
Maminya terus mendesak siapa wanita yang meminjamkan rahimnya untuk Nadiya. Prasetyo akhirnya mengatakan yang sebenarnya.
"Dia adalah orang yang pernah tinggal dengan kita." Kata Prasetyo.
"Maksudmu....?"
"Sandra. Dialah yang sudah meminjamkan rahimnya untuk kami." Kata Prasetyo.
"Apakah dia juga yang menyebabkan berita ini tersebar? Pantas saja, mereka begitu mudah akrab saat pertama kali Sandra datang. Dan bahkan tanpa sebab apapun Sandra mau mengurus mereka saat Nadiya tidak ada. Jadi ini sebabnya?"
Tanya ibu Monic yang shock mendengar jika Sandra yang sudah mengandung Edsel dan juga Eiden.
"Mungkinkah dia membuka rahasia ini?" Tanya ibu Monic.
"Prasetyo masih menyelidiki soal itu."
"Wartawan akan memburunya jika mereka tahu jika Sandra adalah ibu pengganti itu. Itu bisa berdampak buruk untukmu karena dia akan dimanfaatkan oleh beberapa orang yang merasa diuntungkan dengan kasus ini." Kata ibu Monic yang mengkhawatirkan posisi Prasetyo sebagai CEO.
"Kau selidiki ini. Oma akan keluar. Dimana Sandra tinggal, Oma ada urusan denganya?"
"Apa yang akan Oma lakukan?"
Tanya Prasetyo khawatir dan cemas tentang apa yang akan Oma lakukan dengan Sandra.
"Oma akan melakukan yang tidak kau lakukan dari dulu." kata Omanya lalu pergi setelah Prasetyo memberi alamat dimana Sandra tinggal.
Prasetyo lalu masuk dan Nadiya menatapnya dengan penasaran. Dia tidak melihat ibu mertuanya. Meskipun Nadiya tahu jika ibu mertuanya marah padanya, namun sebagai menantu dan orang yang lebih muda, dia tetap tidak boleh melawan, dan tetap harus menghormatinya.
Bagaimanapun, dia adalah ibu dari suaminya. Nadiya yakin, dengan bersabar maka semua masalahnya akan membaik beberapa hari kedepan.
Dia tidak boleh terlalu sensitif terhadap sikap mertuanya yang mungkin akan menyakiti hatinya atau perkataanya yang akan menyinggung perasaannya.
"Kalian berbicara begitu lama, apa yang kalian bicarakan?" Tanya Nadiya.
"Ohh, aku hanya ngobrol biasa saja. Mami lagi marah, kau bersabarlah, nanti juga akan mereda setelah kekhawatirannya hilang."
"Iya, aku tidak apa Pras. Aku sangat paham dengan sikap mami. Mami jika marah tidak akan berlangsung lama. Setelah dia merasa aman, maka marahnya akan mereda."
"Baguslah jika kau tahu dan mengenal sikap mami. Aku sangat beruntung punya istri sepertimu. Kau bisa memahami keluargaku dengan baik." Kata Prasetyo lalu mencium kening Nadiya.
Tidak lama kemudian ada pesan dihandphone Nadiya, itu dari Karina. Rupanya Karina sudah ada dibawah. Dan dia sedang menuju keatas.
Nadiya lalu menjemputnya dan memakai syal untuk menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Ayo naik keatas. Mereka ada disana." Kata Nadiya saat dia melihat jika Danar dan Karina berdiri disana.
Mereka lalu naik keatas dan masuk ke apartemen dimana Edsel dan Eiden ada disana.
"Hai.....Tante..... Tante sudah datang mau menjemput kami ya?" Tanya Edsel dan juga Eiden. Mereka lalu mendekat dan memeluk tantenya.
"Iya, Tante akan menjemput kalian. Tapi sebelum kita pergi, kalian makanlah ini dulu." Kata Karina lalu mengeluarkan Burger dan juga pizza kesukaan mereka berdua.
"Asyik, kami memang sangat lapar."
"Kalian sudah makan tapi masih bilang lapar. Tadi disuruh makan kuah sayur bilangnya kenyang." Gerutu Nadiya.
"Tadi kami memang masih kenyang mami, tapi sekarang kami lapar lagi."
"Ya sudah, Tante akan membuka untuk kalian. Makan pelan-pelan ya..." Kata Karina lalu menyiapkan makanan yang dia bawa untuk Edsel dan juga Eiden.
