Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Bertemu keluarga


__ADS_3

Sasha terus berlari keluar dari rumah sakit. Setelah itu dia menyetop taksi dan masuk kedalam.


"Ke asrama pelajar pak!" kata Sasha lalu duduk dan mengusap airmatanya yang berjatuhan dipipinya.


Hatinya sakit karena mereka berdua bersandiwara. Dia kecewa karena mereka tidak menganggapnya teman, dan menyembunyikan hal sebesar ini darinya.


Vano dan Jack telah menyembunyikan hal sebesar ini darinya.


"Stop pak! Sampai sini saja." Kata Sasha yang berhenti sebelum sampai diasrama. Dia lalu berjalan menyusuri jalan ditaman yang ada diluar asrama.


Dia sengaja berjalan sambil menenangkan hatinya dan juga agar tidak ada yang melihatnya menangis.


"Kau sudah siap?" tanya Regan yang dari tadi menunggu Sasha.


Sasha kaget dan lekas mengusap airmatanya.


Regan tidak melihatnya karena dia sedang melihat kearah lain.


"Ayoo.!" kata Sasha lalu berjalan didepan Regan.


"Kau darimana? Aku mencarimu kekamarmu tapi kau tidak ada disana." kata Regan menatap punggung Sasha.


"Aku keluar sebentar. Apakah kita tidak bisa menundanya?" tanya Sasha pada Regan.


"Tidak. Kita akan terbang sore ini." kata Regan datar.


"Baiklah. Aku akan mengambil koperku dulu."


"Aku tunggu didepan kata Regan."


Mereka akhirnya pergi kekamar masing-masing dan mengambil koper dan juga tas yang akan dibawa.


Mereka bertemu digerbang dan langsung memesan taksi.


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di bandara.


Mereka masih menunggu hingga jam penerbangan berikutnya.


***


Jack masih duduk diluar dan menunggu kabar baik dari dokter.

__ADS_1


Tidak lama kemudian dokter keluar dan mencari Jack. Saat itu Jack sedang tertunduk kelantai.


Dia sedang khawatir dan bingung.


"Kau temanya Vano bukan?" tanya dokter itu.


"Iya. Bagaimana keadaanya?" kata Jack sambil menatap dokter yang berdiri didepannya.


"Dia koma, mungkin ini terlalu sakit, sehingga dia koma. Tapi jangan khawatir, dia akan siuman dua atau tiga hari kedepan." Kata dokter yang sudah biasa menangani pasien yang tiba-tiba koma setelah operasi.


"Kenapa ini bisa terjadi? Dia sudah sehat. Dan hari ini dia boleh pulang. Tapi tiba-tiba dia jadi seperti itu. Apakah ada yang terjadi?" tanya dokter itu penasaran.


Karena kemarin saat dia mengunjunginya badannya sehat dan tidak terlihat pucat.


"Ada masalah." jawab Jack.


"Apakah kau bisa ceritakan padaku?" tanya dokter itu.


Jack akhirnya menceritakan apa yang sudah terjadi, dan bagaimana Vano keluar dari rumah sakit dan datang ke kafe itu.


Dan sahabatnya marah padanya.


"Dia mungkin kekasihnya," kata dokter itu.


"Vano pasti mencintainya. Gadis itu pasti sangat istimewa hingga dia harus pergi kesana."


"Aku tidak tahu jika soal itu."


"Apakah kalian memperebutkan gadis yang sama?"


"Tidak."


"Aku dua kali melihatmu makan bersamanya. Saat itu aku juga sedang makan siang, tapi kau tidak melihatku, karena aku berpakaian biasa. Dan aku melihat kau menatapnya dengan tatapan yang berbeda."


"Kami bersahabat."aku Jack.


"Ya tentu saja semua berawal dari sahabat. Tapi jika boleh aku bisa memberimu saran."


"Apa?"


"Carilah gadis lain yang kau sukai. Berikan kesempatan pada sahabatmu untuk mendapatkan cintanya?"

__ADS_1


"Kenapa begitu?" tanya Jack dingin dan datar.


"Karena kau lebih beruntung daripada Vano. Kau masih bisa hidup lebih lama dari dirinya."


"Apakah hidup Vano tidak akan lama lagi."


"Entahlah. Tapi tidak mudah baginya untuk mencintai setelah semua ini."


"Aku tidak tahu. Dan terimakasih saranmu itu." Kata Jack sambil menatap ruangan dimana Vano dirawat.


***


Sasha sudah sampai dirumah dan disambut oleh Nadiya dan juga Prasetyo.


"Halo sayang...." Kata Nadiya pada mereka berdua.


Merekapun berpelukan dan saling melepas kerinduan.


Sudah lama mereka tidak bertemu.


"Tante apa kabar juga?"


"Kami baik. Tapi rumah ini sepi tanpa kalian berdua." kata Nadiya dan mengajak mereka masuk kedalam.


"Hehehe...." Mereka tertawa dan duduk sambil minum.


Regan nampak duduk bersama Prasetyo. Mereka juga berbicara dan saling bertukar pengalaman selama mereka tidak bertemu.


Untunglah Nadiya sudah memesan minuman dan makanan dari luar, sehingga dia tidak perlu repot memasak.


Saat ini Prasetyo juga sedang sibuk dikantor, sehingga dia jarang masak dirumah. Bahkan waktu untuk keluarga juga sangat sedikit. Karena dia bekerja sampai malam.


Banyak sekali yang harus dibenahi dan banyak proyek yang terbengkalai selama pandemi.


Dan saat pandemi sudah usai, saat ini PR nya sangat banyak. Sepanjang hari dia sibuk didepan laptopnya dan itu berlangsung hingga malam hari.


Nadiya sendiri sangat sibuk mengurus Edsel dan juga Eiden belum lagi Oma kalau sakitnya kambuh.


Apalagi sudah beberapa hari ini Nadiya terus bangun pagi-pagi sekali karena Edsel dan Eiden sudah mulai sekolah.


Bahkan kadang untuk sarapanpun dia harus pesan dari luar karena tidak sempat memasak.

__ADS_1


Beruntung besok sudah ada dua art yang akan datang kerumah dari sebuah yayasan penyalur yang sudah Nadiya pesan jauh-jauh hari.


__ADS_2