Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Putar arah


__ADS_3

Akhirnya sampai juga diakhir bulan dan Freya sudah berkemas dengan memasukkan baju dikopernya. Begitu juga Prasetyo yang kukuh untuk pergi bersama Freya.


Freya turun dari lantai tiga dan akan berpamitan pada Ibu Monic. Saat itu ibu Monic sedang duduk bersama Edsel dan juga Eiden.


"Kalian benar-benar akan berangkat siang ini?" Tanya ibu Monic setelah melihat tangan kanan Freya yang menenteng sebuah koper. Dan dari tangga nampak Prasetyo juga turun membawa koper.


"Kau sudah turun? Pantas saja, aku kekamarmu dan kau sudah tidak ada disana." Kata Prasetyo sambil turun menghampiri maminya.


"Kalian akan pergi bersama Nadiya dan juga pak Arya." Kata ibu Monic sambil melihat dari lantai tiga Nadiya yang turun bersama Arya.


"Mami jangan bercanda deh! Untuk apa mereka ikut?"


"Untuk membantumu jika kau mengalami masalah atau kesulitan."


"Mami, Prasetyo bukan anak kecil yang perlu pengawasan."


"Kau masih dalam masa pemulihan. Jadi jika kau memaksa untuk pergi biarkan mereka ikut. Biar mami tenang." Kata ibu Monic.


"Terserah kalian saja."


Nadiya nampak tersenyum kepada ibu Monic karena akhirnya Prasetyo membiarkanya ikut dengannya.


Ini adalah rencana Mami, agar aku ikut bersamanya. Jika tidak maka aku pasti akan merana menunggu kedatanganya setiap hari.


"Pak Arya juga sudah siap." Kata Nadiya kepada ibu Monic.


"Bagaimana dengan Edsel dan juga Eiden?" Tanya Prasetyo mengkhawatirkan kedua anak Nadiya.


"Oma akan menjaga mereka. Sasha dan juga Regan juga akan kembali beberapa hari."


"Siapa Sasha dan juga Regan?"


"Mereka adalah saudara sepupu Edsel dan juga Eiden." Kata Ibu Monic terpaksa berbohong, karena kalau dijelaskan maka beban di memori Prasetyo takkan mampu untuk mengolahnya.


"Baiklah karena semuanya sudah siap kita berangkat sekarang. Mami jaga diri mami baik-baik dan tetepon Prasetyo jika mami membutuhkan bantuan. Pasti Prasetyo akan datang." Kata Prasetyo sambil mencium dan memeluk maminya.


"Tante...Freya pamit dulu. Maaf jika selama Freya disini ada kekurangan dan kesalahan dalam bersikap." Kata Freya.


"Tidak nak Freya. Tante berterimakasih karena nak Freya sudah meluangkan waktu dan mau membantu Prasetyo. Semoga ingatan Prasetyo lekas kembali." Kata Ibu Monic tidak kuasa menahan air matanya.


"Mami...Nadiya pergi dulu. Nadiya titip anak-anak. Telepon Nadiya jika mami membutuhkan bantuan atau kesulitan dalam menjaga mereka."


"Tidak Nadiya. Kamu harus selalu bersama Prasetyo agar ingatannya cepat kembali. Jangan khawatirkan mami dan juga cucu-cucu mami. Beberapa hari lagi Regan dan Sasha akan kembali, mereka akan membantu mami."

__ADS_1


"Iya mi....Nadiya pergi dulu. Semoga saat Nadiya kembali ingatan Prasetyo sudah pulih seperti sediakala." Kata Nadiya sambil mencium dan memeluk maminya.


"Jaga diri kalian baik-baik." Kata Ibu Monic saat melepas kepergian mereka hingga kepintu. Setelah itu Ibu Monic masuk kedalam saat mobil yang dikendarai Arya melaju meninggalkan halaman rumah.


Didalam mobil Arya dan Prasetyo duduk didepan, sedangkan Nadiya dan juga Freya duduk di jog tengah.


"Apakah kau membawa senapan Pras?" Tanya Nadiya.


"Tidak! Untuk apa?"


"Bukankah disana banyak binatang buas?"


"Kita tidak tinggal dihutan Nadiya. Kita akan tinggal diperkampungan."


"Sama saja! Diperkampungan diantara hutan dan gunung yang mengelilinginya bukan?" Kata Nadiya.


"Apakah kau takut?" Tanya Prasetyo.


"Tidak!" Jawab Nadiya.


"Untuk apa kau ikut? Aku semakin curiga jika kau menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Maksudmu?"


