Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Duka yang dalam


__ADS_3

Sandra lalu mengangguk dan tersenyum. Betapa senang hatinya karena ternyata semuanya begitu mudah sesuai dengan keinginannya.


Sandra lalu mengangkat bahunya dan tersenyum kepada anak-anak yang sedang duduk didepan televisi.


"Ayo kita kerjakan PRnya sekarang. Tante akan membantu kalian." Kata Sandra sambil menatap lembut kepada dua bocah yang sekarang sudah besar.


Mereka begitu imut dan tampan. Pipinya juga sangat cubby. Mereka begitu menggemaskan dimatanya.


Dia tidak sabar ingin memeluknya. Namun karena baru bertemu tentu saja hal itu tidak bisa dilakukanya.


Mereka akan ketakutan.


"Yang ini Tante...." Kata Edsel sambil menunjukan PR yang harus diselesaikan.


"Kalau Eiden yang mana?"


"Yang ini Tante." Kata Eiden sambil mengeluarkan PR dari tas sekolahnya.


Satu jam akhirnya PR mereka bisa diselesaikan.


"Kalian bisa main sekarang. PRnya sudah selesai bukan?" Tanya Sandra.


"Sudah Tante. Terimakasih Tante....kami mau main sekarang."


Entah kenapa Edsel dan juga Eiden merasa dekat dan mudah akrab dengan Sandra. Hal itu terjadi tanpa mereka sadari.


Lain halnya dengan Sandra. Ikatan batin yang dia rasakan begitu kuat. Meskipun bukan benihnya, namun dia tetap merasa cintanya begitu besar kepada kedua anak itu.


Apalagi sampai sekarang, Sandra juga belum menikah dan tidak punya anak.


Melihat anak Nadiya dan kesempatannya menjadi ibu pengganti, membuat matanya bersinar dan senyumnya secerah rembulan.


Dia lalu mengawasi kedua anak kembar itu yang bermain dihalaman.


Dia menelpon ibunya.


"Bu, Sandra akan satu Minggu dikota. Jangan biarkan ibu itu pergi kemanapun, sampai Sandra kembali." Pesan Sandra kepada ibunya.


"Dan Bu, jangan beritahukan kepada siapapun jika dia ada dirumah kita."


"Iya, nak."


"Tapi bagaimana dengan keluarganya?"


"Sandra akan mengurus semuanya."


Sandra lalu menutup teleponnya, dan dia yakin tetangga tidak akan ada yang tahu, karena rumahnya agak jauh dari tetangga.


Sandra juga sudah membayar dokter yang mengurus Nadiya agar dia tidak mengatakan kepada siapapun.


Ternyata nafsu dan keinginan untuk menjadi nyonya Prasetyo sudah mengubur semua kebaikan dihatinya.


Saat dia terlilit banyak hutang dan kesempatan itu datang, akal sehatnya telah dikalahkan oleh nafsu dihatinya.


Dia tidak berpikir ulang lagi jika tindakannya salah dan akan menyakiti Nadiya.


Yang dia pikirkan saat ini adalah demi kebahagiaannya sendiri dan bebas dari hutang juga menjadi nyonya besar yang disegani dan dihormati.


Dia punya peluang besar saat ini.

__ADS_1


Dia hanya perlu menunjukkan sikap baik dan peduli hingga mereka semua bersimpati dan menyukainya.


Itulah yang akan Sandra lakukan.


Dan saat ini semua sudah dilakukanya. Dia bertemu anak yang pernah dikandungnya dan masuk kerumah besar itu.


Setelah itu dia akan menguasai semuanya dan matanya melebar saat dia membayangkan apa yang akan didapatkan jika berhasil merayu Prasetyo, dan menjadi nyonya dirumahnya.


Nadiya tidak akan pernah ditemukan. Karena saat ini dia bahkan lupa siapa nama dan siapa dirinya.


Sandra telah menjadi Egois dan jahat. Dia sudah berubah. Keadaan yang menghimpitnya, dan nafsu serakah dihatinya telah membuat kakinya salah dalam melangkah.


***


"Oma sudah boleh pulang." Kata Prasetyo kepada Omanya.


"Benarkah? Oma sudah kangen sama kedua cucu Oma. Oma ingin bertemu mereka." Kata Omanya sambil turun dari ranjang.


"Tadi Pras sudah bertanya pada dokter, dan dokter mengizinkan oma untuk pulang."


Merekapun pulang dan keluar dari rumah sakit.


Satu jam kemudian mereka sudah sampai dirumah.


Edsel dan Eiden lalu berlari dan memeluk Omanya.


