Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Bimbang


__ADS_3

Nadiya sudah rapi. Setelah sarapan bersama dengan suaminya, tak lama kemudian Nadiya juga pergi ke suatu tempat. Tetapi Ardy sudah lebih dulu berangkat kekantor.


"Disini sepertinya Leo bekerja." Gumam Nadiya


"Oh itu dia!" Kata Nadiya sambil berjalan cepat menghampiri Leo.


"Hai Leo...."


"Hai Nad. Nadiya temennya Sarah kan?"


"Iya. Bisa kita ngobrol sebentar?"


"Boleh."


Kemudian mereka duduk dan berbicara tentang sesuatu.


"Sudah lama aku ngga melihatmu main ke rumah Sarah?" Tanya Nadiya pada Leo.


"Iya sebenarnya aku senang jika bisa main kerumahnya. Tapi sepertinya Sarah selalu menghindar."


"Kenapa kalian ngga rujuk kembali saja?"


"Aku sudah berulang kali mengajaknya. Seandainya dia mau tentu aku sangat senang."


"Kamu masih mencintainya kan?"


Leo mengangguk.


"Bolehkah aku membantumu rujuk dengan Sarah?"


Leo terperanjat dengan ekspresi wajah bahagia.


"Apakah kamu sungguh ingin membantuku?"


Nadiya mengangguk dengan penuh keyakinan. Akhirnya setelah Nadiya mendapatkan jawaban dan tahu isi hati Leo. Nadiyapun berpamitan untuk pulang. Nadiya meminta supaya hal ini hanya mereka berdua saja yang tahu. Leo pun setuju dengan permintaan Nadiya.


Nadiya kemudian berjalan-jalan sebentar di Taman Bermain anak-anak. Matanya terus memperhatikan anak-anak yang berlari kesana kemari. Senyum terus mengembang dari wajahnya. Melihat keceriaan mereka mengingatkanya pada janin yang berada pada kandungannya.


Kemudian Nadiya membeli ice cream kesukaannya dan duduk sendirian. Seakan ikut menikmati kegembiraan yang dirasakan oleh anak-anak itu. Sampai ice creamnya habis Nadiya baru beranjak pergi.


Nadia berjalan berputar mengitari air mancur dan melihat ikan yang berenang di dalamnya. Sangat menakjubkan. Dan tiba-tiba tanpa ada mendung sebelumnya hujan mulai turun. Nadiya mulai berlari mencari tempat untuk berteduh. Tapi tiba-tiba seseorang memberikan tumpangan payung untuknya.

__ADS_1


"Syukurlah akhirnya dia ngga kehujanan." Gumamnya sambil menoleh ke wajah orang yang memberinya tumpangan payung.


"Riko?" Nadiya terkejut. Kemudian Riko tersenyum padanya. Kenapa bisa ada Riko disini?


"Ya?" Riko melihat kearah Nadiya dengan lembut.


"Kok bisa ada kamu disini?"


"Iya aku lagi menjemput anakku. Dan ngga sengaja melihat kamu disini."


"Ohhh."


Kemudian Nadiya dan Riko berjalan bersama mencari tempat berteduh.


"Kamu sendirian?"


"Iya."


"Disitu ada yang jual minuman hangat. Yuk kesana sambil menunggu hujan reda." Ajak Riko. Dara mengangguk.


Mereka memesan minuman untuk menghangatkan badan, karena udara sangat dingin saat hujan. Kebetulan Riko membawa jaket. Karena Nadiya tidak mengenakan Jaket, maka Riko melepaskannya dan memakaikannya pada Nadiya.


"Ngga papa. Nanti kamu sakit."


Demi bayi dalam rahimnya agar tetap hangat, maka Nadiya mau memakai jaket Riko. Satu jam kemudian hujan sudah mulai reda.


"Syukurlah hujan sudah reda. Aku duluan ya Rik?"


Riko mengangguk. "Hati-hati dijalan. Sampai ketemu lagi."


Nadiya kemudian meninggalkan tempat itu dan berjalan keparkiran mobil. Nadiya sekarang sudah bisa menyetir mobil sendiri. Hal ini dia lakukan atas bujukan Ardy agar Nadiya mudah untuk pergi kemana saja.


Setelah duduk dibelakang kemudi, Nadia baru ingat jika jaket Riko masih dia kenakan. Dan saat dia mencoba mencari Riko, ternyata Riko sudah menghilang.


"Mungkin Riko sudah pulang." Gumamnya.


Sarah melihat ponselnya. Dan sepertinya menunggu seseorang menghubunginya. Namun ternyata yang ditunggunya tak membalas pesannya tadi malam. Padahal Sarah sudah memberitahukanya jika dirinya hamil dan mengandung anaknya.


Sarah jadi teringat apa kata Nadiya tadi malam. Benarkah Ardy sama sekali tak peduli pada bayi dalam kandungannya? Karena sekarang Nadiya telah hamil? Ardy bahkan tak membalas pesannya. Ardy hanya akan mempedulikan Nadiya dan bayinya? Dan tak peduli pada bayi yang sedang dikandung Sarah?


