
Sepulangnya dari kantor polisi. Terlihat muka Jack masih pucat akibat pertanyaan polisi yang diulang-ulang dan berputar-putar. Hampir saja dia tadi salah ngomong saking bingungnya. Untunglah dia masih bisa mengendalikan rasa cemasnya sehingga bisa menjawab setiap pertanyaan yang dibolak balik seperti gorengan pisang.
"Muka Lo pucat banget kayak mayat!" Celetuk Sasha.
"Ahk Lo tega amat sas!" Kata Jack. "Masak gua dibilang kayak mayat! Gua masih mau hidup panjang, gua belum mau jadi mayat. Ihhhh ngeri deh!"
"Apaan sih Lo! Kayak gitu amat lagaknya! Lo tahu ngga, lalu lelaguan Lo kayak gitu ngga sesuai dengan nama Lo. Jack nama yang keren dan gagah. Masak lelaguannya mirip jekline sang teman cewek gua."
"Ahk Lo yang bener. Masak gua ganteng dan gagah gini dibilang mirip Jaseline."
"Iya! Iya! Maaf...."
"Aku mau maafin kalau kamu traktir aku makan sampai di asrama." Kata Jack yang masih ingin berduaan dan ngobrol dengan Sasha sebelum diserobot oleh Vano.
"Gimana ya? Sepertinya......" Sasha terlihat berfikir.
"Ahk Lo tega amat kalau nolak gua." Kata Jack sambil menatap wajah Sasha.
"Sebenarnya gua lagi ada latihan ngedance buat perform akhir bulan ini." Kata Sasha.
"Ayolah, Gua lagi bad mood ni." Kata Jack yang sangat ingin ada teman ngobrol untuk memulihkan moodnya.
"Lo kayak cewek lagi pms aja. Pakai bad mood segala." Kata Sasha.
"Emang gitu ya cewek kalau lagi pms. Gua malah ngga tahu tuh." Kata Jack.
"Yaaa...menurut penelitian dan pernah baca dimajalah sih kaya gitu, tapi gua sendiri biasa aja sih. Atau mungkin gua yang ngga nyadar kali ya."
"Ya udah ahk! Yuuukk kita makan sekarang."
"Yang murah aja ya? Uang saku gua tinggal dikit nih!" Kata Sasha yang uangnya baru saja dipake buat bayar beberapa pesanan kosmetiknya.
"Gua yang bayar. " Kata Jack.
"Lo tadi katanya minta traktir." Kata Sasha.
"Lain kali aja. Kali ini gua yang traktir."
"Ya sudah."
Merekapun memesan makanan dan langsung makan tanpa membuang waktu lagi.
Terdengar bisik-bisik para mahasiswa sedang membahas tentang mayat yang tadi pagi ditemukan dilorong bawah tanah. Merekapun saling memberikan aegumen tentang penyebab lagiannya.
__ADS_1
Mereka mencurigai jika gadis itu bunuh diri akibat tekanan dari kekasihnya yang sudah menghamilinya. Namun tidak ada yang tahu siapa kekasih gadis itu.
"Namanya Shakira. Dia memang terlihat murung beberapa hari terakhir. Dia jarang berbicara dan jarang berkumpul dengan teman-temannya." Kata Rossa.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Sasha yang ada dibelakang Rossa.
"Gua ngga tau juga. Sudah lama gua pindah kamar dan tidak satu kamar dengan Shakira. Dia menggunakan kamarnya secara pribadi." Kata Rossa.
"Jangan-jangan kekasihnya tiap malam tidur dikamarnya." Kata Jack.
"Entahlah. Yang jelas dia pasti tertekan karena kehamilannya." Kata Rossa.
"Handphone! Dari handphone itu kita akan mendapatkan petunjuk penyebab kematiannya.". Kata Jack.
"Ya. Kau benar. Bagaimana kalau setelah ini kita kekamarnya dan kita lihat pesan terakhir. Pasti akan ada petunjuk dan memori siapa saja yang sering menghubunginya akhir-akhir ini." Kata Sasha.
"Ya udah! Kalau gitu cepetan makanya! Jangan kelamaan. Nanti keburu diambil sama polisi." Kata Rossa.
"Kita harus menemukan siapa dibalik penyebab kematiannya. Aku sangat sedih kehilangan teman terbaikku." Kata Rossa.
"Ya. Kita harus mencari pelakunya. Jangan sampai ada yang tahu kalau kita juga menyelidiki kasus ini." Kata Jack.
