
Prasetyo masih terbaring dan matanya terpejam akibat pengaruh obat. Dokter masih mengawasinya dan juga Nadiya. Tiga jam kemudian Prasetyo terbangun dan menatap Nadiya sangat lama.
Nadiya hanya diam saja dan mencoba menafsirkan arti tatapan suaminya.
Apa yang kamu pikirkan sekarang? Apakah kau sudah ingat jika aku adalah istrimu? Tatapanku sangat hangat seakan kau telah mengingat semuanya. Aku merasakan sentuhan yang penuh kasih sayang dari tatapanmu itu.
Gumam Nadiya.
Aku merasa berdebar-debar saat menatapmu. Tapi kau adalah istri dari temanku? Tapi kenapa hatiku bergetar dan ada desiran menyakitkan saat menatapmu? Siapa kau? Kenapa sulit sekali mengingat segalanya. Bahkan aku tidak ingat kapan terakhir kali dan pertama kali bertemu denganmu. Dalam ingatanku semua hanya seperti bayangan hitam yang tidak terlihat jelas siapa mereka yang pernah kutemui.
Gumam Prasetyo didalam hatinya saat menatap wajah Nadiya.
Prasetyo kemudian tersenyum tipis kepada Nadiya. Dan wajahnya makin terlihat memikat dengan senyuman itu. Nadiya hampir saja tidak bisa menahan diri untuk memeluknya.
Nadiya mendekat dan tangannya mengucap sesuatu dipipi Prasetyo. Prasetyo merasakan sentuhan tangan Nadiya dengan desiran yang luar biasa namun dia tidak bisa mengartikanya.
"Kau mau apa?"
"Ada semut di wajahmu. Biar aku ambil sebelum dia masuk ke telingamu." Kata Nadiya beralasan agar bisa menyentuh wajah suaminya yang sangat dirindukannya.
Prasetyo menatap dekat sekali wajah Nadiya. Dan dadanya kembali berdesir. Entah kenapa dia ingin disentuh sekali lagi oleh jemari halus Nadiya dan merasakan desiran dari sentuhan itu.
"Siapa kau?" Tanya Prasetyo saat dia berulang kali merasa bahwa kedekatan mereka bukanlah kedekatan layaknya teman biasa.
"Aku adalah istri dari temanmu."
"Tapi aku merasa kita begitu dekat." Kata Prasetyo.
"Itu karena kita sudah seperti keluarga. Kita tinggal satu atap selama bertahun-tahun. Dan tentu saja hubungan kita sangat dekat." Jawab Nadiya tetap pada pendiriannya karena itu demi kesehatan suaminya. Nadiya tidak ingin Prasetyo berpikir keras dan pingsan kembali.
"Aku merasa kau mirip dengan kekasihku."
"Kekasih?" Tanya Nadiya kaget.
"Iya. Dimana kekasihku?"
"Aku tidak tahu jika kau punya kekasih? Kau tidak pernah membawa pulang kekasihmu." Jawab Nadiya yang merasa cemburu pada ingatan Prasetyo tentang kekasihnya.
"Dia sangat mirip denganmu. Namanya Freya."
"Freya? Kau tidak pernah membicarakanya sebelumnya." Kata Nadiya yang juga kaget saat pertama kali mendengar nama Freya disebut oleh Prasetyo.
"Dia adalah seorang dokter gigi."
"Dokter gigi?" Tanya Nadiya sangat kaget. Prasetyo tidak pernah mengatakan apapun sebelumnya tentang masa lalunya.
Deg.
Jantungnya menjadi berdebar-debar saat Prasetyo semakin menggali ingatannya tentang kekasihnya.
"Iya. Dia adalah dokter gigi. Aku terus menunggunya karena saat itu dia pergi tanpa alasan dan aku tetap menunggunya. Namun dia tak pernah datang lagi. Aku sudah berjanji untuk menikah dengannya dan diapun sama. Namun dia bertugas di daerah terpencil. Bisakah kau menelponya? Aku masih menyimpan nomor terakhirnya. Dia mungkin bisa membantu mengembalikan ingatanku." Kata Prasetyo menatap Nadiya.