Banyak pertanyaan dan prasangka buruk bertentangan didalam hatinya. Tentang pesanya yang tak dibalas. Tentang Ketidakpedulian Ardy pada nasib Sarah yang mengandung benihnya tanpa ikatan yang jelas.

__ADS_1


Bagaimana ini? Haruskah menemuinya dikantornya? Apakah Ardy takkan marah jika dia datang kesana? Sarah sedang bingung memikirkan apa yang harus dia lakukan sebelum perutnya mulai membesar. karena tak lama lagi perutnya akan membesar.


Kemudian dengan cepat Sarah mengambil Tasnya dan dengan tekad yang bulat akan menemui Ardy. Dia ingin tahu apa tanggapan Ardy saat tahu jika dirinya juga hamil?


Dikantor Sarah berjalan pelan, dan saat menemui pegawainya, ternyata Ardy sedang rapat dan sebentar lagi akan selesai. Sarah memutuskan untuk menunggu saja dan duduk disana.


Tak berapa lama kemudian pintu ruangan rapat terbuka dan beberapa orang keluar dari sana. Nampak Elis keluar lebih dulu disusul Ardy dan kemudian dibelakang Ardy ada Leo, badan Leo tertutup badan Ardy sehingga Sarah tidak begitu melihatnya.


Sarah bangun dari tempat duduknya dan mendekati mereka. Saat Sarah akan memanggil nama Ardy tiba-tiba Leo melihatnya.


"Ar......" Belum sempat melanjutkan kalimatnya yang akan memanggil Ardy, seseorang sudah mengagetkannya.


"Sarah?" Itu suara Leo. "Kamu disini?"


"Yuk ikut aku? Apa kamu sudah lama menungguku?" Leo sumringah karena apa yang dikatakan Nadiya itu benar. Sarah ternyata menunggunya. Bahkan dia sampai menyusulnya dikantor Ardy. Pasti Nadiya sudah berhasil membujuknya untuk rujuk kembali.


Sarah terbengong. Dan hanya melihat Leo dan Ardy yang bersamaan menatapnya. Saat tahu Sarah menunggu Leo, Ardy kemudian berjalan keruanganya. Sedangkan Leo berjalan mendekati Sarah. Sarah jadi kesal karena tidak bisa menemui Ardy dan menyampaikan maksud kedatangannya.


"Kenapa harus selalu ada kamu sih Leo?" Gumam Sarah yang hanya berdiri seperti patung tanpa bergerak. Keinginannya untuk menemui Ardy secara langsung dan mengatakan kehamilanya tidak berhasil. Karena Sarah tidak menduga jika Leo bekerjasama dengan perusahaan Ardy.


"Yuk kita ngobrol direstoran dekat sana." Kata Leo sambil memegang tangan Sarah dengan lembut. Sarah tak mau membuat keributan jika dia menolak keinginan Leo. Akhirnya Sarah berjalan disamping Leo dan tanpa bicara sepatah katapun.


Pulang dari taman, Nadiya memutuskan untuk pergi kekantor Ardy dan mengajaknya makan siang. Tak berapa lama kemudian Nadiya sudah tiba dikantor Ardy. Dan langsung menemui Ardy dikantornya. Ternyata Ardy sudah selesai rapat. Sehingga Nadiya tidak perlu menunggunya lebih lama.


"Nadiya?" Kata Ardy saat Nadiya membuka pintu ruanganya.


Nadiya tersenyum dan duduk disofa yang tersedia didekat tempat duduk Ardy. Ardy masih membereskan beberapa berkas dan melihat berkas yang perlu ditandatanganinya. Kemudian setelah semua berkas sudah dilihat nya, Ardy menghampiri Nadiya.


"Sudah makan?" Nadiya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Belum pa. Yuk makan siang dulu. Kebetulan nanti setelah makan siang papa ada rapat lagi."


"Iya pa."


Nadiya berjalan disamping Ardy kearah restoran dekat kantor Ardy. Kemudian mereka langsung memesan makanan. Mereka duduk tak jauh dari tempat duduk Sarah dan Leo. Tapi mereka tak menyadarinya jika ada Sarah dan Leo yang juga makan disana.


Saat makan Ardy menyuapi Sarah dengan penuh kasih sayang. Ardy ingin bayi yang ada dalam kandungannya sehat juga ibunya.


"Makan yang banyak ya ma." Kata Ardy.


Sarah akan kekamar kecil karena sudah selesai makan. Dan tiba-tiba tanpa sengaja dia melihat pemandangan itu. Entah kenapa hatinya kesal saat melihat Ardy menyuapi Nadiya dengan penuh kasih sayang. Sebelum Nadiya menyadari keberadaannya, dengan cepat Sarah berjalan kekamar kecil, dan saat kembali kemejanya Ardy melihatnya. Mata mereka bertemu dan mereka berpandangan. Ardy sengaja mengalihkan pandangannya. Karena setiap kali melihat Sarah, Ardy selalu teringat kejadian dimalam itu. Dan dia tidak mau sampai Nadiya mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2