
Prasetyo harus keluar rumah hari ini karena ada rapat penting. Mobil itu kemudian melaju menuju ke kantornya. Disana semua anggota rapat sudah menunggu dan siap untuk sebuah gebrakan yang baru selama wabah terjadi.
Sebelum masuk kantor Prasetyo tidak lupa untuk mengecek apakah prokes sudah dijalankan dikantornya selama wabah terjadi. Prasetyo kemudian mencuci tanganya menggunakan sabun sebelum masuk kedalam kantor.
Dan tidak hanya itu saja, Prasetyo masuk kesebuah ruangan khusus untuk disterilkan dari virus dan kuman yang menempel selama diperjalanan.
"Apakah semua anggota rapat hari ini menjalankan prokes pak, sebelum masuk keruang rapat?" Tanya Prasetyo kepada salah seorang koordinator.
"Sudah pak." Jawab lelaki itu.
Prasetyo kemudian masuk kedalam dan langsung memulai rapat untuk gebrakan yang baru. Dan mencari solusi untuk beberapa hotel yang ditutup dan tidak beroperasi.
"Selamat pagi...." Kata Prasetyo.
"Pagi pak...."
"Kita bisa mulai sekarang?" Kata Prasetyo sambil membuka beberapa berkas dan juga layar monitor.
"Baiklah. Silahkan kalian berikan masukan dan kalian biasa jelaskan kerugian dan keuntungan dari setiap tindakan yang akan diambil."
Kemudian semua anggota rapat satu persatu maju kedepan dan mempresentasikan apa yang sudah mereka siapkan dirumah mereka masing-masing.
Rapat itu berjalan lama dan selesai hingga sore hari. Prasetyo merasa kelelahan dan langsung pulang.
"Pras, gimana rapatnya?"
"Semua berjalan lancar. Tapi sepertinya aku merasa tidak enak badan Nad. Aku mau istirahat dulu." Kata Prasetyo sambil masuk kedalam kamar.
"Ngga makan dulu Pras." Kata Nadiya yang sudah menyiapkan makanan untuk Prasetyo.
"Nanti saja Nad." Kata Prasetyo langsung naik keatas dan rebahan diranjangnya.
Tiga jam kemudian Nadiya mulai khawatir karena Prasetyo tidak juga bangun dan makan malam.
"Pras....bangun Pras....makan dulu..." Kata Nadiya saat sudah ada didekat suaminya. Nadia kemudian menaruh punggung tangannya dikening Prasetyo.
"Astaga! Badanmu panas sekali Pras!" Kata Nadiya panik. Lalu Nadiya langsung turun kebawah dan menitipkan Edsel dan juga Eiden kepada Ibu Monic.
"Mi...Nadiya titip mereka berdua ya? Prasetyo demam." Kata Nadiya langsung berlari naik keatas lagi.
"Demam?" Ibu Monic masih terbengong dan Nadiya sudah tidak terlihat olehnya.
"Oma! Oma! Eiden mau main sama mami..." Kata Eiden sambil berlari dengan ketapelnya.
"Jangan ganggu mami kalian. Sama Oma dulu ya. Papi kalian lagi sakit. Jadi biarkan Mami mengobati papi kalian dulu." Kata Ibu Monic sambil menarik tangan Eiden yang sudah mau berlari kelantai tiga.
"Tapi Oma....Eiden mau sama Mami!" Kata Eiden karena merasa sudah terbiasa dengan maminya.
"Edsel juga mau sama mami!"
"Dengerin Oma!" Ibu Monic mulai meninggikan suaranya karena mereka ngeyel dan tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan.
__ADS_1
Terlebih lagi Ibu Monic juga sedang sangat khawatir pada keadaan Prasetyo.
Hiks...! Hiks....!
Edsel dan Eiden mulai menangis bersamaan. Dan langsung membuat Ibu Monic menyadari kesalahannya karena sudah membentak keduanya.
"Maafin Oma ya anak-anak. Kemarilah...." Kata Ibu Monic mengulurkan kedua tangannya dan akan bermaksud memeluk keduanya.
"Ngga! Kami ingin mami!" Kata Edsel dan juga Eiden bersamaan.
Tentu saja Ibu Monic yang awalnya sudah iba dengan kedua cucunya langsung menjadi kesal kembali.
"Kalian ini! Tidak mau mengerti juga." Kata Ibu Monic sambil mendekati keduanya.
Tapi mereka berdua malah lari kelantai tiga dan masuk kekamar maminya.
"Stop!" Teriak Nadiya yang mulai curiga jika Prasetyo terkena wabah cvd. "Berhenti disitu!"
"Tapi kami ingin dekat dengan mami dan papi...." Kata mereka bersamaan dari garis pintu tempat mereka berdiri dan tidak berani masuk setelah maminya melarangnya.
"Jaga jarak! Papi kalian lagi tidak sehat." Kata Nadiya.