Nadiya mengangguk dan menyetujui untuk menelpon Freya demi ingatan Prasetyo. Karena jika ingatannya tidak kembali maka.....airmata Nadiya mulai menetes dan membasahi pipinya yang putih.
"Kau menangis?" Tanya Prasetyo. "Kemarilah....aku tidak tahan melihat seorang wanita yang cantik sepertimu menangis didepanku." Kata Prasetyo sambil mengusap airmata Nadiya.
"Aku hanya sedih karena tidak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi padamu."
"Kau juga sedih?"
__ADS_1
"Tentu saja. Bukankah kita sudah seperti keluarga?"
"Iya. Kau benar. Kita pasti sangat dekat hingga kau sedih dan menangis." Kata Prasetyo.
"Dimana kau bertemu dengan Vino sahabatku?"
"Ehm....aku...bertemu dia di...kami dijodohkan." Kata Nadiya.
"Jaman sekarang masih dijodohkan? Aku tak percaya dizaman now masih ada perjodohan."
"Ayahku yang ingin agar aku menikah dengannya."
"Kau menikah tanpa cinta?"
"Awalnya aku memang tidak mencintainya. Namun setelah kita bersama aku melihat cinta yang begitu besar dimatanya. Dan dia telah membuatku hanya hidup untuk mencintainya saat ini."
"Jadi cinta kalian tumbuh setelah kalian bersama?" Tanya Prasetyo.
"Iya. Orang jawa bilang, witing trisno jalaran seko kulino. Aku mulai mencintainya karena kami terbiasa bersama." Kata Nadiya sambil mengalihkan pandangannya kearah jendela.
"Kalau aku, aku hanya akan menikah dengan orang yang aku cintai. Dan bagiku cinta selalu datang diawal pertemuan dan bukan melalui kebersamaan."
"Benarkah?"
"Iya. Aku sering bersama banyak teman wanita. Namun aku tidak pernah mencintai satupun dari mereka. Sementara dengan Freya, aku langsung jatuh cinta padanya saat pertama kali melihatnya."
"Begitukah?" Tanya Nadiya dengan rasa cemburu yang mengobrak-abrik dadanya.
"Apakah kau pernah jatuh cinta pada pandangan pertama?" Tanya Prasetyo.
"Tidak! Aku tidak mempercayai orang yang baru aku kenal. Aku hanya akan mencintainya setelah aku mengenalnya dan tahu kepribadianya." Kata Nadiya.
"Bawa sini saja suster." Kata Nadiya. "Terimakasih suster." Kata Nadiya sambil menerima nampan berisi makanan untuk mereka berdua.
"Apakah kau bisa makan sendiri?" Tanya Nadiya saat dilihatnya Prasetyo sudah lebih baik keadaanya.
"Aku merasa lebih baik sekarang. Aku akan makan sendiri." Kata Prasetyo.
"Baiklah. Jika begitu aku akan makan di tempatku."
Tiba-tiba tangan Prasetyo memegang pergelangan tangan Nadiya.
"Makanlah disini. Kita bisa makan bersama sambil bercerita. Entah kenapa aku suka berbicara denganmu." Kata Prasetyo.
"Baiklah." Kata Nadiya lalu duduk kembali.
"Oya....apakah kau sudah punya anak?" Tanya Prasetyo sambil makan.
"Sudah."
"Berapa anakmu?"
Nadiya diam sejenak.
"Tiga...."
"Siapa namanya. Aku bahkan tidak ingat nama anakmu? Apakah aku sering bermain dengan mereka sebelumnya?"
"Tentu saja. Kau selalu menemani mereka belajar dan bermain." Kata Nadiya. "Regan adalah anak pertamaku. Dia sedang kuliah di Harvard university. Dan aku punya dua anak kembar laki-laki."
