
Mereka mengendap-endap keluar dari kamar kosong dan berjalan kekamar Shakira. Mereka tetap memasang telinga dan mata dengan waspada. Jangan sampai ada yang melihat aksi masuk kekamar Shakira.
"Aman?" Tanya Jack.
"Let's go!" Kata Rossa.
"Lewat sini." Kata Sasha.
"Ayo kita cari dengan cepat dimana handphone itu!" Kata Jack.
Merekapun mencari handphone milik Shakira kesegala penjuru. Awalnya mereka mencari diatas kasur. Biasanya handphone tergeletak begitu saja diatas kasur.
Merekapun menarik selimut dan merapikannya. Setelah dilihat disetiap sudut ranjang dan tidak ada handphone itu, maka mereka mencari disekitar meja.
Semua berkas dan buku-buku yang belum sempat dibacapun dibolak-balik dan diangkat serta digeser namun tetap tidak ketemu juga.
"Bagaimana kalau kita cari didalam lemari bajunya." Kata Rossa. Namun didalam lemari tetap tidak ditemukan juga. Semua baju dan barang-barang yang disimpan didalam lemari sudah diperiksa dan mereka tidak mendapatkan apa yang mereka cari.
"Capek gua." Kata Jack ngos-ngosan.
"Sama. Gua juga. Kemana sih ngilangnya itu handphone"
"Hilang!? Gua sekarang curiga, jika handphone itu hilang." Kata Jack.
"Ngga! Ngga mungkin handphone nya hilang. Pasti ada yang mengambilnya sebelum kita." Kata Rossa
"Ahk! Shiiitttttt! Kita terlambat! Sekarang gua yakin jika handphone itu ada sama tersangkanya."
"Ya. Lo benar. Seseorang sudah mengambil handphonenya.
"Jangan-jangan.....orang laki-laki yang tadi dialah yang sudah mendahului kita mengambil handphonenya." Tebak Sasha.
"Maksudmu saat kita tadi sembunyi?" Tanya Rossa. "Masuk diakal sih. Tapi untuk apa?"
"Untuk....menyelamatkan diri."Kata Jack.
"Jadi...yang mengambil handphonenya adalah .....?" Tanya Sasha
"Tersangkanya!"Jawab Rossa dan Jack bersamaan.
Hening sesaat.
Ngeeoong!
"Ahk Shiiitttttt!" Teriak Jack. "Kaget gua. Sialan. Ternyata hanya seekor kucing. Gua sampai hampir lari." Kata Jack.
"Ahk! Lo penakut amat!" Kata Rossa
"Gua merinding. Sepertinya gua merasa tidak enak. Perasaan gua seperti ada yang ....." Kata Jack.
"Sudahlah! Besok saja! Kita terusin misi kita. Kata Rossa. "Gua juga merasa ada yang tidak beres dikamar Shakira. Gua mencium bau kemenyan."
__ADS_1
"Iya nih! Gua merasa ada yang meniup angin ditelinga gua. Padahal kan kamarnya tertutup gitu. Mana mungkin ada angin sih!" Kata Sasha.
"Ayo kita keluar dari sini." Kata Jack.
"Sebaiknya kita ambil langkah seribu dan lari sekencang-kencangnya." Kata Jack.
"Tidak! Tidak! Ayo kita berjalan bergandengan saja. Jangan sampai ada yang curiga kalau kita baru saja dari kamar Shakira." Kata Rossa.
Merekapun bergandengan tangan bertiga dan saling memasang telinga lebih tajam. Mereka merasakan hawa negatif disekitar kamar Sasha. Seperti ada yang datang kekamar itu, namun tidak terlihat oleh mata biasa.
"Ayo kita jalanya lebih cepat. Aku merasa ada uang mengikuti kita nih!" Kata Jack saat melewati sebuah lorong yang sepi.
"Tenang! Tenang, kita kan bertiga, jadi tidak mungkin ada arwah yang berani mengganggu."
"Arwah? Maksud lo ada makhluk tidak terlihat gitu?"
"Ya iya. Lalu apalagi? Masa harimau?"
"Ya, ya. Gua ngerti sekarang, parti di asrama ini ada yang tidak beres. Maksud gua pasti ada yang meninggal terus rohnya mau menuntut balas gitu." Kata Jack.
"Ahk lo seperti difilm horor aja. Ini Amerika gaes. Hantu jeruk purut ngga mungkin naik pesawat sampai kesini." Kata Sasha.
