Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Dia jadi maduku


__ADS_3

Dara akhirnya tertidur setelah kebahagiaan tadi malam. Saat pagi hari bangun dia terperanjat!


"Mas! Bangun! Ada dimana kita mas?!" Dara masih setengah sadar. Rupanya dia lupa jika sedang berada di hotel mewah untuk bulan madu kedua mereka.


"Apaan sih Ra." Joan kesal karena pagi-pagi Dara sudah membuat keributan.


"Dihotel. Kenapa?"


"Jika ini hanya mimpi, betapa tidak beruntungnya aku." Kata Dara.


Joan kemudian mencubit lengan Dara.


"Sakit Mas! Kok aku dicubit sih?"


"Ya biar rohnya cepat kembali. Nanti kalau sudah sadar kita turun ya jalan-jalan?" Ajak Joan.


"Jalan-jalan mas?"


"Iya. Mau berenang ngga?"


Dara menggeleng. Jelas saja dia menggeleng, dia kan ngga bisa berenang.


"Ya udah Nanti aku berenang, kamu main prosotan aja." Kata Joan sambil cengengesan.


"Apa?" Dara mengejar Joan yang lari ke kamar mandi. Akhirnya Joan menutup pintu dan menguncinya.


Kemudian menyalakan Shower dan akhirnya mereka mandi bersama.


"Gatal." Kata Joan menggoda Dara.


"Dimana?" Tanya Dara penasaran.


"Nih bagian sini."


"Punggung?"


"Iya. Tolong dong di pijitin sekalian."


"hemmm maunya."


"Tapi kamu sukakan?"

__ADS_1


"Apaan sih?" Dara kesal karena Joan terus menggodanya.


Setelah keluar dari kamar mandi badan mereka terasa ringan dan pegal-pegal pun telah sirna.


Kemudian Joan mengajak Dara untuk berbelanja di Butik yang ada di Hotel itu. Dan menyuruh Dara untuk membeli baju yang mana aja yang disukainya.


Dara memilih salah satu baju, tapi setelah melihat harga yang yang tertera pada label membuatnya melepaskan baju.


Tapi dengan cepat Joan menangkapnya. Dan memberikan baju itu pada kasir. Setelah membayarnya kemudian Joan memberikany pada Nadiya.


Dara masih bengong dan tak mempercayai kejutan demi kejutan yang diberikan Joan. Apa dia merampok bank? Apa dia terlibat penyelundupan obat terlarang? Dan apa dia salah minum obat?


Tapi dengan cepat Joan menarik tanganya dan membawanya ke kamar ganti. Kemudian Joan menunggu diluar, dan Dara mengganti bajunya dengan baju yang baru dibelinya.


Dara mengamati baju yang menempel pada tubuhnya yang montok dan berisi. Dan kagum dengan baju itu? Sangat indah. Bahkan saat menikah dia tidak memakai baju seindah dan semewah ini. Fantastis!


Dara keluar dari ruang ganti. Kemudian Joan mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sempurna! Katanya memuji Dara.


Setelah itu Joan membawanya kesuatu tempat.


"Kita mau kemana Mas?"


"Tenang saja. Kita akan menemui seseorang."


"Bukan....."


"Siapa?"


"Kamu nanti akan mengerti maksud aku dan semua kejutan yang aku berikan padamu."


"Kamu membuat jantungku berdebar mas."


"Kamu percaya padaku?"Kata Joan.


"Iya mas."


"Kalau begitu kamu mau mengabulkan jika aku meminta sesuatu darimu?"


"Tentu saja mas."


"Aku tahu kamu baik Ra. Kita juga saling mencintai dan saling mendukung. Itulah alasanya aku juga sangat mempercayaimu. Kalau kamu akan melakukan apapun demi impian kita."

__ADS_1


Dara tersenyum pada Joan. Tanda dia mendukung dan tidak keberatan terhadap impian suaminya.


Mereka telah sampai ketempat yang dituju. Banyak tamu undangan yang datang seperti nya ada pesta, gumam Dara. Tamu yang hadir adalah orang terpandang dan terhormat. Joan menggandeng Dara melewati banyak tamu yang hadir. Joan sendiri telah memakai setelan jas dan terlihat berbeda dari biasanya.


Mereka sampai dibarisan paling depan. Kemudian Joan memperkenalkan Dara pada seorang wanita muda yang sangat cantik dan menawan. Namanya Karina. Dilihat dari usianya memang lebih tua dari dara 5 tahun. Tapi wajahnya sangat cantik dan bersinar. Senyumnya juga begitu menawan dan berkarisma. Tentu saja uang adalah jawabannya, gumam Dara. Wajahnya, kulitnya rambutnya sangat terawat dengan apik.