"Kalian gendut sekali. Mirip sama Regan saat masih kecil." Kata Karina sambil mencubit pipi mereka yang putih kemerahan.
Karina lalu membiarkan mereka berdua asyik dengan makananya. Sementara dia duduk didekat Nadiya dan menanyakan tentang berita itu.
"Aku curiga dengan seseorang." Kata Nadiya pada Prasetyo dan juga Danar.
"Siapa yang kau curigai? Apakah si ibu yang mengandung mereka berdua?"
"Kau bikin penasaran saja, siapa dia?" tanya Karina.
"Joan! Dulu dia juga melakukan hal yang sama dengan Ardy karena dendam lama, dia juga belum lama ini memerasku dan aku memenjarakanya. Belum lagi masalah perusahaan yang waktu itu aku pegang. Dan....dia sangat mendendam padaku." Kata Nadiya.
"Mungkinkah dia yang melakukan semua ini?" Tanya Prasetyo pada Nadiya.
"Iya, untuk apa dia melakukanya? Dia ada didalam penjara saat ini." Kata Danar.
"Semua ini hanya demi uang. Dia gila uang dari dulu. Dan dia tidak mau bekerja keras untuk mendapatkanya. Dia melakukan cara instan untuk uang dan bersenang-senang."
"Tapi sekarang dia ada didalam penjara. Dan dia tidak punya uang." Kata Prasetyo.
"Dia akan dibayar untuk setiap berita seperti ini. Kau tahu kan, banyak sekali yang akan mendapatkan keuntungan dari berita yang menjatuhkanmu. Dia akan bebas bersyarat, jika ada yang menjaminnya."
"Mungkinkah dia bisa melakukan itu?" Tanya Danar.
"Tentu saja. Aku adalah bukti dari sifat serakahnya." Kata Karina lalu menutup mulutnya saat kakinya diinjak oleh Nadiya.
"Bodoh! Kenapa kau berbicara begitu didepan suamimu!" Kata Nadiya berbisik.
__ADS_1
"Tidak papa. Aku tahu semuanya." Kata Danar yang sudah menerima Karina dengan segala masa lalunya.
"Ohh, iya...dia memang suka ceplas-ceplos...." Kata Nadiya.
"Aku akan menyelidiki ini jika memang benar dia melakukanya demi uang. Pasti ada pihak yang terlibat." Kata Prasetyo.
"Aku dengan sebentar lagi akan ada rapat besar diperusahaanmu. Dan akan dipilih CEO baru bukan? Mungkinkah ini ada hubunganya dengan berita yang disebarkan?" Kata Danar.
"Bisa iya bisa tidak. Bisa juga kebetulan berita ini tersebar dan menguntungkan beberapa pihak." Kata Prasetyo.
"Kami sudah selesai!" Teriak Edsel dan juga Eiden.
"Ayo Tante, kita ketempat Tante sekarang!" Kata Edsel tidak sabar lagi. Dia merasa bosan diapartemen karena tidak leluasa bermain dan berlari-lari.
"Mereka rupanya sudah tidak sabar lagi." Karina lalu pergi dan mendekati mereka berdua.
Dia lalu membereskan bekas makananya dan membuangnya ketempat sampah.
"Kalian kuat makan ya? Pantas saja kalian sangat gendut."
"Jangan bilang gendut Tante, kami hanya tidak bisa kurus." Kata Edsel.
"Itu sama saja." Dia lalu menggandeng keduanya dan berpamitan pada Nadiya.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di mobil Karina.
"Kenapa kami harus menutup muka kami Tante?" Tanya Edsel saat sudah sampai dimobil Karina.
"Karena kita sedang main petak umpet."
"Sama siapa?"
"Emm, sama mereka!" Kata Karina menunjuk beberapa orang yang sedang melihat kesana kemari.
"Hehehehe...." Edsel dan Eiden lalu tertawa cekikikan.
"Kita jalan sekarang?" Tanya Karina saat mereka sudah duduk manis.
"Iya Tante, ayo kita kerumah Tante sekarang." Kata Edsel dan tidak lama kemudian mereka berdua tertidur didalam mobil karena kekenyangan.
***
Sementara saat ini ibu Monic sedang dalam perjalanan kesalon Sandra. Ada yang harus dia bicarakan denganya.
__ADS_1
Dia juga tidak pernah menduga jika Sandra adalah ibu pengganti itu.