"Ini bukan hantu dari negara kita. Ini adalah penunggu tempat ini. Lo ngerasa ngga sih, beberapa hari ini sering muncul arwah gentayangan gitu." Kata Rossa.
"Emang lo pernah lihat?" Tanya Sasha.
"Ihhhh amit-amit deh! Jangan sampai gua ketemu apalagi ngeliat itu wajah hantu. Gua bisa mati berdiri." Kata Jack.
"Jangan sembarangan ngomong lo. Ntar kedengaran ama dia." Kata Rossa.
"Kekamar gua yuk!" Kata Jack.
"Ngga lah! Bisa kena tilang kalau kita kekamar cowok malam-malam." Jawab Rossa.
"Gua takut nih!"
"Ahk sudahlah! Jangan pedulikan tentang rumor itu. Udah ya. Kita pergi dulu." Kata Sasha dan Rossa.
Jack pun masuk kekamarnya sementara Rossa dan Sasha pergi dan menjauh dari kamar Jack.
"Gua tidur dikamar lo ya Sas? Lo sendirian kan?"
"Gua sama Madina."
"Please dong Sas. Gua pasti ngga bisa tidur kalau dikamar gua. Kita bertiga juga ngga papa." Kata Rossa.
"Gimana ya...gua ngga enak sama Madina."
"Ayolah Sas. Setidaknya sampai rumor itu hilang." Pinta Rossa.
"Ya udah deh." Kata Sasha akhirnya mengizinkan Rossa tidur dikamarnya.
__ADS_1
Sementara dikamar Jack terasa sangat sepi sekali. Jack pun langsung naik keranjang dan menutup seluruh badannya dengan selimut. Jantungnya berdetak sangat cepat.
Dag dig dug dag dig dug!
"Aduh! Gua tetep aja merasa takut. Gimana ini? Kata Jack.
"Sebaiknya gua kekamar Regan aja. Dia kan juga sendirian." Gumam Jack dalam hati.
Tiba-tiba saat Jack membuka selimutnya jendelanya terbuka dan tertutup. Jack rupanya lupa mengunci jendela itu.
Brak!
Dukk!
Brak!
Ngeeeeekkkkk!
Terdengar suara berdernyit.
Pasti dia datang. Ngapain juga sih gua masuk kekamarnya. Jangan-jangan dia nyariin gua? Maksud gua kan baik. Gua mau bantuin dia biar tenang. Gua juga ngga ngambil apa-apa disana.
Tiba-tiba sesuatu jatuh dari saku celana Jack.
Klinting!
Sebuah koin yang sudah berumur ratusan tahun tanpa sengaja terbawa oleh Jack.
"Darimana koin itu jatuh? Itu jelas bukan milik gua? Apakah itu dari kamar Shakira? Bagaimana bisa sampai kesini? Aku merasa tidak mengambilnya." Bisik Jack dan mengintip dari balik selimutnya.
Keringat dingin mulai menetes dari dahi dan punggungnya.
Braaaaakkkkk!
Jendela itu tiba-tiba menutup dengan kencang. Seperti didorong oleh tangan seseorang.
Ngeeeeekkkkk!!!
Dan sekarang pelan-pelan terbuka seperti sedang dimainkan oleh tangan iseng.
"Ampuuunnnnnn!" Kata Jack dari bawah selimutnya.
"Kenapa juga gua dengerin saran Rossa untuk tidur sendirian. Bisa ngga tidur gua sampai pagi kalau caranya seperti ini. Mana gua lupa nutup jendela lagi. Sekarang gua kalau keluar dari selimut ini, gua takut ketangkep ama dia. Kenapa dia sepertinya ngikutin gua. Salah apa gua. Bukan gua yang bikin dia hamil dan meninggal. Cari sana! Orang yang sudah bikin lo seperti ini? Yang jelas bukan gua." Kata Jack dari bawah selimutnya.
Srek! srek! srek!
Terdengar langkah kaki yang semakin lama semakin semakin mendekat.
Jack semakin erat memegang selimutnya dan menutup matanya. Tidak berani membukanya. Tiba-tiba hening tidak ada suara sama sekali.
Namun dari dalam selimut terdengar jelas detak jantung Jack yang berdegup sangat kencang.
__ADS_1
Jedag! jedug! jedag! jedug!
Seperti tidak beraturan, dan semakin hening suasananya justru membuat suara jantungnya semakin keras terasa oleh Jack.