
Nadiya dan Prasetyo juga Ibu Monic sedang duduk membicarakan masalah pernikahan mereka.
"Apakah sebaiknya tidak kita undur saja pernikahan kalian? Mengingat kondisi Prasetyo yang belum sembuh total." Kata Ibu Monic sambil menikmati minuman dingin didalam ruangan VVIP room.
"Tidak mami. Prasetyo akan sehat sebelum hari H. Yang penting Prasetyo bisa jalan dengan tegak, maka kita tidak perlu menundanya."
"Bagaiman menurut kamu Nadiya?" Tanya Ibu Monic pada Nadiya.
"Nadiya terserah Tante sama Prasetyo saja. Nadiya menurut saja." Kata Nadiya yang menyuapi makan Prasetyo sebelum minum obat.
Nadiya sudah pulih seperti sedia kala, hanya ada sedikit plester dibekas luka dikepalanya yang terbentur.
"Baiklah jika kalian sudah mantap untuk tidak menundanya maka mami akan mengabari papi kamu."
"Iya mami."
"Mami pergi dulu ya. Mami mau kespa dan kesalon, badan mami pegal-pegal." Kemudian setelah berpamitan, ibu Monic meninggalkan ruangan itu dan berpapasan dengan seseorang, hampir saja mereka bertabrakan jika Ibu Monic tidak segera menghindar.
Laki-laki itu berjalan sangat cepat dan ibu Monic hanya bisa melihat punggungnya saja tanpa bisa mengenali wajahnya.
Tanpa menghiraukan siapa pria itu Ibu Monic melanjutkan langkahnya dengan lebih cepat.
Pria itu berhenti didekat sebuah ruangan baju ganti dokter. Kemudian setelah melihat sekeliling maka dia menyelinap masuk dan hilang diantara baju-baju.
Kemudian dia keluar dengan mengenakan baju dokter dan alat yang menggantung dilehernya. Pengawal Nadiya tidak menyadari jika dia adalah dokter gadungan. Pria itu menyelinap masuk dan kebetulan Prasetyo sedang melihat kearah jendela. Sedangkan Nadiya sedang kekamar mandi.
Pria itu mengeluarkan pisau dari sakunya dan berjalan pelan. Tapi setelah melihat bahwa sasaranya sedang tidak tidur maka, dia memasukan kembali pisau itu. Terdengar Nadiya keluar dari kamar mandi yang membuat dokter palsu itu langsung membalikan badannya dan keluar dari ruangan itu.
"Dok...!" Panggilan Nadiya tidak dihiraukan oleh dokter gadungan itu malah dia pura-pura tidak mendengarnya.
"Siapa?" Tanya Prasetyo pada Nadiya.
"Bukankah kamu habis diperiksa dokter?" Tanya Nadiya karena melihat dokter yang baru keluar dari ruangannya.
"Tidak." Kata Prasetyo dan duduk diatas tempat tidur lalu kakinya turun kelantai.
"Tapi tadi aku lihat ada dokter keluar dari sini. Bagaimana mungkin dokter itu pergi tanpa memeriksa kamu?" Tanya Nadiya heran.
__ADS_1
"Ya. Memang dari tadi tidak ada siapapun disini. Mungkin kamu salah lihat." Kata Prasetyo.
"Ya mungkin aku salah lihat." Kata Nadiya sambil berjalan keluar pintu dan dia lihat pengawalnya masih berjaga disana.
Kemudian dia masih penasaran dan bertanya pada salah satu pengawalnya.
"Apakah barusan ada dokter masuk kemari?"
"Ya bos."
"Baiklah apakah dokter itu lama apa cuma sebentar?" Tanya Nadiya mulai curiga.
"Cuma sebentar bos, masuk terus tidak lama keluar lagi." Kata salah satu pegawainya.
"Kalian harus lebih hati-hati mulai sekarang. Laporkan padaku jika melihat gerak-gerik yang mencurigakan. Aku mencurigai dokter itu akan berniat buruk." Kata Nadiya pada kedua pengawalnya.
Kemudian Nadiya pergi keruangan dokter yang biasa meriksa Prasetyo dan mereka membicarakan sesuatu.
"Lebih baik kami rawat jalan saja dokter." Kata Nadiya yang merasa bahwa ada yang berusaha mencelakai Prasetyo.
"Baiklah. Akan saya siapkan beberapa berkas dan resep obatnya." Jawab dokter laki-laki tersebut.