"Sudahlah lupakan saja!" Kata Prasetyo sambil melihat wajah Nadiya dari kaca spion diatasnya .


"Aku tahu. Tapi yang membuat aku tidak mengerti bagaimana dia bisa meninggalkan anak-anaknya demi untuk mengawasiku?" Kata Prasetyo.


"Mami yang ingin agar aku ikut denganmu." Jawab Nadiya.


"Tapi aku bukan anak kecil yang harus terus diawasi."


"Kau masih tidak bisa mengingat sebagian dari ingatanmu. Itulah kenapa mami khawatir tapi kau malah menyalahkan aku." Kata Nadiya.


"Sudah! Sudah! Lebih baik kita berbicara hal yang lainya. Kalian jangan bertengkar. Aku senang Bu Nadiya ikut, jadi nanti bisa membantuku dan suasana rumah akan menjadi rame disana." Kata Freya.


"Berhenti!" Kata Prasetyo kepada Arya.


"Kenapa?" Arya langsung menghentikan mobilnya dengan cepat dan berhenti saat itu juga.


"Aku akan duduk dibelakang. Nadiya kau pindahlah kedepan." Kata Prasetyo lalu turun dari mobilnya.


Nadiya tanpa menjawab lalu turun dan duduk didepan disamping Arya. Sementara Prasetyo duduk dibelakang bersama Freya.

__ADS_1


Merekapun melanjutkan perjalanan lagi dan saat ini sudah sampai di bandara. Disana Mereka naik Jet Pribadi milik Prasetyo dan dalam waktu 4/5 jam sudah sampai di Bandara Jayapura.


Merekapun melanjutkan kesalah satu desa dimana Freya mendirikan klinik gigi disana. Perjalanan dari Bandara kedesa itu lumayan jauh.


"Masih berapa lama?" Tanya Prasetyo saat mereka sudah dua jam didalam taksi.


Nadiya juga mukanya sudah merah karena tersengat matahari begitu lama.


"Cape kan? Perjalananya memang lama, ini belum seberapa." Kata Freya.


"Tidak apa. Ini bukan masalah." Kata Prasetyo sambil tersenyum kearah Freya.


"Tiga jam lagi kita akan sampai dirumahku. Mungkin saat sampai disana hari sudah malam. Sebaiknya nanti kita beli makanan yang dijual dirumah makan atau kita akan kelaparan disana." Kata Freya.


"Apakah tidak ada restoran 24 jam?" Tanya Prasetyo yang baru pertama kali pergi kemari.


"Jika di Jayapura tentu ada. Tapi kita tinggal di desa bukan dikotanya." Kata Freya.


"Baiklah ayo kita beli makanan sebanyak-banyaknya." Kata Prasetyo.


"Nah itu ada rumah makan. Kita akan beli disana saja." Kata Freya yang sudah sering membeli makanan dari rumah makan tersebut.


Namun belum sampai dirumah makan itu tiba-tiba beberapa polisi meminta mereka untuk Kembali dan tidak melanjutkan perjalanannya.


"Kenapa pak?"


"Jembatan didepan roboh sehingga tidak bisa dilewati. Sebaiknya kalian kembali karena untuk memperbaiki jembatan itu membutuhkan waktu yang lama."


"Ya ampun. Apalagi ini?" Kata Freya.


"Apakah ada jalan lain untuk kesana pak?"


"Tidak ada. Sebaiknya kalian kembali karena hari sudah malam. Saat ini kondisi sedang tidak kondusif." Kata polisi itu.


"Ayo Freya. Kita kembali saja." Kata Prasetyo yang mulai cemas.


"Baiklah. Terimakasih pak. Kami akan putar balik." Kata Freya.


"Ayo Arya. Kita putar balik saja." Kata Prasetyo. "Tunggu apa lagi? Cepatlah. Kau tidak dengar saat ini kondisi sedang tidak kondusif?"


"Ya. Kita akan putar balik." Kata Arya.


"Ini lebih baik. Aku dari awal sudah merasa tidak enak." Kata Nadiya.

__ADS_1


"Bilang saja kau senang kita tidak jadi kesana." Kata Prasetyo.


"Bukan begitu. Aku hanya merasa sesuatu akan terjadi. Dan ternyata benarkan? Jembatan itu tidak bisa kita lewati. Syukurlah kita setidaknya selamat. Bagaimana jika saat kita berada diatas jembatan itu dan tiba-tiba roboh? Syukurlah kita masih selamat." Kata Nadiya dengan mendekatkan kedua tangannya di dadanya. Sepertinya jantungnya berdetak sangat keras karena cemas dan khawatir.


__ADS_2