Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Kebersamaan


__ADS_3

Liburan telah usai. Mereka beraktifitas seperti semula. Anak-anak saat ini masih lelap tertidur. Mereka harus beristirahat karena besok mereka akan sekolah.


Sementara Nadiya ada didapur bersama Prasetyo. Mereka sengaja memasak bersama dan membiarkan bibi Parti beristirahat satu hari.


Sudah lama Prasetyo dan Nadiya tidak memasak masakan kesukaan mereka. Prasetyo juga kangen dengan hobinya memasak dan meninggalkan sejenak kesibukannya.


"Aku akan memotong kejunya." Kata Nadiya.


"Jika kau ingin diparut juga tidak papa." Kata Prasetyo.


"Tapi resepnya harus dipotong." Kata Nadiya.


"Ya sudah, terserah kau saja."


Oma masuk kedapur dan tersenyum melihat kebersamaan Prasetyo dan juga Nadiya.


"Kalian memasak? Kemana bibi Parti?"


"Kami menyuruhnya jalan-jalan. Biarkan bibi Parti bersenang-senang satu hari." Kata Prasetyo.


"Iya. Kami sengaja menyuruhnya jalan-jalan Oma."


"Pantas saja Oma tidak melihatnya dari tadi."


Sandra tiba-tiba turun dari lantai tiga membawa koper. Sepertinya dia akan berpamitan dan akan pergi dari rumah Nadiya.


"Kau mau kemana membawa koper?" Tanya Oma saat melihat Sandra turun dengan menarik kopernya.


"Sandra akan bekerja. Sekarang Bu Nadiya sudah kembali. Jadi anak-anak tidak memerlukan saya lagi."


"Kau bisa bekerja pada kantor Prasetyo jika kau mau." Kata Ibu Monic.


Tiba-tiba Prasetyo kaget saat melihat Sandra membawa kopernya.


"Kau mau kemana sepagi ini?" Tanya Prasetyo sambil menghidangkan masakan yang sudah matang dimeja makan.


"Ibu Nadiya sudah datang, saya akan kembali mengurus salon."


"Ohh, kenapa buru-buru sekali?" Tanya Prasetyo.


"Salon sudah lama saya tinggalkan, jadi saya pikir banyak yang harus saya lakukan."


"Ohh, kalau begitu, ayo sarapan dulu. Setelah sarapan aku akan mengantarmu."


"Ayo Sandra, sarapan dulu. Kita akan makan sama-sama. Sering-seringlah datang kemari..." Kata Ibu Monic sambil duduk disamping Sandra.


"Nad! Ayo duduk disini. Kita makan sama-sama. Sandra akan pulang hari ini."


Nadiya lalu duduk dan sarapan bersama-sama.


"Heeemmmm, ini enak sekali. Kau yang membuatnya?" Tanya Prasetyo pada Nadiya.


"Iya, tadi ada sisa daging cincang. Kau tidak memakai semuanya. Aku membuatnya dan mencampurkan semua bahan menjadi bola-bola bakso." Kata Nadiya.


"Ini sangat lezat. Ayo kalian cobalah ini. Ini resep baru Chef Nadiya."


"Hahahaha...." Mereka tertawa bersamaan.

__ADS_1


"Ini juga lezat. Apakah kau memasukan semua bumbu kedalamnya?" Tanya Nadiya saat dia memakan daging ayamnya.


"Iya. Aku memasukan semua bumbu yang kau blender dan aku tambah lagi dengan beberapa rempah-rempah."


"Pantas saja, daging ini sangat gurih dan lezat." Kata Nadiya lalu makan dengan sangat lahap.


"Pagi ini kita sarapan dengan makanan yang mengandung banyak lemak. Kita akan segera gemuk bersamaan." Gurau Prasetyo sambil melirik ke pipi Nadiya yang memang cubby karena gemuk.


"Kita akan berolahraga setelah ini. Kita akan membakar lemak ditubuh kita dengan berlari satu jam. Kau mau ikut?" Kata Nadiya yang mulai khawatir dengan porsi makanya yang banyak, akan menambah berat badannya.


"Hahahaha...." Mereka tertawa lagi.


"Sandra! Ayo makan yang banyak. Kau bisa berolahraga setelah makan banyak, seperti saran Nadiya." Kata Prasetyo dan tiba-tiba kakinya diinjak oleh Nadiya.


"Uhuk!" Prasetyo menjadi tersedak.


"Minum ini, makan pelan-pelan, kita semua sudah kenyang. Kau habiskan semuanya. Kau terlihat sangat kurus." Kata ibu Monic sambil memberikan minuman kepada Prasetyo.


"Mami! Papi!"


Mereka lalu turun kebawah dan melihat banyak makanan lezat yang sisa sedikit.