"Tapi mi...." Mereka masih ngeyel.
Kemudian dari belakang kedua anak kembarnya muncul ibu mertuanya yang tergopoh-gopoh mengejar kedua cucunya.
"Kalian ini!" Kata Ibu Monic sambil memegang kedua bahu sikembar.
"Benarkah Nadiya?" Tanya Ibu Monic semakin khawatir.
"Sudah dibilangin suruh dirumah dulu. Tapi Prasetyo itu ngeyel mau pergi kekantor dan mengadakan rapat tatap muka."
"Demamnya makin tinggi mi...." Kata Nadiya.
"Apakah kamu sudah menelpon dokter pribadi Nad?"
"Sudah mi. Sedang dalam perjalanan."
"Baiklah jika begitu biarkan Edsel dan Eiden sama Oma dulu." Kata Ibu Monic.
"Oma....nitip mereka. Mungkin Nadiya juga bisa terkena virus itu. Karena Nadiya berdekatan dan menyentuh kulit Prasetyo." Kata Nadiya dengan mata berkaca-kaca.
"Ya sudah....mereka akan tidur sama Oma mulai malam ini. Sampai menunggu perkembangan selanjutnya." Kata Ibu Monic.
"Bell berbunyi sepertinya Dokter sudah datang." Kata Nadiya.
"Ayo kalian ikut Oma. Oma akan membukakan pintu untuk dokter yang akan memeriksa Papi kalian." Kata Ibu Monic sambil menatap dan mengangguk pada Nadiya.
"Kami mau disini saja!" Kata mereka berdua.
"Tidak! Ayo ikut Oma!"
__ADS_1
Akhirnya Edsel dan Eiden pun ikut dibelakang Omanya sambil berbisik-bisik.
"Kenapa dengan Papi Edsel? Kau tau kenapa kita dilarang masuk ke kamar mereka?" Tanya Eiden sambil berbisik ditelinga Edsel.
"Karena saat ini sedang ada virus yang berbahaya. Dan kita harus menjaga jarak dari setiap orang yang terkena virus itu supaya kita tidak sakit." Kata Ibu Monic menjelaskan sambil turun kebawah setelah mendengar bisik-bisik cucunya.
Edsel dan Eiden berpandangan dan masih tidak mengerti apa maksud dari yang dikatakan Omanya.
Ceklek!
"Silahkan masuk dokter. Mari saya antarkan keatas." Kata Ibu Monic.
"Apakah Pak Prasetyo beberapa hari ini keluar rumah?" Tanya dokter itu.
"Benar Dokter."
"Baiklah saya akan segera memeriksanya." Kata Dokter bergegas naik kelantai tiga.
Dokter keluarga itu kemudian masuk dengan APD lengkap dan langsung memeriksa Prasetyo yang seperti kehilangan kesadaran.
"Kita harus segera membawanya kerumah sakit. Tadi saya sudah menghubungi ambulan mungkin dua menit lagi akan sampai." Kata Dokter kepada Nadiya.
Benar dugaanku...mungkin Prasetyo terpapar virus karena terlalu lama bertatap muka dengan banyak orang selama rapat. Meskipun sudah jaga jarak, tapi udara yang berputar disekitar ruangan bisa saja menjadi media penyebaran virus itu. Gumam Nadiya.
Tidak lama kemudian terdengar sirine ambulan didepan rumah Nadiya. Dan empat orang berpakaian APD lengkap langsung masuk kedalam dan akan membawa Prasetyo kedalam mobil ambulan.
"Siapa mereka Oma? mereka berpakaian mirip astronot." Kata Edsel.
"Mereka lebih mirip alien dalam film itu...." Kata Eiden yang memang belum mengerti apa-apa.
"Kalian menjauh dari sini." Kata Oma.
"Tidak!"
"Kali ini dengerin Oma? Atau kalian mau dibawa oleh mereka?" Kata Ibu Monic gregetan.
"Tidaaakkk...."
"Kalau gitu pergi kesana. Jangan dekat-dekat dengan mami atau papi kalian."
"Oma juga?" Tanya mereka.
"Ya. Oma juga tidak boleh dekat-dekat dengan mami atau papi kalian." Kata Ibu Monic.
Prasetyo kemudian diangkat naik kemobil ambulan dan Nadiya juga ikut bersama mereka untuk pemeriksaan kesehatanya.
Nadiya turun dan matanya berkaca-kaca melihat kedua buah hatinya yang menangis karena ketakutan.
"Kalian baik-baik dirumah ya. Mami harus menemani papi kalian. Dan jangan nakal sama Oma. Kalian mengerti?" Kata Nadiya dari jarak jauh.
Eiden hampir saja berlari memeluknya.
__ADS_1
"Stop Eiden. Mundurlah...." Kata Nadiya tak kuasa menahan tangisnya karena harus meninggalkan kedua anaknya dirumah.