"Kenalkan ini Istri saya Dara." Kata Joan memperkenalkan Dara pada Karina.


Merekapun bersalaman.


"Karina." Wanita itu menyebut namanya memperkenalkan diri.


Kemudian Ayah Karina memperkenalkan Joan pada semua orang, bahwa dia akan menjadi bagian dari perusahaan miliknya, dan akan membantunya memimpin perusahaanya.


Tepuk tanganpun terdengar meriah sekali.


Tidak hanya sampai disitu. Ayah Karina Tuan Alex juga menyebut putri semata wayangnya akan menikah dalam waktu dekat.


Merekapun bertepuk tangan lagi......Suasana tiba-tiba hening saat Tuan Alex menyebut nama calon menantunya....


"Ini adalah calon menantuku, dan hari ini mereka akan bertunangan, namanya adalah Joan."


Joan memberi isyarat pada Dara untuk diam dan jangan melakukan apapun.


Tepuk tangan kembali terdengar dan suasana kembali meriah. Semua tamu menikmati pesta dengan perasaan bahagia, kecuali Dara. Dia masih berdiri ditempatnya tak bergeming. Tulangnya serasa terlepas dari tubuhnya. Kepalanya berputar mengitari langit-langit gedung. Dia menggigit bibirnya hingga berdarah karena keadaan yang tak dipahaminya. Air matanya menggenang, namu tak sampai jatuh karena dia menahanya sekuat hatinya.


"Kau membuatku bermimpi lagi Mas." Dara berkata lirih.


"Kejutan demi kejutan. kemewahan dan kemesraan, malam yang hangat, impian hingga rumah yang besar, apakah ini kejutanmu yang terakhir? Apa masih ada lagi? Keperawanan yang tak kau dapatkan? Kau akan menukarnya dengan ini mas? Pengorbanan yang barusan kau minta dariku? Inikah yang kau maksud pengorbanan itu mas? Entah kenapa hatiku rasanya teriris, perih, dan bahkan mungkin hancur menjadi berkeping-keping seperti serpihan kaca. Terasa sekali sayatanya."


"Karena aku tidak perawan kau ingin dia jadi maduku? Dan ini mungkin pembalasan darimu Mas? Apakah kau sedang membalasku? atau kau sedang menguji ketulusanku. Sekarang aku bahkan tak mengerti harus apa. haruskah aku bilang iya? Atau aku lari dari tempat ini"?


Karina terlihat menggandeng tangan Joan dan berbaur dengan para tamu. Joan mencari Dara dengan matanya dan menatapnya dari jauh. Saat dara menatapnya, pandangan mereka bertemu, Joan memberi isyarat pada Dara untuk tetap ditempat dan mengerlingkan matanya.


Dara tak mengangguk juga tak membalas isyaratnya. Wajahnya hanya datar dengan tatapan yang kosong. Mulutnya terkunci penuh amarah. Bibirnya merah karena berdarah, kecewa, terluka, merasa dikhianati, marah, tak berdaya semua sedang dirasakanya, sehingga bibirnya tergigit tanpa disadarinya.


Dara berjalan mengelilingi suaminya dan menatapnya sinis. Kemudian mengambil segelas air dan meneguknya dengan cepat. Berdiri tak jauh dari suaminya yang sedang berdansa bersama Karina.


Sejak kapan kamu bisa berdansa mas. Kamu seperti sudah terlatih. Apa dia yang mengajarimu dan kamu sudah lama menyimpan rahasia ini dariku?


Aku tak menyangka kamu serendah ini mas? Aku begitu bahagia saat menyadari kamu sudah berubah. Dan bulan madu kedua kita yang begitu indah ternyata hanya untuk ini. Kau membawaku terbang ke langit yang begitu tinggi lalu kau membuatku terlempar ke udara yang begitu pengap dan hampa. Tanpa ada cahaya, hanya kegelapan.

__ADS_1


Dara hanya berdiri dan memandang gelak tawa Joan dengan keluarga Karina. Dan gadis itu entah kenapa kamu mau menjadi istri Joan. Lelaki yang miskin, pengangguran, punya istri dan seorang putri. Tak adakah lelaki lain diluar sana yang layak kau dapatkan. Kenapa harus suamiku? Aku yang menjadi tak waras atau dia yang tidak sadarkan diri?


__ADS_2