"Yaaahhhh kalian menghabiskan semuanya!" Kata Edsel yang melihat piring-piring kosong diatas meja.


Mereka lalu saling berpandangan dan tertawa.


"Hahahaha......"


Nadiya lalu berdiri dan mengeluarkan daging yang sudah dia masak sengaja untuk Edsel dan juga Eiden.


"Ini untuk kaliaaannn!" Kata Nadiya lalu meletakkanya dimeja.


"Mami! Kami mau makan....." Mereka lalu duduk bergabung dan makan bersama-sama.


"Siapa yang masak ini? Ini sangat enaaakkk!" Puji Edsel dan Eiden.


"Mami kalian yang membuatnya." Jawab Prasetyo.


"Waaahhh, besok kita mau lagi, daging seperti ini."


"Ya tentu, besok mami akan membuatnya untuk bekal sekolah."


"Emang mami tidak kekantor?" Tanya Edsel.


"Tidak. Mami akan dirumah dan memasak untuk kalian mulai sekarang." Kata Nadiya yang memutuskan untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dan menyerahkan pekerjaan kantornya pada Danar.


"Horeeee! Horeeee!"


Mereka sangat senang dan berteriak hore karena akan mendapatkan masakan uang lezat setiap hari.


"Nah, kalau sudah makan daging, makanlah ini." Kata Ibu Monic mengeluarkan stroberi dari kulkas.


"Itu asam Oma." Kata Edsel dan juga Eiden.


"Tidak! Kalian akan memakanya bersama madu. Cobalah, ini tidak akan asam."


"Benarkah Oma?" Tanya Edsel.

__ADS_1


"Apa yang Oma bilang itu benar. Kalian harus makan buah dan sayur yang banyak. Jangan makan daging saja."


"Ayo cobalah." Oma lalu mengambil garpu dan menusuk satu strawberry lalu dicelupkan kedalam madu dan menyuapkanya kemulut mereka bergantian.


"Enakkan?" Kata Nadiya sambil menahan tawa.


Edsel dan Eiden lalu menggelengkan kepalanya.


Edsel memberi kode kepada Eiden. Eiden mengangguk dan dalam waktu bersamaan mereka lari meninggalkan meja makan.


"Haiii....kalian mau kemana?" Teriak Oma sambil menggelengkan kepalanya.


Mereka tidak mau makan stoberi lagi yang menurut mereka tidak enak.


Nadiya lalu mengambil strobey dengan garpu dan menusuknya lalu mencelupkanya kedalam madu. Dia menyuapkanya kemulut Prasetyo.


"Kau juga."


Kata Prasetyo lalu mengambil stroberi dan menyuapkanya kemulut Nadiya tanpa madu.


"Eeehhmmmm....ini sangat asam. Kenapa kau tidak menaruh madu diatasnya."


"Oh ya, maaf, maaf, aku lupa, hehe " padahal Prasetyo sengaja melakukanya.


Nadiya tetap menelannya biarpun asam.


"Sudah Nadiya, aku tidak mau lagi. Aku sudah kenyang." Kata Prasetyo sambil bersandar pada kursi.


Sandra lalu berdiri dan membantu Nadiya merapikan meja makan.


Didapur.


"Kau akan pergi hari ini?" Tanya Nadiya.


"Iya Bu."


"Terimakasih kau sudah menjaga anak-anak selama aku tidak ada. Tapi bisakah aku minta padamu untuk tidak sering kemari?" Kata Nadiya datar.


Sandra tampak mengangguk dan keluar dari dapur.


Sandra lalu berpamitan pada Ibu Monic dan juga Prasetyo.


"Aku akan mengantarmu." Kata Prasetyo.


"Tidak pak. Saya akan naik mobil saya sendiri."


"Baiklah kalau begitu. Hati-hati...."


Sandra lalu pergi setelah berpamitan pada Edsel dan juga Eiden. Dia mencium kening mereka dan tidak kuasa menahan airmatanya.


Dia masuk kemobil sambil mengusap airmatanya.


Hatinya hancur dan kecewa. Harapannya selama ini ternyata sia-sia.


Dia lalu melajukan mobilnya kekampungnya. Dia akan menanyakan kepada ibunya bagaimana ini bisa terjadi.


Dan bagaimana ingatan Nadiya kembali padahal dia sudah memberikan obat pelemah ingatan yang dia beli dari salah seorang temannya.

__ADS_1


Mungkin Nadiya tidak meminumnya sehingga ingatannya kembali. Ibunya pasti lupa mengingatkan agar Nadiya terus meminum obat itu.


Dia lalu menghentikan mobilnya di pinggir danau. Dan sesaat dia berfikir disana. Setelah itu Sandra melajukan mobilnya kembali.


__ADS_2