"Benar. Jangan sampai ada mahasiswa lain yang mengalami peristiwa tragis seperti ini. Aku yakin pelakunya pasti salah satu dari teman kita, sesama mahasiswa. Dan saat ini dia pasti sedang gelisah karena tidak menyangka kekasihnya akan nekat bunuh diri." Kata Sasha.
"Udah! Yuk cabut!"
"Eits! Belum juga dibayar! Tunggu ya, gua bayar dulu." Kata Jack.
"Ya udah cepetan. Nanti keduluan sama pacarnya." Kata Sasha.
Setelah membayar kekasir, akhirnya mereka bertiga pun langsung menuju kekamar Shakira. Kamarnya ada di paling ujung. Dan sebenarnya memang sangat mudah bagi teman laki-laki untuk menuju kesana. Karena dua kamar sebelum kamar Shakira nampak kosong dan tidak berpenghuni.
"Rupanya kamar ini kosong." Kata Rossa.
"Benar. Sepertinya dia kamar ini sudah lama tidak ditempati."
"Menurut kalian kenapa kamar ini tidak ditempati?" Tanya Sasha.
"Entahlah. Kamarnya terlihat menyeramkan." Kata Jack.
"Lihat saja disana. Banyak sarang laba-laba. Artinya dua kamar ini kosong lebih dari sebulan." Kata Rossa.
"Mungkin yang nempati lagi pulang ke negaranya." Kata Sasha.
__ADS_1
"Benar juga apa yang kau katakan. Dan saat tahu bahwa kamar ini tidak berpenghuni, makanya kekasihnya bisa leluasa keluar masuk kamar Shakira. Dan mereka ehem! ehem!" Kata Jack.
"Ngaco ahk Lo!"
"Ya. Kalau ngga gitu. Dari mana itu perut menggelembung? Pasti ada yang masuk kan, jadi terjadilah yang tidak seharusnya terjadi."
"Ssssttttttt. Ada yang datang. Ayo kita masuk kekamar ini dulu." Kata Rossa.
"Jangan sampai ada yang tahu kalau kita kesini. Atau kita bisa menjadi tertuduh." Kata Sasha.
"Diamlah! Jangan berisik. Kakimu kenapa sih tidak bisa diam?" Tanya Sasha melihat kaki Jack yang tidak bisa diam.
"Banyak semut disini. Ayo kita pindah sebelah sana aja." Kata Jack.
"Diamlah! Jangan banyak bergerak."
"Siapa disana?" Tanya seorang pria. "Apa ada orang?" Tanya pria itu lagi. Namun merekapun tidak bisa melihat siapa pria itu karena mereka saat ini sedang bersembunyi.
Merasa tidak ada siapapun pria itupun masuk kedalam kamar Shakira dan setelah mendapatkan apa yang dia cari, pria itupun kemudian pergi dari sana.
"Sepertinya dia sudah pergi." Kata Sasha.
"Aduh! Semuanya naik hingga menggigit adik kecilku. Panas! panas! Perih sekali!"
"Hahahaha." Sasha dan Rossa malah mentertawakanya.
"Jahat ya kalian. Kalian lihat kesana. Biar aku cek dulu seberapa gede bentolnya." Kata Jack.
"Yaelah Jack! Ngga papa kali. Itu cuma semut kecil."
"Kecil sih kecil badanya. Tapi bentolnya sepertinya gedhe nih. Mana pas ujungnya lagi. Ayo buruan, tutup muka kalian. Sepertinya masih ada yang berkeliaran didalam sana. Biar ku ambil dulu. Nanti keburu ngegigit lagi. Bisa habis burung gua dimakan semut." Kata Jack lalu membalikan badannya dan dengan cepat langsung membuka resleting celananya.
Benar. Ternyata bentolnya gedhe banget dan merah. Dan masih ada beberapa semut yang bersembunyi diantara rambut disekitarnya. Dengan sigap tangan Jack mengambil semut-semut itu dan langsung dibunuh tanpa ampun.
"Udah belum?" Tanya Sasha dan juga Rossa.
"Akhirnya....matilah kalian." Kata Jack setelah memusnahkan semut-semut itu.
"Buka mata kalian!" Seru Jack.
"Gimana? Masih utuh ngga burungnya?" Tanya Rossa.
"Hehehehe." Jack malah tertawa geli.
__ADS_1
"Ayo buruan kita kesana!" Ajak Sasha.