Namun sayang Nadiya tidak bisa melihat dengan jelas siapa dia. Ada saja orang yang berlalu lalang menghalangi pandanganya dan saat dia keluar dari tempat persembunyiannya hanya punggung laki-laki itu yang terlihat. Laki-laki itu merasa seperti ada yang mengawasinya sehingga dia menoleh. Dengan cepat Nadiya sembunyi dibalik orang yang sedang mendorong seorang pasien.
Nadiya berjalan bersama dengan orang yang sedang mendorong pasien itu kembali kekamarnya. Nadiya sangat menghawatirkan Prasetyo karena dia masih terbaring dan belum begitu pulih benar. Dia takut pria misterius itu mencelakai calon suaminya. Kemudian dengan cepat Nadiya membuka pintu dan langsung berlari ketempat Prasetyo.
Ketika dia lihat Prasetyo lagi tertidur pulas hatinya menjadi lega. Syukurlah tidak terjadi apa-apa. Aku merasa sudah tidak aman berada disini. Entah kenapa aku merasa orang itu ada sangkut pautnya dengan kecelakaan yang menimpanya.
Aku tidak ingin Prasetyo merasa khawatir dan berpikir macam-macam. Lebih baik aku menyelidiki masalah ini sendiri. Nanti jika sudah jelas siapa dan apa motifnya maka aku baru akan memberitahukanya.
Sekarang aku akan membangunkanya dan mengajaknya rawat jalan sebelum orang tadi mengetahuinya.
"Pras...bangunlah...kita pergi dari sini." Kata Nadiya pelan karena takut mengagetkanya.
"Kenapa tiba-tiba begini?" Tanya Prasetyo kebingungan.
"Sudah nanti akan aku jelaskan dirumah." Kata Nadiya.
__ADS_1
Kemudian mereka bersiap-siap dan Prasetyo duduk diatas kursi roda lalu Nadiya mendorongnya dan mukanya ditutup dengan menggunakan syal.
Kedua pengawal Nadiya berjalan dibelakangnya hingga mereka sampai dimobil. Dan mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi hingga sampai dirumah Nadiya.
"Ayo kita turun. Pelan-pelan....." Nadiya kemudian mendorong Prasetyo hingga masuk kedalam dan langsung menuju ke kamar tamu.
"Istirahatlah disini. Aku akan keluar sebentar." Kata Nadiya keluar dari ruangan itu dan menemui pengawalnya.
"Kamu panggil sepuluh anak buah kamu dan berjaga dirumah. Jangan biarkan siapapun masuk hingga hari pernikahan kami. Laporkan apapun jika kalian mencurigai sesuatu." Kata Nadiya pada salah satu pengawalnya yang dia percaya.
"Baik bos."
Nadiya kemudian menutup pintu dan masuk kedalam. Dilihatnya papinya turun dari lantai dua dan bertanya kenapa Nadiya seperti cemas dan terlihat khawatir.
"Kenapa mukamu cemas begitu? Apakah ada masalah?"
"Tidak papi, tidak ada masalah apa-apa."
Kemudian Nadiya menyelinap keruang tamu tanpa diketahui oleh papinya.
"Sssttt....diamlah. Jangan sampai papi tahu jika kamu ada disini. Jangan berbicara dengan keras papi ada diluar." Kata Nadiya kepada Prasetyo.
"Aku masih tidak mengerti, apa yang kamu lakukan. Kamu seperti sedang menghindari seseorang." Kata Prasetyo.
"Aku merasa bosan saja dirumah sakit, jadi lebih baik aku merawatmu dirumah saja." Kata Nadiya berbohong.
"Kamu yakin? Hanya itu alasanya?" Tanya Prasetyo yang merasa Anek dengan sikap Nadiya. Dia seperti tidak ingin Prasetyo mengetahui sesuatu yang membuatnya cemas.
"Baiklah, apapun itu. Duduklah disini. Dan tenanglah...jangan mencemaskan apapun. Semua akan baik-baik saja. Pernikahan kita tidak akan ditunda....jadi tersenyumlah...." Kata Prasetyo yang sebenarnya tahu jika Nadiya sedang merasa cemas dan khawatir akan suatu hal.
Nadiya kemudian memberikan senyuman termanis untuk kekasihnya.
"Nah begitu lebih baik. Aku merasa besok aku bisa pulih jika setiap menit melihatmu tersenyum seperti itu." Kata Prasetyo sambil menyentuh hidung Nadiya.
"Benarkah?" Tanya Nadiya sambil mengerutkan dahinya.
"Iya....." Kata Prasetyo sambil menggenggam erat jemari Nadiya.
__ADS_1
Visual Nadiya.