Merekapun berpelukan. Lalu Oma menatap wanita disamping mereka berdua yang berdiri dan tersenyum ramah.


"Kau...."


Prasetyo langsung menjawabnya.


"Sandra Tante...." Sapa Sandra mendekati ibu Monic.


Ibu Monic mengangguk tanpa banyak bertanya.


Dia lalu masuk kedalam dan berbicara pada Prasetyo.


"Pras, kenapa kau biarkan orang asing menjaga kedua cucuku?"


"Kami sudah kenal lama Oma. Dia juga baik. Jadi karena saat ini Nadiya belum ditemukan, alangkah baiknya jika ada yang menjaga Edsel dan juga Eiden? Ada yang menjaga Oma juga. Pras kan mau keluar lagi untuk mencari Nadiya."


Oma terlihat mengerti dan paham dengan pemikiran putranya.


"Ya sudah. Apakah kau akan keluar lagi sekarang?"


"Iya Oma. Nadiya belum ditemukan, bagaimana aku bisa tenang?"


"Ya sudah, pergilah, semoga istrimu lekas ditemukan. Dan semoga dia baik-baik saja."


"Pras pergi Oma."


Prasetyo lalu pergi lagi dan menemui Regan.


Terlihat Regan sedang diatas perahu karet dengan baju basah kuyup.


Prasetyo lalu menyusulnya. Sekarang pencarian selain jauh bahkan sudah beberapa kilometer dari tempat kejadian.


Namun mereka belum juga bisa menemukan Nadiya. Regan begitu sedih memikirkan keadaan maminya.

__ADS_1


"Ini sudah hari ketiga. Regan sangat khawatir om." Kata Regan saat mereka sudah dekat.


"Tenanglah. Kita pasti akan menemukan mami. Kita tidak boleh putus asa."


"Iya om."


Mereka lalu mencari hingga menjelang malam dan pencarian dihentikan.


Satu Minggu kemudian....


Pencarian dihentikan karena Nadiya tidak ditemukan.


Prasetyo tertunduk lesu ditepi sungai.


Airmatanya bergulir begitu deras. Hatinya begitu sedih dan terpukul. Kehilangan yang teramat dalam serasa mencabik-cabik dadanya.


Regan juga duduk disebelahnya. Airmatanya benar-benar tidak mampu dia tahan lagi.


Berulang kali dia mengusap airmatanya.


Nadiya dinyatakan hilang. Karena jika dinyatakan meninggal, Prasetyo keberatan, karena jika meninggal dia ingin agar jasadnya ditemukan.


Dan berita sementara adalah Nadiya dinyatakan hilang.


Dan Prasetyo yakin, dibelahan bumi mana Nadiya berada saat ini. Pasti akan dia temukan dan akan kembali.


Dia yakin Nadiya masih hidup dan tidak meninggal. Dia mungkin hilang, dan pasti akan kembali.


Itu adalah keyakinan Prasetyo.


"Mari Om, kita pulang."


Merekapun pulang dengan tangan kosong. Suasana rumah menjadi sepi dan mencekam.


Mereka semua tidak berbicara dan tidak bercanda.


Terlebih Regan, begitu juga Prasetyo. Dia begitu kehilangan dan lebih sering menyendiri didalam kamarnya.


Hanya Oma dan Sandra yang terlihat sibuk dan tetap menurus kedua anak kembar Nadiya.


Prasetyo jarang makan dirumah, pagi-pagi sudah berangkat kerja dan pulang larut malam.


Setalah itu dia akan mengurung dirinya dikamar dan menatap foto Nadiya dan menangisinya.


Begitu juga Regan, dia sudah sibuk syuting pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Dia juga jarang makan dirumah.


Kepribadian mereka yang tadinya ceria menjadi pemurung dan pendiam.


Hal itu sangat mempengaruhi kebahagiaan didalam rumah itu yang sebelumnya penuh kebahagiaan dan kehangatan.


Tidak ada yang berani menyebut nama Nadiya didepan mereka berdua.


Karena seisi rumah itu ingin agar mereka berdua kembali ceria, setelah musibah yang menimpa.


Edsel dan Eiden masih anak-anak, kadang mereka menanyakan ibunya, tapi setelah perhatianya dialihkan, merekapun menjadi lupa.


Oma yang paling sedih melihat anak dan cucunya bersedih sepanjang hari. Mereka menjadi terlihat lebih kurus dari sebelumnya.


Itu semua karena duka yang teramat dalam, hingga membuat mereka tidak berselera makan dan menyibukkan diri dalam pekerjaan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2