
Sejak apa yang telah dilakukannya bersama Ardy, Sarah jarang bertemu dengan Nadiya. Sarah seperti sengaja menjauhinya. Nadia merasa aneh saat terakhir kali berpapasan dengan Sarah. Tingkah laku Sarah tidak seperti biasanya. Biasanya mereka akan ngobrol berlama-lama tapi sekarang mereka jarang berbicara, entah apa sebabnya.
Begitu juga Ardy, jika Nadiya menyebut nama Sarah, dia seperti salah tingkah. Atau jika Nadiya bercerita tentang sikap, Sarah suaminya langsung mengalihkan pembicaraan. Nadiya merasa Ardy tidak seperti biasanya. Wajahnya kadang terlihat cemas berlebihan dan kadang juga seperti orang bingung.
Sarah sedang termangu dipinggir ranjangnya. Matanya melihat keluar jendela dan menatap saat Ardy mengecup kening Nadiya dan berangkat bekerja. Kemudian Sarah berdiri dan mengintip dari tirai jendela. Setelah Ardy pergi, Sarah menutup tirainya kemudian berjalan mondar-mandir sambil memegang hp milikny.
Bagaimana harus mengatakannya? Gumamnya. Haruskah kukatakan tentang yang sebenarnya? Atau aku diam saja. Aku benar-benar bingung.
Aku tidak mungkin memendamnya sendirian. Meskipun aku merahasiakannya bukankah lama-lama mereka akan tahu tanpa aku mengatakannya?
Aku benar-benar menyesal jika mengingat kejadian dimalam itu. Sarah masih terus berfikir dan berbicara pada dirinya sendiri.
Kemudian Sarah pergi kedokter untuk periksa. Dan setelah dicek oleh dokter ternyata Sarah hamil. Sarah sangat shock. Terkejut dan tak percaya apa yang didengarnya.
"Hamil Dok?!" Ungkap Sarah sambil menatap dokter yang memeriksanya.
"Iya ibu sedang hamil."
"Kira-kira sudah berapa usia kandungan saya Dok?"
"Sekitar enam Minggu."
"Nanti akan saya kasih beberapa vitamin, tolong diminum secara teratur demi kesehatan ibu dan bayi yang ada dalam kandungan." Kata dokter.
"Baik Dok." Sarah kemudian pergi meninggalkan ruangan dokter. Sarah berjalan dan menabrak Nadiya yang akan periksa.
"Sarah?"
"Nad...."
"Kamu juga dari sini?"
"I...iya Nad." Sarah menjawab terbata.
"Aku duluan ya Nad, aku buru-buru." Kata Sarah yang sengaja tidak mau berlama-lama berbicara dengan Nadiya.
"Iya Sar."
Sarah berjalan dengan cepat agar lekas menjauhi tempat itu. Wajahnya cemas, takut, bingung dan tegang.
Nadia kemudian langsung menemui Dokter dan akan memeriksakan dirinya karena sering merasa pusing dan mual.
"Gimana dok?"
__ADS_1
"Selamat ibu Nadia. Anda akan menjadi seorang ibu?"
"Apa dok? Dokter bisa katakan lagi?"
"Iya. Ibu Nadiya sedang hamil."
"Terimakasih dok. Ini adalah kabar yang sangat membahagiakan." Kata Nadiya dengan wajah yang berseri. Tampak jelas kebahagiaan diwajahnya.
Saat dokter mengambil vitamin untuk Nadiya, tiba-tiba mata Nadiya melihat catatan Dokter yang tertera nama Sarah.
Catatan ya tidak jauh dari nama Nadiya sehingga masih dalam lembar yang sama. Sarah positif? Ada tanda yang ditulis Dokter untuk menandai pasienya. Sehingga Nadiya bisa membaca makna catatannya.
"Sarah positif? Hamil? Sarah yang sudah bercerai? Dengan siapa? Leo?" Nadiya bergumam sendirian.
"Ini nanti silahkan diminum tepat waktu dan kalau ada apa-apa cepat hubungi kami. Karena sebelumnya ibu Nadiya pernah dioperasi, jadi kalau ada keluhan, langsung hubungi kami."
"Baik Dok."
Nadiya berjalan meninggalkan ruangan itu. Dia begitu gembira sehingga tidak sabar untuk mengabarkan kegembiraanya pada Ardy.
Nadiya menelpon Ardy dan mengajaknya makan siang bersama. Ada kabar gembira dan kejutan untuknya. Ardypun penasaran dengan apa yang dikatakan istrinya. Apalagi mendengar nada bicara istrinya yang sangat bahagia.
Mereka bertemu direstoran dekat kantor Ardy. Nadiya sudah duduk dan menunggu disana. Ardy melihat dari kejauhan dan menutup mata Nadiya dari belakang.
