan artinya dia bunuh diri."


"Ohhh begitu ya. Tapi pasti ada sebabnya kan kenapa dia bunuh diri. Apalagi dia masih berstatus sebagai mahasiswa. Jangan-jangan....."


"Dia hamil diluar nikah!" Jawab Sasha dan Jack bersamaan sambil saling menatap satu sama lainya.


"Kok kita bisa sependapat sih?" Tanya Sasha.


"Mungkin kehamilanya yang menjadi alasannya bunuh diri." Kata Jack.


"Ya. Lo benar. Mungkin kekasihnya tidak mau bertanggung jawab sehingga membuatnya frustasi." Kata Sasha.


"Lo kenal ngga sama wanita tadi?" Tanya Jack.


"Gue ngga sempat lihat mukanya." Kata Sasha.


"Gue sih sempat lihat, kalau ngga salah gue pernah lihat dia jalan sama Vano."


"Ahk! Lo jangan ngaco deh! Nanti bisa menjadi masalah serius jika terdengar oleh polisi. Bahkan Vano bisa saja diminta kesaksiannya."


"Ya....emang benar sih. Gue pernah lihat dia jalan bareng sama Vano."


"Hanya jalan bareng saja. Belum tentu mereka pernah pacaran kan? Apalagi sampai terjadi kehamilan diluar nikah. Gue sih ngga percaya." Kata Sasha.


"Kenapa sih! Lo peduli amat sama si Vano itu?"


"Ya bukanya begitu Jack. Jangan sampai kita membuat opini yang tidak benar. Ingat loh, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan."


"Lo sepertinya sekarang semakin dekat ya sama Vano?"


"Kita lagi ngga ngebahas gue ya....."


"Oke! Oke! Kembali ke topik pembicaraan." Kata Jack.


"Kita sudah sampai. Ayo buruan turun!" Kata Sasha.


"Gue ketar-ketir nih! Takut salah ngomong!" Kata Jack.


"Yang penting, kamu katakan apa yang kamu lihat. Kalau kamu ngga grogi, pasti kamu ngga akan salah ngomong."

__ADS_1


"Gitu ya?"


"He-em!" Kata Sasha dan berjalan disamping Jack sahabatnya.


__ADS_2