__ADS_1
"Mereka pasti lucu sekali. Jika kau disini, lalu bagaimana dengan mereka? Siapa yang menjaga mereka?" Tanya Prasetyo.
"Mereka aku titipkan kepada anak buahku. Aku harus menjalani karantina bersamamu. Jadi kita ada diruangan yang sama. Semoga saja hasil tes darah nanti menunjukan jika kita sudah terbebas dari virus itu. Sehingga kita bisa segera kembali kerumah." Kata Nadiya.
"Iya. Semoga kita lekas keluar dari sini. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan kedua jagoanmu. Mungkin mereka bisa membantu memulihkan ingatanku kembali." Kata Prasetyo yang dalam waktu sekejap sudah menghabiskan makananya.
Nadiya kemudian memberikan obat-obatan untuk diminum oleh Prasetyo.
"Minumlah ini. Aku akan mengambilkanmu air putih." Kata Nadiya sambil berjalan kearah dispenser.
Freya...Freya....Freya....
Ingatan Nadiya terus berbisik tentang Freya, nama yang diingat oleh Prasetyo.
"Ini nomor telepon Freya. Bisakah kau menelponnya untukku?" Tanya Prasetyo kepada Nadiya setelah meminum obatnya.
Nadiya kemudian menatap Prasetyo dengan rasa yang tak tertahankan.
"Baiklah." Kata Nadiya kemudian.
Nadiya mulai menelpon Freya. Kekasih Prasetyo.
"Halo.... saya Nadiya. Apakah ini Freya...?" Kata Nadiya saat terdengar suara halo dari dalam teleponya.
"Benar. Saya Freya. Kalau boleh tahu ada apa ya?"
Nadiya kemudian memberikan telepon genggamnya kepada Prasetyo.
"Halo Freya. Ini aku Prasetyo." Kata Prasetyo dengan bibir tersenyum manis.
"Prasetyo bagaimana kabarmu? Dan kenapa kau baru menghubungiku? Kamu Kemana saja?" Tanya Freya.
"Bisakah kau datang kemari?" Kata Prasetyo to the point.
"Kemana?"
"Indonesia. Aku ada di Jakarta. Nanti aku kasih tahu alamat rumahku."
"Aku juga sedang ada dijakarta saat ini." Kata Freya.
"Benarkah?"
"Iya. Aku sudah lama tinggal disini. Aku tinggal di pedalaman Papua dan aku membuka klinik disana. Ceritanya panjang hingga aku memutuskan untuk membuka klinik gigi didaerah pedalaman. Tapi saat ini aku sedang mengunjungi ibuku yang sedang sakit. Jadi aku agak lama berada di Jakarta."
"Kalau begitu. Aku akan mengirim alamat rumahku melalui wa."
"Oke."
Prasetyo sangat bahagia sekali. Dan mengirim alamatnya menomor Freya.
"Dokter, kapan kami bisa pulang?" Tanya Prasetyo kepada dokter yang merawatnya.
"Satu Minggu lagi. Kalian bisa pulang saat hasil tesnya negatif selama dua kali berturut-turut."
Nadiya melihat aura kebahagiaan diwajah suaminya dan membuatnya tertegun.
"Hai...Nadiya ...ternyata Freya ada dijakarta. Dan aku sudah mengirimkan alamat rumahku kepadanya. Akhirnya setelah sekian lama aku bisa menemuinya." Kata Prasetyo.
Nadiya hanya mengangguk tak berdaya. Karena hanya Freya yang saat ini dia ingat. Nadiya harus menemui Freya sebelum Freya bertemu dengan Prasetyo. Dan menjelaskan semuanya tentang hubungan Nadiya dan Prasetyo. Bahwa saat ini ingatannya sedang terganggu dan hanya Freya yang dia ingat.
__ADS_1
Semoga saja Freya bukanlah orang yang sulit diajak kerja sama. Nadiya kemudian mencatat nomor Freya dan akan menelponya nanti setelah Prasetyo tertidur.