"Papa......" Nadiya langsung tahu siapa yang menaruh tanganya pada matanya.
"Iya pa. Naluri seorang istri itu kuat. Bahkan mama bisa mengenali papa hanya dengan mencium bau minyak wanginya."
"Akh. Mama ini bisa aja."
Mereka kemudian duduk dan memesan makanan.
"Kali ini biar mama yang pesan ya pa?" Kata Nadiya.
Ardy mengangguk. Merekapun memesan menu paling enak di restoran itu. Paling enak dan paling mahal. Saking bahagianya Nadiya hanya senyum-senyum aja dari tadi.
"Kenapa ni, mama dari tadi hanya senyum-senyum aja. Katanya mau kasih kejutan. Mana kejutanya?"
"Tunggu dong papa. Sabar. Sekarang kita makan dulu ya. Setelah itu nanti mama kasih tahu."
Ardy menatap istrinya sambil mengernyitkan dahinya.
Setelah mereka selesai makan Nadiya memegang jari Ardy dan menaruhnya diperutnya. Ardy semakin bingung dengan teka-teki istrinya.
__ADS_1
"Mama kenyang?" Tanya Ardy.
"Makananya enak jadi perut mama sudah tidak lapar lagi?"
Nadiya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ardy berpikir lagi.
"Mama senang karena kemonya berhasil dan mama sudah sembuh?"
Nadiya menggeleng dan mulutnya cemberut, kesal karena tebakan Ardy salah melulu.
"Ohh papa tahu sekarang. Mama senang karena mama sudah langsing tanpa perlu sedot lemak. Ini pasti jawabannya betul. Apa yang membuat mama lebih bahagia selain badan ideal dan perut yang langsing?"
Nadiya tambah kesal karena Ardy mulai bercanda dan jawabannya tidak tepat.
"Ya sudah! Kejutanya tidak jadi."
"Jangan marah dong. Ayo katakan pada papa. Jangan tebak-tebakan, mau kasih kejutan malah tebak-tebakan mama ni."
"Mama........Hamil pa." Kata Nadiya ditelinga suaminya.
"Apa ma. Ulangi lagi." Kata Ardy takut salah dengar.
"Kita akan punya anak pa."
"Mama hamil? Kita akan punya seorang bayi?"
Nadiya mengangguk penuh kegembiraan. Apalagi melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ardy suaminya.
"Iya pa. Kita akan mempunyai anak, akhirnya mama hamil pa."
"Syukurlah. Papa sangat bahagia ma."
Akhirnya Ardy mengelus perut Nadiya dan mencium keningnya. Tidak ada yang lebih membuatnya bahagia selain kabar ini. Kabar kehamilan istrinya telah mengobati penantianya selama ini.
Sementara Sarah masih memikirkan tentang kabar kehamilanya. Jika dirinya masih menjadi istri Leo tentu kabar itu sangat membuatnya bahagia. Tapi jika dia hamil saat tidak menjadi istri siapapun. Ini adalah keanehan yang luar biasa. Tidak bersuami, tapi hamil? Orang akan bertanya siapa ayahnya? Dan pertanyaan lainya seperti bagaimana kamu bisa hamil?
Apakah kamu punya suami? Tidak. Apakah kamu punya pacar? Tidak. Apakah kamu berselingkuh dengan suami orang? Tidak juga, kita bahkan ngga terikat asmara, cinta atau istilah lainya. Lalu bagaimana kehamilan bisa terjadi? Apakah setan atau jin? oh my God. Aku tidak tahu harus menjawab apa? Jika kehamilanku membesar. Dan orang akan mulai usil. Apalagi aku seorang janda muda? Bekerja di tempat hiburan malam? Dan bagaimana nasip anaku jika dia lahir. Siapa yang akan dia panggil ayah?
Leo? Mantan suaminya? Sudah lama kita bercerai dan tidak berhubungan. Lalu mana mungkin itu adalah anaknya. Apakah aku sudah tidak waras?
Lalu Ardy? Bagaimana kalau dia tidak mau bertanggung jawab. Dan mengakui itu adalah anaknya. Yang berarti menerima konsekuensinya dari sikap Nadia. Apakah Nadiya akan berbaik hati menerimanya? Atau dia harus kehilangan Nadiya untuk selama-lamanya? Apakah Ardy siap dengan segala resikonya?
Dan bagaimana dia akan menghadapi kemarahan dan kebencian Nadiya, sahabatnya?
__ADS_1
Oh Tuhan rasanya aku ingin mati saja..... Hatinya terus bertanya, berbisik, dan semua tak ada jawabanya....
Sarah bahkan tidak tahu apakah dia harus mempertahankan kandungannya? Atau dia harus menggugurkan janin yang tak berdosa ini?